My Love Is Stuck With Tomboy Girl

My Love Is Stuck With Tomboy Girl
Bab 58: Special part #Kemesraan dan kebencian


__ADS_3

Kei menarik kursi di samping Zain dan berniat duduk. Akan tetapi seseorang dengan santainya duduk di kursi tanpa permisi. "Boleh saya duduk disini?"


"Silahkan." Kei membiarkan Ery duduk di sebelah Zain meskipun jarak tak berdampingan.


Oma Diana menatap Ery sinis. Namun, melihat Kei masih tenang. Maka oma membiarkan semua seperti apa adanya. Langkah Kei memutar dan berniat untuk duduk di samping si kembar. Tapi tangannya tertahan dan Kei melihat siapa yang menahannya. "Mas, aku mau duduk dekat si kembar."


"No. Disini muat untuk kita berdua." Zain membimbing Kei untuk duduk di pangkuannya.


Wajah Kei memerah malu, oma tersenyum melihat cucunya sangat pengertian dan gerak cepat. "Oma jadi rindu suami. Mas yang tenang disana ya, kami bahagia bersama-sama."


Tangan dad Arza mengusap lengan oma Diana dan memberikan segelas air minum. "Mom, papa pasti sudah tenang. Jangan sedih lagi. Karena mom dasar pondasi rumah dan keluarga Ardana."


"Mom tahu, ayo makan lagi. Kasian si kembar, jadi bingung. Zain suapi Kei. Oma rindu pipi merah Kei." Oma Diana benar-benar niat menggoda istri cucunya.


"Siap Ratu. Kemari Kei, aaa." Zain menyendok makanan dan menyuali Kei seperti anak kecil.


Kei hanya menurut dan menerima suapan dari Zain, ditemani pipi merah seperti kepiting rebus. "Mas mau?"


Bukan jawaban, tapi Zain membuka mulutnya dan Kei menyuapi dengan senang hati. Tanpa disadari semuanya, keharmonisan Zain dan Kei membuat dua hati memanas. Satu hati panas dengan kemesraan Zain dan Kei, tangannya menggenggam erat gelas. Sementara satu hati lagi panas, karena menatap wanita berambut emas yang begitu tajam memberikan lirikan mata ke arah Kei.


Pyaar…


Semua mata teralihkan, menara satu gelas yang pecah dan darah yang menetes. Abhi langsung menutup mata Zahra. Kei turun dari pangkuan Zain. Semua anggota terkejut dan menatap satu orang yang menjadi pusat perhatian.


"Kenapa ditutup mata Rara! Rara mau lihat, ada apa dengan miss Ery." cetus Rara.

__ADS_1


Kei mendekati Ery yang terlihat masih marah, tapi entah apa alasannya wanita itu marah. "Are you okay? Bi bawa kotak obat!"


"Siap non." sahut bibi dari dapur.


Zain mendekati si kembar dan membisikkan sesuatu. Abhi mengangguk dan membawa Zahra meninggalkan ruang makan. Kini yang tersisa hanya orang-orang dewasa. Wajah Zain masih datar, bukannya tak peduli. Akan tetapi, sikap Ery, membuat dirinya berpikir ulang tentang keputusannya. Mom Raina dan dad Arza sepakat diam dan menjadi pengamat, sedangkan oma Diana maju mendekati Kei dan Ery.


"Bi, berikan padaku!" titah oma Diana.


"Ini nyonya besar." ucap bibi menyodorkan kotak obat.


"Nak, temani anak-anak. Kasian si kembar masih lapar, urus si kembar dulu. Biar oma yang urus miss Ery.


Kei mundur dan membiarkan oma Diana menggantikan posisinya. "Kei ke atas dulu. Mas bisa bantu Kei?"


"Pergilah nak. Si kembar membutuhkan kalian!" titah dad Arza.


Kei sudah berjalan meninggalkan ruang makan, oma Diana memulai membersihkan luka di jemari Ery. Meskipun matanya tak lepas dari tatapan Ery, dimana Ery sibuk mencuri pandang ke arah Zain. Zain sudah mengambil dua porsi makan. "Zain pamit ke atas."


"Nak, minta Kei untuk istirahat setelah itu. Biarkan malam ini mom yang urus dapur." tukas mom Raina dan Zain mengangguk.


