
Melihat situasi sudah terkendali, Zain melangkahkan kaki berjalan kembali mendekati mobil. Tanpa Zain sadari dari dalam bangunan seseorang berlari dan berusaha dengan keras mencapai ujung bangunan.
"Zaaiiin."
"Kiing."
Dooor….
Suara tembakan itu cukup jelas mengusir kesunyian. Sementara di tempat lain.
Pyaaar…..
Satu gelas berisi air putih penuh terlepas dari tangan, membuat semua orang saling menatap satu sama lain.
"Mas…." Kei memegang dadanya yang terasa sesak dan sakit.
Si kembar berlari menghampiri Kei, dan menahan tubuh Kei dari dua sisi. "Mom, are you okay?"
Kei memejamkan mata dan menarik nafas dalam, membuka mata dan mengalihkan tangan mengusap kepala si kembar. "Iya sayang, mundur dulu ya. Nanti kena beling."
Kei berniat jongkok dan membersihkan pecahan gelas.
"Nak, jangan. Biarkan pelayan saja. Sekarang bawa anak-anak ke atas dulu!" titah Dan Arza.
Kei mengangguk dan menggandeng tangan si kembar, mata Kei masih sempat melirik ke arah pecahan gelas. Entah apa yang terjadi, tapi perasaannya sungguh tidak tenang. Ada firasat buruk dan nama sang suami terngiang di dalam sanubari nya.
Lindungi suami hamba, Ya Allah. Jauhkan dia dari marabahaya, sebagaimana dia melindungi kami dari mata buruk. Dimanapun kamu berada, aku selalu mendoakanmu Mas. Cepatlah kembali pada kami.~batin Kei.
Abhi melihat wajah sang mommy sangatlah cemas dan gelisah, dengan kode mata Abhi meminta Zahra untuk berhenti dan memeluk Kei dari dua arah. Kei merasa terkejut, namun terharu dengan sikap kedua anaknya. Kei memilih duduk bersimpuh dan membiarkan pelukan teletubbies di tengah ruangan.
"Apa hari ini ulang tahun Kei? Setahuku bukan," gumam Ken yang turun dari tangga dan melihat kehangatan keluarga adiknya.
"Bang, ada apa?" tanya Aurel dibelakang Ken.
Tangan Ken menunjuk ke depan, dimana si kembar memeluk Kei erat dan ketiganya memejamkan mata. Semakin lama diamati, Ken menyadari jika Kei tengah menangis. Sudah pasti ada yang tidak beres. Kemunculan Dad Arza, Mom Raina dan Oma Diana dari belakang tempat Kei berada dengan wajah tegang. Semakin membuat Ken penasaran.
__ADS_1
"Incees bawa baby Zee dan si kembar bersamamu!" titah Ken.
Ken menuruni tangga dan berjalan mendekati Kei, tangan kekar itu mengusap kepala si kembar. "Nak, baby Zee ingin bermain bersama kalian. Pergilah bersama aunty Aurel."
Zahra mendongakkan wajahnya. "Uncle, apa baby Zee bisa bicara?"
"Ra, baby Zee masih bayi…"
"Hehe, bukan gitu Rara sayang. Ini liburan pertama baby Zee bersama kedua kakaknya, apa tidak mau diabadikan. Bagaimana jika berfoto?" sela Aurel.
"Ouh begitu, tapi mommy?" ucap Zahra menatap Kei.
Kei tersenyum dan mengusap pipi Zahra yang sedikit chubby menggemaskan. "Pergilah bersama aunty, Abhi jaga Zahra dan Zee."
"Siap, Mom. Mommy jangan sedih, kami ada untuk mommy. Mmmuuuaaahhh." jawab Abhi.
Satu kecupan pipi kiri dari Abhi, dan Zahra ikut mengecup pipi kanan Kei. "Terimakasih sayang. Have fun."
"Mom too." jawab si kembar dan mengikuti langkah Aurel yang menuju tangga.
"Nak, apa kamu masih kepikiran gelas pecah?" tanya Oma Diana.
Kei mengangguk. Mom Raina menghela nafas panjang. Pasalnya, gelas pecah tadi juga menusuk dadanya. Seperti seseorang menusuk jantung tanpa permisi. Sakit luar biasa, meskipun hanya sesaat. Pikiran pun melayang dan tertuju pada Zain, dimana sampai sekarang tidak ada kabar atau kejelasan dimana sang putra.
"Apa kecemasan kalian, karena Zain bertindak seorang diri?" tanya Ken dan semua orang mengangguk setuju.
