My Love Is Stuck With Tomboy Girl

My Love Is Stuck With Tomboy Girl
Bab 60: Special part # Si bunglon dan si baik


__ADS_3

Kebahagiaan Aurel dan Ken, masih ada satu pasangan yang juga tengah melabuhkan hati dengan pergulatan panas diatas ranjang. Keduanya berbagi peluh dan juga suara manja. Tanpa pasangan itu sadari, pergulatan panas keduanya tengah sibuk di nikmati orang lain melalui teropong. Tangan yang mengepal, dengan mata tak henti-hentinya melotot.


"S!al! Kenapa mereka tidak berhenti. Aarrrggghhh."


Suara jeritan terdengar hingga ke ruangan lain. Seorang wanita dalam keadaan lelah terbangun karena terkejut. Dengan menekan saklar lampu yang ada di dinding, kini kamarnya menjadi terang. Dengan mengucek kedua mata, wanita itu bangun dan berjalan membuka pintu dan keluar dari kamarnya. Semua ruangan gelap, tapi ada satu lampu yang menyala dan itu kamar tamu majikannya. "Apa yang wanita itu lakukan? Jam satu malam, coba aku periksa."


Langkah Elis berjalan dengan hati-hati, bahkan dengan sengaja melepaskan alas kaki. Belum sempat langkahnya mencapai setengah perjalanan, pintu kamar bergerak dan Elis buru-buru sembunyi di balik salah satu lemari yang berjejer sebagai penyekat ruangan tamu dan ruangan makan. Langkah Ery terlihat oleng dan masih berjalan dalam remang-remang. Mata Elis menelusuri setiap inci tubuh Ery dan berhenti pada tangan kiri wanita berambut emas.


Darah? Bukankah, tadi sudah diperban? Lalu kenapa darahnya mengalir lagi? Apa wanita itu menyakiti dirinya sendiri? Jika iya, bagaimana dengan si kembar? Aku harus segera laporan.~ batin Elis dan membungkam mulutnya sendiri agar tidak ketahuan.


Ery dengan santainya duduk di meja makan, setelah mengambil semangkuk air es dan tanpa basa-basi tangan kirinya di rendam ke dalam mangkuk air es. Bukan jeritan apalagi tetesan air mata karena menahan perih. Justru senyuman aneh terbit di bibir Ery dan itu membuat Elis mati kutu. Pemandangan di depannya sangat menakutkan. Terlihat jelas tidak ada mata kasih sayang di dalam diri Ery, dan wajah polos yang tersaji hanyalah topeng belaka.


"Aaahh leganya. Sekarang waktunya tidur. Good night Zain." Ery membiarkan mangkuk air es yang telah berubah warna tetap diatas meja dan pergi begitu saja.


Setiap langkah kaki Ery yang menjauh dari ruang makan, membuat Elis bernafas lega. Tapi di dalam hatinya ada rasa ketakutan yang besar dan semua itu karena wajah asli Ery guru privat si kembar. Bahkan belum genap dua puluh empat jam, wajahnya sudah seperti bunglon saja. "Aku laporan dengan siapa, dan sekarang semua sudah istirahat. Lebih baik besok pagi saja."


Setelah merenung sesaat, Elis memutuskan kembali masuk ke kamarnya. Waktu berganti dengan keheningan malam, semua orang terlelap menjelajahi mimpi masing-masing. Namun, ada seseorang yang masih terjaga dan menatap ponsel di genggaman tangannya. Ponsel yang sudah diretas kata sandinya dan semua isi di dalam ponsel itu sudah diperiksa. "Apa bisa ku jadikan mainan baru? Atau kujadikan pelayan saja? Dengan semua video dan gambar serta dokumen di ponsel ini, maka dapat dipastikan wanita itu siap menukar dengan apapun."


Tap


Tap


Tap


"Permisi tuan. Kami sudah menemukan dimana wanita itu tinggal." lapor seorang preman dengan menunduk.

__ADS_1


Tangan tuan X melambai dan si pelapor mendekat untuk membisikkan hasil pencariannya. Wajah tuan X tersenyum dan menepuk pipi anak buahnya. "Good job. Biarkan tenang untuk sementara, ku rasa wanita ini memiliki mainannya sendiri. Pastikan pantau setiap pergerakan dari wanita itu!"


"Siap tuan X. Saya permisi." pamit si pelapor dan meninggalkan kamar tuan X yang dipenuhi lilin merah menyala.


