
"Ada apa?" Abhi bangun dan mendekati si dokter.
Tangan dokter menuju keluar ruangan kantin istimewa. "Kabuur....."
Satu kata tak usai, membuat Abhi bergegas meninggalkan kantin. Rara masih lemas dan ingin menyusul Abhi, tapi Kei menahannya. "Tetap disini! Biarkan, Abhi menangani. Dok, cepat susul Putraku!"
"Tapi...."
"Dok!" Suara tegas Kei, membuat dokter terkesiap dan berlari meninggalkan kantin istimewa.
Bian yang baru kembali sembari membawa nampan minuman. Buru-buru meletakkan nampan di atas meja. "Bu, ada apa?"
Kei berbalik. "Jaga Rara! Kalian disini saja."
"Mom..."
Kei tidak ingin mengulur waktu berdebat. Situasi yang tidak mungkin di buat tenang, membuat Kei menatap Tegas pada putrinya. "Tunggu disini bersama Bian!"
"Pergilah. Saya akan menjaga Rara." ucap Bian tanpa ketahuan.
Kei mengangguk dan mengusap kepala Rara sebelum melangkahkan kaki meninggalkan kantin. Kepergian Kei, membuat Bian membeku. Terlihat jelas putri killer di depannya tengah kesal, marah dan tak ingin di ganggu.
"......"
"Shut up! Angkat kakimu dan tanganmu taruh di telinga!" Rara menunjuk Bian seperti seorang guru menghukum muridnya.
Ingin mengeluh dan berlari, tapi percuma. Dihukum Rara lebih baik. Daripada melihat gadis itu jatuh tak sadarkan diri. Tanpa mempedulikan bagaimana posisi Bian. Rara mengambil jus mangga dan meminumnya dengan wajah pamer kesegaran rasa buahnya.
"Huuum, lezatnya. Mau?" tanya Rara.
Bian menggelengkan kepala.
"Syukurlah. Jangan harap, aku memberimu minuman." Jawab Rara.
Drama antara Rara dan Bian, tak ubahnya seperti drama anak sekolahan. Berbeda dengan situasi darurat yang terjadi di taman rumah sakit. Dimana Abhi sudah berdiri di depan Izzi dengan sikap tenang dan waspada. Pisau di tangan Izzi, membuat beberapa pasien menjauhi taman dan para dokter masih berusaha membujuk Izzi. Abhi melangkah satu langkah lebih dekat ke Izzi.
"Berhenti! Tetap di sana." ucap Izzi.
Abhi tersenyum dan menatap Izzi dengan lembut. "Izzi, dengarkan aku. Lepaskan pisau itu! Izzi anak baik, kan."
__ADS_1
Izzi diam dan mendengarkan Abhi. Melihat itu seorang dokter memberikan isyarat agar Abhi melanjutkan aksinya, sampai dokter di belakang Izzi bisa merebut pisau di tangan gadis remaja itu.
"Apa yang Izzi sukai. Ice cream atau boneka?" tanya Abhi.
"Boneka pita pink." jawab Izzi.
Abhi tersenyum semakin manis. "Pasti cantik seperti Izzi. Apa bonekanya memiliki gaun yang cantik?"
"Ya, gaun hitam dengan mutiara putih. Namanya boneka jesi." jawab Izzi.
"Jesi, nama yang indah. Bagaimana dengan nama panjang Izzi?" tanya Abhi semakin mendekati Izzi.
"Izzi Zain Ardana." Jawab Izzi.
Glek
Jawaban Izzi, membuat Abhi terhenti dan tak bisa bergerak lagi. Hatinya sakit seakan tertusuk ribuan jarum. Bagaimana bisa, seorang gadis remaja memiliki nama *Izzi Zain Ardana*. Nama papanya, menjadi nama gadis itu. Bukan hanya Abhi, Kei juga ikut shock dan terhenti di belakang salah satu dokter. Satu titik air mata turun tanpa permisi, bergegas Kei hapus air matanya.
Belum sempat Kei melangkahkan kaki mendekati kerumunan. Seseorang menyenggol bahunya dan suara orang itu terdengar tak asing.
"Izzi, sayang...."
Abhi berbalik dan melihat kehangatan antara Izzi dan Zain, sangat dirinya rindukan. Rindu yang menggebu-gebu. Ingin rasanya berlari dan ikut memeluk pria lusuh di depannya. Namun, dari arah berlawanan ada sang mommy. Mata indah Kei sangat hancur dan wajah cantik itu terlihat pucat pasi.
Langkah kaki Abhi tergerak dan berjalan menuju hatinya. Bukan Zain tujuannya, tapi Kei sang mommy. Selama bertahun-tahun, hanya Kei yang menjadi sandaran nya. Abhi berhenti di depan Kei dan merentangkan kedua tangannya. "Aku ada untukmu, Mom."
