My Love Is Stuck With Tomboy Girl

My Love Is Stuck With Tomboy Girl
Bab 46: Special part #Semua berawal karena Dia


__ADS_3

Kei bangun dari duduknya dan berjalan mendekati Ery yang duduk di seberang, dan langkah Kei berhenti di samping tempat Ery duduk. Kei membungkukkan tubuhnya agar bisa sejajar dengan posisi Ery. Bibir Kei bergerak dan membisikkan sesuatu yang mengubah ekspresi Ery menjadi merah padam dengan tangan mengepal. Ery tidak percaya dengan apa yang Kei bisikkan, bisikan itu seperti menelanjangi niat didalam hatinya.


"Kamu terlalu naif! Apa kamu fikir, aku datang tanpa persiapan? Sungguh gadis ternaif." ucap Ery setelah Kei melangkahkan kaki menjauh darinya.


Ucapan Ery cukup jelas memasuki gendang telinga seorang wanita yang mematung di depan pintu, niat hatinya ingin masuk ke pondok namun terhenti karena ucapan tajam Ery.


Kebekuan wanita itu terlihat oleh Ery saat bangun dari tempat duduknya, langkah Ery berjalan mendekati seorang wanita dengan pakaian pelayan. "Hay nama ku Ery, siapa namamu?"


"Saya Elis non, mau saya buatkan sarapan?" Elis menahan gugup dan mencoba bersikap biasa, meskipun tatapan Ery jelas tengah curiga dengan mimik wajah sok cantik.


Ery menautkan kedua jari seakan tengah berfikir. "Makan siang saja Lis, panggil nama saja ya. Biar akrab."


"Baik non, biar saya siapkan makan siang. Permisi non." pamit Elis berjalan memasuki pondok.


"Jangan ikut campur urusanku Lis! Cukup jadilah pelayan buta dan tuli. Atau terima akibatnya!''


Baru beberapa langkah, kaki Elis terhenti ketika mendengar ucapan Ery yang mengancamnya. Elis berbalik dan menunduk. "Mungkin anda terlalu percaya diri. Tapi saya akan diam selama anda menjaga hati majikan saya, yah saya pelayan tapi bukan pelayan rendahan!''


"KAMU!" seru Ery, jarinya menunjuk ke arah Elis.


Elis berbalik tanpa peduli dengan kemarahan Ery. "Lihatlah jari anda! Bukankah lebih banyak yang menunjuk ke arah diri anda sendiri nona Ery."


Kleep…..


Ucapan Elis seperti sebuah bungkaman, mendadak gejolak panas memenuhi hati Ery. Dengan wajah yang mengeras, gigi gemeretuk kaki Ery berjalan meninggalkan pondok. Langkah kakinya memutari rumah utama dengan tidak sabaran, sesaat Ery menghentikan langkahnya didepan pintu. Membenarkan ekspresi wajah dan rambutnya, menerbitkan senyuman terbaik dan kembali berjalan memasuki pintu utama.


Meninggalkan kediaman Ardana, dua pria beda usia tengah duduk di Cafe Berkah. Dua cangkir kopi mengepul sudah tersaji, ruangan VVIP menjadi pilihan keduanya. "Apa yang mom mu katakan itu benar Zain?"


Zain mengangkat cangkirnya dan meniup kepulan asap, menyeruput kopi perlahan dengan tegukan ringan. Cangkir kembali menempati tatakan, Zain menatap kopi hitamnya terlalu dalam. "Yes dad. Sejujurnya, Zain tidak ingin menyembunyikan apapun. Tapi melihat keadaan keluarga kita yang membaik, dan bagaimana kesedihan kita saat Kei berjuang hidup. Sungguh, Zain hanya ingin keluarga kita hidup tenang tanpa kecemasan."


"Lalu, sekarang apa Zain? Apakah kamu tidak percaya papa? Papa masih menjadi kepala keluarga, apakah kamu lupa itu?" dad Arza menghela nafas karena kecewa dengan tindakan Zain.


Zain tahu tindakannya akan berakibat kekecewaan, tapi menjaga kebahagiaan keluarga adalah hal terpenting dan menjadi tujuan hidupnya. Zain meraih tangan sang papa dan mengusap tangan yang selalu menjadi langkah pertamanya itu. "Dad, Zain tidak melupakan apapun. Zain tahu, papa kecewa. Tapi percayalah, semua masih terkendali. Dan kita akan menemui orang itu bersama, untuk memastikan bahwa semua hanya ketakutan ku saja."

__ADS_1


"Kapan kita akan bertemu dengan orang yang menjadi alasanmu berbohong pada papa?" tanya dad Arza dengan serius.


Zain melirik jam di pergelangan tangan kanannya. Tapi sejak meninggalkan kediaman Ardana, ponselnya terdiam bagaikan kuburan. "Biar Zain hubungi anak buah dulu.''


Dad Arza mengangguk dan membiarkan sang putra fokus dengan ponselnya. Terlihat wajah tegang Zain mengundang tanya, alis Zain juga bertaut. "Ada apa Zain? All fine?"


"Sepertinya kita terlambat dad. Dia sudah kembali, tapi dimana dia dan sedang merencanakan apa?" tukas Zain menyodorkan ponselnya ke dad Arza.


Dad Arza menerima ponsel Zain. Membaca laporan dari salah satu anak buah mafia milik sang putra dan berita terbaru yang menjadi akhir kalimat laporan, sungguh membuat insting waspada menyala. "Ayo ke markas! Ini tidak bisa dibiarkan! Siapapun dia, kamu harus menjelaskan di markas. Ayo Zain!"


