
Keputusan Zain menjadi langkah awal untuk melindungi keluarganya. Berbeda dengan mata yang baru saja terbuka, tatapan mata itu menelusuri seluruh ruangan tempatnya berada. Bibir pucat dengan perban di kepala tak menghilangkan senyuman penuh arti yang terbit begitu saja.
Aku berhasil masuk, satu langkah lagi aku akan mendapatkan tujuanku.~batinnya.
Ceklek….
Suara pintu terbuka, dan mata yang terbuka memulai aksi sandiwaranya. Seorang pria paruh baya mendekati pasien di atas ranjang. "Anda sudah siuman, apa yang nona rasakan?"
"Pusing saja dok, apa yang terjadi dengan saya?" tanya Ery dan memainkan mata seakan sangat pusing.
Dokter memakai stetoskop, memeriksa keadaan Ery dan melirik jam di pergelangan tangan. "Semua sudah baik, hanya perlu istirahat. Tolong usahakan jangan melakukan pekerjaan berat, dan minum obat ini sehari tiga kali. Jika pusing terus berlanjut, nona bisa hubungi saya kembali."
Penjelasan dokter di dengar Ery dengan baik, sembari menahan kepalanya dengan tangan. Pintu yang terbuka sedikit, membuat seseorang masuk tanpa permisi. "Bagaimana keadaannya dok? Apa perlu ke rumah sakit?"
"Nona ini baik, tapi akan bagus jika melakukan pemeriksaan untuk melihat keadaan di dalam kepalanya. Sekecil apapun sebuah benturan pasti berakibat sesuatu." jelas dokter dan berdiri.
"Terimakasih, dok. Mari saya antar, miss Ery istirahatlah. Bibi akan mengantarkan makanan," ujar dad Arza dan mempersilahkan dokter berjalan terlebih dahulu.
Ery menghela nafas lega setelah melihat kedua pria paruh baya itu keluar dari kamar dan pintu tertutup rapat, dengan sigap Ery bangun dan turun dari atas ranjang. Langkah Ery menghampiri meja rias dikamar itu, sebuah cermin bulat memantulkan penampilannya. Perban di kepala dan sedikit goresan di lengan, senyuman terbit dari bibir Ery.
"Selamat datang Cherry Zain Ardana. Wah, itu nama yang indah. Aku tidak sabar memiliki status sebagai istri Zain kesayangan ku. Bukan hanya kamar ini, tapi seluruh rumah dan kekuasaan akan menjadi seorang Cherry. Terimakasih pa, berkat didikan mu aku bisa mencapai tujuan ku tanpa bantuan siapapun." ucap Ery meletakkan tangan di wajahnya.
Sesaat ekspresi wajah bahagia Ery berubah menjadi kecemasan, dan menggigit kukunya. "Bagaimana ini, apa aku harus mengaku siapa diriku pada Zain atau aku tetap menggunakan nama Ery?"
Ery berjalan mondar-mandir, sesaat kesadarannya kembali. Kini nama Cherry sudah terhapus, dan yang tersisa hanya nama Ery, itupun dengan wajah baru hasil operasi plastik. Semua yang mengetahui identitas aslinya pun sudah terhapus dari dunia, dan hanya tersisa satu orang, itu pun ntah dimana keberadaannya. Dilema tengah di rasakan Ery.
Apapun yang terjadi, Zain hanyalah milikku. Sampai kapanpun tidak akan ku lepaskan cintaku untuk wanita lain, tapi aku harus melakukan sesuatu agar Zain mulai membenci wanita naif itu. Tapi apa?~batin Ery berpikir keras.
Siapa sangka sosok yang Ery pikirkan seakan mendapatkan sinyal telepati, Zain terbatuk tanpa henti. Ken yang baru saja keluar dari kamar mandi bergegas mengambil air dan memberikan pada Zain.
"Bagaimana, sudah baikan?" tanya Ken menepuk punggung Zain.
Zain mengangguk dan mengusap air mata yang keluar, tiba-tiba saja perasaannya memburuk dengan pikiran melanglang buana. Zain mengatur nafas untuk menetralkan degup jantungnya. "Ganti pakaianmu dengan itu, aku akan turun melihat persiapan dibawah."
"Bisa beri aku waktu untuk bertemu Aurel?" pinta Ken menatap Zain.
__ADS_1
Puk!
Zain menepuk lengan Ken. "Akan aku usahakan, bersiaplah!"
"Terimakasih bro, kamu memang terbaik," ucap Ken dan memeluk Zain.
Zain melepaskan pelukan dan meninggalkan kamar Ken, langkahnya menyusuri lorong dan berjalan menuruni tangga. Rumah yang biasa sepi, mendadak ramai dengan hilir mudik para pelayan. Mata Zain tak sengaja menangkap sosok sang istri yang baru saja keluar dari kamar Aurel.
"Sayang!" panggil Zain melambaikan tangan, Kei menatap sang suami yang berdiri di tangga.
