
Sedangkan perdebatan tengah terjadi diantara tiga pria sekaligus, ketiga pria ini sontak mengalihkan banyaknya tatapan orang-orang disekitar mereka.
"Sudahlah. Sebaiknya kita bicarakan lagi dirumah, ayo kita pulang."
Zain mengangguk, sedangkan Kenzo merajuk. Bagaimana tidak merajuk, ketika semua pekerjaan jatuh ke pundaknya tanpa kortingan waktu. Zain merangkul sahabat sekaligus saudara tak se darahnya itu dengan senyuman manis. Kenzo masih saja sinis. "Lepas, sampai kamu nggak balik ke perusahaan minggu depan. Aku RESIGN!"
"Zain, setelah weekend akan kembali ke kantor. Biar papa yang dirumah. Sekarang ayo kita jemput baby Zee!" titah dad Arza.
"Siap tuan. Aku padamu." cetus Kenzo mencapit dua jemari seperti anak jaman now.
Spontan tangan Zain menjitak kening Kenzo yang dijitak bukannya mengeluh sakit, malah menjulurkan lidah.
"Weeee."
"Kamu udah punya anak ya Ken. Masa gak mau kalah ama anak sendiri?" ledek Zain.
Ketiganya berjalan beriringan meninggalkan kantin perusahaan, karena perdebatan tentang waktu kerja milik Kenzo. Semua karyawan yang tengah beristirahat, mendapatkan tontonan gratis bagaimana keakraban ketiga tokoh utama di dalam perusahaan. Ketiganya memilih menggunakan satu mobil yang sama. Kenzo duduk di samping pak sopir, dad Arza dan Zain di kursi belakang.
Mobil berjalan meninggalkan parkiran Ardana company. Tingkah Zain yang berulang kali memeriksa ponsel, membuat Kenzo tak paham. Sekilas Kenzo memiliki ide, dengan cekatan tangan Kenzo mengambil ponsel di saku celananya dan mendial nomer dengan tulisan 'Dede Kei'. "Hay de manis. Apa makan siang sudah siap? Kami akan segera otw kembali."
Dad Arza hanya tersenyum simpul, melihat kode mata dari Kenzo. Sedangkan Zain seakan tak terpengaruh, padahal pria itu biasanya merebut ponsel Kenzo demi berbicara dengan sang istri. Satu kata 'De manis'. Sudah pasti membuat wajah Zain tak rela. Melihat ada yang tidak beres, Kenzo mengakhiri percakapan singkatnya bersama Kei.
"Zain are you okay?" tanya Kenzo dengan khawatir.
Tangan dad Arza memberikan isyarat agar Ken diam, dari situasi yang ada. Sudah pasti saudaranya itu memiliki masalah besar, Ken mengangguk tanpa paham dengan kode dad Arza. "Pak, tolong antar kami ke jalan XXX."
"Ken! Kita mau jemput baby Zee, kenapa malah ketempat lain?" protes Zain yang memang mendengarkan semua ucapan Ken, hanya saja masih ingin diam.
Ken tidak peduli dengan protesnya Zain. Justru sang sopir mendapatkan tatapan menerkam dari Ken, dan berakhir mengalihkan ke arah tujuan seperti yang Ken inginkan. "Pinter. Dad, apa aku harus menyewa seorang perawat?"
"Kondisi baby Zee masih rentan Ken. Boleh saja menyewa tapi apakah keluarga kita masih kurang?" tanya dad Arza.
Ken menggelengkan kepala. "Bukan itu maksudnya, Ken percaya keluarga kita cukup untuk baby Zee. Tapi, dad juga tahu. Kei memiliki si kembar yang posesif seperti sang papa, dan mom Raina harus banyak istirahat di usianya. Jika bersama baby Zee jangn 24 jam begitu juga. Ken berfikir jika menyewa perawat, maka kita tidak harus menjaga baby Zee secara full time." jelas Kenzo agar dad Arza tidak salah paham.
__ADS_1
Zain menghela nafas, menyandarkan tubuhnya ke belakang dan menyilangkan kedua tangannya di dada. "Ken! Perawat itu orang luar, situasi saat ini membuat kita harus bertindak hati-hati dan waspada. Bicarakan ini pada Kei dan mom Raina. Tapi, dengarkan aku. Jangan membawa orang asing saat ini!"
"Reason?(Alasan?)" tanya Ken.
Dad Arza memijat pangkal hidung dan ikut menyandarkan tubuhnya ke belakang. Diamnya Zain sungguh membuat Ken menahan rasa penasaran dan juga kesal, ada perasaan yang membangkitkan insting waspada Ken. "Stop!"
Ciiiit……
"Sekarang keluar dan tinggalkan kami di mobil! Makanlah di warung itu, jangan pernah keluar sebelum aku memanggil!" titah Ken dan memberikan lima lembar uang merah dari dompetnya, setelah mobil berhenti di pinggir jalan raya.
Sopir hanya mengangguk, dan memilih mundur di dalam tingkat panas para majikannya.
Brak…
Kepergian sang sopir, membuat Ken mengubah posisi duduknya. Meskipun di dalam mobil, Ken bisa melihat reaksi Zain dari kaca spion di tengah. "Apa ada yang bisa jelaskan? Zain! Apa aku musuhmu?"
