
Sementara di ruangan lain. Para dokter merasakan sesak nafas. Setelah ruangan dipenuhi asap putih. Entah dari mana asap itu berasal.
"Ukhuk.... ukhuk....."
Seorang dokter mengambil telepon di ruangan itu dengan sisa tenaganya. Nomor ditekan dan sebuah panggilan tersambung.
"Tuan, kami di serang....."
Bruug....
Semua dokter terkapar tak sadarkan diri, dan seseorang masuk dengan masker khusus. Langkah kakinya mendekati brankar, dimana Izzi berada. Tanpa menunggu, tubuh Izzi digendong dan didudukkan di atas sebuah kursi roda. Tak lupa menarik selimut dan di selimut kan ke tubuh gadis remaja itu. Kursi roda didorong meninggalkan ruangan.
Dari arah lorong kanan, Abhi berlari menuju ruangan para dokter melakukan perawatan untuk Izzi. Begitu pula anggota yang lain, juga ikut dan berlari di belakang Abhi. Karena terburu-buru, Abhi tak sengaja menabrak bahu seseorang.
Braak....
"Maaf," ucap orang itu dengan membenarkan selimut yang tergeser.
Abhi tidak peduli dan melanjutkan perjalanan. Orang itu memilih berjalan di tepi dan mendorong kursi roda dengan wajah tenang. Sementara Abhi langsung membuka ruangan isolasi dan melihat bagaimana keadaan di dalam ruangan. Aroma obat bius masih dapat dirasakan. "Kalian tetaplah diluar!"
Abhi mengambil sapu tangan dari saku celananya dan menutup hidungnya, dengan cekatan memeriksa satu persatu dokter yang terkapar tak sadarkan diri. Setelah beberapa menit, Abhi keluar dan wajah tenang keluarganya terlihat jelas. Terutama wajah sang papa. Pria itu mendekati Abhi. "Nak, dimana Izzi?"
"Maaf, pa. Seseorang membawa Izzi pergi, dan para dokter tidak sadarkan diri. Bahkan di dalam masih tercium obat bius yang pekat. Uncle, bisa bantu aku memeriksa CCTV rumah sakit?" jelas Abhi.
Ken mengangguk dan berjalan meninggalkan tempat kekacauan. Sementara Abhi mengusap bahu Zain yang sangat tegang dan khawatir. "Pa, kita akan cari Izzi. Tapi, apakah papa tidak rindu kami?"
Zain menarik tubuh Abhi kedalam pelukannya. Bukan hanya rindu, penyesalan pun dirinya rasakan. Karena satu keputusan dimasa lalu, membuat hidup keluarganya seperti kapal karam di lautan. Ntah bagaimana, keluarganya bisa tetap bertahan dan percaya pada takdir. Penantian di mata Kei, Abhi dan anggota lainnya. Bisa dirasakan, duka dan luka terlukis nyata.
"Ayo kita pulang." ajak Zain melepaskan pelukan.
Zain mengulurkan tangan ke arah Abhi dan Kei. Keduanya menyambut dengan suka cita. Kebersamaan itu sudah dinanti sejak lama. Ketiganya berjalan bersama-sama, sementara masalah rumah sakit diserahkan pada pihak rumah sakit dan akan diurus Ken.
Kehebohan terjadi di rumah kediaman Ardana. Dimana berita yang disampaikan Rara, membuat seluruh anggota keluarga merasa bahagia dan bersyukur. Jamuan istimewa pun disiapkan. Rara sudah sibuk merias kamar orang tuanya dengan hiasan seromantis mungkin ala film barat. Lilin aroma terapi yang menyala, kelopak bunga mawar yang tersebar di atas ranjang. Balon merah berbentuk hati yang mengambang, dan juga sebuah kartu ucapan selamat datang tergeletak di atas ranjang.
"Perfect. Cepatlah pulang, pa." ucap Rara melihat hasil rancangannya.
Rara meninggalkan kamar kedua orang tuanya dan berlari kecil menuruni anak tangga. Kesibukan di dalam rumah. Membangkitkan jiwa masa kecilnya yang sudah lama padam. Melihat senyum bahagia di keluarga, membuat perasaan hangat menyebar di seluruh tubuhnya.
Tuhan, terimakasih telah mengembalikan cinta keluarga kami. Jangan pisahkan kami, ku mohon.~batin Rara menangkupkan kedua tangannya.
Suara mobil terdengar dari luar, satpam langsung membuka pintu gerbang. Mobil masuk ke halaman utama dan berhenti. Abhi turun terlebih dahulu, dan membukakan pintu belakang. "Ayo. Selamat datang, papa."
Zain turun dan berdiri di samping mobil. Matanya menelusuri setiap penjuru rumahnya. Tidak ada yang berubah. Bahkan warna cat rumah pun masih sama. Ada perasaan haru, bagaimana keluarganya menjaga setiap kenangan.
"Ayo, pa." ajak Abhi dan menggandeng tangan Zain.
Kei tersenyum melihat kebahagiaan diwajah suami dan putranya. Langkah kakinya memilih berjalan di belakang dan menikmati kehangatan di depan matanya.
