
Zain sibuk melakukan pemeriksaan, beberapa file tersedia. Dari nama setiap file sudah jelas memiliki jawaban tanpa dibuka, tapi ada satu nama yang menarik perhatiannya.
"File Ghosh Twins?"
Satu klik di File Ghosh Twins, tampilan gambar bermunculan. Zain masih menunggu gambar sembari memeriksa ponsel dan memberikan kabar jika malam ini tidak akan pulang. Untuk pertama kalinya. Sejak peristiwa naas terakhir, Zain memilih berada di luar rumah di saat situasi tegang.
Gambar satu persatu mulai terlihat jelas, Zain melirik dan mengerjap berulang kali. Hampir saja ponsel di tangannya terjatuh, setiap gambar menjelaskan titik masalah yang ternyata sudah masuk ke dalam rumah dan itu karena dirinya sendiri. Semua bukti ternyata sudah ada, tapi kenapa Levin seakan waspada dan bersikap seperti tidak tahu apapun.
Mungkinkah ada mata-mata? Jika iya, siapa? Satu orang jelas memang akar masalah, tapi siapa yang menjadi mata selama ini?~batin Zain.
Bukan hanya amarah yang diutamakan, kini keselamatan seluruh keluarga harus di atas segalanya. Zain melakukan penyalinan data dan mengirimkan salinan pada orang yang tepat. Setelah menyelesaikan tugasnya, Zain menghentikan kegiatannya dan memilih beristirahat sejenak.
Keesokan harinya…..
Kediaman Ardana terlihat ramai di pagi hari. Ada kesibukan yang tak biasa, terutama Kei dan Mom Raina. Kedua wanita itu kompak bekerja sama menyiapkan sarapan pagi. Langkah kaki tegas terdengar menggema menuju ruang tengah, Kei yang melihat wajah sang suami langsung bergegas menghampiri dan mencium tangan Zain.
"Apa semua sudah siap?" tanya Zain.
"Semua masih di dalam, biarkan bersiap. Aku dan mama masih menyiapkan sarapan. Apa kamu baik-baik saja mas?" jawab Kei.
Zain mengusap kepala Kei dan tersenyum manis. "All fine, sekarang aku masuk dan bersiap. Tidak perlu bawa apapun, semua sudah ku siapkan."
"Iya mas, bisa panggilkan si kembar untuk sarapan." pinta Kei.
Zain mengangguk dan berjalan meninggalkan Kei, sementara Kei kembali menghampiri ibu mertuanya di dapur. "Mom, biar Kei yang selesaikan. Papa pasti mencari mommy."
Mom Raina meletakkan mangkuk di atas meja. "Biarkan pelayan yang melanjutkan, bukankah Zain baru pulang? Lebih baik urus Zain dulu, ayo kita ke atas bersama. Bi, tolong sajikan ke atas meja makan!"
"Siap Nyonya."
Mom Raina menggandeng tangan Kei, keduanya berjalan beriringan dengan obrolan basa basi. Tidak ada raut wajah cemas atau tegang, semua itu berkat Oma Diana yang semalaman memberikan ceramah singkat. Berbeda dengan wajah Ery, wanita itu tengah menahan rasa pusing di kepala. Niat hati ingin melakukan sesuatu di pagi hari, tapi berakhir lemah di ranjang. Entah pusingnya karena apa, efek jatuh kemarin atau pikiran yang stuck.
"Aku harus apa, obatku ada di kamar pondok. Bagaimana aku mendapatkan obatku? Sakitnya," racau Ery memegang kepalanya.
Di tengah kondisi yang tak stabil. Ery bertahan dengan rasa sakit, sementara keluarga Ardana sudah berkumpul di ruang makan untuk sarapan. Zain hanya diam dan memperhatikan siapa yang tidak hadir.
__ADS_1
"Bi, apa sudah panggil Miss Ery?" tanya Kei.
"Maaf non, mau saya panggilkan?" tanya balik bibi.
"Tidak perlu, siapkan saja dan antar ke kamarnya," Zain menghentikan Kei dan memberikan kode mata agar istrinya itu duduk dan sarapan. "Jangan lupa, katakan pada guru si kembar. Untuk bersiap dan ikut liburan. Jika dia ingin."
"Zain?!"
"Bro?!"
"Sudahlah Mom, Ka. Mas Zain pasti berniat baik. Ayo nikmati sarapannya. Nak, mau tambah?" ucap Kei.
Hati Zain lega mendengar Kei berbicara membelanya tanpa tahu maksud dan tujuan dari keputusannya. Kepercayaan sang istri menjadi semangat dan kekuatan tersendiri, terlebih apapun yang akan dilakukan adalah hal besar dan beresiko.
Bibi sudah berjalan menuju ke kamar Ery, dan melakukan seperti perintah Tuan Muda. Ery yang melihat pergerakan pintu, langsung berpura-pura terlelap. Bibi berjalan menghampiri ranjang dan meletakkan nampan sarapan di atas lemari sedang. Tanpa mengurangi kesopanan, bib mendekat dan menggoyangkan lengan Ery perlahan.