Zain menatap mata Ken melalui kaca spion. "Dia kembali!"
Dahi Ken mengerut dengan satu alis terangkat. Siapa DIA yang di maksud Zain? Apakah pesaing bisnis barunya atau Kei tengah merajuk? Zain tahu jika Ken tidak paham dengan ucapannya. "Dad, jelaskan. Zain ingin istirahat."
"Hey aku bertanya padamu tuan muda Zain Ardana!" tukas Kenzo setelah melemparkan sebuah penjepit rambut milik Rara.
"Maksud Zain. Setelah tragedi penculikan Kei, sebuah kenyataan terungkap. Dua tahun lalu pamannya Cherry mendatangi Zain. Dan kedatangannya, membawa satu kabar yang menjadi sebuah rahasia putra ku selama dua tahun. Kabar itu adalah Cherry memiliki saudara kembar yang sengaja dibuang oleh Nicholas. Dan hari ini, kami berniat menemui pamannya Cherry untuk memastikan semua aman. Sayangnya, saat ke markas King. Levin menunjukkan jasad Robert dalam keadaan mengenaskan." tutur dad Arza dengan sekali tarikan nafas.
"Levin si tangan besi?" tanya Ken memastikan.
Dad Arza mengangguk. "Dan video dengan beberapa kejadian juga ditayangkan. Tapi, tidak ada satu petunjuk pun selain rumah yang baru saja di beli Robert dan penemuan jasad pria itu di dalam rumahnya sendiri. Sekarang, situasi kembali tegang. Zain ingin meminimalisir angka persen dari sebuah pengkhianatan."
"Kenapa tidak bilang sejak awal? Apa kamu tidak percaya kami? Sekarang, sudahlah." cecar Ken dan membuang nafas.
Benar-benar Zain mengalihkan perhatiannya dengan tumpukan pekerjaan. Pantas saja, selama dua tahun terakhir sahabatnya itu memilih bekerja dari rumah. "Baiklah, tidak ada perawat. Ayo kita pulang, bagaimana dengan Kei?"
"Aku akan bicarakan saat weekend.'' jawab Zain.
__ADS_1
Ken mendengus. Kenapa Zain main rahasia, terlebih menyembunyikan kebenaran dari Kei. '' Bro, apa kamu lupa dengan hubungan ku? Betapa hancurnya hatiku setelah mengetahui istriku mengidap penyakit. Dan dengan bangganya, istriku tersenyum meredam amarahku atas nama baby Zee. Ingat Zain, si kembar juga membutuhkan kalian berdua. Cepatlah beritahu Kei, jangan sampai terlambat"
"I know, ayo jemput baby Zee dan kita pulang. Liburan nanti, aku akan bicara dengan Kei." jawab Zain.
Ken mengangguk, dan memilih mengirimkan pesan pada sang sopir. Meninggalkan para pria keluarga Ardana. Di dallam sebuah kamar mewah, seorang wanita dengan hijab mengerjapkan mata. Rutinitas di awal harinya, memeriksa laporan dari ponselnya. Namun, melihat banyaknya panggilan tak terjawab dari keluarga. Mendadak rasa panik datang, dengan segera tangannya membuka pesan teratas. "Voice note? Ada apa?''
Dengan cepat tangannya menekan tombol play. Suara dengan nada khawatir, panik, gelisah, dan berita yang membuat pipi wanita berhijab itu menjadi merah. Hatinya mulai merasakan panas, dua kali voice note itu di dengarkan. "Rupanya ada yang bermain dengan keliargaku! Aku harus kembali."
Tanpa menjawab pesan, wanita berhijab memesan tiket. Beruntungnya tiket ada yang satu jam lagi penerbangannya, dengan cekatan wanita berhijab membereskan seluruh keperluannya dan meninggalkan kediamannya. Semua urusan yang tersisa dialihkan ke assisten pribadinya.
Tiga puluh menit kemudian...
"Nyonya, mobil sudah siap." lapor seorang pelayan dengan pakaian tertutup.
"Okay. Tolong bilang ke Tuan Limsen, jadwal aku mundurkan. Dan selesaikan semua dalam waktu satu bulan kedepan! Kamu paham Erik?" tukas wanita berhijab.
Erik membungkuk. "Paham nyonya."
"Ayo kita ke bandara!" ajak wanita berhijab dan menenteng tas tangannya tanpa satu koper kecilpun.
...~~~~~...
Readers, othoor gak akan berhenti ingetin kalian.
*Stop boom like okay!"
*Apa karya kami sangat buruk? Othoor cuma mau kalian paham, jika boom like menurunkan performa karya para penulis.
Para penulis menuangkan imaginasi mereka bukan hanya menyita waktu, tapi juga tenaga dan fikiran*!
Skip aja kalau gak mau baca, itu lebih kami hargai!
****Sorry**** *ya reader's yang setia dan benar-benar membaca karyaku. Maybe, kalian ke ganggu dengan ungkapan hati ku. Tapi jujur saja, aku tidak tahu lagi gimana ingetin sesama penulis dan reader's.
__ADS_1
Semoga keluhan para penulis tersampaikan dengan cara ini, apakah kalian tahu? Buluku pun meremang setiap kali menulis novel, terlebih dengan hal sensitif lainnya*.