Pintu utama rumah dibuka lebar, anggota keluarga sudah berkumpul di ruang tamu dan menanti kedatangan Zain. Pertemuan itu menjadi momen paling di nantikan selama ini. Abhi melepaskan tangan Zain dan menunjuk ke arah anggota keluarganya.
"Temuilah, mereka juga merindukan papa. Sama seperti ku." ucap Abhi.
Zain berjalan menuju seorang wanita paruh baya yang memakai kacamata. Wanita itu sudah menangis dengan senyuman diwajah, begitu Zain berhenti. Tangan wanita itu meraba wajah putranya. "Sayang, ini benar kamu. Putraku kembali...."
__ADS_1
Tak ada kata lagi, kecuali pelukan hangat dengan isakan tangis. Zain mengusap punggung mom Raina dengan sayang. Pelukan seorang ibu, selalu seperti kekuatan baru dan semangat baru. Dad Arza tak tinggal diam. Pria paruh baya itu, ikut memeluk istri dan putranya.
"Terimakasih telah kembali, Nak..." ucap Dad Arza.
Zain bisa merasakan betapa kesedihan kedua orang tuanya. Sama seperti kesedihan anak dan istrinya. Pelukan dilepaskan. Mata Zain menatap seorang gadis yang memiliki warna mata seperti Kei. Langkahnya berjalan mendekati putri cantik yang selalu mengandalkan puppy eyes untuk melancarkan rayuannya.
"Putri papa, Rara. Tidak rindu papa kah?" tanya Zain merentangkan kedua tangannya.
Lelehan air mata menghiasi wajah cantik Rara, dengan cepat Rara masuk ke dalam dekapan sang papa. "Papa jahat, kenapa pergi tanpa kabar. Apa papa tahu, aku tidak bisa hidup tanpa papa....hiks."
Zain mengusap kepala Rara. "Maafkan, papa. Lihat papa sudah pulang. Kita bisa berkumpul kembali."
"Mas, lihatlah. Zee juga ingin mendapatkan pelukan." ucap Kei, membuat Zain melihat kebelakang.
Gadis cantik dengan gaun putih berdiri di samping seorang wanita dewasa rambut sebahu. Wajah gadis itu mirip dengan Ken, pastinya itu Zee. Rara melepaskan pelukan dan mengulurkan tangannya. "Kemari, kita berpelukan."
Zee menatap bunda Aurel. "Paman Zain kembali, peluklah.''
Zee tersenyum dan menerima uluran tangan Rara. Pelukan kembali terjadi, Zain tersenyum bahagia. "Putri kecil keluarga Ardana sungguh cantik, manis lagi."
Bukan hanya Zain, Rara dan Zee. Kei, Abhi, mom Raina dan Dad Arza ikut berpelukan. Sementara Aurel masih terdiam di tempat. "Rel, ayo ikut."
"Maaf, Ken kecil tak mau melepaskan gaun ku." jawab Aurel menolehkan wajahnya ke belakang.
"Ken sayang, keluar donk. Ayo main petak umpet." ucap Rara melepaskan pelukan dan berjalan mendekati Aurel.
Aurel perlahan menyingkir dan Rara jongkok di depan seorang anak kecil tampan dengan rambut panjang bak anak korea. Dialah Kendrik putra Kenzo bersama Aurel.
"Wah tampannya. Siapa yang membeli jas ini, sayang?" tanya Rara dengan senyuman manis.
"Bundaa…." cicit Ken mengadu.
"Ayolah, Ken katanya kangen Ka Rara." ujar Aurel dan menggoda putranya.
Di tengah kehangatan keluarga, kehebohan terjadi dirumah sakit. Dimana Ken tengah melakukan penyelidikan, justru menemukan beberapa rekaman yang tidak terduga. Seorang dokter menghampiri Ken di ruangan CCTV.
"Permisi, Tuan. Ini laporan tes DNA dari tuan Zain dan Izzi." lapor dokter itu dengan memberikan satu amplop putih tertulis alamat dan nama rumah sakit.
Ken membuka amplop dan membaca hasil tes DNA. Wajah tegang pria itu perlahan berubah lega. "Okay, berikan informasi selanjutnya secepat mungkin. Aku tunggu hasil kerja kalian!"
"Siap, Tuan." jawab semua orang serempak.
Ken meninggalkan ruang CCTV dan berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Senandung nada lagu syukur terdengar merdu, meskipun hanya lirih. Setelah melewati beberapa lorong. Akhirnya sampai ke parkiran, mobil van hitam menjadi tujuannya. Tapi, ada sesuatu didepan mobilnya. Ken mengambil selembar kertas yang terselip di depan kaca mobil.
"Siapa yang menaruh ini? Sudahlah, aku harus pulang." gumam Ken, dan masuk ke dalam mobilnya.
Mobil Ken meninggalkan rumah sakit, membelah jalanan kota. Tanpa Ken sadari kertas yang di taruh di sampingnya adalah pesan dari seseorang.
