My Love Is Stuck With Tomboy Girl

My Love Is Stuck With Tomboy Girl
Bab 44: Special part #Hidden feeling


__ADS_3

"Kei siapa yang telpon?" Zain bertanya sembari mengeringkan rambut, tanpa melihat wajah Kei yang tengah menahan amarah.


Hening…..


Zain heran kenapa tak ada jawaban dari sang istri. Spontan Zain mengalihkan pandangan, menatap sang istri yang bermuka dingin dengan tangan terkepal. Ponsel Zain masih tergenggam erat, Zain mendekati Kei dan langsung menarik tubuh sang istri ke dalam pelukannya. "Ada apa? Apa aku membuat kesalahan? Hukum saja aku, jika itu benar."


Perlahan deru nafas Kei teratur, dan melepaskan pelukan Zain. Mata Kei menatap mata Zain dengan perasaan berkecamuk, bukan keraguan tapi ada rasa takut kehilangan sang suami. Hati Kei sangat mencintai Zain, melebihi cintanya pada diri sendiri. Hanya Zain yang memberikan kehidupan nyata, Zain cinta pertama dirinya.


Melihat luka di mata Kei. Zain merasakan perih di hatinya, mata yang selalu bersinar terang dengan aura kebahagiaan. Mata itu sendu dan tidak ada aura kebahagiaan. Tangan Zain mengusap pipi Kei, bibir Zain mengecup kening Kei begitu dalam. Ingin rasanya melepaskan beban hati sang istri, tapi Kei selalu diam disaat terluka. Hanya waktu yang membuat Kei mengutarakan isi hatinya.


"Bersiaplah. Aku akan menunggu dibawah!'' Kei melepaskan kehangatan Zain dan berjalan meninggalkan kamar.


Zain menghela nafas dan bergegas mengganti pakaiannya. Sepuluh menit akhirnya Zain siap dengan penampilan rapi, tak lupa Zain meraih ponselnya di atas tempat tidur. Sejenak Zain berfikir, apa alasan Kei terluka. Duka di mata Kei, tak mampu Zain lupakan. Tangan Zain mencari penyebab kemarahan dan luka sang istri hingga sebuah nomer tak dikenal tertera di barisan paling atas.


Awas saja! Akan kupastikan, kamu hancur tak terbentuk!~ batin Zain mengirimkan nomer itu pada Kenzo.


Langkah Zain meninggalkan kamar, dan bersiap untuk sarapan di meja makan bawah. Kamar pribadinya masih sama, di lantai atas. Setiap anak tangga Zain pijak dengan perasaan gelisah.


"Morning dad." sapa si kembar yang sudah duduk tenang dikursi masing-masing.


Cup… cup…


Zain mengecup kening si kembar bergantian dan duduk di kursi miliknya. Mom Raina dan Kei keluar dari dapur, dengan membawa sisa hidangan yang masih mengepul. Terlihat wajah Kei tersenyum menyambut semua orang, inilah sisi Kei yang selalu Zain kagumi. Kei pandai menyembunyikan perasaan di depan keluarga besarnya. "Udah cukup. Duduklah! Kamu juga harus makan."


Kei berhenti menuangkan lauk pauk di piring Zain dan berganti ke piring si kembar. Sedangkan, mom Raina lebih suka makan menunggu sang suami. Hanya menunggu beberapa menit, daddy Arza menuruni tangga dengan pakaian kerja. "Morning semua. Have a nice day."


"Morning too dad."


"Morning too grandpa."


"Ayo mas. Aku sudah siapkan makanan untukmu." Mom Raina dengan penuh cinta melayani sang suami, hal ini selalu membuat Kei belajar menjadi istri yang baik.


Si kembar sibuk menikmati sarapan terlezat di dunia, masakan Kei selalu menjadi andalan keluarga Ardana. Zain sesekali melirik sang istri, Kei diam dan menikmati sarapan pagi dengan porsi sedikit. "Nak, daddy harus bekerja hari ini. Jadi, jaga diri kalian dan mommy. Bersiaplah, hari ini guru bahasa Inggris kalian akan datang."


