
Ery menghembuskan nafas lega, namun belum sempat bergerak. Sayup-sayup Ery mendengar suara langkah kaki, dan itu bukan hanya satu. "Jangan-jangan. Sebaiknya aku sembunyi."
Bergegas Ery mencari tempat persembunyian, benar saja langkah kaki yang didengar Ery semakin mendekati depan rumahnya. Bukan ketukan pintu yang Ery dengar tapi....
"Dobrak!" seru seseorang dari luar.
Suara langkah kaki mundur dan berlari maju, cukup terdengar dari tempat Ery bersembunyin Pintu yang terbuat dari kayu tanpa kualitas terbaik, hancur dalam sekali dobrakan. "Cari pria tua itu!"
Gerudug langkah kaki menyebar keseluruh ruangan, dan suara salah satu orang membuat pencarian dihentikan. "Tuan, ada mayat."
"Mayat?" tanya orang yang memberikan perintah dan bergegas berjalan menghampiri satu ruangan yang ternyata adalah kamar.
Pemandangan yang pertama dilihat, cukup membuat dirinya geleng-geleng kepala. Siapa orang yang memiliki jiwa psico seperti itu? Lihatlah hasilnya sangat mengenaskan. Tapi patut dicontoh, hasilnya benar-benar sangat menjiwai. "Bakar rumah ini!"
"Siap tuan." jawab serempak para anak buah.
Dengan langkah penuh semangat, seorang pria dengan penampilan urakan berjalan meninggalkan rumah itu dan membiarkan anak buahnya menyelesaikan perintah darinya. Sedangkan dirinya memilih memasuki mobil, dan berbaring menikmati ketenangan hidupnya.
Para anggota tuan X tengah melakukan tugas dengan menyiram bensin keseluruh sudut, tak luput dari tempat Ery bersembunyi.
S!al! Kenapa pake acara kremasi segala sih. Aku harus keluar.~ batin Ery dan mengintip dari celah lubang almari.
Melihat tak ada siapapun di dalam kamar, Ery segera keluar dari lemari, dan berlari menuju jendela. Seorang pria yang sibuk menuangkan sisa bensin melihat sekelebat bayangan. "Hey siapa itu? Kalian berdua kejar!"
__ADS_1
"Okay." dua orang mengikuti Ery yang kabur melompat dari jendela.
Pria yang baru selesai menyiramkan bensin, bergegas menemui pemimpinnya. "Tuan ada orang lain dirumah itu. Apa yang akan anda lakukan?"
Tuan X tersenyum, tangannya mengusap kaos sang pelapor. "Aku tahu, tapi biarkan kucing liar itu pergi. Sekarang, makamkan tuan Robert dengan baik. Tanpa jejak sedikitpun!"
"Baik tuan. Saya permisi." kepergian sang pelapor, membuat tuan X mengubah ekspresi wajahnya.
Siapapun kamu, aku akan mengawasimu. Kamu harus bertanggungjawab, yah kamu yang akan menjadi ganti rugi pria tua itu.~ batin tuan X.
Langkah kaki Ery semakin menjauh dari rumah, akan tetapi ada yang mengejarnya. Sejenak Ery berhenti mencari tempat sembunyi. Semak-semak menjadi pilihannya, Ery bersembunyi tanpa peduli tusukan duri yang mengenai lengan putihnya. Dari balik semak, Ery mengawasi dua orang pria yang berlari dan berhenti di jalan utama.
"Gila bisa secepat itu. Apa hantu?" cetus si jambang.
"Ya kali. Udah balik yuk, udah kejauhan ini." ajak si jambang.
"Ok, kamu yang laporan." jawab pria botak dan keduanya memilih kembali, sedangkan Ery masih menunggu di semak.
Sepuluh menit kemudian,
"Akhirnya bisa bebas. Ponselku mana ya? Apa jatuh saat lari? Astaga kenapa ceroboh sekali. Cherry, tamat riwayatmu. Tidak mungkin aku cari sekarang, sudahlah. Aku fikirkan nanti saja, sekarang aku harus balik ke rumah Zain." ucap Ery sembari meregangkan otot tubuhnya.
Dengan langkah yang tertatih, Ery berjalan tanpa alas kaki. Demi berlari sekencang mungkin, Ery terpaksa membuang sepatu heels nya. Jalanan yang sangat sepi dengan jarak tempuh yang cukup jauh hingga mencapai tempat kendaraan lewat.
__ADS_1
Meninggalkan Ery yang tengah menikmati cuaca panas dengan berjalan diatas tanah berdebu tanpa alas kaki. Di dalam rumah sakit, seorang bayi perempuan dengan kulit putih, hidung mancung, mata coklat dan rambut hitam. Bayi itu menjadi seperti bola yang di oper kesana dan kemari. Membuat ayah si bayi tepuk jidat. "Hentikan! Apa kalian mau baby Zee pusing? Astaga, ayo sini nak. Kakek dan paman mu sungguh keterlaluan."
"He he he papa gemas dengan baby Zee. Ayo kita pulang. Pasti yang lain sudah menunggu." cetus dad Arza dan bangun dari tempat duduknya.
Zain mendekati Kenzo dan mencoba mengambil baby Zee. Tapi Ken segera menggeser posisi tubuhnya. "Bilang ama Kei kalau mau, ayo pa. Biarkan Zain tinggal dirumah sakit."
"Eh awas ya!" ancam Zain dengan sikap santai.
Kenzo tak memperdulikan ancaman Zain dan berjalan di samping dad Arza, baby Zee nampak tenang di gendongan tangannya. Ketiganya meninggalkan rumah sakit, dengan memasuki mobil. Kali ini Zain memilih duduk di samping pak sopir. Dan Kenzo serta dad Arza duduk di belakang. "Pak lewat jalan proyek ya, sekalian mau lihat seluas apa wilayahnya."
"Nak, kita bawa baby Zee loh!" Dad Arza memperingatkan sang putra.
Zain hampir lupa soal baby Zee. "Sorry pa. Zain tidak fokus. Papa bisa pulang bersama Ken dan baby Zee. Zain akan naik taksi untuk mengunjungi proyek."
"No! Dad boleh Ken titip baby Zee? Dalam situasi seperti sekarang, tidak baik membiarkan Zain pergi sendiri." protes Ken dengan memberikan jalan baru.
Dad Arza mengangguk dan menerima baby Zee dengan senang hati. "Sebaiknya kunjungan dadakan saja, jangan berikan pesan pengingat. Nanti papa sampaikan, kalian masih ada pekerjaan. Hati-hati dan waspada nak."
"Siap boss." ucap Zain dan Ken serempak.
Zain keluar dari dalam mobil, disusul Ken. Membiarkan mobil sang papa meninggalkan gedung rumah sakit, Zain menatap Ken. Dan Ken paham maksud sahabatnya itu. "Mau ke proyek langsung atau?"
"Pesan saja dulu! Nanti juga tahu." tukas Zain dengan menyilangkan kedua tangannya di dada.
__ADS_1