"Non, sarapan sudah siap." ucap bibi.
Ery mengerjapkan mata, dan menatap bibi dengan lembut dan senyuman manis. "Maaf merepotkan bibi."
"Saya bisa sendiri, terima kasih Bi." jawab Ery.
Bibi memberikan nampan setelah Ery duduk bersandar. "Tuan Muda bilang, Non bersiaplah setelah sarapan. Hari ini semua akan berlibur."
Ucapan Bibi seperti hembusan angin segar, hati Ery berbunga-bunga. Tentu momen langka seperti ini tidak boleh dilewatkan. Kebahagiaan Ery terpancar dari sinar matanya. "Saya akan bersiap. Ucapkan terima kasih saya, untuk Tuan Muda."
"Iya, Non. Saya permisi." pamit Bibi.
Bibi berjalan meninggalkan kamar, begitu pintu tertutup. Ery menyingkirkan nampan dan melompat dari atas kasur, rasa pusing yang mendera seakan sirna tak tersisa. Kabar bahagia dari Bibi, membuat Ery tak membutuhkan obatnya lagi. Melompat kesana-sini dan berhenti setelah mengingat sesuatu yang penting. Wajah Ery kembali tegang dan berpikir.
"Huft, bagaimana ini? Mengambil hati Zain lebih penting dari masalahku kemarin. Sebaiknya aku fokus pada Zain, toh tidak ada yang tahu perbuatan ku dan masih tidak ada yang sadar menghilangkan pelayan itu. Ayo Ery dandan yang cantik. Eh, aku harus ke pondok untuk bersiap," gumam Ery dengan menggigit kukunya.
Tanpa menikmati satu suap sarapan pun, Ery bergegas meninggalkan kamar. Kei yang melihat Ery keluar dari kamar, justru di tahan Zain untuk diam di tempat. Gelengan kepala Zain, membuat Kei menghela nafas pelan.
Sikap Mas Zain terlalu aneh, dan diamnya sungguh membuat ku tak tahu harus bersikap seperti apa. Apa yang akan kamu lakukan mas? Kenapa mengambil tanggung jawab sendiri? ~batin Kei.
__ADS_1
"Pa, kita berlibur kemana?" tanya Zahra.
"Surprise sayang. Ken, kamu semobil dengan Aurel, Oma Diana dan si kembar. Bisa?" ucap Zain.
"Pa, aku mau dengan Papa dan Mommy!" protes Zahra.
Abhi mengusap lengan adiknya. "Ra, baby Zee pasti sama Aunty Aurel dan Uncle Ken. Siapa tadi yang minta semobil dengan baby Zee?"
"Benarkah?" tanya Zahra menatap sang Papa.
Zain mengangguk, membuat Zahra menatap Ken untuk meminta kepastian. Aurel yang melihat itu menyikut Ken yang tengah melamun. "Eh ada apa?"
"Ken, jangan melamun! Dad, bisakah semobil dengan Mom dan Kei?" ucap Zain.
"Mas!" protes Kei.
"Aku menyusul, ada urusan. Tapi sudah ada yang mengatur perjalanan kita, jadi tenanglah. Kita berjumpa ditempat seharusnya," jelas Zain agar Kei tak salah paham.
"Nak, apa ada sesuatu?" tanya Dad Arza.
"......"
"Pagi semua, saya datang dari agen perjalanan. Apa semua sudah siap?"
"Siapa kamu?" tanya Ken menatap intens wanita sexy yang nongol tiba-tiba di antara keluarga Ardana.
"Ekhem! Dia yang akan memimpin perjalanan, Ken mobil mu akan dibelakang motornya dan mobil Dad akan dibelakang mobil Ken. Apa sekarang paham?" jelas Zain.
Ken menatap Zain dan mencoba melakukan kode mata, hingga akhirnya Ken menyerah dan lebih baik melihat apa rencana bosnya itu. Terlebih semalam Zain menghilang dan memilih sendiri. Sarapan berakhir dengan wajah tak puas, namun tetap saja melihat si kembar antusias untuk berlibur menjadi semangat tersendiri. Semua anggota keluarga Ardana satu persatu memasuki mobil yang sudah terparkir cantik menuju pintu gerbang. Zain membukakan pintu mobil, membiarkan sang istri masuk di kursi belakang seorang diri.
"Jangan khawatir, hanya sesaat berpisah. Jaga dirimu dan jangan berhenti berdo'a. Aku mencintaimu Keisha istri tomboi ku." bisik Zain sebelum menutup pintu.
Ucapan Zain menyentuh hati Kei, menghadirkan tetesan bening di sudut mata. Motor sport sudah melaju dan meningkatkan gerbang, diikuti mobil Ken dan mobil Dad Arza. Zain melambaikan tangan mengiringi kepergian seluruh anggota keluarganya.
Aroma parfum yang menyengat beredar menusuk hidung dan semakin mendekat, dari bayangan di bawah. Terlihat jelas seseorang berniat memeluk Zain dari belakang. Zain bergeser senatural mungkin dan berjalan menuju garasi mobil.
__ADS_1