
Sayup-sayup terdengar suara ambulance, suara itu membuat seseorang menarik selimut dan menutupi telinganya. Bayangan penyiksaan dan obat-obatan semakin terbayang jelas melintas ke dalam memorinya. Teriakan yang melengking terjepit dengan sumpalan sprei yang tersumpal di mulut. Lelehan keringat sebesar biji jantung membasahi seluruh tubuh tanpa terkecuali.
"Aarrrgggghhh.... emmpptt...."
Di depan kediaman Ardana, Dad Arza menyambut kedatangan ambulance. Tentu saja setelah melakukan musyawarah dengan pihak pengurus pemakaman umum. Mobil ambulance berhenti di depan gerbang, satpam membukakan pintu setelah isyarat majikannya terlihat. Tanpa mematikan suara sirine, ambulance masuk ke halaman utama kediaman Ardana.
Suara yang semakin terdengar jelas, membuat Ery menyambar apapun agar bisa menutupi kedua telinganya. Namun, semua usaha tidak berguna. Bantal pun tidak mampu meredam suara sirine ambulance. "Aaaarrrrrgggghh….. Hentikan! Sakiiiit….."
Suara teriakan Ery keluar dari kamar, membuat pelayan yang tengah membersihkan lantai atas berhenti menyapu dan berlari menghampiri kamar tamu.
Tok!
Tok!
Tok!
"Non, ada apa? Apa semua baik?'' tanya bibi dengan cemas.
Tidak ada jawaban selain suara erangan dan teriakan, bukan semakin tenang. Akan tetapi ada suara benda pecah dan entah apa yang terjadi di dalam, membuat bibi mengambil kunci cadangan di kantong dan membuka pintu kamar Ery. Mata bibi melotot mendapati kondisi Ery yang sudah bagaikan orang gila, ranjang berantakan dengan berbagai pecahan vas dan make up di lantai.
Tubuh yang gemetar dan gugup, dengan langkah pelan. Bibi menghampiri Ery yang duduk di sudut ruangan, wajah tertelungkup ke dalam lutut dengan isak tangis pilu. Bibi mengulurkan tangan kanan dan hampir menyentuh kepala Ery. Hingga wajah Ery terangkat, sontak tubuh bibi limbung ke belakang.
"Setaan….emppt."
Bruug
Penampilan Ery sangat menyeramkan, membuat bibi berteriak spontan dan terjatuh ke belakang. Raut wajah pucat pasi dengan tubuh gemetar si bibi, membuat senyuman aneh terbit di bibir Ery. Tanpa memberikan aba-aba, Ery menerjang tubuh bibi dan membungkam bibir wanita tua itu dengan satu tangan kiri. Satu tangan kanan Ery terangkat, kilauan benda tajam terlihat jelas terekam di mata si bibi.
Bibi menggelengkan kepala melihat pisau tajam di tangan Ery. Tubuh yang mendadak tak bisa digerakkan, membuat keadaan semakin menguntungkan Ery. Mata buas dengan senyuman aneh jelas menghiasi wajah Ery. "Jangan ikut campur!"
Jleb
Jleb
Jleb
__ADS_1
Jleb
Jleb
Jleb
Tusukan demi tusukan terasa ringan tanpa beban, cipratan darah segar membasahi wajah, rambut dan pakaian Ery. Tidak ada belas kasih, apalagi penyesalan. Pelayan tua dengan kondisi penuh luka tusuk, mata melotot dan bermandikan darah, tak menghentikan Ery melakukan kegilaannya.
Selama puluhan menit Ery sibuk melampiaskan amarah dan tekanan jiwa di dalam hati dengan mencabik tubuh pelayan di bawah tubuhnya. Lantai yang berubah warna menjadi merah, memuaskan Ery. Ery bangun dari atas tubuh tak bernyawa dan menjilati darah yang tertinggal di pisau. "Leganya, sekarang aku harus singkirkan semua kekacauan ini. Biarkan mereka sibuk dengan pemakaman pelayan bod0h itu, dan aku urus mayat tak berguna ini."
Ery berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri yang bermandikan darah, guyuran air dari shower melunturkan warna merah di sekujur tubuhnya. Selama tiga puluh menit, Ery membiarkan air shower tetap menyala. Sementara di rumah utama, dad Arza, mom Raina, Zain dan Ken sudah berkumpul dengan pihak rumah sakit.
Dokter Syarif menjadi pusat perhatian, sedangkan petugas lain tengah mempersiapkan prosesi pemakaman jenazah Elis. Zain menatap dokter Syarif tanpa berkedip, Kei mengusap lengan sang suami agar tenang. "Dok, apa anda tidak lelah berdiri? Duduklah!"
"Saya…."
"Duduk!" Zain menyelas jawaban dokter Syarif tanpa basa-basi.
Sontak dokter Syarif memilih duduk dan mencoba mengatur perasaannya yang tidak menentu, situasi serba salah. Kei menghela nafas, emosi Zain masih tercampur dan ini tidak baik. "Mas, kita sedang berduka. Tenanglah, bukankah kita menunggu ka Ken? Sekarang mari kita fokus pemakaman terlebih dulu, bukan begitu mom, dad?"
"Kei benar, tenanglah nak. Ayo kita bersiap ke pemakaman, semua sudah siap. Satu mobil saja!" titah dad Arza.
"Ayo nak, Kei jaga dirimu dan keluarga. Kami pamit dulu dan anda ikut kami dokter. Biarkan jenazah tetap bersama yang lain." ucap dad Arza.