"Dad, bolehkan weekend ke taman terbaru?" Zahra menatap Zain dengan puppy eyes-nya.


Zain mengangguk, bagaimanapun keluarganya membutuhkan liburan singkat. "Tapi, tanya paman Ken dulu ya? Baby Zee akan tinggal bersama kita."


"Horeee. Baby Zee datang, boleh baby Zee sekamar dengan Rara?" seru Zahra karena terlampau gembira.


"Ekhem! Ingat ini masih dimeja makan." Kei berdehem agar sang putri bisa lebih tenang dan santai.


Peringatan Kei, sontak membuat bibir Zahra maju lima senti. Membuat Abhi gemas dan mencubit pipi adiknya dengan senang hati.


"Daddy, Abhi nakal!" lapor Zahra meninggalkan kursinya dan menghampiri Zain.


"Sudah-sudah. Jangan nangis, nanti cantiknya hilang. Abhi jangan begitu lagi ya." Mom Raina melerai si kembar.


Zain memilih menggendong Zahra dan membiarkan gadis manisnya duduk di pangkuannya. Sembari mengusap rambut panjang sang putri, Abhi memilih berpindah tempat duduk. Dan memeluk tubuh Kei dengan posesif. "Mom, yuk beli ice cream."


Dengan cekatan Zahra turun dari pangkuan sang papa dan menghampiri sang mommy. Wajah manyun Zahra berubah memelas, inilah cara Abhi menggoda kembarannya. Ice cream adalah kelemahan Zahra, bukan kata memohon. Tapi mata imut dengan lesung pipi Zahra akan nampak saat berekspresi menggemaskan.


Kei dan lainnya hanya diam menonton drama si kembar, yang pasti akan berakhir dengan senyuman manis. Ditengah kebersamaan itu, bibi senior datang tergopoh-gopoh mendekati ruang makan. "Maaf tuan, ada tamu."


Zain melirik jam di pergelangan tangan, masih terlalu pagi untuk bertamu. "Siapa bi?"


"Katanya guru si kembar. Kalau tidak salah Miss Ery, rambutnya emas gitu tuan." lapor bibi senior dengan menjaga pandangan.


"Suruh masuk bi, katakan kami akan datang sebentar lagi. Biarkan anak-anak menyelesaikan sarapan." pinta Kei dan bibi senior mengangguk paham.


Kei memberikan isyarat agar Zain menemui guru anak-anak terlebih dahulu, Zain mengedipkan mata dan beranjak dari tempat duduknya. Bahkan mom Raina dan daddy Arza mengikuti langkah Zain, kini tinggal Kei bersama si kembar. "Habiskan sarapan kalian, setelah itu kita temui guru kalian."


"Okay mom." jawab si kembar dan kembali duduk di tempat masing-masing.

__ADS_1


Kei hanya memperhatikan sang buah hati dengan senyuman manis di bibir, selama lima menit si kembar selesai sarapan. Kei menggandeng kedua tangan si kembar dan berjalan menuju ruang tamu. Dari arah Kei berjalan, Kei bisa melihat siluet seorang wanita dengan pakaian terbuka. Rambut emas terurai terlihat sangat menggoda, tapi bukan penampilan itu yang mengusik hati Kei.


Suara ini? Apakah mungkin? Atau hanya perasaan ku saja?~ batin Kei memilih duduk disamping Zain, setelah si kembar duduk di antara sang nenek dan kakek.


"Are you okay Kei?" bisik Zain menyadarkan lamunan Kei.


Kei mengangguk pelan, perlakuan Zain tak luput dari pengawasan Miss Ery. Tangan wanita itu mengepal, meremas gaunnya.


..._________________________...


Hay reader's 😉


kali ini othoor up, but sekalian mau berbagi promo ya.. 🥰


Yuk, kepoin novel temen othoor.


👇



Ara mematung di tempatnya, bagaimana bisa. Pernikahan akan berlangsung dua hari lagi, undangan juga sudah di sebar, dan tiba-tiba Ali datang hanya ingin membatalkan pernikahan.


"Tapi kenapa..? Danish ! apa aku melakukan kesalahan?" tanya Ara dengan suara bergetar.


