My Love Is Stuck With Tomboy Girl

My Love Is Stuck With Tomboy Girl
Bab 66: Special part #Kabar duka


__ADS_3

Penerimaan Ken akan menjadi awal baru hubungan keduanya. Tanpa Ken sadari fokus yang terbagi, membuat seseorang melakukan aksi nekat dengan misi terselubung. Langkah kaki yang mengendap-endap dan memasuki ruangan ICU. "Selamat jalan."


Sebuah jarum suntik yang berisi cairan racun, disuntikkan ke dalam infus. Perubahan warna menjadi kekuningan, cairan perlahan memasuki tubuh seorang pasien dan reaksi kejang-kejang langsung terjadi. Setelah memastikan racun berhasil, orang itu keluar melalui pintu masuk dan menurunkan topi agar menutupi wajahnya kembali.


Bruug....


Tanpa melihat siapa yang ditabrak, seorang pria dengan topi berlari menjauh dan itu menjadi pusat perhatian. Suster yang curiga langsung memasuki ruangan ICU, dan melihat pasien tengah kejang-kejang. Tombol panggilan darurat ditekan dan suster segera memotong selang infus, berlari keluar ruangan. "Security tangkap pria dengan topeng itu!"


Teriakan suster, membuat seorang security di lantai tersebut berlari menyusul sosok yang baru saja lewat di depannya. Sementara dari arah lain, dokter Syarif berlari menuju ICU. Suster menyingkir dan membiarkan dokter masuk ke dalam ruangan. Barulah mengekor menyusul masuk kedalam. "Dok, infus berubah warna dan saya sudah memotong selang infus…."


Dokter Syarif masih sibuk memeriksa pasien dan menyuntikkan penawar racun, namun pasien tetap mengalami kejang-kejang tanpa henti. Hingga nafas pasien semakin melemah dan kejang berhenti, tangan lemas dan terkulai. Tangan dokter Syarif memeriksa denyut nadi pasien, mengecek mata pasien dan juga leher pasien. "Pasien meninggal dunia, waktu delapan pagi lebih sepuluh manis, tempat rumah sakit utama Medika."


"Tolong kabari Tuan Ken di ruangan melati, dan tanya jenazah ingin diurus langsung oleh pihak rumah sakit atau oleh keluarga. Pergilah sus dan berikan catatan kematian pasien." Dokter Syarif meminta kertas laporan di tangan suster.


"Siap dok, saya permisi. Dok bagaimana dengan…."


"Kabari tuan Ken terlebih dulu, kita bahas setelah beliau ada." sela dokter Syarif dan melambaikan tangannya.


Suster undur diri dan berjalan meninggalkan ruangan ICU, sementara dokter Syarif sekali lagi memastikan keadaan pasien. Keadaan pasien bernama Elis sangatlah buruk, wajah pucat, mata melotot, dan bibir kering. Dokter Syarif tak lupa mengamankan cairan infus yang menetes di lantai, kantong infus yang masih berisi setengah itu diambil dari tiang dan di masukkan ke wadah.


Sebenarnya apa masalahmu? Kenapa ada yang melakukan ini padamu? Kecelakaan tanpa tersangka, dan pembunuhan dengan racun. Sepertinya kamu menyimpan rahasia seseorang, ku harap kamu tenang di surga.~batin dokter Syarif dan membenarkan posisi tubuh Elis sebelum ditutupi selimut.

__ADS_1


Hari ini seperti sebuah pertunjukan, baru kakinya melangkah memasuki rumah sakit. Mata dan telinga sudah melihat dan mendengar kasus tabrak lari. Setelah usaha dengan keras di ruangan operasi dan berakhir pasien memiliki harapan hidup, kini semua berakhir karena pasien menjadi sasaran target pembunuhan.


Ceklek


"Bisa jelaskan!" tanya seseorang dengan nada tegas dan serak.


Dokter Syarif berbalik dan menatap Ken, pria di depan pintu itu terlihat menahan emosi dan tindakannya. "Maafkan atas kelalaian kami, seorang penyusup berhasil merenggut nyawa pasien…."


"Shut up! Anda tahu pasien adalah korban tabrak lari, dan anda lupa memberikan penjagaan untuk kamar pasien? Aku pikir rumah sakit memiliki sistem keamanan bagus, tapi nihil. Bersiaplah hadapi masalahmu." Ken memotong ucapan dokter Syarif.


Bagaimana tidak meledak, disaat dirinya belum sempat bernafas lega. Seorang suster datang ke kamar melati dan memberikan kabar duka. Mau tidak mau, Ken harus meninggalkan Aurel dan tetap menjaga Zee dalam pelukannya. Beruntung Ken bisa menemukan kapas untuk menutupi telinga baby Zee. Dokter Syarif menghela nafas, memang ini salahnya. Sekarang hanya bisa berharap keluarga Ardana memberikan keringanan.


