My Love Is Stuck With Tomboy Girl

My Love Is Stuck With Tomboy Girl
Bab 67: Special part #Aku percaya kamu


__ADS_3

"Hmmm. Bagaimana dengan pencarian di luar? Apa ada hasil?'' tanya Ken.


Dua operator saling pandan dan serempak menggelengkan kepala, Ken menghela nafas. Ketegangan Ken tak ubahnya dengan ketegangan dirumah kediaman Ardana. Banyak pasang mata menatap penuh kecemasan dan tanda tanya, namun sosok yang mengumpulkan semua anggota keluarga masih diam dengan bibir tertutup rapat.


"Elis mengalami kecelakaan dan tidak terselamatkan."


Semua terkejut mendengar berita duka dari Oma Diana. Wajah cemas Mom Raina terlihat jelas, membuat Zain menghampiri sang mama dan memberikan pelukan hangat. "Tenang mom. Apa Ken yang memberitahu berita ini?"


"Iya nak, hari ini Elis menjadi pengasuh baby Zee untuk checkup ke dokter. Selebihnya kita harus menunggu penjelasan dari Ken." Oma Diana sembari merebahkan diri duduk di sofa.


"Anak-anak ke kamar dulu ya. Maaf miss Ery, anda bisa kembali ke pondok terlebih dahulu." ucap Dad Arza dengan serius.


"Siap kek. Ayo Ra, kita belajar dikamar." ajak Abhi menggandeng tangan Zahra.


Ery masih berdiri tak bergeming, Kei mendekat dan menepuk pelan lengan wanita rambut pirang itu. "Papa meminta anda untuk kembali ke pondok, silahkan."


"Maaf, saya permisi." pamit Ery dengan senyuman tipis yang tertangkap basah oleh Kei.


Bukankah aneh senyuman wanita itu? Kenapa seperti bahagia? Apa mungkin kejadian ini berhubungan dengannya? Atau cuma pikiran ku saja?~batin Kei dan ikut duduk disebelah oma Diana.


"Ekhem! Apakah ada yang bisa jelaskan? Kenapa semua diam? Apa ada yang…." Zain mencoba mencairkan suasana tegang keluarganya.


Mom Raina menatap Oma Diana, sementara yang ditatap menggelengkan kepala dengan lirikan ke arah Kei. Mom Raina paham, Zain masih belum jujur dengan Kei tentang saudara kembar Cherry. Maka tidak mungkin bicara to the poin tentang situasi rumit di depan Kei. Dad Arza juga memahami situasi semakin tidak terkendali, rasa pusing mendera. "Zain lebih baik kita bicarakan saat ini, bawalah Kei ke kamar dan jelaskan apa yang terjadi. Jangan menunda lagi!"

__ADS_1


"Apa maksud papa? Maz Zain harus menjelaskan apa? Apa ada yang Kei tidak tahu?" cecar Kei dengan menatap sang suami.


Zain menghela nafas. Usapan lembut sang mama, membuat Zain mengumpulkan kekuatan untuk bicara jujur pada Kei. Zain melepaskan pelukan dan berjalan menghampiri sang istri. Saat langkahnya terhenti di depan Kei, Zain berlutut dan mengambil kedua tangan Kei. Kini genggaman tangan Zain terasa lebih erat, Kei bingung kenapa Zain melakukan itu. "Mas ada apa?"


"Dengarkan aku dan jangan sela sampai aku selesai bicara, kumohon Kei." ucap Zain dan menatap Kei.


Kei mengangguk dan tersenyum, sejenak Zain memejamkan mata dan menarik nafas dalam. "Selama dua tahun terakhir aku menyembunyikan satu rahasia dari keluarga kita, terutama darimu. Rahasia itu adalah Cherry memiliki saudara kembar dan kemungkinan besar saat ini, kembarannya sudah menyelinap masuk ke dalam keluarga kita. Inilah alasanku membatasi kebebasan keluarga kita, terutama kamu dan si kembar. Aku minta maaf Kei, sungguh aku hanya ingin melindungi kalian tanpa memberikan rasa khawatir."


