My Love Is Stuck With Tomboy Girl

My Love Is Stuck With Tomboy Girl
Bab 82: Special Part #Rumah sakit


__ADS_3

"Mom, aku akan segera kembali." Abhi berjalan dengan rasa kacau di dalam hatinya.


Kei mengusap wajah Zain yang sangat tidak terawat. Tidak mungkin hatinya salah. Pria dengan jambang di pangkuannya itu adalah Zain. Mana mungkin hati berbohong. Setelah sekian lama, detak jantung Kei kembali berdetak atas nama cinta. "Mas, bertahanlah. Kami membutuhkanmu...."


Tap!


Tap!


Tap!


"Mom, biar Abhi yang angkat papa." Abhi datang lebih cepat dan langsung mengambil alih posisi Kei.


Kei mengalah dan membiarkan putranya memapah Zain. Izzi yang masih memegang tangan kanan Zain, ditahan oleh Kei. "Kamu, ikut bersamaku!"


Suara seorang istri yang terluka terdengar menyayat hati. Izzi menatap Kei nyalang dan mengangkat tangan. Pergerakan itu disadari Kei. "Tidak semudah itu," Kei menangkap tangan Izzi dan menghempaskan nya.


"Lepas!" Seru Izzi.


Kei tidak mendengarkan dan menarik tangan Izzi untuk ikut menyusul Abhi. Meskipun gadis itu memberontak, Kei mecengkram tangan Izzi dengan erat. Tanpa Kei sadari, cengkraman tangannya berlebihan. Beberapa karyawan yang melihat kemarahan dan juga wajah dingin Kei hanya bisa menelan saliva kasar.


Mobil merah dengan seorang sopir sudah siap di depan lobi. Satpam membuka pintu kaca kantor begitu melihat Kei mendekati pintu keluar. "Pagi, Nyonya."


Kei hanya mengangguk dan keluar dari kantor menuju mobil. Pintu belakang dibuka. "Masuk!"


"......"


"Masuk, atau aku tinggal!" tukas Kei, membuat Izzi meringkuk dan masuk ke dalam mobil.


Kei ikut masuk dan pintu ditutup dengan kasar. "Jalan!"


Tidak ada jawaban, sopir menyalakan mesin mobil. Satu dering pesan, mengalihkan perhatian Kei. Tangannya mengambil ponsel di dalam saku kemeja dan melihat siapa yang mengirim pesan.


"Pak, bisa lebih cepat!" tukas Kei.


Wajah khawatir sang majikan, membuat sopir menambah kecepatan. Sementara mobil yang ditumpangi Abhi dan Bian beserta Zain dan juga Rara telah sampai di parkiran rumah sakit umum. Abhi langsung keluar dari mobil dan dibantu Bian membawa Zain keluar dari mobil.

__ADS_1


"Bi, bantu aku bawa Rara. Kita periksa Rara sekalian. Cepatlah!" titah Abhi di dalam kekhawatiran dan juga ketegangan.


Abhi mengendong Zain di belakang agar lebih cepat dan berlari menyusuri setapak halaman rumah sakit. Bian menyusul dengan menggendong Rara di depan. Wajah pucat Rara, membuat pria itu khawatir dan berdoa di dalam hati.


Tanpa melakukan pendaftaran. Abhi mengendong papanya sampai di depan ruangan UGD dan menendang pintu. Meskipun terhuyung sesaat, Abhi tetap menjaga keseimbangannya. Bian yang melihat itu hampir menjatuhkan Rara dari gendongannya. Bagaimana sikap bar-bar Tuan Muda, sangatlah wow dan menarik semua pasang mata tak berkedip.


"Ekhem! Bubar-bubar. Ini bukan tontonan." ucap Bian dengan tegas.


Orang-orang yang ada di lorong sekitar UGD berpura-pura tidak melihat, meskipun ingin komplain. Melihat bagaimana keberanian pemuda tampan mendobrak ruang UGD. Sungguh itu hal langka. Abhi membaringkan tubuh Zain di brankar dan mengambil ponsel.


"Cepat ke ruang UGD. Sekarang!" titah Abhi dan menutup telpon.


"Pa, bertahanlah demi kami. Apa sebaiknya...." Abhi tidak melanjutkan ucapannya karena pintu UGD terbuka.


Dokter dengan rambut beruban masuk tanpa permisi bersama beberapa dokter lainnya. "Apa keluhan, Tuan Muda?"


"Periksa pria ini dan ambil sampel darahnya. Lakukan pemeriksaan tes DNA sekarang!" titah Abhi.