Langkah kaki Zain terdengar semakin menjauh. Oma Diana sedikit menekan luka di jemari Ery. "Jaga pandangan mata mu. Milik orang lain memang menggiurkan. Tapi jangan coba masuk, hatimu akan terbakar menjadi abu."


"Maaf apa maksud anda nyonya? Saya hanya merasa kurang enak badan." jawab Ery dengan tenang.


Oma Diana membalut luka di jemari Ery dan merapikan kotak obat. "Semoga saja ucapanmu benar. Hati-hati dengan niat hatimu."

__ADS_1


"...."


"Bi! Tolong antar Miss Ery ke pondok belakang dan pastikan makan malamnya tersaji. Raina, Arza, ikuti aku ke kamar!" titah oma Diana tanpa memberikan kesempatan Ery untuk menjawab.


Mata Ery memerah menatap ketiga anggota Ardana yang dituakan. Bagaimana dirinya mencoba menahan emosi yang bergemuruh. Rasa sesak membuat jantungnya berdegup kencang. Ingin rasanya melemparkan pisau ke arah mereka. Tapi kesadarannya masih tersisa, meskipun hanya sedikit. Tanpa menunggu bibi datang, Ery berjalan meninggalkan ruang makan. Langkahnya keluar dari rumah utama Ardana.


Tetesan air tak menghentikan langkah kakinya. Pondok yang terlihat lebih kecil dari rumah utama, semakin membakar hatinya. Seorang Cherry Nicholas harus menempati rumah yang sempit. Sungguh itu sebuah penghinaan, jika bukan karena tujuannya. Sudah pasti, rumah tak layak itu lebih baik dibakar.


"Malam. Mau saya siapkan makan malam?" sambut Elis, pelayan yang stay di rumah pondok.


Ery menatap tajam dan melengos pergi tanpa jawaban. Elis hanya mengelus dada dan menggelengkan kepala. Wajah asli Ery seakan memberikan alarm peringatan untuk dirinya waspada.


Sepertinya, aku harus laporan, tapi dengan siapa? Semua sibuk dan pasti membutuhkan bukti. Sebaiknya aku awasi saja, sembari mengumpulkan bukti. ~batin Elis dan menutup pintu pondok.


Ery baru saja masuk ke kamar dan mengunci pintu. Dengan kasarnya, Ery menarik perban yang membalut jemari tangan kirinya. Luka yang sudah di obati, ditekan tanpa peduli darah yang mengalir lagi. Senyuman di bibir Ery terbit dan matanya sangat merah. "Kalian mencoba menghalangiku. Siapa kalian berani denganku? Aku Cherry Nicholas. Siapapun pasti kalah dari ku. Lihat saja apa pembalasanku!"


Darahnya benar-benar mendidih, ingatan dimana Zain menggenggam tangan Kei. Merayu dan dengan sengaja mendudukkan Kei di pangkuannya. Suapan penuh cinta dan juga kemesraan. Bayangan demi bayangan kebersamaan itu, semakin menambah kadar api di dalam hati Ery. Tidak ada barang sebagai pelampiasan, membuat Ery semakin menekan luka di jemarinya.


Rasa sakit ini tidak sebanding dengan tujuanku. Akan ku pastikan, rumah tangga yang kalian banggakan hancur berkeping-keping. Zain milik Cherry! Bukan milik wanita bod0h seperti wanita kampungan itu. Zain Ardana tunggu aku. Aku telah kembali. ~ batin Ery dengan menjilati darah di jemarinya.


Meninggalkan kegilaan Ery, di sebuah ruangan nan tenang. Seorang pria tengah melirik wanita disampingnya. Wajah yang cantik meskipun tanpa make up. Wajah natural itu mengingatkan dirinya akan cintanya yang masih tersimpan di hati.


"Haloo? Ada apa?"


Tidak ada respon dari pria yang mencuri pandang ke arahnya. Sungguh rasanya ingin menghentikan waktu, semua seperti mimpi baginya. Berada dibawah satu atap tanpa perdebatan yang memusingkan. Ide jail terlintas di kepalanya dan dengan penuh semangat. Kedua tangannya menangkup wajah pria di sampingnya dan mendekati wajah itu dengan senyuman termanis.

__ADS_1


Cup


__ADS_2