Kei menarik tangan kanannya dan mengusap pipi Zain, sentuhan lembut penuh kasih sayang. Zain membuka mata dan senyuman Kei masih terbit tanpa berkurang sedikitpun. "Aku percaya kamu. Jika kamu menyimpan rahasia, pasti ada alasan besar dan itu untuk kebaikan kami. Sejak kita menikah, kamu memberikan semua tanpa ku minta. Apa aku ragu? Tidak, aku mencintaimu apa adanya. Hanya satu pintaku, jangan simpan beban dan tanggung jawab sendirian. Aku ada untuk mu dan keluarga kita. Bisakah mas memberikan hak ku sebagai istri, ibu sekaligus anggota keluarga Ardana? Apa gunanya kebahagiaan, jika aku tidak bisa memahami rasa sakit dan duka keluarga ku sendiri?"


"Maafkan aku, terimakasih tetap percaya pada mas." Zain bangun dari posisinya dan memeluk Kei dengan erat.


Oma Diana, mom Raina dan dad Arza merasa bersyukur memiliki menantu seperti Kei, masih memahami situasi tanpa emosi berlebihan. Kedewasaan Kei, membuat Zain semakin mencintai wanita yang telah melahirkan dua anak sekaligus sebagai pewaris keluarga Ardana.


"Itu, biar Ken yang jelaskan." jawab Oma Diana.


Kei paham dan menatap sang suami yang justru sibuk mengusap rambutnya. "Mas, boleh aku bicara jujur?"


"Itu harus sayang, katakan ada apa?" Zain menatap mata Kei yang terlihat cemas.


Hening…


"Nak, ada apa?" tanya Dad Arza yang mewakili pertanyaan seluruh anggota keluarga di ruang keluarga.

__ADS_1


Kedua tangan Kei bertautan, merasa sang istri tengah mencari kalimat untuk menyampaikan isi hatinya. Zain kembali menggenggam tangan Kei. "Jangan pikirkan kata baik dan buruk, cukup katakan apapun yang ada di hati dan pikiranmu sayang. Ada apa? Apa yang membuatmu cemas dan tegang seperti ini?"


"Ituu, aku…."


Suara langkah kaki memasuki ruang keluarga tanpa permisi, membuat Kei menghentikan ucapannya. Kedatangan pelayan senior mendapatkan tatapan tajam dari semua orang kecuali Kei. Pelayan senior merasa kikuk. "Maaf sudah mengganggu obrolan Tuan dan Nyonya, saya mau menyampaikan jika diluar rumah ada warga yang mengaku ingin melakukan persiapan pemakaman."


"Siapkan minuman dan makanan ringan untuk mereka, biar aku temui mereka. Kalian lanjutkan pembicaraan. Oh iya, bi tolong kumpulkan semua pelayan di gazebo terlebih dulu!" titah Dad Arza dengan tegas, dan bibi senior mengangguk.


"Pa, biar aku yang mengurus pelayan dan papa urus di depan. Kami tinggal dulu, Kei bicarakan isi hatimu dengan Zain. Mom tahu kamu harus bicara berdua, bukan begitu?" Mom Raina memberikan isyarat agar Zain membawa Kei ke atas.


Oma Diana bangun dan membenarkan gamisnya. "Oma akan menemui si kembar, jangan pikirkan anak-anak. Hari ini oma akan jaga mereka, kalian bisa fokus dengan pemakaman Elis."


"Siap oma." jawab serempak.


Dad Arza dan mom Raina berjalan beriringan, disusul oleh oma Diana. Sementara Kei bersama Zain masih duduk di sofa dan saling memandang ke depan. Helaan nafas Kei terdengar dalam, membuat Zain menatap sang istri dengan penuh kasih sayang. Menarik tubuh Kei untuk terbenam didada bidangnya. "Ada apa sayang? Sekarang katakan apa yang terjadi? Apa yang mengusik hati dan pikiranmu?"


Kei membalas pelukan Zain, menghirup aroma parfum yang menenangkan. "Mas, aku mau guru si kembar diganti. Bolehkan?"


Permintaan Kei terasa cukup mewakili keraguan hatinya beberapa hari ini, rasa salah mengambil keputusan demi si kembar dan juga memasukkan orang asing ke rumah. Zain semakin memeluk Kei, sesaat rasa takut menyelinap ke dalam hati dan itu membangkitkan rasa cemas yang berlebihan.


Sayup-sayup terdengar suara ambulance, suara itu membuat seseorang menarik selimut dan menutupi telinganya. Bayangan penyiksaan dan obat-obatan semakin terbayang jelas melintas ke dalam memorinya. Teriakan yang melengking terjepit dengan sumpalan sprei yang tersumpal di mulut. Lelehan keringat sebesar biji jantung membasahi seluruh tubuh tanpa terkecuali.


"Aarrrgggghhh.... emmpptt...."

__ADS_1


__ADS_2