
"Sebaiknya, kita keluar. Dok, jaga Rara dan cancel semua jadwal pemeriksaan anda hari ini!" titah Abhi.
Mata coklat dengan pupil sipit itu membulat seperti mata boneka. Mulutnya terbuka mendengar permintaan saudara pasiennya. "Bagaimana...."
"Ikuti perintahku! Jika anda ingin bekerja dirumah sakit ini." tegas Abhi dan berjalan keluar meninggalkan ruangan dokter Via.
"Kita ke ruangan lain. Dimana dia?" tanya Abhi.
Hening....
"Jangan bahas gadis itu! Kita memiliki hal yang lebih penting." jawab Kei.
Intonasi sang mommy sangat kasar dan jauh dari sifat aslinya. Abhi tak tinggal diam, di rangkul nya sang mommy dan di ajak duduk di salah satu bangku panjang depan ruangan dokter Ilham. Wajah Kei sangat datar dan dingin. Abhi menggenggam tangan sang mommy dan memberikan kecupan sayang.
"Mom, lihat Abhi. Tangan ini mengajarkan, seorang anak usia enam tahun arti menghargai sesama manusia. Lalu, kemarahan di wajah cantik ini. Apa yang ingin mom ajarkan pada Abhi?" Abhi, membuat Kei menghela nafas.
"Maafkan, mom. Tapi, gadis itu tidak beres. Mom serahkan dia pada dokter Willy." ucap Kei.
Dokter Willy adalah dokter kejiwaan. Artinya, Izzi dibawa ke dokter yang tepat. Abhi merasa bersalah. Bagaimanapun situasi yang menimpa sang mommy. Wanita di depannya itu tetap tegar dan mengambil keputusan yang tepat.
"Maafin, Abhi." ucap Abhi.
Kei melepaskan tangannya dan mengusap kepala sang putra. "Tidak apa, Nak. Mom terlalu emosi dan itu tidak baik. Terima kasih telah mengingatkan. Ayo kita lihat keadaan papamu."
Kei ingin bangun, tapi ditahan Abhi. Sikap itu, membuat Kei tahu jika putranya ingin menyampaikan sesuatu. "Katakan!"
"Abhi akan melakukan tes DNA. Apa, Mom keberatan?" ucap Abhi.
"Itu ide bagus. Semoga harapan kita tidak kosong dan hangus terbakar. Apa ada lagi?" tanya Kei.
Abhi bangun dan tersenyum. "Untuk saat ini tidak. Ayo, kita temui para dokter."
Keduanya berjalan menuju ruangan UGD. Hanya membutuhkan dua puluh lima langkah, keduanya sampai di depan pintu UGD. Tanpa permisi, Abhi membuka pintu UGD dan masuk mempersilahkan sang mommy terlebih dahulu.
Para dokter masih melakukan pemeriksaan dan wajah tegang serta cemas tercetak jelas. Tidak ada yang menyadari kedatangan Abhi dan Kei.
"Kenapa kalian tegang semua?" tanya Abhi, membuat para dokter berbalik dan menatap dua sosok penting di rumah sakit tempat mereka bekerja.
__ADS_1
Seorang dokter dengan name tag Tio berjalan menghampiri Abhi dan Kei dan di tangan kanannya membawa laporan. Sementara dokter lain melakukan doa keselamatan di dalam hati masing-masing. Tangan kiri Abhi di dalam saku celana dan Kei menggandeng tangan kanan putranya.
Dokter Tio berhenti di depan Abhi dan Kei dengan jarak satu meter setengah. "Kami melakukan pemeriksaan dan ini hasilnya," kertas laporan di sodorkan ke Abhi, tapi Kei yang menerima.
Tulisan dokter sangat berbeda, membuat Kei bingung. Abhi mengeluarkan tangan kiri dan mengambil laporannya. Selama beberapa menit, Abhi fokus membaca laporan.
"Nak, ada apa?" tanya Kei.
Wajah tegang Abhi, membuat Kei cemas. Terlebih alis kanan putranya terangkat. Pasti ada sesuatu yang dipikirkan Abhi.
"It's ok, Mom. Dok, ambil sampel darah ku dan lakukan tes DNA!" tukas Abhi dan mengusap baju sang mommy agar tenang.
Satu isyarat jemari Abhi, membuat Dokter Tio paham dengan apa yang diinginkan Tuan Muda. "Siap."
Abhi masih menggenggam kertas laporan dan menatap brankar dengan tatapan tak terbaca. Kei mengamati perubahan wajah putranya. "Bhi, apa kamu menyembunyikan sesuatu dari mommy?"
