
"Jangan khawatir, hanya sesaat berpisah. Jaga dirimu dan jangan berhenti berdo'a. Aku mencintaimu Keisha istri tomboi ku." bisik Zain sebelum menutup pintu.
Ucapan Zain menyentuh hati Kei, menghadirkan tetesan bening di sudut mata. Motor sport sudah melaju dan meningkatkan gerbang, diikuti mobil Ken dan mobil Dad Arza. Zain melambaikan tangan mengiringi kepergian seluruh anggota keluarganya.
Aroma parfum yang menyengat beredar menusuk hidung dan semakin mendekat, dari bayangan di bawah. Terlihat jelas seseorang berniat memeluk Zain dari belakang. Zain bergeser senatural mungkin dan berjalan menuju garasi mobil.
S!al, sudahlah setidaknya semua sudah pergi dan kini tinggal aku bersama Zain seorang. Kamu tahu ini impianku. Aku mencintaimu Zain, sangat sangat mencintaimu.~batin Ery dan tersenyum-senyum sendiri.
Dari sudut dinding ada sebuah pantulan kaca dan Zain bisa melihat reaksi Ery. Tak berselang lama, Zain mengambil kunci dan masuk ke mobil yang sangat jarang dipakai meskipun slalu di service. Zain memilih memasuki kursi pengemudi, menyalakan mesin dan melajukan mobil hingga berhenti di depan Ery. Kaca pintu sebelah perlahan terbuka.
"Masuk!" titah Zain.
Ery langsung menarik pintu mobil dan duduk manis di kursi samping Zain. Tanpa Ery sadari, ekspresi bahagia yang berlebihan membuat sudut bibir Zain terangkat. "Pakai sabuk pengaman mu!"
"Eh, maaf Tuan." ucap Ery gugup.
Zain mengangguk dan kembali melajukan mobil, klakson dibunyikan dan pak satpam membukakan gerbang. Sejenak Zain membuka kaca jendelanya. "Pak jaga rumah, dan tolong kabari Pak Ken jika terjadi sesuatu. Paham?"
"Siap Tuan Zain." jawab satpam Marno.
Zain kembali fokus menyetir dan mobil meninggalkan kediaman Ardana. Berbeda dengan tujuan anggota keluarga yang lain untuk berlibur, Zain membawa mobilnya menuju tempat berbeda arah dan suatu tempat yang sudah lama tak terjamah.
"Tuan, kenapa hanya kita berdua? Apa yang lain sudah sampai?" tanya Ery.
"Seperti ini lebih baik, setidaknya kita bicarakan tentang si kembar. Apa anda keberatan?" jawab Zain santai.
Ery tersipu malu, dan mengangguk manja. "Apa yang ingin Tuan tanyakan, tanya saja. Saya siap menjawab."
"Bagaimana perasaan anda mengajar si kembar?" tanya Zain.
"Sangat baik, si kembar penurut dan juga cepat sekali memahami pelajaran. Padahal baru beberapa menit di ajari, sudah bisa mengerjakan soalnya." jawab Ery menautkan kedua tangan di atas pangkuan.
Zain mengangguk dan tersenyum. "Syukurlah jika anda merasa baik, apa anda tidak ingin melanjutkan kuliah? Ku dengar, anda sangat suka jurusan sastra."
"Tidak, tujuan hidup saya bukan itu." jawab Ery.
"Kenapa, atau anda akan menikah?" tanya Zain.
__ADS_1
Ery melirik Zain sekilas mencari sebuah kepastian, ucapan Zain seperti sebuah kode untuk dirinya atau hanya sebuah pertanyaan saja. Tapi jika itu kode, sudah pasti menjadi istri kedua pun tak apa. Karena yang terpenting adalah bisa memiliki Zain.
"Haloo, ada apa?" Zain melambaikan tangan.
Ery kembali tersipu malu dan memalingkan wajah. "Maaf Za… Eh Tuan, saya hanya terkejut dengan pertanyaan tadi."
"Its okay." ucap Zain.
Setelah perjalanan selama duapuluh menit, mobil melewati persimpangan dan berbelok kiri. Sebuah kawasan yang sudah lama tak dihuni oleh seorangpun, kawasan itu terbengkalai akibat pemilik tanah tak sanggup membiayai pembangunan sebuah kompleks perumahan dan berakhir meninggal dunia.
Ery yang kebetulan melihat ke arah luar, merasa aneh dengan wilayah yang Zain tuju. Rasa penasaran itu semakin menjadi ketika dari puing-puing bangunan tampak begitu banyak tanaman merambat. "Maaf, Tuan. Apa ada tempat liburan di daerah seperti ini?"
"Tunggu sebentar lagi, nanti pasti ada." jawab Zain mempercepat laju mobil dan memasuki bangunan yang lebih besar dari lainnya.
Zain mematikan mesin mobil dan membuka pintu setelah melepaskan sabuk pengaman. "Ayo turun."
Insting waspada Ery muncul, namun melihat senyuman Zain melunturkan segalanya. Ery melepaskan sabuk pengaman, membuka pintu mobil dan berjalan menghampiri Zain yang berdiri didepan mobil. Bangunan sudah terbangun sekitar delapan puluh persen, lumut dan rumput liar menguasai banyak sudut. Jika bangunan itu diteruskan, sudah pasti akan indah dan mewah.
