My Love Is Stuck With Tomboy Girl

My Love Is Stuck With Tomboy Girl
Bab 39: Special Part #Ruang Keluarga


__ADS_3

Satu tahun telah berlalu, kini si kembar berusia 6 tahun. Sudah waktunya untuk bersekolah, nampak Kei tengah membujuk Zain untuk menyekolahkan si kembar di sekolah biasa. Namun wajah Zain masih belum mau melunak.


Kei memeluk Zain dari belakang. "Ayolah, apa salahnya jika si kembar bersekolah di sekolah umum? Bukankah mereka butuh teman."


"Tidak Kei! Keputusan ku sudah final. Si kembar akan home schooling." Zain melepaskan pelukan Kei dan menatap wajah cantik istrinya itu dengan cinta.


Apakah segitu traumanya kamu Zain. Sampai tak mengizinkan si kembar bersosialisasi. Aku harus apa sekarang, si kembar sangat ingin mengenal dunia luar selain keluarga kita.~ batin Kei menghela nafas.


"Tunggulah mereka dewasa. Aku hanya tidak ingin melepaskan mereka tanpa persiapan. Apa kamu tidak percaya aku?" tukas Zain memegang dagu Kei dengan mata menelisik.


Cup…


Sebuah kecupan singkat untuk sang suami. Karena Kei tahu semakin melawan, maka Zain akan semakin keras kepala. Biarkan saja untuk sementara, sembari mencari waktu yang tepat membujuk papa si kembar. "Aku setuju si kembar home schooling, tapi pastikan kita bawa si kembar jalan-jalan di akhir pekan."


"Seperti yang anda katakan my sweet wife. Boleh?" Zain mulai melakukan sesuatu yang membuat pipi Kei merona merah.


Kedua insan dengan api cinta yang menggebu memulai peraduan di ufuk timur. Perlahan tapi pasti, keduanya memulai perjalanan memenuhi dahaga cinta dalam penyatuan. Berbeda dengan si kembar yang justru tengah sibuk bermain game di ruang keluarga, bersama sang nenek yang hanya menjadi penonton saja.


"Rara, udahan yuk. Aku bosan main game." cetus Abhi meletakkan stick PS.


Rara ikut meletakkan stick PS dan memandang saudara kembarnya itu. "Baru setengah jam loh! Trus kita mau apa? Mom kan lagi bujuk daddy buat kita."


"Apa yang kalian minta pada mommy Kei?" tanya nenek Raina.


Abhi dan Zahra saling pandang, seakan saling meminta persetujuan. "Sekolah umum nek."


Nenek Raina menghela nafas mendengar jawaban sang cucu. Zain sudah menentukan guru home schooling untuk si kembar hingga ke jenjang SMA, lalu Kei terlalu lembut dan pasti akan pasrah dengan putranya. "Apa kalian mau mendengarkan sebuah cerita?"


"Cerita apa nek?" tukas Zahra dan langsung duduk disamping neneknya.


Abhi masih memilih diam dan duduk di karpet, membiarkan saudari kembarnya meluapkan rasa penasaran di dalam jiwanya itu.


"Tapi berjanjilah kalian tidak akan bertanya tentang ini pada siapapun!" Nenek Raina mengulurkan tangan dan menunggu jawaban dari kedua cucunya.


Tangan Zahra menggenggam tangan sang nenek dengan cepat tanpa keraguan. Berbeda dengan Abhi yang masih diam membisu. Yah seperti buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Begitulah si kembar.


Zahra Zain Ardana. Anak gadis periang, berjiwa kepo dengan gaya tomboy dan hati yang lembut. Zahra lebih mirip sosok sang mommy Keisha, sedangkan Abhi Zain Ardana justru seorang anak laki-laki yang dingin, sedikit berbicara dan menjadi pengamat handal sama seperti Zain Ardana.

__ADS_1


"Nenek tidak…"


"Lanjutkan," sela Abhi dan ikut meletakkan tangan diatas tangan Zahra tanpa menyentuh tangan sang nenek.


Nenek Raina memejamkan mata sesaat sebelum memulai cerita. "Baiklah. Kisah ini adalah masa lalu, tapi inilah yang menjadi alasan papa kalian sangat over protective terhadap keluarga. Tapi percayalah jika semua yang dilakukan papa kalian, hanya demi kebahagiaan dan keselamatan kita. Apa kalian percaya nenek?"


"Kami percaya nenek." jawab si kembar serempak.


Nenek Raina tersenyum tipis setiap kali cucu kembarnya kompak. "Dulu rumah ini memiliki dua anak. Seorang putra pertama dan putri bungsu. Tentu kalian tahu itu, karena kita selalu ke makam untuk berziarah. Tapi tragedi didalam keluarga saat papa kalian kecil dan almarhum tante kalian kecil. Itulah titik awal papa kalian menjadi dingin dan protective. Pengorbanan tante kalian demi menyelamatkan nyawa papa Zain, sungguh menghancurkan hati putraku. Papa Zain hanya ingin melindungi kalian dari para musuh yang iri dengan keberhasilan keluarga kita. Nenek hanya bisa bercerita pada inti cerita, nenek harap kalian mau mengalah demi ketenangan papa kalian. Percayalah, papa Zain hanya berusaha yang terbaik untuk menjaga keutuhan keluarga kita. Rara dan Abhi pasti tidak mau kan, jika mommy Kei dan papa Zain bertengkar?"


Si kembar menggelengkan kepala. Tentu saja si kembar tidak ingin ada pertengkaran diantara mommy dan daddy, karena selama ini hanya ada kasih sayang tanpa pertengkaran yang rumit.


"Ekhem!" dehem seseorang sontak membuat tiga orang di ruang keluarga menoleh ke arah sumber suara, wajah tegang berubah menjadi wajah lega.


