
"Untukmu mas, dan ini untukmu kak." ucap Kei dengan meletakkan dua jus mangga segar.
Zain langsung meminum, meskipun hanya beberapa teguk. Berbeda dengan Ken, duda satu itu langsung menghabiskan jus tandas tanpa sisa. Kei menggelengkan kepalanya. "Mau nambah ka?"
"Gak de. Kakak butuh penjelasan Zain, kenapa membawa wanita asing ke rumah." jawab Ken dengan tatapan terarah ke Zain.
Zain melirik Kei, Kei paham maksud suaminya. "Jadi wanita itu guru les si kembar. Miss Ery namanya, datang hari ini dan tadi pamit pulang ke rumah. Lalu, apa yang terjadi padanya?"
Zain menarik tangan Kei agar duduk disebelahnya. Ken masih sabar menunggu penjelasan, karena Kei hanya menjelaskan poin teringan. Pasti ada poin berat yang menjadi alasan ekspresi Kei tak tenang.
"Tadi saat perjalanan ke proyek. Mobil taksi yang kami tumpangi menabrak seseorang, Ken yang memeriksa. Tapi saat Ken meminta tuker tempat duduk dan berniat membawa korban ke rumah sakit. Aku keluar dari mobil dan tak sengaja melihat wajahnya. Maka dari itu, aku bawa pulang. Lagipula tidak luka parah, dan mungkin baru terjadi sesuatu padanya. Entahlah." jelas Zain dengan menggenggam tangan Kei.
Ken mengamati setiap perubahan ekspresi Kei. Wajah Kei terlihat menegang dan pipi bersemu merah, ada sesuatu yang di sembunyikan Kei. Apa Zain tidak menyadari itu? Gimana sadar, setiap kali di dekat Kei. Baik tangan dan mata selalu tak kondusif. "Ekhem! Zain ruang tamu ini! Kei boleh bantu kk mengurus baby Zee?"
"Ka Ken ini! Tanpa diminta pasti aku dengan sepenuh hati merawat baby Zee. Apa ada obat atau lainnya yang harus ka Ken beritahu?" Kei menatap Ken seperti seorang adik ke kakaknya.
Ken mengangguk, tapi melirik ke arah Zain. Kei tahu maksud kakaknya itu, bagaimana dengan bayi besarnya. "Tenang ka. Mas Zain pasti paham, sedikit berkurang waktunya tak akan jadi masalah. Iya kan mas?"
Kedipan mata Kei, membuat Zain meleleh. Tangan kekar itu bersiap merengkuh bibir manis sang istri. Tapi keinginan hati Zain gagal total, karena terdengar suara seorang wanita dengan suara khas cemprengnya.
"Siang menjelang sore tuan Zain, nyonya Kei dan babang Ken. Dimana pasiennya? Atau babang Ken yang sakit? Sini biar Aurel periksa." sapa seorang wanita dewasa dengan tingkah absurd.
Kei menahan tawa, setiap kali dokter Aurel datang. Sudah pasti ka Ken memilih kabur, tapi hari ini terlambat. "Dok, ikut saya. Saya akan tunjukkan kamar pasiennya."
"Thanks de. Terbaik." gumam Ken mengacungkan dua jempolnya.
Kei mengangguk, setidaknya bisa kabur dari Zain dengan membantu kakaknya. Kei dan dokter Aurel berjalan beriringan meninggalkan ruang tamu, kini tinggal Zain dan Ken. Rumah sepi, karena si kembar waktunya jam tidur siang. Dan dad Arya bersama mom Raina masih sibuk menjaga baby Zee di kamar.
"Apa ada yang aku lewatkan? Guru privat si kembar, nanti apa lagi?" sindiran Ken.
__ADS_1
Zain bangun dari tempatnya dan berjalan meninggalkan ruang tamu. Ajakan lambaian tangan Zain, membuat Ken ikut bangun dan menjadi ekor langkah kaki Zain. Keduanya memasuki ruang kerja yang pastinya kedap udara. Zain membuka salah satu laci dan mengambil sebuah map biru, untuk diberikan pada Ken. "Ini perjanjian kerjasama. Periksalah. Miss Ery guru rekomendasi terbaik dari satu lembaga pendidikan ternama."
"Satu orang asing masuk. Sebaiknya jangan ada orang asing lagi." Ken mengingatkan Zain, seperti Zain menolak secara halus tentang menyewa perawat untuk baby Zee.
"I know. Berikan ponselku, aku ingin tahu perkembangan markas." ucap Zain dan duduk di kursinya.