"Baik tuan." jawab dokter Syarif dan bangun dari tempatnya.
Kei melepaskan genggaman tangan Zain, dan melambaikan tangan dengan senyuman untuk mengiringi langkah kepergian sang suami bersama kedua mertuanya. Sebagai seorang istri, mematuhi perintah suami adalah kewajiban dan itu selalu lakukan selama ini. Tanpa semua orang sadari. Kesibukan akan pemakaman Elis, justru dimanfaatkan Ery untuk melakukan kejahatan dan menyingkirkan barang bukti serta korbannya.
Wanita berambut emas itu, hanya memakai pakaian sebatas lutut dan berlari ke belakang pondok. Dimana di belakang pondok terdapat kebun bunga mawar yang cukup rimbun, mata Ery menelisik ke setiap sudut dan menemukan apa yang dicari tergeletak di bawah pohon mangga yang masih sangat muda. Sebuah cangkul diambil dan tanpa mengikat rambut, Ery mulai mencabut setiap pohon mawar. Hingga menyisakan sebidang tanah dengan panjang satu meter dan lebar setengah meter.
"Sudah pas, segini aja cukup. Aku harus bergegas mencangkul dan membuang mayat itu," ucap Ery sembari meraih cangkul dan mulai mencangkul tanah.
Cruuk!
Cruuk!
__ADS_1
Cruuk!
Suara itu cukup jelas terdengar, meskipun tidak sampai keluar dari pondok. Ery masih sibuk mencangkul, sedangkan Kei tengah menyiapkan makan siang untuk keluarganya. Apapun yang terjadi, tanggung jawab menjaga kesehatan keluarga tetaplah harus dilakukan. Karena semua pelayan sibuk melakukan persiapan untuk pengajian nanti malam, maka Kei memasak makanan sederhana untuk makan siang.
Satu jam kemudian, Kei melepaskan celemek dari tubuhnya dan mencuci tangan. Langkah kaki Kei berjalan meninggalkan dapur dan menuju ruang makan untuk meletakkan hasil masakannya. Seorang pelayan yang melihat Kei bekerja seorang diri menghampiri meja makan. "Non, biar bibi saja. Maaf kami tidak membantu…."
"Santai, okay bi. Tolong bawakan nasi dan juga ayam goreng ke meja makan, saya mau panggil si kembar dan oma. Oh iya, setelah selesai. Tolong panggilkan nona Ery, katakan makan siang sudah siap.'' ucap Kei.
"Siap Non, saya permisi ke dapur." pamit bibi pelayan.
Kepergian bibi pelayan, membuat Kei berjalan meninggalkan ruang makan. Kini tujuannya adalah lantai atas, dimana si kembar dan oma Diana berada. Hanya membutuhkan waktu tiga menit, Kei sampai di depan kamar sang oma.
Tok!
Tok!
Tok!
"Boleh Kei masuk?" Kei memutar knop, dan mendorong pintu agar terbuka.
Tidak ada suara yang begitu berisik, senyuman hadir di bibir Kei. Si kembar terlihat tengah sibuk dengan ponsel masing-masing, sedangkan oma Diana masih melakukan meeting dadakan secara virtual. Kei berjalan masuk dan menutup pintu, sesaat oma Diana menatap Kei dan memberikan senyuman.
Kei duduk di sofa, bersebelahan dengan si kembar. Si kembar sangat fokus pada ponsel masing-masing, membuat Kei memperhatikan kedua buah hatinya itu. Ternyata ada headset bluetooth di telinga si kembar, sayup-sayup Kei mendengar suara aneh. Tatapan mata Kei teralihkan ke arah jendela terbuka dengan tirai beterbangan terhempas hembusan angin.
Suara aneh itu semakin menambah rasa penasaran, Kei bangun dan berjalan menuju ke jendela yang menghadap ke pondok. Tangan Kei memegang tirai dan mengamati area pondok dari atas, sangat sepi. Tapi entah kenapa rasanya seperti menghembuskan aura tak buruk.
Apakah semua baik-baik saja? Kenapa aku cemas tanpa sebab, hatiku sangat gelisah dan rasa takut mulai datang menyusup ke dalam jiwaku. Apa yang salah? Kenapa hembusan angin ini seakan berganti arah, Tuhan lindungi keluargaku. Lindungi kami dari mata jahat semua orang.~batin Kei dan memejamkan mata.
Dari balik tirai lain, tatapan tajam dengan senyuman iblis terbit sempurna menghiasi bibir berwarna maroon. Setelah usaha keras selama satu jam, akhirnya pekerjaan menyingkirkan bukti terselesaikan. Namun, aroma anyir di dalam kamar masih tercium begitu menyengat dan warna merah masih berceceran dimana-mana.
"Aku harus membersihkan semua tanpa jejak. Apa aku harus membakar pondok ini? Atau…."
Ide yang melintasi otak Ery, semakin memperjelas senyuman iblis di bibir wanita itu. Seakan mendapatkan ilham, Ery mulai membersihkan darah di dalam kamar, tentu saja setelah melakukan pemakaman terbaik untuk korban pelampiasannya. Senandung nada cinta keluar dari bibir Ery, nyanyian akan kerinduan dalam penantian.
................... ...
__ADS_1
Langkah kaki yang berjalan terburu-buru dengan nafas ngos-ngosan, membuat semua orang di ruang makan teralihkan. wajah pucat dengan tubuh gemetar terlihat jelas tanpa perlu kacamata.
"Ada apa?"