My Love Is Stuck With Tomboy Girl

My Love Is Stuck With Tomboy Girl
Bab 73: Special Part #Tepi Jalan


__ADS_3

Suara mesin mobil terdengar halus, dan berhenti tepat di depan mobil jeep hitam dimana sekumpulan orang tengah duduk bersantai dengan seduhan kopi mengepulkan asap. Pintu depan mobil sport hitam terbuka, dan satu kaki dengan sepatu bermerk keluar. Sosok yang ditunggu keluar dan berjalan meninggalkan mobilnya tanpa menutup pintu mobil.


"Apa ada perkembangan?"


"Rumah itu terbakar, tapi tidak ada bekas jasadnya. Kemungkinan besar jasad sudah dipindahkan dan tempat kejadian terbakar habis tak tersisa. Semua file dan hasil akhir sudah dikirimkan ke e-mail anda. Hanya itu yang kami dapat, tapi ada sesuatu yang hilang." lapor pria tanpa jaket.


"Levin, periksa ini dan kirimkan laporan secepatnya." ucap Zain menyerahkan kotak kado yang dibawa.


Levin menerima kotak kado dari Zain dengan rasa penasaran. Satu pria berjaket yang melihat kado menelisik dan mengendus. "Bau anyir, apa didalam sesuatu yang menyeramkan?"


"Si pelacak, tugasmu memang untuk melacak." ucap Levin.


"Hmmm. Siapkan semuanya besok pagi, aku akan membawa keluargaku liburan maju dari jadwal seharusnya. Satu lagi, carikan satu pekerjaan di sekolah terbaik untuk guru privat si kembar. Biarkan guru itu bekerja ditempat lain dan tempat tinggal baru juga." titah Zain.


Levin mengangguk paham dan menyodorkan kotak kado ke tangan si pelacak. Mata Levin memberikan kode pada Zain untuk ikut bersamanya, keduanya menuju ke tepi jalan yang sepi. Zain hanya mengikuti langkah Levin tanpa bertanya.


Kini keduanya sudah berdiri jauh dari semua orang. Levin mengambil sesuatu dari saku celana dan mengulurkan ke Zain. Zain menaikkan satu alisnya dan menerima apa yang Levin berikan. Seperti sebuah flashdisk. Seperti orang bersalaman, keduanya juga berpelukan.


"Ada yang mengawasi kita. Berhati-hatilah, untuk sementara biarkan mereka bermain." bisik Levin.


Zain tidak menjawab, tapi memahami apa maksud dari tangan kanannya itu. Pelukan berakhir dan kembali berkumpul bersama yang lain.

__ADS_1


"Apa kalian akan menginap disini?" tanya Zain dengan santai.


"King, kami tidak ingin menjadi santapan para nyamuk." cetus pria si pelacak.


Levin hanya menatap dingin, tanpa menjawab. Ponsel yang terasa bergerak didalam saku celana, membuat Zain mengalihkan fokusnya. Begitu melihat siapa yang menghubungi, Zain langsung berdiri. "Jangan terlalu malam, aku akan pergi."


"King mau kemana?" tanya si pelacak.


Plak!


"Pulang, kemana lagi. Pergilah king. Hati-hati atau mau di kawal?" ucap Levin.


Gelap seperti dunia bawah, tapi tak segelap itu. Kenyataan sangat berbeda dengan yang terlihat. Siapa sangka hidup tenang tanpa bayangan menjadi tentram? Ternyata tak semudah itu.~batin Levin.


Levin membiarkan yang lain menghabiskan kopi masing-masing sebelum meninggalkan tempat pertemuan. Di balik rindangnya pepohonan, jauh dari pandangan mata. Seseorang tengah mengamati kegiatan di tepi jalan, termasuk pertemuan Zain dengan kelompok itu.


"Ish, kapan mereka pergi sih! Aku sudah tidak tahan, nyamuknya ganas." gumam orang itu.


Zain yang mengendarai mobil seorang diri bersikap lebih waspada, instingnya seakan tergugah. Mobil melaju dengan kecepatan standart dan sampai di pertigaan, mobil mengambil jalan umum yang lebih ramai kendaraan lain. Helaan nafas lega keluar, kini Zain menambah laju kendaraan agar segera sampai di rumah.


Berbeda dengan Ery, dimana wanita itu tengah berpikir keras bagian mana yang salah dan benar. Sekilas dari apa yang didengarnya, ada satu kejadian yang tidak masuk ke dalam perhitungan. Ponsel yang tertinggal di pondok, membuat Ery bingung ingin menghubungi orang suruhannya dengan apa. Tidak mungkin menggunakan telepon rumah, sewaktu-waktu bisa terlacak dan menjadi barang bukti.

__ADS_1


"Sebaiknya besok pagi aku bangun lebih pagi dan mengambil ponsel dari pondok. Untung saja aku sudah keluar dari pondok. Jika tidak, pasti menyeramkan di dalam sana bersama mayat pelayan.'' gumam Ery.


Semua orang memiliki ketegangan masing-masing, Zain yang tak ingin mengambil resiko memilih membelokkan mobilnya ke sebuah hotel. Langkah kaki Zain berjalan memasuki lobi menuju resepsionis.


"Ada yang bisa saya bantu Tuan?" tanya Resepsionis.


"Satu kamar VVIP." jawab Zain.


"Siap Tuan, atas nama?" tanya Resepsionis.


"King." jawab Zain. menyodorkan satu Black Card.


Mata resepsionis melotot melihat kartu dari Zain, dengan perasaan gugup mencoba melayani Zain sebaik mungkin. "Ini Tuan, kamar no 3 Lantai Bougainville.''


Zain menerima kunci kamar dan kartunya kembali. Tanpa menunggu lama Zain meninggalkan tempat resepsionis menuju lift. Hanya membutuhkan tiga menit, kini Zain memasuki lift bersama seorang wanita yang sudah masuk terlebih dahulu. Tidak ada sapaan ataupun perbincangan. Hingga Lift terbuka dan Zain bergegas keluar menuju kamarnya.


Kamar dengan tulisan silver yang elegan berbentuk angka tiga. Zain memasukkan kunci ke lubangnya dan membuka pintu, melangkah masuk dan menutup pintu kembali. Kamar yang mewah dan luas, keamanan terjamin dan kedap suara. Satu yang dicari oleh Zain yaitu sebuah komputer. Setelah menjelajahi seluruh ruangan, akhirnya menemukan apa yang menjadi tujuan. Tangan Zain merogoh saku dan mengambil flashdisk, memasangkan ke slot yang benar.


Zain sibuk melakukan pemeriksaan, beberapa file tersedia. Dari nama setiap file sudah jelas memiliki jawaban tanpa dibuka, tapi ada satu nama yang menarik perhatiannya.


"File Ghosh Twins?"

__ADS_1


__ADS_2