My Love Is Stuck With Tomboy Girl

My Love Is Stuck With Tomboy Girl
Bab 55: Special part #Sikap Absurd


__ADS_3

Rasa hausnya seakan menjadi penyegar dahaga. Jari jemarinya saling bertautan. Ken menggenggam kedua tangan itu, mengusapnya dengan penuh kasih sayang. "Katakan jika sudah siap. Jangan memaksakan diri."


"Aku takut ka. Ada yang salah dengan guru si kembar. Wanita itu memiliki niat tidak baik, tapi entah apa ka. Dan tadi pagi, seorang wanita menelfon mas Zain. Seorang wanita dan menawarkan tidur bersama tanpa basa basi. Apa yang harus ku lakukan ka? Kakak tahu, hanya ka Ken yang menjadi tempatku mengadu." curahan hati Kei dengan tatapan sendu.


Ken mendengarkan dengan seksama. Kini dirinya memahami satu situasi dari dua sudut pandang. Apapun yang telah terjadi, biarlah. Tapi masa depan tidak boleh terulang. Dengan lembut, Ken mengusap air mata yang jatuh. "All will be fine. Aku tidak akan menyerah. Apapun yang terjadi, pastikan kita bertahan. Setiap usaha pasti mendapatkan hasil yang baik. Jangan berfikir kamu sendiri. Aku ada untukmu selamanya. Selama nafasku masih di raga."


"Baik ka. Kalau gitu Kei mau lanjut masak buat makan malam. Boleh baby Zee malam ini bersamaku?" tanya Kei sebelum bangun dari tempatnya.


Kenzo mengangguk dengan senyuman tulus seperti biasanya. Kei berjalan meninggalkan Kenzo. Dan Ken kembali membuka ponselnya. Kini dirinya paham, kenapa pesan tak bermoral bisa masuk ke dalam whatsapp pribadinya. Ternyata Zain telah menukar nomer mengaktifkan mode siaga dan membuat dirinya menjadi pengawas jarak jauh.


Ide yang cemerlang, dengan begini tak akan ada yang curiga. Ken memeriksa pesan yang masuk dengan lebih teliti, hingga matanya harus ternodai dengan beberapa foto vulgar seorang wanita. Wanita tanpa wajah, namun ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Satu tanda lahir di dekat bukit kembar dan menjorok ke atas.


Nasib, sudah duda dan disajikan ikan tanpa sisik. Zain, matamu harus dilakban. Awas saja mengintip apalagi melihat yang begini. Aku harus cari tahu darimana alamat IP-nya. ~ batin Ken dan menarik laptop Zain yang tertutup.


Kini Ken sibuk melakukan pekerjaannya, sedangkan Zain masih sibuk melakukan sesuatu didalam kamar terkunci. Kei sibuk membantu pelayan menyiapkan makan malam, dad Arza dan Mom Raina masih bersama baby Zee di kamar, serta anak-anak masih di kamar masing-masing.


Setengah jam berlalu, Kei memilih meninggalkan dapur setelah memberikan instruksi pada para pelayan atas semua rekomendasi menu makan malam. Waktu menunjukkan pukul 5 sore, membuat Kei menghampiri kamar si kembar. Kedua anaknya terlihat sudah terjaga dan saling duduk bersilang dan melakukan peregangan otot.


"Hey mommy, kenapa berdiri? Mommy bisa lelah." sapa Abhi dengan muka bantalnya.


Rara ikut menatap Kei dengan puppy eyesnya. "Lapeer mom. Boleh makan?"


"Kalian bersihkan diri dan turun ke bawah. Mom akan siapkan salad buah. Bagaimana?" tawar Kei dengan senyuman manis.


Abhi dan Rara melompat dari tempat tidur dan berhamburan memeluk tubuh Kei dengan bahagia. "Mom terbaik. Love you mom."


"Apapun untuk kalian. Let's Go! Mom tinggal ke bawah dulu. Okay." pamit Kei setelah pelukan terlepas.


Kepergian Kei, membuat si kembar memasuki kamar mandi masing-masing. Sedangkan Kei memilih menghampiri kamar mertuanya dan mengetuk pintu. "Dad, mom, baby Zee tidurkah?"

__ADS_1


Tak ada sahutan, tapi pintu kamar terbuka dan wajah mom Raina muncul dari balik pintu. "Tenang nak. Lihatlah, Baby Zee terlelap pulas di pelukan kakaknya. Apa makan malam sudah mulai disiapkan?"


"Sudah mom. Si kembar sudah lapar, ini Kei mau buat salad buah. Dad dan mom mau salad juga?" tanya Kei dan menatap berapa dad Arza menyayangi baby Zee sama seperti menyayangi si kembar.