"Kau tidak salah, tapi aku memang tidak ingin menikah denganmu !" ucap Ali tanpa memikirkan perasaan Ara.


"Jika kamu tidak mau menikah, kenapa tidak katakan sejak awal. Danish?" Ara berusaha menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk mata nya.


"Aku sudah tidak percaya, dengan wanita. Bagiku, semua wanita sama saja. PENGHIANAT !" tekan Ali dengan kata penghianat.


"Aku? penghianat ! aku menghianati kamu apa? Danish. Bahkan aku yang mengemis cinta padamu !" bentak Ara pada Ali yang bahkan tidak perduli dengan kehancuran yang di rasakan oleh gadis di depannya.


Ara segera melarikan dirinya ke dalam mantion, hatinya hancur. Penolakan ini adalah hal paling menyakitkan bagi Ara.


Ali menaiki mobilnya dan segera pergi dari mantion megah milik Tuan Haris.


Seseorang yang sejak tadi pagi mengikuti Ali segera melaporkan kejadian yang baru saja terjadi kepada pimpinannya.


"Bos, kita berhasil. Laki-laki lemah itu sudah membatalkan pernikahan dengan Nona Ara." lapor sang pengintai.


"Bagus, rencana kita pasti bisa membuat Tuan Aldev senang. Dan pastinya bonus untuk kita akan bertambah,


" ucap Andri senang dengan kinerja anak buahnya.


"Baik, bos. Lalu apa saya boleh kembali ke markas?" tanya sang pengintai.


"Boleh, kau kembali ke markas sekarang ! jangan lupa untuk selalu memberi aku kabar," perintah Andri pada orang kepercayaannya.


"Laksanakan bos," ucapnya siap untuk menjalankan tugas yang di berikan untuknya.


Andri mengakhiri panggilan telfon dengan orang yang dia percayakan untuk mengacaukan pernikahan Ara dengan Ali.


"Bagaimana? apakah orangmu memberi kabar baik?" tanya Aldev saat Andri sudah duduk di depannya.


"Rencana kita berhasil Tuan, Ali yang kecewa dengan penghianatan dari j*lang itu, memutuskan untuk membatalkan pernikahannya dengan Nona Ara. Mengingat Ali menerima pernikahan itu karena rayuan dari Clarissa," Andri menjelaskan dengan detail pada Tuan Mudanya.


"Bagus, dengan begitu. Ara pasti akan menerima aku menjadi pendampingnya," ucap Aldev dengan senyuman liciknya.


*****


Sementara di gedung lain, Ara sedang berdiri di depan kaca besar. Ia memandang bayangan yang ada di depannya, gadis dengan rambut di kuncir dua dan berkacamata.


"Apakah kamu menolakku karena penampilanku? Danish," ucap Ara lirih.

__ADS_1


"Ara, kau kenapa? sayang...." seseorang bertanya pada gadis yang sedang menatap sedih bayangannya sendiri.


*****


Ali mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh, dia berencana untuk singgah di tempat hiburan agar bisa melupakan penghianatan kekasih yang dia bela di depan orang tuanya selama empat tahun ini.


"Dasar wanita j*lang!!!" maki Ali ketika mengingat bagaimana wanita yang dia sayangi justru sedang asik bercumbu dengan pria lain.


Ketika sedang menyetir, ponsel Ali berdering. Ali melihat ponselnya ada panggilan dari ayahnya. Ali segera menepikan mobilnya dan menekan tombol hijau untuk menerima panggilan tersebut,


"Hallo, Ay.."


"Pulang, sekarang juga ! Ayah ingin bicara denganmu, Ali," potong Ayah Hendra sebelum sang putra pertama melanjutkan sapaannya.


"Baik, Ayah. Ali akan segera sampai." Ali tahu, dari nada bicara ayahnya. Beliau pasti sedang merasa marah dan kecewa dengan dirinya.


"Maaf, ayah.." gumam Ali, dia merasa sudah menempatkan sang ayah dalam masalah besar.


Ali segera menginjak pedal gas semakin dalam, hingga mobilnya melaju dengan kecepatan tinggi, Ali tidak mau ayahnya sampai marah terlalu lama.