Jika sudah seperti ini, artinya sudah kelewat batas. Ken mengambil ponsel dari saku celana dan menghubungi seseorang. Panggilan terjawab dan percakapan singkat terjadi. Kini, Ken pun ikut panik meskipun masih dengan ekspresi tenang. "Kalian tetap disini, jangan kemana-mana. Jika bisa kumpul bersama saja. Aku akan cari tahu apa yang terjadi. Dad, Ken serahkan disini dalam perlindungan Papa.''
"Pergilah Ken, kami ada untuk satu sama lain." jawab Oma Diana.
Ken mengangguk dan sejenak menatap Kei, wajah ceria itu kembali bersedih. Satu tangan Ken mengusap pipi kiri Kei. "Ingatlah, si kembar membutuhkanmu. Jangan bersedih, selain sebagai istri dan menantu. Kini tanggung jawab sebagai seorang ibu diatas hubungan lain, si kembar tidak akan kuat jika melihat sang Mommy bersedih seperti ini. Kamu dengar kakak, Keisha Zain Ardana."
Kei menatap Ken sendu. Tetesan bening di sudut mata Kei, membuat Ken mengusapnya dengan lembut. "Simpan air mata ini demi si kembar. Kakak akan berusaha membawa Zain kembali. Jaga dirimu."
"Makasih, Ka." cicit Kei.
__ADS_1
"Nak, apa kita batalkan saja liburannya?" tanya Mom Raina.
Ken melepaskan tangannya dari pipi Kei dan beralih menatap Mom Raina. "Jangan, Ma. Jika Zain meminta kita disini, itu demi kebaikan kita. Ken sudah bicara dengan pemandu yang memimpin perjalanan. Tempat ini sudah dijaga dari berbagai sisi," jelas Ken dan berdiri.
"Ken pergi dulu, tolong sampaikan pada Aurel jangan khawatir." pinta Ken.
"Hati-hati, Ka." ucap Kei dan membiarkan Ken pergi dari arah pintu lain.
Ken hanya mengangkat jempol tangan dan menghilang di balik tembok penghubung. Oma Diana bangun dan mengulurkan tangan di depan Kei. "Ayo, Kei. Tidak baik bersedih selarut ini. Cukup tetap berdoa demi perlindungan Zain. Bukan begitu, Raina?"
"Iya, Ma. Ayo kita semua ke atas dan bergabung dengan yang lain." jawab Mom Raina menggandeng tangan Dad Arza.
Kei menerima uluran tangan Oma Diana dan kini keempat orang itu berjalan beriringan untuk naik tangga secara berdampingan. Mom Raina bersama Dad Arza di depan dan Kei bersama Oma Diana di belakangnya. Hembusan angin menyambut dengan aroma laut yang menyegarkan. Dari seluruh sisi hanya ada air laut, kecuali dari belakang karena kapal masih belum berlayar.
Terlihat Aurel sibuk memberikan ketiga permata dari keluarga Ardana kebahagiaan sederhana, sungguh Aurel cocok menjadi seorang ibu periang. Kei melihat itu langsung tersenyum dan mendapatkan kekuatan baru. Langkah kaki Kei disambut senyuman manis dari kedua buah hatinya. "Horee Mom gabung, Mom lihat baby Zee ketawanya lucu banget."
"Pasti seneng ya diajak main sama Rara." cetus Kei dan berdiri disamping si kembar.
Aurel mengusap pipi baby Zee. "Pasti seneng, ada teman main apalagi di godain terus ama si kembar."
"Hehe, Rel mau istirahat? Biar anak-anak aku yang jaga. Kamu udah makan buah belum?" tanya Kei.
"Nanti saja, masih mau sama anak-anak." jawab Aurel.
Mom Raina datang dan membawa nampan mangkok potongan buah. "Tidak pake acara nanti, kalian harus makan buah. Ayo semua ambil satu mangkuk!"
Kei membantu dan memberikan satu persatu mangkuk, Aurel menolak tapi Kei tidak mau kalah. "Kita ini keluarga, ingat kamu tengah hamil. Jangan mengikuti malas makan buah, lihat Abhi meskipun susah makan buah. Sekarang siap menemani kamu makan buah, bukan begitu Bhi?"
Abhi tersenyum, ketika dijadikan alasan sang Mommy. "Aunty, buah ini manis banget. Mau Abhi suapi?"
"Wiih, mau donk. Kapan lagi di tawarin cogan," jawab Aurel mengedipkan satu mata dan membuat semua orang tertawa.
Abhi bangun dan menghampiri Aurel, tangan kecil itu benar-benar menyuapi Aurel tanpa ragu. Kei melihat Zahra manyun, alhasil Kei mengambil mangkuk ditangan putrinya. "Sini, Rara tak suapin Mommy."
"Horeee, aaaa." seru Rara.
__ADS_1