Para dokter saling menatap satu sama lain dan tidak paham dengan perintah Tuan Muda nya. Abhi menjentikkan jari, membuat ketidak pekaan para dokter buyar. "Hello, kenapa kalian bengong? Cepat kerjakan!"


"Siap, Tuan Muda." Jawab dokter serempak.


"Ruangan Dokter Via." gumam Abhi.


Sebagai cucu dari pendiri rumah sakit, tentu Abhi menghafalkan setiap sudut dari denah rumah sakit. Ruangan dokter Via masih satu lorong dengan ruangan UGD. Dari luar terdengar percakapan beberapa orang, membuat Abhi masuk tanpa permisi.


"Maaf, anda siapa?" seorang wanita dengan jas putih rambut tergelung, penampilan wanita itu seperti akan menghadiri sebuah acara.


Abhi tidak menjawab dan tetap melangkah masuk. Pintu ditutup dan Abhi menghampiri saudara kembarnya di atas brankar. Bian bangun dari kursi menunggu. "Dok...."


"Aku, kakak pasien." Jawab Abhi.


Dokter Via mengangguk dan kembali melihat hasil laporan. "Baik, ini resep dan tolong jaga emosi pasien. Tekanan darah rendah dan tingkat stress pasien tinggi. Buat pasien merasa nyaman dan bahagia."


Selembar kertas diterima Abhi dan di ulurkan ke Bian. Tanpa menunggu perintah, pria itu meninggalkan ruangan dokter Via. Abhi mengusap wajah Rara. Setelah sekian lama, gadis ceria dengan segudang kejahilan kembali terdiam dalam ketidaksadaran. Mata dengan bulu mata lentik perlahan mengerjap, Abhi tersenyum menyambut saudara kembarnya.

__ADS_1


"Jangan bangun dulu, sayang. Mana yang sakit?" Abhi mengusap tangan Rara.


Rara melihat ke segala penjuru ruangan melalui ekor matanya. Abhi paham, siapa yang di cari Rara. "Sabar, aku akan memastikan semuanya nyata. Bertahan sebentar lagi. Demi aku dan mommy. Kamu paham?"


Rara memejamkan mata, lelehan air mata keluar dalam diam. Abhi mengusap air mata itu dan mengecup kening Rara penuh kehangatan. "Jika papa sudah waktunya kembali. Pasti akan kembali, bukankah doa kita tidak pernah putus harapan."


"Aku rindu papa...." gumam Rara.


Gumaman itu sangat lirih, namun menyayat hati Abhi. Tanpa terasa, cairan bening ikut menetes dari sudut matanya. Sesak, sakit tak terhingga. Rasa rindu yang menggebu-gebu dengan segala kepahitan hidup selama ini. Semua bercampur menjadi satu.


Tuhan, aku tidak meminta harta ataupun tahta. Tapi, lindungi keluargaku dan ampuni kami. Persatukan mommy bersama papa dan buatlah Rara tersenyum seperti dulu lagi. Kebahagiaan kami tidak lengkap tanpa satu sama lain.~batin Abhi.


Dokter Via yang menyaksikan bagaimana kedekatan antara dua bersaudara itu, ikut terharu dan mengusap air matanya sendiri. "Tuan, lebih baik pasien beristirahat. Setelah satu botol cairan infus habis, maka pasien boleh dibawa pulang."


Abhi mengusap air matanya dan menatap dokter Via. Satu tangan kanannya di ulurkan, membuat dokter Via tidak paham. Bukannya menyambut uluran tangan Abhi. Dokter Via justru mengerutkan dahi.


"Terima kasih." ucap Abhi.


Spontan dokter Via menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan tersenyum manis menyambut tangan Abhi. "Sama-sama, Tuan."


Ceklek.....


Dokter Via dan Abhi, serempak menatap pintu secara bersamaan dengan tangan masih berjabat tangan.


"Apa tangan kalian di lem?"


"Ekhem!" deheman dari luar pintu.


Abhi melepaskan tangannya dari genggaman dokter Via dan memberikan kode pada Bian untuk membuka pintu. Melihat siapa yang ada diluar, Abhi melirik kearah belakang dimana Rara berada.


"Sebaiknya, kita keluar. Dok, jaga Rara dan cancel semua jadwal pemeriksaan anda hari ini!" titah Abhi.


Mata coklat dengan pupil sipit itu membulat seperti mata boneka. Mulutnya terbuka mendengar permintaan saudara pasiennya. "Bagaimana...."


"**Ikuti perintah ku! Jika anda ingin bekerja dirumah sakit ini." tegas Abhi dan berjalan keluar meninggalkan ruangan dokter Via.

__ADS_1


"Kita ke ruangan lain. Dimana dia?" tanya Abhi.


Hening**....


__ADS_2