"Maaf tuan, ini salah saya. Dokter Syarif sudah memerintahkan saya untuk menjaga pasien...." Suster maju dan menghadap Ken.


Suster menunduk, Dokter Syarif berjalan maju dan menghadapi Ken. "Saya bertanggung jawab penuh atas pasien, saya siap menerima hukuman apapun. Biarkan suster kembali bekerja."


"Dok..." cicit suster merasa terharu.


Ken tersenyum, menepuk bahu dokter Syarif. "Selesaikan pekerjaan anda dan antar jenazah ke kediaman Ardana. Sisanya, biar aku urus dan siapa yang melihat kejadian di ruangan ICU pertama kali?"


"Saya tuan." jawab Suster.

__ADS_1


Ken melirik name tag suster di samping dokter Syarif. "Dini, kamu ikut aku."


Suster Dini melirik kearah dokter Syarif dan mendapatkan kode anggukan kepala, Ken membiarkan kedua orang didepannya berkomunikasi dengan isyarat. "Sudah?"


"Bagaimana dengan tuan Zain?" tanya Dokter Syarif.


"Cukup urus jenazah dan antar ke rumah Ardana!" jawab Ken dan membalikkan badan, langkah kakinya keluar meninggalkan ruangan ICU bersama Suster Dini yang mengekor bak siput.


Tanpa menunda, tangan Ken merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel untuk menghubungi kediaman Ardana. Suara panggilan terhubung tanpa menunggu lama. Suara sapaan seorang wanita terdengar tidak sabaran. "Elis tidak terselamatkan, kita harus melakukan pemakaman hari ini juga. Ken akan urus dari sini, Aurel juga masuk rumah sakit. Ken akan ceritakan secara lengkap, tunggu Aurel sadar dan kami pulang ke rumah. Jenazah akan di pulangkan bersama orang yang bertanggung jawab. Sampaikan saja jika Elis mengalami kecelakaan. Kuharap oma mengerti."


Persetujuan dari seberang, membuat Ken menutup panggilan. Keduanya berjalan menyusuri lorong rumah sakit, dan berhenti di ruangan CCTV. Operator di ruangan keamanan menunduk dan cemas, aura Ken terlalu mendominasi. Meskipun ada bayi di gendongan satu tangannya, tetap saja tidak mengubah mode dingin si duda tampan. "Ceritakan semua yang kamu tahu! Jangan coba ditutupi, dan kalian carilah semua bukti rekaman!"


"Siap tuan." ucap serempak dua operator, dan Dini mengatur nafas sebelum memulai bercerita.


"Semua bermula ketika saya merasa haus, tapi tidak ada minuman di dalam ruangan ICU. Saya memutuskan untuk keluar sebentar dan mengambil air minum di tempat galon air terdekat. Setidaknya saya meninggalkan ruangan dalam rentan waktu lima menit lebih, dan saat kembali untuk memasuki ruangan ICU. Pintu terbuka dan seseorang keluar, tubuh orang dengan pakaian oversize dan topi hitam besar menabrak ku. Karena sikap aneh dan orang itu berlari setelah tak sengaja menabrak saya. Maka saya buru-buru memeriksa dan melihat pasien tengah kejang-kejang, fokus saya menyelamatkan pasien. Setelah menekan tombol darurat pasien, saya memotong selang infus dan berlari keluar, meminta security mengejar pelakunya."


"Di waktu yang sama, kemunculan dokter Syarif dari arah lain, membuat saya bergegas membuka pintu ICU dan membiarkan dokter masuk terlebih dahulu. Dokter Syarif sudah berusaha menolong pasien, hanya saja kejang-kejang pasien semakin menjadi dan nyawanya tidak bisa terselamatkan. Setelah waktu kematian sudah dicatat, dokter Syarif meminta saya untuk mengabari tuan. Selebihnya tuan tahu kelanjutannya." jelas Suster Dini dan menghirup udara sebanyak mungkin.


Dua operator memeriksa rekaman CCTV sesuai dengan cerita suster Dini dan benar adanya, seseorang masuk dengan mengendap-endap setelah suster Dini keluar dari ruangan ICU dan orang misterius itu keluar beberapa menit kemudian. Waktu muncul suster Dini bersamaan dengan keluarnya sosok dari dalam ICU dan berakhir tabrakan. "Tuan semua ucapan suster jujur, dan itu terekam di CCTV."


"Hmmm. Bagaimana dengan pencarian di luar? Apa ada hasil?'' tanya Ken.

__ADS_1


Dua operator saling pandan dan serempak menggelengkan kepala, Ken menghela nafas. Ketegangan Ken tak ubahnya dengan ketegangan dirumah kediaman Ardana. Banyak pasang mata menatap penuh kecemasan dan tanda tanya, namun sosok yang mengumpulkan semua anggota keluarga masih diam dengan bibir tertutup rapat.


"Elis mengalami kecelakaan dan tidak terselamatkan."


__ADS_2