Abhi memejamkan mata dan menghela nafas untuk meredakan perasaan di dalam hatinya. Usapan lembut di pipi kanannya, membuat matanya terbuka. Tatapan Kei sangat dalam dan menusuk penuh pertanyaan. "Kita lakukan tes DNA dulu. Tunggu sebentar," Abhi melepaskan tangan Kei dan berjalan menghampiri dokter Leo.
Kei hanya bisa melihat. Bagaimana dokter mengambil sampel darah Abhi. Pikiran dan hati Kei sangat kalut. Satu sisi suaminya dan di ruangan lain putrinya. Ingatan hari tragedi di saat liburan menambah kecemasan Kei saat ini.
"Mom..." panggil Rara dengan suara pelan.
Kei langsung menyongsong putrinya dengan senyuman dan pelukan hangat. "Kenapa bangun? Mom, tidak mau melihat wajah pucat princess killer Ardana. Bukan begitu, Bian?"
Bian menggaruk kepalanya. Tatapan Rara langsung melirik dengan tajam menatap Bian yang berdiri di sampingnya. Suara siulan lirih terdengar dari bibir Bian, membuat Abhi melemparkan satu pulpen ke arah asistennya itu.
"Auww......" Bian membungkam mulutnya.
Tatapan dari si kembar sangat menekan batin Bian. Untung saja di ruangan UGD tidak hanya mereka bertiga. Abhi kembali menghampiri keluarganya setelah memberikan sampel darah.
"Ayo kita ke kantin. Kita bicarakan semuanya," Abhi berhenti di depan Bian.
"Tapi, bagaimana...."
"Mom, dia baik dan dokter tidak akan pergi dari ruangan ini. Sampai aku perintahkan. Bukan begitu?" Abhi berbalik dan menatap para dokter.
Para dokter mengangguk serempak.
__ADS_1
"Ayo, kita keluar biar dokter menyelesaikan pekerjaan mereka." ajak Abhi.
Bian berjalan di depan dan membukakan pintu. Mempersilahkan Rara, Kei dan Abhi keluar terlebih dahulu, barulah dirinya yang keluar terakhir. Keempat orang itu berjalan menyusuri lorong rumah sakit tanpa ada percakapan. Abhi memilih menjaga kedua wanita tercintanya dari belakang bersama Bian.
Beberapa menit kemudian,
"Nak, kenapa di kantin para pimpinan. Tidak bisakah dikantin para karyawan saja?" tanya Kei.
Abhi menarik kursi dan mengarahkan sang mommy duduk, begitu pula dengan Rara yang mendapatkan perlakuan sama darinya. Abhi duduk di hadapan kedua wanitanya. Sementara Bian bertugas memesan makanan dan minuman.
"Aku tidak tahu ini kabar baik atau kabar buruk. Tapi, dengarkan penjelasanku sampai akhir. Apa Mom dan Rara, siap?" ucap Abhi menatap saudara kembarnya dan sang mommy bergantian.
Kei dan Rara saling pandang, mengangguk serempak dan menatap Abhi dengan wajah serius. Abhi mengambil sesuatu dari saku celananya dan lipatan kertas ditangan perlahan dibuka.
"Aku tidak tahu, dia papa atau orang yang mirip papa. Tapi, menurut hasil pemeriksaan..... "
Tap!
Tap!
Tap!
Suara langkah kaki terburu-buru terdengar mendekat, membuat Abhi, Kei dan Rara mengalihkan fokus mereka. Jas putih dengan rambut cepak, wajah kotak dan kacamata bulat berlari dan berhenti didepan Kei.
"Ada apa, Dok?" tanya Kei.
Tangan dokter itu mengusap peluh dan mengatur nafas yang memburu. Abhi kembali melipat kertas dan memasukkan ke dalam saku. Wajah dokter yang menghampiri sang mommy terlihat serius dan lebih mengkhawatirkan.
"Ada apa?" Abhi bangun dan mendekati si dokter.
Tangan dokter menuju keluar ruangan kantin istimewa. "Kabuur....."
Satu kata tak usai, membuat Abhi bergegas meninggalkan kantin. Rara masih lemas dan ingin menyusul Abhi, tapi Kei menahannya. "Tetap disini! Biarkan, Abhi menangani. Dok, cepat susul Putraku!"
"Tapi...."
"Dok!" Suara tegas Kei, membuat dokter terkesiap dan berlari meninggalkan kantin istimewa.
__ADS_1