
[WARNING ⚠ #Skip yang gak kuat adegan negatif]
Tiga puluh menit kemudian...
"Nyonya, mobil sudah siap." lapor seorang pelayan dengan pakaian tertutup.
"Okay. Tolong bilang ke Tuan Limsen, jadwal aku mundurkan. Dan selesaikan semua dalam waktu satu bulan kedepan! Kamu paham Erik?" tukas wanita berhijab.
Erik membungkuk. "Paham nyonya."
"Ayo kita ke bandara!" ajak wanita berhijab dan menenteng tas tangannya tanpa satu koper kecil pun.
Keduanya memasuki mobil yang terparkir di depan pintu utama mansion, mobil melaju meninggalkan mansion sang wanita berhijab. Wanita berhijab masih melakukan hal sama, sejak mendengar voice note pagi ini. Entah berapa kali voice note itu berulang kali di play. Erik melihat majikannya terlalu tegang dan di usianya yang tidak muda lagi, pasti mengganggu kesehatannya. "Nyonya, sudah minum vitamin?"
"Tenanglah. I'am okay. Cukup fokus dengan bisnis disini, aku kembali pada keluarga ku. Kirimkan orang-orang kita untuk menyelidiki seseorang, note akan ku kirim ke email." tutur wanita berhijab dengan pandangan keluar jendela.
Erik menghela nafas, bisa dipastikan ada yang mengusik keluarga majikannya. Tapi siapa musuh yang tidak tahu tata krama itu? Apa mereka tidak tahu berhadapan dengan siapa?
Keheningan melanda selama perjalanan menuju bandara, berbeda lagi dengan perjalanan Ery yang baru saja turun di depan sebuah rumah sederhana. Rumah yang membuat matanya sakit, dengan langkah santai Ery memasuki rumah itu. Sangat sepi, dan aroma anyir menyerbu masuk berlomba memenuhi paru-paru. "Aku hampir lupa dengan kekacauan disini. Sekarang aku apakan?"
Langkah Ery berjalan dengan hati-hati, pertama memeriksa sesuatu yang tersembunyi di kamarnya. Dengan memutar knop pintu, mata Ery langsung bisa menangkap sosok korbannya. Tanpa menggunakan sarung tangan, Ery menarik mayat sang paman.
Buug……
"Berat, apa aku potong saja ya? Tapi waktunya tidak cukup." gumam Ery dan melirik jam di dinding.
Pandangan Ery terpaku pada mayat tuan Robert, senyuman terbit dari bibir Ery. Tapi, senyuman itu berubah menjadi kesedihan. "Kenapa? Apa aku tidak boleh bahagia? Sudah ku katakan padamu paman. Aku ingin bahagia dan Zain kebahagiaan ku!''
"Tapi paman memilih melindungi keluarga itu! Apa salahku? Paman tahu pasti, jika aku tidak suka dikekang. Kenapa paman tidak mengalah saja? Seperti paman mengalah pada kakak kembarku. Kenapa paman?"
Ery mengungkapkan isi hatinya di depan mayat sang paman, tubuhnya dingin dengan tatapan menyedihkan. Tidak ada penyesalan dalam ucapan Ery. Semua ini berawal dari penolakan sang paman. Yah paman Ery memilih mengurung keponakannya di kamar, setelah melihat bagaimana kegilaan Ery.
Flasback
Suara ******* yang semakin terdengar menarik perhatian Robert. Langkah kakinya mengikuti arah suara yang menjijikkan itu, pikirannya tidak tenang ketika mendengar suara itu dari balik kamar Ery. Kunci cadangan yang ada di dalam sakunya, membuat Robert membuka pintu kamar dan melihat apa yang Ery lakukan. Mata Robert membulat sempurna, dengan matanya sendiri dirinya melihat kegilaan Ery.
__ADS_1
Dengan cepat Robert mengambil selimut dan melemparkan ke Ery. "Pakai! Apa kamu gila? Apa ini Ery!"
