My Love Is Stuck With Tomboy Girl

My Love Is Stuck With Tomboy Girl
Bab 81: Special part #Ikatan Hati- Rindu dan Trauma


__ADS_3

Apa gadis ini memiliki kelainan? Kenapa senyuman yang terbit, bukannya air mata atau jeritan seperti Rara. Siapa sebenarnya gadis ini? Memanggilku papa, apakah wajahku sangat familiar? Jangan-jangan, mungkinkah? Tidak, tidak mungkin dia anak papa.~batin Abhi.


Beberapa menit berlalu, Abhi sudah selesai mengobati tangan Izzi dan membawa gadis itu keluar dari ruangannya. Langkah keduanya menuju taman khusus. Dimana Rara dan Kei sudah menunggu, benar saja kedua wanita beda usia itu belum menyentuh satu makanan pun.


"Akhirnya datang juga. Perutku sangat kelaparan, Bhi suapi aku," Rara mengeluarkan jurus terampuh dengan puppy eyesnya.


Abhi tersenyum, dan mengangguk. Tangannya bersiap mengambil makanan, tapi ditahan Izzi. "Papa cuma milikku….. "


"Nak, apa maksudnya?!" Kei menatap Abhi penuh selidik.


Rara menarik tangan sang mommy, dan mengusap punggung wanita yang sangat tegar itu dengan lembut. "Tenang, Mom. Sepertinya ada kesalahpahaman. Bukan begitu, Bhi?"


"Benar, Mom. Abhi juga tidak tahu. Kenapa gadis ini, memanggilku dengan papa," Abhi membenarkan ucapan Rara.


"Papa jahat, hiks…" Izzi kembali menangis sesenggukan dan melepaskan tangan Abhi.


Kei tertegun mendengar ucapan dan isak tangis gadis remaja di samping putranya. Sejurus Kei mengamati wajah Abhi yang sebelas duabelas dengan wajah suaminya. Detak jantung tiba-tiba terpompa cepat. Entah kenapa degup jantung seperti lari maraton, hatinya terasa hidup kembali. Bersamaan hembusan angin yang bebas menerpa.


Suara langkah kaki dari jauh, terdengar tak asing memasuki gendang telinganya. Kei menelusuri seluruh sudut taman. Tidak ada selain mereka berempat. Hati yang berbunga dengan degupan jantung cepat, membuat Kei memejamkan mata. Semakin lama, suara langkah kaki itu semakin mendekat. Ikatan macam apa yang membelenggu jiwanya. Jika bukan ikatan hati yang suci.

__ADS_1


Kei melepaskan tangan Rara dan berdiri menatap pintu masuk taman. Harapan yang padam setelah sekian lama seakan menyala kembali. Hembusan angin memberikan pesan. Cintanya telah kembali. Rara tidak paham dengan reaksi sang mommy yang seperti orang berhalusinasi. Sementara beralih menatap Abhi, justru saudara kembarnya itu masih mencoba menenangkan Izzi yang menundukkan wajah di antara kedua lutut.


"Silahkan, masuk."


Tatapan mata Kei tak lepas dari sepatu lusuh yang muncul di depan pintu taman. Menatap dari ujung kaki hingga ke atas. Tangan Kei terangkat dan memegang dadanya. Sungguh, rasa rindu yang tertahan seakan meluap di waktu bersamaan. Sesak, kecewa, sedih, rindu, bahagia dan duka menjadi satu. Tanpa sadar tetesan air mata mengalir dari kedua sudut mata Kei. Rara mengusap lengannya, dimana ada setetes air yang jatuh dari atas.


"Mom, kenapa nangis?" tanya Rara dengan suara cukup keras, membuat Abhi berpaling dari merayu Izzi dan menatap sang mommy.


Kei tidak menjawab. Langkah kakinya justru berjalan meninggalkan tempat makan lesehan, tanpa alas kaki. Rara berdiri dan berbalik. Mata gadis cantik versi Zain cewek itu membulat sempurna. Abhi ikut menatap ke arah pintu. Bukan lagi shock, Abhi ikut berdiri dan menatap pria di depan pintu.


"Papa…." gumam Abhi dan Rara bersamaan.


Kei sudah menghampiri Zain dan memeluk pria itu dengan erat. Kecupan demi kecupan kerinduan diberikan, tanpa melihat kondisi Zain yang seperti pemulung dengan pakaian lusuh dan tubuh tak terawat. "Mas, kemana saja? Aku sangat merindukanmu dan mencemaskan mu. Syukurlah, akhirnya kamu kembali."


Kei, Rara dan Abhi merasa bahagia. Setelah sekian lama, bisa mendengar suara lembut penuh kasih sayang dari Zain. Hingga, Zain melepaskan pelukan Kei dan berjalan menghampiri gadis remaja itu. Kei berbalik dan melihat siapa yang di panggil sayang oleh Zain.


"Nak, apa kamu baik-baik saja? Mereka tidak melukaimu, kan?" Zain memeriksa tubuh Izzi dengan seksama.


Pemandangan itu, membuat tubuh Rara goyah dan limbung. Abhi segera menahan tubuh saudara kembarnya, sedangkan Kei menahan rasa sakitnya dengan memejamkan mata. Siapa sangka, Zain justru khawatir dengan gadis remaja itu. Dari tatapan mata Zain, sudah jelas pria itu seperti tidak mengenal keluarganya sendiri.

__ADS_1


"Perban? Apa yang kalian lakukan pada putriku," Zain meniup tangan Izzi yang terluka, sikap itu benar hanya milik Zain.


Melihat Rara dan Abhi kembali menghadapi trauma. Kei segera mendekat ke arah Zain dan berdiri di depan si kembar. "Maaf, siapa anda berani membentak kedua anakku."


Abhi ingin membantu mommynya, tapi Rara terlalu rapuh untuk di lepaskan. Sekarang tugasnya menjaga Rara, dan tetap bertahan sampai melewati batas. Zain merasa tersinggung dan berdiri menatap Kei dengan tatapan tajam. "Apa, kamu tidak lihat tangan anakku terluka. Siapa…."


"Stop! Tanyakan pada putrimu, kenapa terluka. Untuk apa, kami melukai anakmu? SIAPA KAMU BAGI KAMI," Kei menekankan pertanyaan terakhir, berharap Zain mengingat siapa mereka.


Ucapan Kei, membuat Zain memegang kepalanya. Rasa sakit seperti ditusuk dengan suara petir menggelegar. Telinga berdengung. Suara-suara tak asing seakan berebut masuk memenuhi otaknya. Gambaran-gambaran buram seperti roll film diputar secara acak. Semakin lama, sakit dikepalanya tak tertahankan.


Bruug….


"Mas….."


"Paaaaa……"


"Siapkan mobil!" titah Abhi, membuat Bian yang mematung tersadar dan berlari terbirit-birit meninggalkan taman.


Kei langsung memangku kepala Zain dengan linangan air mata yang mengucur deras. Izzi ikut menangis sesenggukan dan mengayunkan lengan Zain yang lemas. Di saat bersamaan, Rara juga ikut pingsan. Abhi terpaksa menggendong saudara kembarnya terlebih dahulu.

__ADS_1


"Mom, aku akan segera kembali." Abhi berjalan dengan rasa kacau di dalam hatinya.


Kei mengusap wajah Zain yang sangat tidak terawat. Tidak mungkin hatinya salah. Pria dengan jambang di pangkuannya itu adalah Zain. Mana mungkin hati berbohong. Setelah sekian lama, detak jantung Kei kembali berdetak atas nama cinta. "Mas, bertahanlah. Kami membutuhkanmu...."


__ADS_2