Baik Zain dan Kei saling berjalan mendekat satu sama lain, keduanya berhenti di depan ruang tamu. Tangan Zain tak sungkan merengkuh pinggang sang istri. Wajah Kei memerah, kini pasangan romantis itu seperti lupa tempat dan memamerkan kemesraan di depan para pelayan.
"Mas, udah ih! Ini kan bukan kamar. Kei harus mengambil gaun untuk Aurel," Kei mencoba melepaskan tangan Zain dari pinggangnya.
Bukannya lepas justru tangan Zain semakin erat mengunci tubuh sang istri, memberikan tatapan penuh cinta, dan membuat banyak pasang mata menunduk. "Siapa yang berani melarang? Kamu itu istriku Keisha Zain Ardana."
"Mas…."
"Aduuh, sakiit. Siapa…."
"Bagus ya, sehari saja biarkan Kei bebas dan bekerja dengan tenang. Kamu butuh kerjaan kan? Ayo bantu mama dibelakang, dan biarkan Kei mengurus Aurel." tukas mom Raina.
"Terimakasih mama udah nolongin Kei, Kei pamit dulu ke atas. Mas senyum," ucap Kei dan berlari kecil meninggalkan suami dan mama mertuanya.
"Ma, ini tidak adil! Aku juga ingin dekat dengan istriku," protes Zain dan melepaskan tangan mom Raina.
"Sudah, sudah. Ayo ikut mama, bantu atur acara nanti malam. Kepala mama masih berputar." ucap mom Raina.
Zain memegang dahi dan juga leher mom Raina, setelah memastikan sang mama baik. Zain menghembuskan nafas lega. "Mama istirahat saja, Zain akan urus persiapan acara pengajian dan juga pernikahan Ken. Ayo, tempat mama bukan disini. Kami sudah dewasa, biarkan kami bekerja tanpa membebani mama."
Tap!
Tap!
Tap!
__ADS_1
"Kenapa kamu keluar? Aku meminta mu untuk istirahat, baru ku tinggal sebentar dan kamu sudah menghilang." ujar dad Arza.
"Pa, lebih baik papa jaga mama. Katakan kurang apa saja, biar Zain yang urus sisanya." ucap Zain.
"Semua sudah selesai, tinggal menunggu waktu dan penghulu. Seperti yang kita tahu jika Aurel anak yatim piatu, dan tidak ada lagi keluarga yang tersisa. Maka Kei akan mendampingi Aurel dan kamu mendampingi Ken. Pernikahan akan dilakukan satu jam lagi, karena penghulu harus pergi ke kota lain."
"Siapkan mahar untuk pernikahan Ken dan Aurel, tanyakan pada Ken mau memberikan mahar apa." jelas dad Arza.
"Boleh mama temani Aurel…"
"No, mom. Mama harus istirahat, atau setidaknya bersiap. Lihat Kei sudah turun dan membawa gaun. Jadi sekarang mama dan papa istirahat saja." cegah Zain.
Kei yang membawa satu gaun putih terbungkus plastik ditangannya dan berhenti di samping dad Arza. "Ada apa? Mama masih sakit kan, kenapa masih berdiri?"
"Papa akan bawa mama ke kamar, kalian jangan lupa bersiap." ucap dad Arza.
Dad Arza mengulurkan tangan dan mom Raina menyambut dengan senyuman, Kei bergeser memberikan jalan untuk ibu mertuanya. Kesempatan itu tidak dilewati Zain untuk merengkuh pinggang sang istri. "Begini baru adil, bukan begitu sayang."
Bisikan Zain, membuat pipi Kei merona merah. Kedua pasangan itu menatap ke arah tangga dimana mom Raina dan dad Arza berpegangan tangan menaiki tangga bersama. "Mas, tolong pikirkan permintaan ku."
"Apapun untuk kebaikan keluarga kita sayang, beri aku waktu untuk mencari kan pekerjaan ganti untuk Ery." pinta Zain dan memberikan kecupan singkat di kening Kei.
Kemesraan itu tak luput dari tatapan mata di balik lubang kunci sebuah kamar. Tangannya mengepal hingga kuku memutih, semakin lama hawa panas menggebu-gebu memenuhi relung hatinya.
Satu jam sepuluh puluh menit kemudian....
"Bagaimana para saksi, sah?" tanya pak penghulu menatap seluruh orang di taman bunga.
"Saah..... "
Wajah seluruh anggota keluarga Ardana lega dan terharu, momen yang tidak disangka terjadi secepat ini. Ken menghadap ke Aurel dan membiarkan Aurel mencium tangan kanannya, Ken membalas dengan kecupan hangat di kening Aurel.
"Relakan semua, mari kita mulai awal hidup baru dengan senyuman." bisik Ken.
Aurel menatap Ken dengan linangan air mata, sungguh tidak menyangka akan secepat ini menjadi istri Ken. Terlebih Ken siap menerima dan mengakui calon buah hati di dalam rahimnya sebagai anaknya sendiri.
__ADS_1
Kuharap bajingan itu segera tertangkap, terimakasih Tuhan telah memberikan kebahagiaan terbesarku. ~batin Aurel memeluk Ken.
"Permisi, Tuan ada yang mengirimkan paket ini." lapor bibi.