Pipi merah dengan tatapan tajam tertuju pada wanita berambut emas, nafas Ery masih ngos-ngosan. Wanita itu masih ditengah permainan, tapi kesenangannya diganggu sang paman. Tanpa tahu malu, Ery menyibakkan selimut di atas tubuhnya dan bangun dari sofa. "Kenapa paman marah? Aku hanya berlatih. Apa ada yang salah?"
Robert memalingkan wajahnya, tubuh Ery terpampang jelas tanpa sehelai benang pun. Betapa jelas kabut nafsu di mata sang ponakan, apalagi bukannya menutupi tubuhnya dengan selimut. Tapi justru berjalan ke arahnya tanpa ada rasa malu sedikitpun. Tangan Ery meraih tangan sang paman, dengan santainya mengarahkan tangan tua itu di atas salah satu bukit kembarnya. "Apa aku tidak menarik paman? Rasakan, ini masih kencang bahkan sangat kencang. Lihatlah aku paman! Apa kurangnya aku?"
Sontak Robert menarik paksa tangannya dan terlepas dari cengkeraman tangan Ery, matanya nyalang menatap mata Ery. Satu tangan terangkat ke arah Ery.
Plaaak……
"Hiks….. Kenapa paman menamparku? Paman bisa mencoba jika mau, Ery hanya mau berlatih tidak lebih. Lihatlah paman, ini, ini, dan semua ini hanya untuk Zain. Aku….."
Plaaak…..
Ucapan melantur Ery semakin menjadi. Bagaimana bisa menunjuk ke aset miliknya sendiri di depan sang paman. Bukannya malu, tapi dengan entengnya menawarkan sebuah percobaan untuk menikmati tubuh polosnya sebagai ajang latihan. Latihan memuaskan nafsu, seketika hati Robert merasa sesak. Mengizinkan Ery kembali adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya. "Kamu jangan pernah keluar dari rumah ini! Pikirkan kebodohanmu yang tidak tahu malu."
Melihat sang paman akan mengurungnya, Ery bergegas menarik tubuh pamannya dan memeluk pria itu dengan posesif. "Paman ayolah, aku ingin berlatih. Ajari aku, video itu pasti tak sebanding dengan pengalaman paman….."
Robert mencengkram lengan Ery dengan kuat, melepaskan pelukan dan mendorong tubuh Ery hingga terjerembab ke lantai. Wajah Ery masih sendu tapi tidak ada keluhan sakit saat tubuhnya jatuh ke lantai. "Kamu benar-benar! Ingat kehormatanmu Cherry Nicholas! Apa ini hasil dari pengorbanan kakakmu? Dia rela mengorbankan nyawa demi menyelamatkan nyawamu, dan kegilaanmu masih belum usai."
Robert menyesalkan keputusannya, mungkin lebih baik jika Ery yang asli masih hidup dan Cherry yang meninggal. Tapi, semua sudah terlanjur. Masa lalu itu tak bisa diubah, tanpa memberikan jawaban. Robert membalikkan tubuhnya, tak ingin lagi memandang apalagi melirik tubuh polos Ery.
Melihat sang paman bergerak meninggalkan kamar, Ery panik. Ekor matanya melihat sebuah vas bunga dengan ukuran sedang, dengan cekatan Ery bangun dan mengambil vas itu. Tanpa menunda-nunda, Ery berlari ke arah Robert yang siap membuka pintu.
Duug… Praaang….
Vas bunga itu hancur, Ery memukulkan vas itu dengan sekuat tenaga ke arah belakang kepala sang paman. Sang paman reflek berbalik dengan tangan memegangi belakang kepala. " Apa yang kamu lakukan?"
"Paman harus berkorban sama seperti Ery. Cherry bisa hidup sendiri."
Dengan tubuh polos, Ery mulai melakukan eksekusi. Mencengkram leher Robert dengan erat, pria tua itu tidak memiliki kekuatan sekuat dulu. Dan emosi yang membludak di dalam jiwa Ery seperti orang kesetanan. Bagaimana gadis itu tanpa henti menyiksa pamannya.
