
Ceklek…
Pintu terbuka tanpa ketukan, membuat Zain dan Kenzo melepaskan pelukan. Dan menatap sosok yang memasuki kamar tanpa permisi. Wajah manis dengan senyuman berdiri di depan pintu. "Apa yang kalian rencakan?"
"Kemarilah sayang, Ken membawa berita baik untuk kita semua." Zain melambaikan tangan ke Kei agar mendekatinya.
Kei melangkahkan kaki, mendekati sang suami bersama kakak angkatnya. "Benarkah? Apa ka Ken akan membawa baby Zee pulang?"
"Iya de. Aku akan membawa baby Zee pulang. Sudah hampir sebulan baby Zee dirawat. Dokter sudah memberikan surat izin pulang melalui layanan pemantau." jelas Kenzo dan memilih duduk di sofa kamar bossnya.
Zain memeluk pinggang Kei dengan posesif dan ikut duduk di sofa. "Tapi sepertinya kalian menyembunyikan hal lain?"
Zain dan Kenzo saling menatap dan sepakat menjawab dengan kode kedipan mata. Tangan Zain terlepas dari pinggang Kei, beralih menangkup wajah gadis tomboy penjinak hatinya. "Sudah waktunya si kembar tahu masalalu keluarga besar kita. Apa aku bisa mengatakan semua pada si kembar? Abhi mulai bertanya pada Kenzo tentang hal ini."
"Apa tidak sebaiknya tunggu oma? Tapi jika ini semakin berlarut, kesehatan si kembar akan terganggu. Baiklah. Mari kita bicarakan ini setelah makan malam." Kei berfikir sembari mengutarakan pemikirannya tanpa ragu.
"Ekhem! Bisakah kalian kasihani duda satu ini? Masih banyak waktu untuk bermesraan." canda Kenzo dengan melompat meninggalkan sofa sebelum bantal sofa ada yang melayang ke arahnya.
Wuusss.. Hap…
__ADS_1
"Weeee tak kena." ejek Kenzo berlari keluar kamar setelah menangkap satu bantal sofa yang dilempar Keisha.
"Awas aja ya…" gerutu Kei sembari berkacak pinggang dengan bibir manyun, meskipun dalang peledekan sudah kabur.
Greeeb…..
Tangan kekar melingkar ke perut Kei, hembusan nafas hangat menerpa tengkuk leher dan membuat wajah Kei memerah tanpa sebab. Bisikan manis meluluhkan hatinya yang jengkel. "I love you my tomboy wife.( Aku mencintaimu istri tomboi ku.)"
"Mas, lepas nanti ada yang lihat." Kei mencoba menghindar dari bujukan halus Zain.
Zain tak peduli dengan rengekkan Kei. Bibir sexy itu sudah menemukan hobi barunya dengan menyesap leher jenjang sang istri. Kesibukan kedua pasutri itu tanpa melihat kondisi, pintu kamar yang masih terbuka tiba-tiba tertutup dengan keras.
Braak…
Zain tetap stay dengan posisi ternyaman, sedangkan Kei sudah menutup wajah malunya dengan telapak tangan. Rasanya sangat malu ketika bermesraan dipergoki ibu mertuanya.
"Zain Ardana!" Mom Raina memberikan peringatan sekali lagi, sontak Zain cemberut dan melepaskan tangannya dari perut sang istri.
"Kei, pergilah sebelum singa mu menerkam lagi. Biarkan mama bicara dengan anak nakal satu ini." titah mom Raina dengan tenang.
__ADS_1
Kei mengangguk dan melirik sang suami, kedipan mata Zain memberikan izin agar dirinya meninggalkan kamar. Langkah kaki Kei menuju pintu keluar, setelah pintu tertutup. Mom Raina berjalan dan memilih berdiri didepan jendela kamar, matanya tertuju pada taman dibawah sana. Musim kemarau telah berganti musim penghujan, rintik-rintik air mulai berjatuhan.
Zain merasakan kesedihan mamanya. Dengan sikap tenang, Zain memberikan pelukan hangat seorang anak. "Mom merindukan princess? Bukankah sekarang princess telah kembali dalam wujud putri Zain. Mom lepaskan rasa sakit itu, kami ada bersamamu mom."
"Maafkan mom, andai mom lebih berhati-hati menjaga kalian. Bagaimana dengan pencarian mu, Nak?" tanya mom Raina sembari mengusap lengan putranya.
Zain memejamkan mata, satu hal selama dua tahun masih tersembunyi dari keluarganya kecuali sang mommy. Mungkin diam adalah jalan yang terbaik, dan hasilnya hanyalah sikap posesif dalam melindungi seluruh anggota keluarga Ardana. "Seperti hilang ditelan bumi. Tidak ada jejak apalagi wujud, Zain harap tidak akan pernah nampak. Semua sudah Zain lakukan, tapi tidak ada seorangpun yang menemukan dia."
"Bersabarlah nak. Berarti anak-anak tetap home schooling?" tanya mom Raina.
"Sungguh ma, Zain ingin memberikan kebebasan untuk si kembar. Tapi, dia masih tak tahu dimana rimbanya! Zain tidak mau sesuatu menimpa si kembar diluar sana." Zain menatap rintikan hujan dengan tatapan kosong.
Mom Raina melepaskan pelukan Zain. Berbalik dan menatap mata sang putra. Mata Zain sendu dengan rasa cemas berlebihan. Sudah dua tahun hal ini terjadi, tapi putranya masih belum siap memberitahukan kebenarannya pada seluruh anggota keluarga. "Ku harap, hatimu siap mengatakan kebenaran ini pada Kei. Bagaimanapun Kei berhak tahu tentang ini! Dia istri sekaligus ibu dari anakmu nak, jangan biarkan salah paham menjadi awal kehancuran hubungan."
"Zain akan bicarakan hal ini pada Kei disaat yang tepat." jawab Zain.
"Ayo kita turun. Si kembar sudah menunggu keputusan mu tentang sekolah baru mereka." ajak mom Raina menggandeng lengan putranya.
Dilain tempat. Tepatnya sebuah bandara internasional. Dari lobi kedatangan muncul seorang wanita dengan wajah tertutup masker dan kacamata hitam. Koper besar berdiri disisi kiri wanita itu, rambut yang panjang dengan warna emas. Tangan wanita itu tengah sibuk menghubungi seseorang, hingga satu mobil sport berhenti tepat didepannya.
__ADS_1
Tanpa basa-basi. Wanita itu masuk dengan menenteng koper terlebih dahulu, mobil sport warna merah menyala meninggalkan bandara. Mobil melaju diatas jalan utama dengan kecepatan normal, sang sopir masih enggan berbicara. Sedangkan wanita berambut emas, melepaskan kacamata dan masker tanpa perasaan melemparkan ke sembarang arah.
"Bagaimana kabarmu? Apakah kamu tidak suka aku kembali?" cecar wanita bermata abu-abu.