
"Aku harus membersihkan semua tanpa jejak. Apa aku harus membakar pondok ini? Atau…."
Ide yang melintasi otak Ery, semakin memperjelas senyuman iblis di bibir wanita itu. Seakan mendapatkan ilham, Ery mulai membersihkan darah di dalam kamar, tentu saja setelah melakukan pemakaman terbaik untuk korban pelampiasannya. Senandung nada cinta keluar dari bibir Ery, nyanyian akan kerinduan dalam penantian.
Satu jam kemudian, lantai dan seluruh kamar Ery kembali rapi bersih serta harum. Kini Ery merebahkan tubuh lelah dan menatap langit kamar. Satu senyuman aneh terbit di bibir Ery, mata lelahnya perlahan meredup.
Tok!
Tok!
Tok!
Suara ketukan pintu, membuat Ery terkejut dan menahan mata agar tetap terjaga. "Siapa?"
"Non, makan siang sudah siap. Ditunggu di rumah utama." lapor pelayan.
"Saya kesana bi. Terima kasih." jawab Ery.
"Baik Non."
Suara langkah kaki terdengar menjauh, Ery bergegas membenarkan pakaian dan juga tampilan wajahnya. Pantulan tubuh langsing, wajah menggoda dengan make-up cukup tebal dan rambut emas curly. Senyuman manis tersungging di bibir Ery. "Sempurna. Aku datang sayang, semua pasti kulakukan hanya untukmu."
Ery berjalan keluar meninggalkan kamar dan dari atas, Ery melihat bibi baru sampai ruang tamu. Ery sengaja mempercepat langkah kakinya dan menuruni tangga dengan suara yang pasti jelas terdengar tengah berlari. Bibi berbalik dan melihat bagaimana tingkah Ery seperti anak kecil, hingga langkah kaki wanita rambut emas itu terpeleset dan limbung ke belakang.
"Non….." seru bibi dan tangannya reflek terangkat.
Tubuh Ery jatuh dengan kepala membentur pinggiran tangga, beruntung tangan wanita itu sigap mencari pegangan. Sehingga tidak berguling, perlahan mata Ery meredup dan jatuh tak sadarkan diri. Bibi berlari dan menghampiri Ery, namun darah di kepala Ery mengalihkan perhatiannya.
"Non, bangun," Bibi menepuk pipi Ery dengan perasaan.
Pergilah, rencanaku berhasil. Tidak peduli sebanyak apa darahku mengalir, akan kupastikan Zain menjadi milikku. ~batin Ery dan tetap berpura-pura pingsan.
__ADS_1
Tidak ada pergerakan, membuat bibi berlari meninggalkan pondok dan bergegas menuju rumah utama. Baru beberapa menit setelah kepulangan anggota keluarga yang memakamkan Elis, dan makan siang baru saja dimulai. Bibi tidak peduli dengan tatapan pelayan lain, dan bergegas menuju ruang makan.
Langkah kaki yang berjalan terburu-buru dengan nafas ngos-ngosan, membuat semua orang di ruang makan teralihkan. wajah pucat dengan tubuh gemetar terlihat jelas tanpa perlu kacamata.
"Ada apa?" tanya Oma Diana dengan serius.
Kei segera menuangkan air putih ke dalam gelas dan memberikan pada mom Raina. "Minumlah. Tarik nafas dan buang, baru katakan ada apa."
Glug
Glug
Bibi meneguk air putih dan melakukan seperti ucapan mom Raina, semua orang menjadi lupa tentang makanan karena fokus pada bibi. "Nona guru jatuh dari tangga."
"Bagaimana bisa?"
"Mom, apa maksud bibi?"
"Kapan itu terjadi?"
Kei berniat ikut, namun Zain memberikan kode ke arah si kembar. Sementara dad Arza langsung mendorong kursi dan berdiri, Oma Diana dan mom Raina sudah berdiri di hadapan bibi. "Anak-anak kalian habiskan makanannya, biarkan papa memeriksa keadaan miss Ery. Paham?"
"Baik Pa, mommy temani kami." pinta Zahra.
Kei mengangguk dan membiarkan seluruh anggota keluarga berbondong-bondong meninggalkan acara makan siang bersama. Meskipun ada rasa penasaran dan juga kegelisahan yang sangat mengganggu, tetap saja Kei berusaha tersenyum.
Abhi yang melihat mommynya melamun, mengusap pipi Kei dengan lembut. Tatapan mata ibu dan anak bertemu, Kei tersenyum. "Makanlah nak, mau mom suapai?"