"Kakeeeek. Rara kangeen." Zahra berlari menghampiri sang kakek dengan langkah kecilnya.


Greeeb…


Usapan penuh kasih sayang mendarat di kepala Zahra. "Cucuku tambah tinggi ya. Bagaimana kabarmu princess?"


"Kakek, Rara kan masih dalam pertumbuhan." Zahra menggembungkan pipi dan mendapatkan cubitan gemas dari kakek Arza.


Berbeda dengan Abhi, kembaran Zahra itu berjalan dengan tegas dan tenang menghampiri sang kakek. "Bagaimana perjalanan kakek?"


Greeb…


"All fine Prince. Apa semua baik?" Kakek Arza tahu sikap dingin Abhi pasti memiliki pertanyaan serius.


"Ekhem! Kalian melupakan paman?" sela seseorang dan baru masuk ke ruang keluarga.


"Paman Kenzo…." seru Zahra.


Pria tampan itu adalah Kenzo tangan kanan Zain, langkah Kenzo berjalan menghampiri keluarga yang tengah melepaskan rindu. Zahra berlari tanpa mengindahkan suara sang Nenek. Melihat langkah kecil Zahra menghampiri dirinya, Kenzo berlutut dan merentangkan kedua tangannya. "Welcome princess."


Cup.. Cup..


"Geli paman. Mana oleh-oleh untuk Rara?" Rania menutupi kedua pipi agar Kenzo berhenti menciup pipi miliknya.

__ADS_1


Kenzo mengerutkan alis, dengan mimik wajah seperti tidak paham. Baru tiga detik bermuka pasrah, Rara sudah cemberut. Niat hati ingin pergi, tubuh mungilnya di tahan dengan satu kotak kecil didalam saku Keano. "Stttt. Jangan sampai daddy dan mommy tahu."


"Horeeee. Cup…" Zahra berlari meninggalkan ruang keluarga setelah mendapatkan apa yang diinginkan.


Anggota yang tersisa hanya geleng-geleng kepala dengan tingkah Zahra, pakaian Zahra lebih condong seperti mommy Kei yang tomboy. Tapi sikap manja anak gadis itu sungguh jauh dari sisi seorang Kei.


"Apa yang Rara minta?" tanya nenek Raina.


Kenzo menghampiri Abhi yang masih berdiri disamping sang kakek. Satu tangan Kenzo mengulurkan satu kotak yang sama dari saku belakang celana. "Ini untukmu. Seperti janji paman. Tapi ingat, jaga Rara. Karena kalian tidak akan lengkap, tanpa satu sama lain."


"Thanks uncle. Abhi tunggu uncle di kamar. Nek, kek, Abhi susul Rara dulu." Abhi berjalan meninggalkan para orang dewasa.


Tatapan nenek Raina masih membutuhkan jawaban dari Kenzo. Kenzo tersenyum dan menghampiri sosok wanita yang kini sama seperti mamanya sendiri. "Zahra hanya meminta jepitan kelinci dari seorang desainer ma. Sedangkan Abhi meminta sebuah kalung liontin dan itu hadiah untuk Kei. Permintaan si kembar masih wajah, jangan khawatir."


"Tapi kita harus khawatir, mama mu ini menceritakan kisah masa lalu. Pasti Abhi akan banyak bertanya padamu." sela kakek Arza menghela nafas.


Keano memandang nenek Raina dengan serius, yang di pandang hanya bisa mengangguk pasrah. "It's ok. Sampai kapan cerita masa lalu tersembunyi? Bagaimanapun ada yang tersisa menjadi saksi, aku akan bicarakan ini dengan Zain dan Kei. Karena hanya Zain dan Kei yang berhak memutuskan hal ini, Kenzo pamit dulu melihat Abhi dan Rara."


Kepergian Kenzo, membuat sepasang suami lama itu menghela nafas, tapi wajah keduanya saling mendukung satu sama lain. Berbeda dengan langkah Kenzo yang terasa berat. Ada yang membuat fikirannya tak tentu.


Tok… tok… tok…


Ceklek…


"Bisa paman bergabung?" Kenzo menyembul dari pintu kamar bermain si kembar.


Zahra masih sibuk dengan jepitan barunya. Abhi hanya duduk membaca buku tebal. "Masuk uncle. Tapi kunci pintunya!"


Ceklek….


Abhi meletakkan buku tebalnya dan mengambil headphone dan ponsel pintarnya. Menghampiri Zahra dengan senyuman termanis. "Ra, coba dengerin lagu ini. Nanti kita main tebak-tebakan."


Tangan Zahra terhenti, sesaat berfikir dengan mata menyipit. Hingga headphone dan ponsel Abhi diterima dengan senyuman penuh arti. "Apa hadiahnya?"


"Bagaimana dengan teddy bear terbaru di toko langganan?" Abhi memilih sesuatu yang pasti tidak akan ditolak oleh Zahra.


Bukan jawaban, tapi headphone kini terpasang di kepala Zahra. Dan Abhi membantu saudari kembarnya menyetel musik untuk permainan tebak-tebakan nanti. Setelah memastikan semua aman, langkah Abhi kembali menuju Kenzo. Kenzo hanya mengamati cara Abhi membuat Zahra melakukan apa yang diinginkan oleh saudara kembarnya tanpa ada kecurigaan sedikitpun.

__ADS_1


"Smart. Apa yang mengusik prince Abhi?" tanya Kenzo dengan tatapan serius.


Abhi menatap kearah Zahra. Memastikan semua masih aman, sebelum beralih menatap Kenzo. "Apa yang terjadi pada keluarga papa? Kenapa papa membatasi kebebasan kami?"


__ADS_2