Greeb
Rentangan tangan Abhi menjadi sebuah cahaya bagi Kei. Kei menghamburkan diri ke dalam pelukan sang putra. Kehangatan dengan aroma menenangkan Abhi, sama seperti aroma Zain. Rasa rindu ibu dan anak menyatu. Tidak ada yang menyadari jika dua insan itu tengah menahan gejolak hati.
"Sayang, sudah berapa kali papa ingatkan. Jangan menyentuh pisau. Apa yang mengganggu mu?" ucap Zain dengan lembut setelah melepaskan pelukan.
"Dia, membawa Izzi ke dokter itu. Izzi tidak sakit, iya kan pa?" jelas Izzi dan menunjuk ke arah Kei yang terlihat dari samping.
Zain bangun dan berbalik menatap ke arah jari Izzi. Wanita yang menjadi penyebab dirinya masuk rumah sakit. Zain menggandeng tangan Izzi dan membawa gadis itu menghampiri Kei dan Abhi. Setelah berjalan beberapa langkah. Zain berhenti di hadapan kedua insan yang memejamkan mata. Ketenangan dengan tetesan air mata Kei menarik perhatiannya.
Tangan kanannya terangkat dan menghapus air mata itu. Kei terkejut dengan sentuhan lembut seseorang dan membuka matanya. Mata Abhi terpaku dengan mata Kei yang sendu, namun penuh cinta dan kerinduan mendalam. Kei melepaskan pelukannya. "Tuan Zain Ardana, apa kamu melupakan istrimu?"
Alis Zain terangkat satu dan menatap Kei semakin dalam, bayang-bayang berkelebat dan mengusik isi pikirannya. "Arrrggghhh... Hentikan!"
__ADS_1
"Mas....."
Zain mengangkat tangannya, membuat Kei berhenti mendekati pria di depannya. "Menjauh dariku! Kenapa kepalaku selalu sakit di dekatmu."
Abhi mengusap bahu sang mommy dan berdiri di depan Izzi. "Maafkan, kami."
Suara Abhi terdengar mirip seperti suaranya. Zain mengalihkan tatapan dan mengamati wajah Abhi dengan serius. Tanpa Zain sadari, langkah kakinya mendekati Abhi dan meraba wajah sang putra. "Wajahmu, sangat mirip denganku. Siapa kamu?"
Abhi tersenyum dan menggenggam tangan Zain yang ada di pipinya. "Aku adalah bagian dari mu."
"Apa maksudmu?" tanya Zain tidak paham.
"...... "
"Tuan Muda, maaf menganggu. Tapi, ini sangat emergency." ucap dokter Tio.
Tidak tahu sejak kapan. Dokter Tio sudah ada di taman dan menghentikan tindakan Abhi. Kei melihat keseriusan wajah dokter Tio, dan mengusap lengan Abhi. Helaan nafas terdengar dari hidung Abhi. Tangan Zain di lepaskan dari pipinya. "Sebaiknya, anda dan Izzi istirahat. Pasti kalian sangat lelah. Dokter Willy bawa mereka berdua ke kantin dan pastikan makan makanan terbaik!"
"Siap, Tuan. Mari pak, dan..." Ucap dokter Willy.
Izzi tak mendekati dokter Willy dan memilih bersembunyi di belakang Zain. Tidak memerlukan perdebatan. Mungkin keadaan lemah dan lapar, membuat Zain menurut begitu saja.
Prook!
Prook!
Prook!
"Bubar!" seru Zain.
Pasien yang melihat pertunjukan gratis bersama beberapa dokter tak tahu jam akhirnya membubarkan diri. Abhi menuntun Kei untuk duduk di salah satu kursi taman rumah sakit dan dokter Tio hanya mengikuti tanpa bertanya.
"Duduk! Katakan." ucap Abhi dengan nada serius.
Dokter Tio mengambil kertas dari saku jas putihnya. Tangan dokter Tio gemetar, meskipun ekspresi Abhi masih sangat tenang. Kertas putih tanpa amplop rumah sakit tergeletak di atas meja. Abhi mengambil kertas itu dan membawa dengan seksama. Matanya tak bisa berbohong. Hembusan angin seakan memberikan kesegaran dengan aroma kehidupan baru.
"Tapi, ada satu lagi laporan...." Dokter Tio mengambil satu laporan lagi dari saku jas sebelah satunya.
Kertas laporan di ambil dan wajah Kei terkejut dengan mata kesana-kemari. Abhi mengambil kertas ditangan sang mommy tanpa permisi. Perubahan ekspresi Abhi, membuat udara sekitar menipis. "Katakan! Jangan sampai, kepalamu yang ku penggal."
__ADS_1