
"Bagaimana bisa? Jika kalian keluarga ku. Siapa mereka?" tanya Abhi dengan semua kenyataan hidupnya yang terungkap secara tiba-tiba.
Rasa sakit kembali menghampiri kepalanya. Seperti ditusuk ratusan jarum dan bayangan gambar gelap dan buram kembali melintasi ingatannya. Suara tawa, dengan perhatian dan perbincangan hangat sangat familiar terdengar di telinganya.
"Mas, jangan dipaksakan. Aku tidak mau....."
"Kei....."
Bruuug...
"Mas...."
"Papaaa..."
Dokter Tio bergegas memeriksa keadaan Zain. Kei turun dari brankar, bersama Rara dan Abhi menghampiri Zain yang terjatuh ke lantai setelah memegang kepalanya. Kei memangku Zain dengan mengusap wajah suaminya.
"Syukurlah. Ini hanya shock terapi ringan. Sebaiknya kita lakukan pemeriksaan, dan pengobatan. Lebih cepat lebih baik." jelas dokter Tio.
"Lakukan apapun, dok. Kami hanya ingin melihat Zain kembali sehat." ucap Kei.
Dokter Tio mengangguk. "Bantu aku, mengangkat pasien!"
"Biar aku saja." ucap Abhi
Abhi berjongkok, dan mengambil alih tubuh papanya dari pangkuan sang mommy. Dokter Tio memilih berjalan terlebih dahulu dan membukakan pintu ruangan. Abhi memapah papanya, meninggalkan ruangan VVIP menuju ruangan pemeriksaan. Kei dan Rara berjalan di belakang dengan tangan bergandengan.
Hanya melewati beberapa ruangan. Hingga dokter Tio berhenti di ruangan khusus dan membuka pintu kaca dengan kartu aksesnya. "Silahkan."
Abhi masuk memapah papanya. Sementara Kei dan Rara dicegah masuk. "Maaf, tapi prosedur tidak mengizinkan Nyonya dan Nona ikut masuk ke dalam, mohon tunggu di kursi tunggu. Permisi."
"Tapi, Abhi bisa masuk. Kenapa, kami tidak?" protes Rara.
"Tuan Muda juga seorang dokter, bahkan pemimpin rumah sakit ini. Siapa yang berani melarangnya... Eh, maaf..."
Dokter Tio menutup mulutnya yang tidak bisa direm. Kei menahan senyum, melihat tingkah absurd si dokter dan mengusap tangan putrinya. "Ra, biarkan dokter bekerja. Kita tunggu di kursi itu saja. Ayo."
"Tapi, aku mau lihat papa." rengek Rara.
Pintu terbuka dan Abhi muncul. "Apa kamu menunggu bumi terbelah? Masuk!"
Dokter Tio terkesiap dan langsung berjalan masuk dengan menunduk. Kei dan Rara menghampiri Abhi. "Masuklah! Kami ada disini. Semangat sayang."
"Bhi, boleh ikut masuk?" Rara menunjukkan puppy eyesnya.
__ADS_1
"Sudah, biarkan Abhi bekerja. Mommy tidak ingin duduk sendirian." Kei mengedipkan mata, membuat Abhi mengangguk dan masuk.
Rara terpaksa mengikuti langkah kaki sang mommy dengan wajah ditekuk. Keduanya duduk di kursi tunggu, di sebelah kiri depan ruangan tempat Zain melakukan pemeriksaan. Kei menangkup wajah putrinya. "Bersabarlah, sayangku. Ayo kita berdoa untuk papa."
"Mom, apakah papa menikah lagi? Cherry itu siapa?" tanya Rara menatap mata Kei.
Kei melepaskan tangannya dari wajah Rara, dan duduk bersandar ke dinding dengan mata menatap kosong ke depan. Helaan nafas terdengar berat, membuat Rara menggenggam tangan sang mommy. "Maafkan aku. Tidak perlu dijawab, jika mommy tidak ingin...."