Anggap saja mainan baru. Siapa tahu aku belajar sesuatu, teknik pembunuhannya cukup unik. Aku harus menghargai keahliannya. ~batin tuan X dan meletakkan ponsel diatas meja.


Waktu berlalu dan berganti dengan sinar mentari. Suara burung berkicauan dengan riang. Tangan yang melingkar erat, membuat seorang wanita berhati-hati melepaskan tangan di perutnya itu. Bukannya lepas, pelukan semakin di eratkan. "Kei, jangan gerak terus. Nanti adikku bangun, mau tanggungjawab."


"Mas, ini sudah pagi. Lihat cahaya matahari juga udah nongol. Si kembar juga pasti lapar." Kei masih berusaha melepaskan tangan Zain dari perutnya.


"Cium dulu. Baru aku lepaskan." ucap Zain.


Kei membalikkan tubuhnya dan mengecup kening Zain. "Udah ya mas, sekarang lepas."


Kei buru-buru melarikan diri setelah tangan Zain longgar, pencurian kiss di pagi hari selalu menambah warna merah di pipi Kei. Zain tersenyum melihat wajah manis dan cantik sang istri, usahanya tidak sia-sia. Kejutan yang dibuat dengan bahan seadanya, membuat malam keduanya semakin lengket. "Apa Ken sudah balik? Atau menginap di apartemen Aurel? Aku harus periksa. Awas saja kalau berbuat jauh."


Zain bergegas mengambil pakaian ganti, sementara Kei masih membersihkan diri didalam kamar mandi. Zain memilih keluar kamar terlebih dahulu. Langkah kaki Zain terdengar jelas dengan suasana rumah yang masih sunyi. Tatapan mata Zain tertuju pada Ken yang duduk di kursi dengan secangkir kopi dan sebuah laptop di atas meja. "Pagi Ken. Ku kira kamu menginap semalam."


"Ayolah bro. Aku pria normal tapi bukan bajingan. Dalam kehidupan ku ada banyak wanita, bagaimana bisa aku menodai seorang wanita. Jangan sampai apa yang kutabur, keluarga kita menuai hasil perbuatan ku. Relax bro, kalau aku ngebet. Aku pasti nikah bukan pacaran." Ken menjawab santai namun serius.


Zain menepuk pundak Ken. "Aku tahu kamu laki-laki baik. So? Bagaimana dengan hasilnya?"


"Proyek tiga cabang harus selesai…."


Puk…

__ADS_1


Zain bertanya apa dan Ken menjawab apa, sontak tangan Zain menepuk lengan Ken lebih keras. "Aku tanya hubungan bukan proyek! Masih pagi sudah bahas proyek."


"Kirain, kalau proyek kita lancar. Otomatis aku bisa kencan kan? Jadi selama proyek masih berjalan, relakah kamu memberikan aku waktu berkencan?" Ken menggoda Zain dengan senyuman termanis dan mata memelas.


Zain membuang muka. "Gak gitu juga kali. Jangan bertingkah seperti Rara ya, puppy eyes cocok untuk Rara bukan kamu."


"Ha ha ha. Kamu ini, tak ingat bagaimana kamu sering memohon pada Kei dulu." jawab Ken dengan suara tawa yang ceria.


Zain langsung mendelik tajam. "Stttt! Masih saja bahas itu…"


"Pagi ka Ken. Mas gak mandi dulu?" Kei turun dari tangga dengan penampilan sederhana dan rambut basah.


Ken menggeser pandangan dan melihat penampilan adiknya, dari wujud pagi ini. Pastinya pasutri termuda baru menyelesaikan ritual malam. "De, tumben kesiangan? Singa mu kelaparan ya?"


"Eh. Itu, Kei ke dapur dulu ya." jawab Kei tersipu malu dan mengalihkan tujuannya ke dapur.


Zain sontak menutup mata Ken. "Ingat ada Aurel. Selesaikan proyek dan sebagai gantinya, ajak Aurel saat liburan weekend. Okay."


"Wuih ciuus bos? Demi apa?" ucap Ken semangat.


"Hmmm. Jangan buat aku berubah pikiran ya." jawab Zain dan membalikkan badan.


Blum sempat langkah kaki Zain berjalan jauh, seseorang terburu-buru masuk dan menabrak tubuh kekar Zain. Zain yang memiliki kesiapan, menangkap dan menahan tubuh orang yang menabraknya. "Apa ada hantu?"


Hening….

__ADS_1


__ADS_2