"Mom akan turun sebentar lagi, kamu urus si kembar saja nak. Dimana zain? Tumben tidak menjadi perangko." Mom Raina menggoda Kei.


Kei tersipu malu. "Mas Zain istirahat mom, mungkin kelelahan. Kei kebawah dulu ya. Mom bisa istirahat, biar Kei urus persiapan makan malamnya."


Mom Raina mengangguk dan membiarkan Kei berjalan menjauhi kamarnya. Pintu kembali tertutup. Wajah mom Raina kembali tegang, dad Arza kembali membuka matanya. Kini tatapan orang tua Zain saling terpaut. "Tenanglah. Sekarang segarkan dirimu, dan buat seolah tidak terjadi apapun. Jadilah pihak netral, amati semua dalam diam. Semua akan baik-baik saja."


"Baik mas. Aku bersihkan diri dulu. Mas istirahat saja, nanti aku bangunkan saat makan malam." ucap mom Raina dan dad Arza memejamkan matanya lagi.


Wajah Aurel terlihat kesal dan jelas tengah merajuk. Melihat itu, Kei paham kini dokter keluarganya tengah melampiaskan perasaan jengkelnya. Dengan santai Kei menuangkan dua cup sendok salad buah dan memenuhi mangkok ukuran sedang, tak lupa menambah satu sendok. "Kemarilah, salad buah pas untuk menyegarkan tenggorokan."


"Aku kira kamu lupa masih ada tamu dirumah ini." ketus Aurel dengan tatapan seperti anak kecil.


Melihat bagaimana Aurel menikmati setiap suapan dengan perubahan mood membaik, Kei tersenyum lega. Bahkan anak-anak tak terusik dengan drama Aurel dan justru masa bodo. Semua itu karena semangkuk salad buah buatan sang mommy. "Mom, apa miss Ery sudah datang?"


"Miss Ery membutuhkan istirahat. Perjalanan jauh, membuat guru kalian lelah. Kumpulkan PR kalian besok ya." Kei menjawab dengan tenang.


Aurel tak paham arah pembicaraan Kei dan si kembar. "Sejak kapan si kembar punya guru privat?"


"Ituu…"


"De! Kakak minta kopi." Kenzo datang dan menghentikan Kei untuk mengatakan masalah didalam keluarga.


"Aku buat kopi dulu. Anak-anak waktu bermain kalian hanya tiga puluh menit sebelum makan malam!" titah Kei dan mendapatkan dua jempol dari si kembar.


Aurel menatap Ken dengan tatapan mendamba. Niat hati membantu Keisha, justru dirinya yang kini terjebak. Bahkan salad buah di mangkuk Aurel terabaikan demi menatap sang duda tampan. "Babang Kenzo, suapin."

__ADS_1


"Iih tante Aurel kok kaya baby Zee? Tante masih bayi ya?" celetuk Rara dengan wajah menggoda.


"Kei, Rara nakal." lapor Aurel dengan suara cempreng nya.


Sontak Ken mendekati meja makan dan membungkam bibir Aurel dengan tangan kanannya. "Ini rumah dan bukan hutan! Jaga sikapmu."


Beginilah sikap absurd dari dokter Aurel, soal medis dan obat-obatan pasti juaranya. Tapi, saat mode dokternya off. Semua titel didalam wanita satu itu akan tergantikan dengan tingkah bak anak kecil.


Mata Aurel hanya bersinar dengan terang, Kenzo segera melepaskan tangannya dan mundur dari posisi terburuknya. "Jangan berpikir macam-macam!"


"Satu macam saja sudah cukup babang…"


"Ekhem! Apa kalian lupa ada si kembar." peringatan nada berat datang dari tangga.


Suara berat itu, membuat semua menatap ke sumber suara. Wajah tegas Zain dengan kedua tangan di terlipat didada, sudah cukup menegaskan bagaimana mood pria itu. Tatapan mata Zain terarah pada Kenzo. Spontan Ken menepuk keningnya. "Aku pergi dulu, bye semua. Sabar bro.''


Kenzo berlari kecil tanpa menunggu jawaban, membuat bibir Aurel kembali cemberut. Si kembar saling pandang tak paham dengan tingkah para orang dewasa. Zain menuruni setiap anak tangga. Tapi langkah kakinya terhenti, ketika melihat Ken masuk kembali dengan wajah menunduk.


"Ken ada apa?" tanya Zain dengan suara yang cukup menarik perhatian penghuni kediaman Ardana.


...~~~~...


...*Sorry Readers, hari ini othoor up telat pake banget. ...


Terlalu keblabasan buat outline, alhasil nulis dadakan. 😕😒😰😓


goodnight, and thanks for all 🥰


Happy Reading 🤩*

__ADS_1


__ADS_2