Ali sampai di rumah milik orang tuanya, dia memang masih tinggal bersama dengan ayah, ibu, juga adik perempuan satu-satunya yang di miliki Ali.


Turun dari mobil, Ali sudah mendapat sambutan dari seorang ibu yang menangis di depan pintu rumahnya. Ali mendekat pada sosok wanita yang sudah melahirkan dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang.


"Assalamualaikum, Ibu, kenapa di luar?" tanya Ali segera mencium punggung tangan ibunya.


"Waalaikum salam, Kenapa kamu tega, Ali? apa ibu pernah mengajarkan kamu untuk mempermainkan wanita !" ibu menatap anak laki-laki yang selalu dia banggakan sekarang malah membuat dia kecewa.


"Maaf, Bu...." lirih Ali merasa sangat bersalah. Apa dia keterlaluan hingga membuat wanita yang sangat di sayanginya menangis.


Ibu Salma masih menangis, walaupun Ali sudah berusaha menenangkannya. Seorang pria paruh baya datang mendekat, Ali segera meraih tangan pria tersebut yang tidak lain adalah Ayah Hendra. Ali mencium tangan ayahnya dengan hati yang sedikit takut, takut jika ayahnya akan hilang kendali dan berakitab memperburuk kesehatannya.


"Bu, jangan bicara di luar. Bawa anakmu ini masuk ke dalam," ucap Ayah Hendra menegur istrinya.


"Iya, Ayah. Maaf...." Ibu Salma terlalu terbawa suasana hingga melupakan hal yang biasa di ajarkan oleh suaminya.


"Masuk, Ali. Kamu harus menjelaskan kesalahanmu kali ini," pinta Ibu Salma pada putra pertamanya itu.


"Baik, Bu." Ali mengikuti Ayah dan Ibunya, berjalan masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang keluarga.


"Kau sudah puas, Ali? mempermainkan perasaan wanita !" ucap Ayah Hendra setelah mendudukkan dirinya di kursi.


"Mempermainkan wanita bagaimana, Ayah? Ali tidak paham dengan maksud ucapan Ayah," Ali menjawab dengan nada lirih, dia memang tidak mau sampai membuat ayahnya emosi dan sakit seperti pertengkaran mereka biasanya.


"Kenapa tiba-tiba membatalkan pernikahan? kamu pikir pernikahan bisa di permainkan dengan seenaknya !" geram Ayah Hendra tidak menyangka putra yang di didik dengan sepenuh hati bisa mempunyai pikiran kotor seperti itu.


"Memangnya Ayah dan Ibu, tahu kabar ini dari mana?" Ali tidak menjawab pertanyaan Ayah Hendra dan justru mengajukan pertanyaan lain.


"Ara datang kema...." Baru saja Ibu Salma akan menjelaskan Ali sudah lebih dulu menyela.


"Ara mengadu yang tidak-tidak pada ibu? dia pasti menjual air mata kan !" ucapan Ali membuat Ibu Salma tersentak. Kenapa putranya bisa sekasar dan setidak sopan itu menyela ucapannya.


"Setelah menjalin hubungan dengan wanita bunglon itu, kamu semakin berani menyela ucapan Ibu, Ali ! apa se tidak berharga itu kah ibu untuk kamu?" Ibu Salma memandang putranya dengan tatapan sayu, Kemana putranya 5 tahun yang lalu. Putra yang selalu menghormati dan menyayanginya.


"Kamu benar-benar berubah, Ali. Ayah kecewa dengan sifat kamu sekarang ! jika kamu sudah tidak bisa menghargai dan menghormati istriku. Kamu boleh pergi dari sini!!" ucap Ayah Hendra mengusir putranya yang selama ini beliau banggakan.


"Ayah mengusir Ali, demi seorang gadis seperti Ara?" Ali tidak mengira bahwa Ara bisa dengan mudah menghasut orang tuanya.


"Dasar, Wanita sial@n!!"


..._________________...


Tenang ya reader's , othoor kan udah bilang akan up sekali sehari... 😉

__ADS_1


__ADS_2