"Tuan, tempat ini tempat apa? Kenapa menyeramkan." gumam Ery.
Prok!
Prok!
Prok!
"Putar!" seru Zain.
Ery menatap Zain dengan tatapan serius, Zain melepaskan tangan Ery dan berjalan dibelakang wanita rambut emas itu. Tangan kanan Zain memegang tangan kanan Ery, menaikkan ke atas tepat di mana sebuah layar putih tergelar. "I have surprise for you(Aku mempunyai kejutan untuk mu)"
Suara lembut dan manja, membuat otak Ery traveling. Tangan Zain yang memegang tangannya seperti sebuah mimpi menjadi nyata. Mengikuti arahan Zain, Ery melihat layar putih di atas gedung. Perlahan tapi pasti ada sebuah tayangan. Setiap tayangan yang muncul, semakin membuat Ery kehilangan ketenangan.
Tidak, itu tidak mungkin. Bagaimana bisa Zain tahu semua itu, aku tidak mau berpisah dari Zain. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa.~ batin Ery.
Tangan Zain semakin erat memegang tangan kanan Ery dan tangan kiri Zain mengunci dagu wanita di depannya. "Berani sekali kamu bermain denganku. Apa kamu pikir, aku ini bodoh! Bagaimana bisa orang seperti mu tetap hidup, dan orang baik justru lenyap. Iblis macam apa kamu? Tidak cukupkah luka yang kamu buat?"
"Zaaiin…"
__ADS_1
"Ssssttt! Seharusnya kamu menjauh dari keluarga ku, ck. Memang ayah dan anak sama saja, tidak waras." Zain semakin mecekram dagu Ery.
"Bos, semua sudah siap." lapor salah satu bodyguard.
Zain melepaskan cengkraman dagu dan menghempaskan Ery ke depan. Tubuh wanita itu limbung dan mencium setapak berumput. Tatapan mata Ery berubah merah, wajah mengeras dan senyuman licik. Zain kini paham, wanita di depannya bukan wanita polos. Ekspresi psico terlihat jelas dari mata Ery saat ini.
Ery menunjuk Zain. "Kamu, alasanku bisa sejauh ini. Tidak ada yang mencintaimu lebih dari ku, kamu tahu kenapa? Karena aku siap menghapus semua penghalang demi mendapatkan kamu Zain. Aku tidak peduli selain bersamamu. Apa cintaku salah? Tidak. Aku sangat mencintaimu, sangat Zain."
"Cinta. Apa melakukan pembunuhan disebut cinta? Itu bukan cinta tapi obsesi. Percuma Kei berdoa dimakam setiap setahun sekali demi keselamatan orang yang dianggap tiada. Ternyata raga dan jiwa iblis masih bersemayam di dunia nyata…"
"Kei, Kei, Kei. Hentikan menyebut nama itu, kamu hanya milikku bukan milik jal@ng itu!" seru Ery.
Zain mengepalkan tangan menahan emosi, kegilaan Ery semakin jelas. Maka isi File Ghosh Twins tidak salah. "Bawa dia!"
Seruan Zain, membuat lima bodyguard terdekat menghampiri Ery dan menahan wanita itu. Ery berusaha memberontak, namun kalah kekuatan. "Zain, lihatlah aku. Ku mohon, aku sungguh mencintai mu. Jangan jauhkan aku darimu, ku mohon."
Zain berjalan mendekati Ery yang ditahan anak buahnya. "Bagiku kamu hanyalah debu. Tidak ada tempat di dalam hidupku, apalagi di sini," tunjuk Zain didadanya.
"......"
"Cherry Nicholas. Sejak kamu berkhianat, namamu sudah terhapus dari duniaku," Zain melambaikan tangannya dan para bodyguard yang menahan Ery menyeret paksa wanita berambut emas itu untuk menurut.
Beberapa bodyguard masih standby di luar bangunan, sementara Ery sudah dibawa masuk kedalam bangunan. Zain menghirup udara sekitar dan membuangnya dengan perlahan. Tiba-tiba rasa sakit yang terpendam kembali terasa, ingatan tentang penculikan yang dilakukan ayah Cherry. Ingatan pertempuran di rumah sakit, yang mengorbankan adik tercinta dan kakeknya.
Kenapa seperti ini, aku hanya ingin hidup tenang dan melihat keluarga ku bahagia. Tapi selalu saja ada mata jahat menatap kebahagiaan kami. Tuhan, maafkan aku. Aku menjadi penghukum dan mendahului takdir. Lindungi keluargaku dari marabahaya. Ameen.~batin Zain.
Melihat situasi sudah terkendali, Zain melangkahkan kaki berjalan kembali mendekati mobil. Tanpa Zain sadari dari dalam bangunan seseorang berlari dan berusaha dengan keras mencapai ujung bangunan.
"Zaaiiin."
"Kiing."
Dooor….
Suara tembakan itu cukup jelas mengusir kesunyian. Sementara di tempat lain.
Pyaaar…..
__ADS_1
Satu gelas berisi air putih penuh terlepas dari tangan, membuat semua orang saling menatap satu sama lain.