My Love Is Stuck With Tomboy Girl

My Love Is Stuck With Tomboy Girl
Bab 70: Special part # Hari Skot Jantung


__ADS_3

Setelah membaringkan tubuh Aurel di atas tempat tidur, Ken menyelimuti tubuh dokter pencuri hatinya. Sekejab membenamkan satu kecupan di kening Aurel, apapun yang akan terjadi biarlah terjadi.


"Biarkan dia istirahat! Ikut aku."


Langkah kaki Ken berjalan keluar meninggalkan kamar tamu, mengikuti pria paruh baya yang berjalan terlebih dahulu. Aura kemarahan terbalut ketenangan menyelimuti ruangan keluarga. Ken menghela nafas, ketika melihat semua mata tertuju padanya dan meminta penjelasan. Zain bangun dari tempat duduknya dan menghampiri Ken.


Buug!


Satu pukulan melayang dan menyentuh pipi Ken, wajah kecewa jelas terlihat dimata Zain. "Apa ini yang kamu sebut menjaga kehormatan?"


"Nak! Biarkan Ken menjelaskan, kasih satu kesempatan." ucap dad Arza.


Zain menyingkir dengan mengalihkan pandangan, tidak ada niat untuk melukai Ken. Akan tetapi mendengar Aurel hamil, bagaimana bisa semua orang kecolongan. Meskipun Ken sudah bisa memutuskan kehidupannya sendiri, tetap saja perilaku melewati batas tidak dibenarkan.


Ken menarik nafas dalam, mengeluarkannya perlahan. Sejenak mengumpulkan ketenangan dan emosi yang tersisa. "Aku siap bertanggung jawab. Hanya itu yang bisa ku katakan."


Deg


Satu ucapan Ken berhasil membungkam semua orang yang ada di ruangan keluarga. Zain kembali menatap Ken, Kei yang melihat tatapan sang suami penuh amarah bergegas mendekati Zain. Sebuah pelukan hangat diberikan Kei, deru nafas Zain perlahan mereda dengan hembusan nafas kasar.


"MENIKAHLAH MALAM INI JUGA!"


Keputusan dad Arza akhirnya terucap, hanya itu yang bisa dilakukan. Tidak mungkin mencari jalan lain, terlebih Ken siap bertanggung jawab atas perbuatannya. Maka, memperjelas hubungan adalah solusi terbaik. Kei membawa Zain untuk kembali duduk di sofa, sementara Ken masih tetap berdiri. Mom Raina masih memejamkan mata untuk mengatur perasaan yang tertekan seharian ini dengan berbagai berita mengejutkan.


Belum ada dua puluh empat jam, tragedi seakan tak berhenti menguji kesabarannya. Elis yang berniat mengadu berakhir meninggal. Pemakanan baru usai, berita buruk datang lagi. Guru si kembar terjatuh dari tangga dan kini tak sadarkan diri. Belum usai dengan ketegangan yang terjadi, tiba-tiba Ken datang dengan berita kehamilan Aurel.


Lengkap sudah hari ini seperti hari skot jantung, kenapa beberapa hari terakhir menjadi hari yang buruk? Bukankah keluarga selalu bersama dan saling mendukung? Apakah semua yang terjadi ada hubungannya dengan masa lalu? Pertanyaan demi pertanyaan seakan siap meluncur tanpa jeda.


"Ka, istirahat dan bersiaplah. Aku dan Mom Raina akan menjaga Aurel, iya kan mom?" ujar Kei.


Melihat mom Raina masih tenggelam dalam pemikiran yang ntah sampai dimana, Kei mengusap lengan ibu mertuanya. Zain masih enggan berbicara dan hanya menatap ke arah Ken dengan kecewa, sementara dad Arza sibuk melakukan beberapa panggilan.


"Semua sudah disiapkan. Papa tidak bisa mengubah masa lalu, tapi papa harap kamu menjadi pria sejati. Jadilah suami dan ayah untuk mereka, kami tetap bersamamu Ken."

__ADS_1


"Zain, papa harap kamu memaafkan Ken. Ingat, kalian ada untuk saling mendukung satu sama lain. Baik buruknya kalian berdua, tidak mengubah kenyataan ikatan hati yang terjalin selama ini. Siapkan Ken untuk malam ini, itu tugasmu Zain!" titah dad Arza.


Zain bangun tanpa menjawab, langkah kakinya berjalan melewati samping Ken dan sang papa. Dad Arza memberikan kode mata agar Ken menyusul Zain. Kepergian kedua tuan muda, membuat dad Arza mendudukkan tubuh tuanya ke kursi. Kei mengambil gelas dan menuangkan air putih. "Minum pa, percayalah mereka berdua hanya membutuhkan waktu. Selama ini tidak ada yang mengusik hubungan mas Zain dan ka Ken. Mungkin ini ujian untuk keluarga kita."


"Nak, apa kamu merasa ada hal janggal selama beberapa hari ini?" tanya dad Arza menerima gelas dari Kei.


Sesaat Kei terdiam, ada sesuatu yang siap meluncur dari bibirnya. Tapi, melihat ketegangan dan juga masalah yang datang bertubi-tubi dalam sekali waktu. Keegoisan di dalam hatinya runtuh. "Tidak ada pa, kita fokus dengan pernikahan ka Ken dan juga kehamilan Aurel saja. Jika terjadi sesuatu, Kei pasti mengatakan pada mas Zain."