Dad Arza terlihat gelisah dan tak sabar, Zain hanya bisa menuruti sang papa dan meninggalkan cafe. Kedua pria beda usia itu memasuki mobil dari arah dua pintu berbeda. "Pak antar kami ke markas!"


"Siap tuan." jawab pak sopir dan segera menyalakan mesin mobil, berjalan meninggalkan parkiran cafe.


Perjalanan kali ini terasa senyap dan lambat, baik Zain maupun dad Arza seakan sepakat tenggelam dalam fikiran masing-masing. Keheningan terlalu mencekam, sang sopir merasa tertekan meskipun sudah terbiasa menghadapi situasi darurat sekalipun.


Zain melihat butik langganan sang mommy dan Kei. "Pak berhenti sebentar!"


Zain menunjuk ke arah butik. "Aku tidak mau Kei curiga, tadi pagi Kei meminta ku untuk mengambil pesanannya. Jadi aku akan turun sebentar, dad mau ikut?"


"Hmmm. Ayo, pak bawa kita ke butik dulu!" titah dad Arza agar tidak perlu jalan kaki menyebrang keramaian lalu lintas kendaraan.


Mobil memutar di pertigaan dan berhenti diparkiran butik, Zain dan dad Arza turun untuk mengambil pesanan Kei. Kedatangan dua pria beda usia itu mendapatkan sambutan hangat dari pemilik butik langsung, dan para pelayan butik menunduk karena menghormati tamu VVIP butik. "Mau ambil pesanan Nyonya Kei atau Nyonya Raina?"


Dua pria beda usia saling pandang, ternyata dua ratu Nyonya Ardana memiliki selera yang sama. "Keduanya.''


"Kompak banget tuan, baiklah silahkan duduk. Berikan kami waktu tiga menit." tukas Bunda Ellison pemilik butik dan melambaikan tangan pada satu karyawan agar mengikuti langkahnya.


Zain masih berdiri begitu pula dad Arza, hingga kedatangan bunda Ellison dengan seorang pelayan wanita berambut sebahu yang menenteng delapan papper bag berbeda warna. "Bawa semua ke mobil tuan ini! Semua sudah saya total dan ini notanya."


Zain menerima nota, jumlah angka tidak seberapa karena dirinya tahu pesanan sang istri pasti untuk setiap anggota keluarga tanpa terkecuali. "Akan saya transfer, kami permisi. Ayo dad.''


"Hati-hati tuan." cetus bunda Ellison dengan melambaikan tangan hingga dua pria beda usia keluar dari pintu kaca butik.

__ADS_1


Pelayan yang membawa paper bag mengikuti langkah kaki kedua pria yang berlangganan di butik tempatnya bekerja. Zain berhenti dan membukakan pintu untuk sang papa, dan menunggu pelayan butik menghampirinya. Dengan sigap Zain membuka bagasi mobil, membiarkan pelayan itu meletakkan semua paper bag ke dalam bagasi.


Taap….


Zain mengambil dompet dan menarik beberapa lembar uang merah. "Untukmu dan obati lebam di lehermu itu."


Pelayan wanita mematung ketika Zain memberikan lima lembar kertas merah begitu saja, terlebih Zain melihat luka memar di lehernya padahal sudah dipoles dengan make up. "Terimakasih tuan."


Terlambat, mobil Zain sudah meninggalkan parkiran butik. Dad Arza melihat apa yang dilakukan putranya dan menatap sang putra dengan penuh selidik. Zain merasakan tatapan interogasi dari sang papa. "Aku hanya kasian pa. Membantu sesama manusia juga tugas kita, jangan berfikir aneh. Cinta ku hanya untuk istri ku seorang. Nyonya Keisha Zain Ardana."


"Awas saja jika melenceng, papa sendiri yang akan memotong singkong thailand mu itu!" tukas dad Arza.


Zain meneguk saliva dengan susah, enteng sekali papanya main potong aset paling berharga miliknya. "Jangan donk pa! Kei bisa kabur kalau singkongku jadi setengah."


"Tuan memang ada singkong thailand? Bentuknya seperti apa?" sela sang sopir dengan wajah polos.


Sejurud dad Arza dan Zain saling tatap dan terkekeh. Ternyata sopir mereka tak paham apa itu singkong thailand. "Fokus saja. Tidak usah fikirkan dimana mencari singkong thailand.'


Dengan wajah kecewa, sang sopir mengangguk. Membiarkan kedua majikannya itu melanjutkan pembicaraan dengan topic utama singkong thailand. Hingga mobil memasuki kawasan hutan, sang sopir berhenti di tempat biasa. Kedua pria beda usia turun dari mobil.


Tok… tok… tok…


Zain mengetuk kaca mobil depan, dan kaca mobil langsung diturunkan. "Bergabung dengan yang lain, atau istirahat di tempat biasa. Kami akan lama."


"Baik tuan.'' jawab sang sopir dan membiarkan kedua majikannya memasuki hutan lebih dalam dengan berjalan kaki.


Hutan yang rindang dengan hembusan angin sejuk, memberikan pasukan oksigen yang lebih menyehatkan. Dari tempat keduanya berjalan setelah melewati pintu semak rahasia, terlihat sebuah bangunan besar di depan sana. Jarak lima puluh meter, Zain dan dad Arza menikmati perjalanan dengan obrolan ringan. Pintu gerbang terbuka dengan sendirinya, ketika pendeteksi wajah mengenali siapa yang datang berkunjung.


"Selamat datang king.'' sambut penjaga menundukkan kepala.


Zain mengangguk, sejenak melihat perubahan markasnya. "Dimana paman?"


"Aku disini!"

__ADS_1


__ADS_2