Ery memegang kepala sang paman setelah tidak sadarkan diri, deru nafas pelan masih bisa Ery sadari. Dengan kuatnya Ery membenturkan kepala pria itu ke sudut meja, kucuran cairan merah mengalir tanpa henti. Tidak berhenti disitu saja, Ery mengambil beberapa peralatan yang bisa dimanfaatkan.
Sebuah korek dan lilin sudah ada di tangannya, setelah memindahkan tubuh sang paman di tengah kamar. Ery menyalakan lilin, dengan santainya lilin itu digunakan untuk membakar rambut sang paman dan habis tanpa sehelai rambut pun yang tersisa. Ery meniup lilin dan beralih mengambil sebuah silet dan pisau buah, tanpa ragu Ery memberikan mahakarya dada sang paman, sayatan demi sayatan tercetak dengan senyuman manis dibibir Ery. Tanpa memperdulikan lumuran darah di tangan dan tubuh polosnya, beralih lukisan di wajah sang paman dengan sayatan amburadul.
__ADS_1
"Masih ada yang kurang. Tapi apa?" Ery berpikir dan menjilati darah di jarinya.
Langkah kaki Ery beranjak dari tempat kesenangannya dan membuka koper miliknya. Tak peduli dengan warna merah yang menyebar, tangannya sibuk mencari barang berharganya. Setelah merasakan benda yang dicari, Ery mengeluarkan benda itu. "Ini dia, pasti sempurna."
Ery kembali mendekati mayat sang paman, dan membuka botol kaca di tangannya. Dengan santainya, cairan putih bening itu di siramkan ke kedua kaki sang paman. Reaksi yang ditimbulkan langsung terlihat, kulit sang paman melepuh dan kini mata Ery memancarkan kepuasan. Tidak peduli seberapa indah maha karyanya, Ery memilih meneruskan kegilaannya dengan kembali cipratan darah dan kembali memberikan sentuhan di tubuhnya sendiri.
Itulah malam dimana Ery baru kembali, dan pagi harinya Ery sudah bersiap melakukan rencana yang telah disusunnya selama empat tahun terakhir. Meskipun semalaman mata Ery tak terpejam akibat membersihkan ceceran darah dan juga alat-alat penyiksaan, tapi tak mengurungkan niatnya untuk bergegas memasuki kehidupan sang pujaan hati.
___
Tok!
Tok!
Tok!
Ketukan pintu membuyarkan lamunan Ery, bukan rasa takut tapi kesal. Siapa yang berani mengganggu ketenangannya. Dengan mengambil satu masker, Ery keluar dari kamar dan berjalan menuju ke ruang tamu. Tapi suara ketukan pintu berhenti, membuat Ery waspada. "Siapa itu?"
Tak ada sahutan.
Sepertinya ada yang iseng. Atau hanya tukang koran?~ batin Ery dan melirik ke bawah pintu, benar saja ada koran yang celah bawah pintu.
Ery menghembuskan nafas lega, namun belum sempat bergerak. Sayup-sayup Ery mendengar suara langkah kaki, dan itu bukan hanya satu. "Jangan-jangan. Sebaiknya aku sembunyi."
Bergegas Ery mencari tempat persembunyian, benar saja langkah kaki yang didengar Ery semakin mendekati depan rumahnya. Bukan ketukan pintu yang Ery dengar tapi....
"Dobrak!" seru seseorang dari luar.
...~~~~...
Thanks reader's, buat kalian yang mau baca dan kasih like, comment serta udah masukin karya othoor di rak buku favorit. ❤️📚
Sebagai apresiasi, Othoor kacang mentah akan up dua kali.
Stay tuned, dan bijaklah dalam mengambil pelajaran. Karena karya othoor mengandung unsur negatif, jadi othoor harap ini tidak menjadi contoh.
__ADS_1
Jangan lupa ya, *Stop Boom Like*