"Sebaiknya kita lihat keadaan Aurel. Mama rasa dokter itu masih shock dengan berita kehamilan yang Ken ucapkan." Mom Raina bangun dengan tubuh tak seimbang.


Kei segera menangkap tubuh ibu mertuanya. Dad Arza ikut membantu Kei, wajah pucat mom Raina terlihat jelas. Sudah pasti wanita paruh baya itu terlalu overthinking. Dad Arza memberikan minuman dan membantu sang istri untuk tenang dengan mengusap punggungnya.


"Lebih baik, papa bawa mama istirahat. Kei yang akan urus Aurel. Si kembar dan baby Zee sudah aman bersama oma Diana. Istirahatlah ma, semua akan membaik. Jaga kesehatan mama." tutur Kei dengan nada khawatir.


"Tapi…."


"Kei bisa, jangan khawatir." sela Kei.


Dad Arza mengangguk, Kei berjalan meninggalkan ruangan keluarga. Sungguh hatinya terasa sesak melihat keterpurukan keluarga, bagaimana bisa semua terjadi dalam waktu singkat. Semua kejadian seperti mimpi buruk menjadi nyata, entah kenapa tiba-tiba dirinya teringat suara aneh yang terbawa hembusan angin saat berada di kamar oma Diana.


Rumah mewah yang biasanya dipenuhi kegembiraan dan keceriaan. Kini terasa sepi dan kosong, semua orang masih ada. Akan tetapi hawa dingin yang mencekam perlahan menyebar. Kei berhenti sejenak menatap seluruh sudut rumah dari pintu depan kamar tamu. Setiap sudut dengan keadaan dan tata letak perabotan yang sama, namun ada yang menyusup dan mengatakan waspadalah.


Emosi yang meluap dengan kegelisahan yang melanda juga tengah dirasakan oleh Zain dan Ken di dalam kamar Ken. Penjelasan yang Ken berikan, membuat Zain memijat pangkal hidungnya. Apa yang terlihat tidak seperti kenyataan yang sebenarnya.


"Apa kamu sudah mantap?" tanya Zain menatap Ken dengan serius.


Ken mengangguk. "Aku siap, aku hanya meminta satu hal darimu. Biarkan kebenaran ini diantara kita. Janji?"


Satu jari kelingking Ken ulurkan ke arah Zain, dan Zain menyambut janji jari kelingking itu dengan helaan nafas. "Janji. Tapi bicarakan ini baik-baik dengan Aurel, maaf atas pukulan ku."


"Ayolah bro, ini tidak sesakit itu. Kamu berhak marah, kita ini saudara. Tapi…."


Zain menaikkan satu alisnya, dan mencebikkan bibir. "Aku tidak akan terpengaruh! Kerjaan tetap kerjaan, sudah mandi sana!"

__ADS_1


"Huft niat hati ingin liburan, ternyata tak bisa," Ken mendengus sebal.


Tak!


Satu jitakan di kepala, membuat Ken nyengir kuda. "....."


"Mandi! Atau aku batalkan liburanmu." ancam Zain.


Ken memeluk Zain dengan erat, tak lupa satu kecupan di pipi terselip. "Bos terbaik, jangan lupa gaji transfer ya…"


Belum sempat menjawab, Ken sudah berlari dan masuk ke kamar mandi. Kepergian Ken, membuat Zain menghubungi seseorang dan memberikan perintah. Apapun yang terjadi, biarlah terjadi. Akan tetapi untuk ke depannya, semua harus diperhatikan dan waspada.


Aku tidak akan biarkan keluarga ku terluka, apalagi hancur. Dari manapun pandangan jahat itu berasal. Akan ku pastikan, jiwa raga ku sebagai tameng keselematan keluargaku. Sudah waktunya aku membawa mereka ke dunia nyata.~batin Zain.


Keputusan Zain menjadi langkah awal untuk melindungi keluarganya. Berbeda dengan mata yang baru saja terbuka, tatapan mata itu menelusuri seluruh ruangan tempatnya berada. Bibir pucat dengan perban di kepala tak menghilangkan senyuman penuh arti yang terbit begitu saja.


Aku berhasil masuk, satu langkah lagi aku akan mendapatkan tujuanku.~batinnya.


...___________________...


...~🗡🗡~~...


...Readers, othoor gak akan berhenti ingetin kalian....


...*Stop boom like okay!*...


Apa karya kami sangat buruk? Othoor cuma mau kalian paham, jika boom like menurunkan performa karya para penulis.


Para penulis menuangkan imaginasi mereka bukan hanya menyita waktu, tapi juga tenaga dan fikiran!


Skip aja kalau gak mau baca, itu lebih kami hargai!


Maaf ya reader's yang setia dan benar-benar membaca karyaku. Maybe, kalian ke ganggu dengan ungkapan hati ku. Tapi jujur saja, aku tidak tahu lagi gimana ingetin sesama penulis dan reader's.

__ADS_1


Semoga keluhan para penulis tersampaikan dengan cara ini, apakah kalian tahu? Buluku pun meremang setiap kali menulis novel, terlebih dengan hal sensitif lainnya.


__ADS_2