"Cherry Nicholas. Nama itu tak mungkin terlepas dari sejarah keluarga kita. Melupakan nama itu, sama saja melupakan jati diri kita. Wanita dengan obsesi cinta yang begitu melewati batas normal. Dulu, mom sangat polos. Jauh lebih polos darimu, Ra. Wanita itu mencintai Zain, tapi papanya menjadi musuh bebuyutan keluarga Ardana. Karena, kedua keluarga bersaing dalam dunia bisnis. Cherry dilatih untuk menjadi penyusup dan berhasil menggoyahkan tiang keluarga Ardana. Tragedi berdarah bertahun-tahun silam, merenggut kakek, dan Zahra adik papamu. Saat Zain dewasa, dan menikah dengan mommy. Tragedi kembali terjadi."
Kei menarik nafas sejenak dan membuangnya. "Sebuah penculikan dilakukan Cherry. Hampir saja papamu terkena tembakan, saat menyelamatkan mommy. Tapi, Cherry menghadang peluru itu dan menghembuskan nafas terakhirnya. Kami pikir, semua sudah berakhir. Keluarga Ardana diberkati kalian berdua dan Zee. Hingga kedatangan guru privat kalian. Jalan cerita hidup kembali ke titik awal."
"Apa maksudnya, mom? Apa kaitannya miss Ery dengan masa lalu keluarga kita?" tanya Rara tak paham.
Kei mengubah posisi duduknya dan menatap sang putri. Wajah Rara sangat cantik dengan perpaduan dirinya dan juga Zain. Hanya saja mata Rara sangat menonjol dengan puppy eyes dan ketegasan. Kei mengambil tangan Rara dan mengecupnya sekali. "Cherry adalah Ery, guru privat kalian. Sudah waktunya, mommy berkata jujur."
"Apa Abhi tahu semua ini?" tanya Rara tercekat.
Kei mengangguk dan mengusap pipi putrinya. "Mom, hanya bisa menunggu waktu yang tepat. Semua orang cemas dengan keadaanmu. Setelah menghilangnya Zain, dan dari seluruh anggota keluarga. Kamulah yang terpuruk lebih dalam, bagaimana mom menjelaskan keadaan saat itu. Ketika melihatmu saja, mom merasakan sayatan di sini. Sebagai seorang ibu, mom ingin melindungimu...."
Greeb
Rara memeluk mommynya dengan erat. Lelehan air mata terjun bebas dari mata keduanya. Isak tangis Rara mengisi kekosongan lorong rumah sakit. Sementara Kei memilih mengusap kepala Rara dengan penuh perasaan. "Kamu tahu, Ra. Hidup mommy adalah kalian. Kehilangan papa kalian, membuat jiwaku kosong penuh kehampaan. Tapi, kalian menghangatkan hati mom. Kalianlah alasan mom bertahan hidup."
"Ekhem! Apa kalian tidak menganggapku ada?" dehem seseorang dan menyilangkan kedua tangannya.
Kei melepaskan pelukan. Tatapan hangat dari pria berjas di depannya, membuat senyuman di bibir Kei terbit. Rara mengusap air matanya dan berbalik menatap orang yang menegur tanpa melihat situasi.
"Dimana baby Zee?" tanya Rara menyusuri lorong dengan matanya.
"Jadi hanya Zee yang dicari? Rupanya aku tidak dirindukan lagi...."
Rara bangun dan berjalan mendekati pria seumuran papanya dan mengulurkan tangannya. "Halo Ayah, dimana adikku? Ini bukan hari ayah. Jadi jangan meminta pelukan."
Begitulah sikap Rara terhadap Ken. Tidak jaim dan juga jahil. Ken tersenyum dan mengacak rambut Rara. "Zee bersama mamanya. Mau ayah antar kesana?"