Ken merogoh saku dan memberikan dua ponsel sekaligus. Terserah Zain mau memakai ponsel siapa. Dengan mata fokus, Ken membaca setiap poin. Hingga poin terakhir terlalu ambigu untuknya. Apa maksud dari meminta jaminan tempat tinggal? Apa wanita itu gelandangan? Atau tengah kabur dari rumahnya sendiri?
"Zain, apa arti poin terakhir di klausul nomer 5?" tanya Ken dan masih mencerna setiap poin.
"Dia itu baru datang ke Indonesia. Dan di sini tidak ada keluarga ataupun tempat tinggal. Syarat jaminan tempat tinggal menjadi poin utama, karena tanpa itu sudah pasti akan bingung mencari tempat tinggal. Aku siapkan pondok belakang. Dia akan tinggal disana." jelas Zain sembari mengotak-atik ponselnya.
Ken paham. Kini semua jelas, tapi wajah Kei? Apa yang terjadi sebenarnya. Apa ada masalah lain. "Zain, apa Kei marah hanya karena telepon tadi pagi? Atau ada masalah lain?"
Zain menghentikan kesibukannya dan menatap ke arah Ken. Ken yang menyadari tengah di pandang, menutup map di tangannya. "Ada apa?"
"Aku rasa, kemarahan Kei hanya karena telepon tadi pagi. Hari ini aku keluar bukan, belum bertanya apapun pada istriku itu. Aku akan tanyakan nanti." jawab Zain ambigu.
"Ide bagus. Tahan Kei di bawah, dan pesan kan aku buket bunga mawar merah. Aku pergi dulu." pamit Zain dan membawa ponselnya.
Ken terkekeh melihat semangat sembilan lima Zain. Semakin lama hubungan pasutri itu, sikap Zain semakin panas. Agresif dan posesif. Bahkan kini, Kei harus keluar jika ada dirinya atau sang suami. Dan Kei memilih berbelanja online atau mengirimkan daftar list agar di belanjakan. Setidaknya Kei tidak mau membuat Zain sibuk dengan masalah sepele.
Triing…..
Satu pesan mengalihkan perhatian Ken dari lamunannya. "Siapa ya?"
Dengan membuka satu geseran, terlihat notifikasi pesan masuk beberapa puluh chat. Tapi chat yang bernada dering, sudah pasti salah satu orang terpenting dalam hidupnya. Mata Ken mengerjap setelah membuka satu pesan. Pesan yang tidak ada sensornya sama sekali. "Dasar gila! Tapi tunggu dulu. Ini?"
Sebaiknya aku diam dulu. Aku ingin melihat baby Zee. Bagaimana kabar putriku. Andai semua tidak terlambat. Mungkin saat ini harum masakan istri tersebar keseluruh rumah. Tapi nasi sudah menjadi bubur dan waktu tidak akan pernah kembali. ~ batin Ken.
__ADS_1
Langkah kaki Ken berjalan menuju pintu ruangan kerja, belum sempat langkahnya menjauh. Pintu terbuka dan seseorang masuk dengan wajah menunduk. Ken paham apa yang dibutuhkan orang di depannya. "Duduklah dulu. Kita bicarakan secara baik dan tenang."
"Okay." jawab orang itu dan berjalan mendekati Ken dan kini keduanya duduk berhadapan.
Ken mengambil segelas air putih di atas meja, menyodorkan ke orang di depannya. "Minumlah dan katakan ada apa? Apa yang mengusikmu?"
Gluug…
Gluug…
Gluug…
Tuk…
Rasa hausnya seakan menjadi penyegar dahaga. Jari jemarinya saling bertautan. Ken menggenggam kedua tangan itu, mengusapnya dengan penuh kasih sayang. "Katakan jika sudah siap. Jangan memaksakan diri."
"Aku…."
Ken mendengarkan dengan seksama. Kini dirinya memahami satu situasi dari dua sudut pandang. Apapun yang telah terjadi, biarlah. Tapi masa depan tidak boleh terulang. Dengan lembut, Ken mengusap air mata yang jatuh. "All will be fine. Aku tidak akan menyerah. Apapun yang terjadi, pastikan kita bertahan. Setiap usaha pasti mendapatkan hasil yang baik. Jangan berfikir kamu sendiri. Aku ada untukmu selamanya. Selama nafasku masih di raga."
...~~~~~...
...Dunia menjadi panas, ketika cinta ternodai....
...Senyuman dan air mata tak lagi sama....
...Kepercayaan menjadi dasar hubungan....
...Ketika, keraguan menyusup....
__ADS_1
...Semua berubah tanpa disadari....