Dua puluh menit kemudian...,
Pintu gerbang dibuka satpam, dan mobil Ken masuk ke kediaman Ardana. Ken bergegas turun dari mobil dan berlari kecil memasuki rumah. Semua orang sudah duduk di meja makan dengan canda dan tawa. Kebahagiaan keluarganya telah kembali. Wajah semua orang berseri tanpa beban dan juga tekanan. Hanya saja, wajah Zain terlihat mnyembunyikan sesuatu.
"Harumnya aroma masakan kali ini. Jadi lapar, kira-kira aku dapat bagian, gak ya?" goda Ken dan menghampiri semua orang di meja makan.
__ADS_1
"Sini, nak. Mom siapkan semua ini untuk kita." ucap mom Raina.
Kendrik turun dari kursi dan berlari menuju Ken, pria itu dengan sigap menangkap sang putra dan memberikan beberapa kecupan sayang. "Ayo, kita makan."
Amplop yang menyembul, membuat Kendrick penasaran. "Ayah, bawa kertas gambar lagi?"
Ken mengikuti arah pandangan putranya. "Bukan sayang. Ini kertas punya papa Zain. Duduk disini dan jangan lari lagi."
Ken mendudukkan Kendrick di kursi biasanya dan mengambil amplop di saku. "Milikmu."
Zain menatap amplop bertuliskan rumah sakit keluarganya. Tiba-tiba saja tangannya terasa berat, membuat Kei mengambil amplop itu dan meletakkan di atas meja. "Kita makan dulu. Nikmati kebersamaan kita, setelah bertahun-tahun terpisahkan. Ayo, mas."
Semua setuju dengan pendapat Kei dan memulai makan bersama dengan khidmat. Rara dan Abhi sepakat, membuat papa dan mommy mereka makan sepiring berdua. Setelah sekian lama, pemandangan harmonis terjadi di rumah kediaman Ardana.
Satu jam kemudian.....
Anak-anak di biarkan bermain di ruang bermain dan para orang tua berkumpul di ruang keluarga. Abhi dan Rara ikut bergabung, ditemani beberapa cangkir teh, kopi dan juga jus.
Zain menatap amplop di tangannya. Kei tahu, jika perasaan suaminya tengah diambang keraguan. "Mas, bukalah. Biarkan semua jelas."
"Aku hanya takut....."
"Sampai detik ini, aku masih percaya kamu. Tidak berkurang meskipun keputusan mu, membuat hatiku hancur. Bukalah!" tukas Kei dengan mengusap lengan Zain.
Amplop dibuka dan kertas putih diambil. Zain membuka lipatan kertas itu, dan membaca isi laporan. Air mata jatuh dari sudut matanya. Kei mengusap pipi Zain dengan perasaan tak tega.
"Nak, ada apa?" tanya Mom Raina bingung.
Ken menegakkan duduknya. "Izzi bukan putrinya Zain. Sementara hasil dari rumah sakit, gadis remaja itu terbukti mengalami gangguan jiwa. Satu lagi, aku temukan ini di depan mobil ku. Seseorang meletakkan dengan sengaja," Selembar kertas diletakkan di atas meja kaca.
*Izzi putriku. Jangan coba melukainya. Kalian tidak berhak menahan putriku.*
Zain mengepalkan tangan, namun emosinya mereda ketika pelukan hangat diberikan sang istri. Wajah lega di rasakan keluarganya. Meskipun banyak pertanyaan yang mengusik pikiran mereka.
"Pa, bagaimana ingatan papa kembali?" tanya Abhi.
"Nak, tidak....."
Zain menahan ucapan Kei dengan usapan ditangan istrinya itu. "Saat pingsan kedua kalinya. Bayangan buram yang selama bertahun-tahun menguasai dan menjadi bayangan hidupku. Tiba-tiba saja berangsur-angsur nampak jelas. Suara kalian, air mata Kei dan mata mommy kalian. Aku jatuh cinta lagi dengan mata yang sama. Meskipun pikiran ku menolak, hatiku menerima kalian. Itulah yang terjadi."
"Cinta membawa papa kalian kembali. Semoga keluarga kita selalu mengutamakan cinta dari hati. Ikatan hati tidak akan muda di pisahkan. Kalian paham?" jelas Kei.
"Iya, mommy. Cinta kalian adalah panutan." jawab si kembar serempak.
...****************...
Terkadang, kehidupan tidak memberikan kejelasan. Seperti sebuah novel, dimana kisah tak memiliki akhir tanpa awal. Kepercayaan adalah harga termahal dari sebuah hubungan. Tanpa kepercayaan, hubungan tak memiliki dasar.
Serumit apapun dan sesulit apapun. Cinta dari hati ke hati, memiliki ikatan yang kuat dengan detak yang sama. Harapan dan doa menjadi satu cahaya, dimana waktu memberikan apa yang ditakdirkan untuk kita. Percayalah dibelahan bumi lain, ada seseorang yang tercipta untuk kita.
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
Terimakasih telah menemani othoor melanjutkan kisah *My Love Is Stuck With Tomboy Girl's*.
Sampai berjumpa di karya othoor yang lain, 🥰