Rara melepaskan tangan Ken dengan bibir manyun lima senti. "Uhh, Ayah ini kebiasaan banget. Rambutku jadi berantakan."
"Habisnya, tidak ada yang merindukan ayah," Ken merapikan rambut Rara dengan jarinya. "Sana, temui Zee. Sekalian ajak pulang. Bukankah malam ini ulang tahun seseorang."
"Okay. Mom, Rara ke ruangan bunda Aurel, ya. Titip salam buat papa. Pesta malam ini, hanya untuk papa." Rara berlari kecil dengan lambaian tangan.
Ken menatap Kei dengan isyarat mata.
__ADS_1
"Mas Zain telah kembali...." ucap Kei tanpa keraguan.
"Dimana Zain?" tanya Ken berputar mencari sosok saudaranya itu di seluruh lorong rumah sakit.
Kei berjalan menghampiri Ken dan memalingkan wajahnya ke pintu kaca di sisi kirinya. "Di sana bersama Abhi dan dokter Tio."
"De, kamu tidak bercanda kan?" tanya Ken dan memegang kedua bahu Kei.
Ceklek....
Disaat bersamaan, pintu kaca terbuka dan dokter Tio keluar dari ruangan. "Tuan Muda menunggu kalian di dalam, silahkan."
Kei mengangguk dan melepaskan tangan Ken dari bahunya. "Ayo, Ka. Kita masuk."
Pintu kaca dibuka cukup lebar, dokter Tio masih berdiri dengan memegang gagang pintu. Kei tersenyum melihat Abhi yang melepaskan jas putihnya dan Zain masih tak sadarkan diri di atas brankar. Mata Ken membulat sempurna karena sosok itu sangat mirip dengan Abhi. Meskipun versi lusuh dan tidak terawat.
"Zain?" gumam Ken berjalan mendekati brankar.
Abhi mengambil laporan dan membacanya sekali lagi. Kei dan Ken memilih mendekati Zain. "Sejak kapan?" Ken mengusap wajah Zain dengan perasaan rindu.
"Ayah, kapan pulang dari LA?" tanya Abhi meletakkan laporan di atas nakas.
"Lupakan itu. Katakan, apa ini Zain?" tanya balik Ken.
Wajah putus asa yang tersiram air hujan, membuat Ken tidak ingin memupuk harapan palsu. Setelah pencarian di seluruh pelosok, di semua rumah sakit dan juga tempat-tempat terbengkalai. Selama beberapa tahun dilakukannya, tapi tidak ada hasilnya.
"Eeuugghh...." suara lenguhan mengalihkan semua perhatian orang di dalam ruangan pemeriksaan.
Mata itu terbuka perlahan dan mengedarkan pandangan dari satu wajah ke wajah lainnya. Tangannya terangkat dan menunjuk ke arah Kei, membuat wanita itu tergerak melangkahkan kakinya mendekati sang suami.
"Sayaang....."
Panggilan mesra yang telah lama tak lagi didengar telinganya, membuat Kei menghamburkan diri memeluk sang suami. Tidak peduli berapa banyak air matanya keluar untuk hari ini. Rasa bahagia, haru dan juga rindu bercampur jadi satu. Usapan lembut di kepala begitu menghangatkan jiwa dan darah di dalam tubuhnya terasa berdesir.
"Terima kasih telah menungguku, sayang. Aku mencintaimu istri tomboy ku, Keisha Zain Ardana." Zain memeluk Kei dengan pejaman mata, rasa dihatinya tak bisa diungkapkan selain rasa syukur.
Sementara di ruangan lain. Para dokter merasakan sesak nafas. Setelah ruangan dipenuhi asap putih. Entah dari mana asap itu berasal.
"Ukhuk.... ukhuk....."
Seorang dokter mengambil telepon di ruangan itu dengan sisa tenaganya. Nomor ditekan dan sebuah panggilan tersambung.
"Tuan, kami di serang....."
__ADS_1