"Apa ada yang melukai mommy? Jika iya, katakan pada Abhi. Abhi tidak suka melihat mata sendu mommy. Mommy itu matahari yang selalu menyinari dunia kami." ucap Abhi.
Zahra yang mencuri dengar pembicaraan itu, langsung ikut menatap sang mommy. "Aku juga tidak ingin mommy sedih, jangankan matahari. Mommy itu nafas kami, bukankah seperti itu seharusnya?"
__ADS_1
"Ra, sejak kapan kamu belajar kata-kata bijak seperti Abhi?" Kei menatap kedua anaknya dengan cinta.
Bibir Rara maju dan tak lupa puppy eyes yang menjadi andalan dikeluarkan. Ekspresi yang selalu dilakukan saat merajuk. Kei terkekeh pelan dan Abhi dengan gemas mencubit pipi Zahra. "Jangan manyun, Rara benar. Mommy adalah dunia dan nafas kita, kebahagiaan mommy berarti kebahagiaan kita. Ayo makan lagi."
Kei mengusap kepala Abhi. "Jangan terlalu cepat dewasa, Nak. Nikmati masa kecilmu, mommy baik dan akan selalu baik selama kalian semua sehat dan bahagia. Selamat ayo makan. Setelah ini, kalian bisa istirahat."
"Siap mom." ucap si kembar serempak.
Melihat keakraban Abhi dan Zahra, Kei merasa tenang dan ingat kebahagiaan miliknya ada di depan mata. Akan tetapi mata Kei teralihkan, ketika melihat Zain menggendong tubuh Ery yang pingsan. Entah kenapa ada yang menusuk hati dan pikirannya.
Tenang Kei, Zain hanya menolong. Tidak lebih. Percayalah semua baik dan tetap baik jika positif thinking.~batin Kei dan mengalihkan pandangan ke arah si kembar lagi.
Abhi terlihat asyik memanjakan Zahra dengan menyuapi lauk dari piringnya, sedangkan Zahra memakan semua makanan dari kedua piring tanpa jeda. Kei hanya menggelengkan kepala, tingkah si kembar selalu ada saja. Kei mengambil nasi dan juga lauk serta sayur. Menyendok dan mengusap lengan Abhi. "Makanlah."
Abhi menerima suapan dari Kei dengan senang hati, kini Zahra makan dari tangannya sendiri dan juga tangan Abhi. Sementara Abhi makan disuapi Kei. Pemandangan itu dilihat oleh dua orang yang baru saja datang dan masuk ke dalam rumah. "Manis sekali. Kapan Zee besar? Aku mau seperti Kei."
"Istirahat, jangan banyak pikiran!"
Aurel memutar mata dan menatap Ken dengan sinis. "Sejak aku bangun, kamu selalu saja meminta ku untuk istirahat. Aku tanya kenapa, tapi jawabanmu selalu saja sama. Kamu kelelahan. Babang Ken, aku baik dan sehat walafiat. Lihat...."
Aurel yang melompat seperti anak kecil, sontak membuat Ken cemas. "Hentikan Aurel!"
Dengan satu tangan Ken menarik tubuh Aurel dan merengkuh tubuh dokter itu dengan erat. Tatapan mata Ken tajam menyurutkan rasa khawatir berlebihan, tatapan itu membuat Aurel tidak paham. "Aku...."
"Jaga anak di kandungan mu!" tukas Ken dan memejamkan mata.
Rencana yang seharusnya berjalan lancar, menjadi gagal. Sudah tidak ada lagi rahasia, niat hati ingin mencari waktu yang tepat. Ternyata keadaan memaksa untuk berkata jujur, tubuh Aurel seketika merosot. Ken berusaha menahan, namun baby Zee masih ada gendongannya.
"Berikan padaku. Bawa Aurel ke kamar!"
Ken melihat siapa yang datang dan berbicara padanya, baby Zee berpindah tangan dan dengan sigap Ken menggendong Aurel untuk dipindahkan ke dalam kamar. Ada rasa bersalah, dan juga sakit. Semua tak sesuai seperti yang direncanakan, kebenaran terungkap terlalu cepat dan itu akan menjadi bumerang.
__ADS_1
Setelah membaringkan tubuh Aurel di atas tempat tidur, Ken menyelimuti tubuh dokter pencuri hatinya. Sekejab membenamkan satu kecupan di kening Aurel, apapun yang akan terjadi biarlah terjadi.
"Biarkan dia istirahat! Ikut aku."