
Abhi tersenyum, ketika dijadikan alasan sang Mommy. "Aunty, buah ini manis banget. Mau Abhi suapi?"
"Wiih, mau donk. Kapan lagi di tawarin cogan," jawab Aurel mengedipkan satu mata dan membuat semua orang tertawa.
Abhi bangun dan menghampiri Aurel, tangan kecil itu benar-benar menyuapi Aurel tanpa ragu. Kei melihat Zahra manyun, alhasil Kei mengambil mangkuk ditangan putrinya. "Sini, Rara tak suapin Mommy."
"Horeee, aaaa." seru Rara.
Kebersamaan keluarga terasa sangat kental. Sementara Ken masih fokus dengan motor milik pemandu yang sengaja dipinjam demi mempercepat perjalanan, tidak peduli dengan keramaian. Ken mengendarai motor seperti seorang pembalap. Perjalanan selama setengah jam dengan kecepatan maksimal, gerbang kediaman Ardana terlihat dari kejauhan.
Tiiin….
Satu klakson, membuat satpam lari terbirit-birit dan melihat siapa yang datang. Ken membuka kaca helm dan menurunkan kecepatan lalu berhenti di depan gerbang tanpa mematikan mesin. "Pak, buka gerbang!"
"Siap, Tuan Ken." jawab Satpam.
Sreeeek….
Suara gerbang dibuka, Ken masuk setelah memarkirkan motor di halaman. Melihat beberapa mobil van hitam terparkir rapi, membuat Ken berpikir keras. "Pak, siapa yang datang?"
Satpam buru-buru mendekati Ken, meskipun belum menutup gerbang. "Tukang reparasi atau apa gitu pak. Oh iya, orang yang suka pasang CCTV gitu."
Ken paham dan berlari kecil untuk memasuki kediaman Ardana. Dari pintu utama tidak di kunci, sementara para pelayan sepertinya dikumpulkan di gazebo. Satu pria sangat dikenal Ken, pria itu berbalik dan menatap Ken. "Kenapa kamu disini?"
"Dimana Zain?" tanya balik Ken.
Levin mengerutkan dahinya. "Apa maksudmu? Bukankah kalian liburan bersama?"
"Astaga, kita semua liburan. Bahkan kapal masih stay di dermaga karena menunggu Zain. Jika kamu tidak tahu, kemana Zain?" Ken memijat pangkal hidungnya.
Mendengar hal itu, Levin bergegas mengambil ponsel dan mencari tahu apa yang telah terjadi. Sementara dari pintu, dua anak buah berjalan tergesa-gesa dengan wajah pucat menghampiri Levin dan Ken. "Tuan, kami menemukan jasadnya."
Mendengar kata JASAD, membuat Ken menatap tanya pada Levin. Apa yang sebenarnya terjadi dan kenapa ada jasad. "Bisa jelaskan?!"
"Siapkan pemakaman, dan aku akan periksa terlebih dahulu. Sebaiknya kamu ikut, nanti juga paham." tukas Levin.
"Tapi bagaimana dengan Zain….."
__ADS_1
"Semua ini ada hubungannya, percayalah. Ayo." ajak Levin.
Ken hanya bisa mengikuti langkah Levin, situasi semakin rumit dan kata jasad masih bersemayam didalam pikiran. Mau tidak mau, Ken mengitari kediaman Ardana dan berjalan menghampiri pondok. Entah kenapa, ada rasa yang mencekam, ketika kakinya menapaki lantai dingin itu. Levin berjalan di tengah mengikuti satu anak buah yang di depan sebagai pemandu.
Menyusuri beberapa ruangan, hingga berakhir di kebun bunga mawar. Puluhan bunga mawar nampak layu dan daun mati tanpa sari. Bukankah aneh, bunga mawar di pinggiran masih segar bugar. Justru yang ditengah sudah meradang dan siap tumbang. Bukan hanya itu, beberapa sudah dicabut dan berserakan di bawah.
"Bau apa ini?" tanya Ken menutup hidungnya.
Aroma tak sedap tercium begitu menyengat menusuk hidung, Levin sudah terbiasa dan bersikap biasa. Satu anak buat tadi mencabut sisa bunga mawar mati dengan mudah. Perlahan cangkul digunakan untuk menggali hingga beberapa menit berlalu, kain putih bercak merah terlihat menyatu dengan tanah.
Levin mengangkat tangan, anak buah yang di bawah memahami kode itu dan keluar dari lubang. Levin memilih jongkok dan tangan yang cukup mencapai kain putih, menyibakkan kain secara perlahan. Ken yang melihat isi dari kain itu langsung berpaling. Bukan apa-apa, jasad itu salah satu pelayan di kediaman Ardana dan kenapa menjadi mayat mengenaskan.
"Lakukan pemeriksaan dan dimakamkan dengan layak!" titah Levin.
Levin berdiri setelah menutup kain dan menghampiri Ken. "Sebaiknya, kamu ikut aku ke atas. Ayo."
Tidak ada jawaban, Ken hanya mengekor. Pikiran dan perasaan semakin tak tenang, tangga itu terasa sangat panjang untuk dilewati. Levin berhenti di kamar yang digunakan oleh guru si kembar. Tangan yang memakai sarung tangan, membuka knop pintu.
Kriiieet…
Hembusan udara dingin seakan menyampaikan pembantaian yang telah berlalu. Aroma harum parfum dan anyir darah seakan menyatu. Ken memilih berdiri didepan pintu, sedangkan Levin mengobrak-abrik isi kamar hingga menemukan beberapa benda penting.
"Tidak ada yang kebetulan, apa Zain tidak mengatakan apapun?" tanya Levin mengamankan semua bukti.
Ken menatap Levin penuh selidik. "Apa yang terjadi, bisa jelaskan!"
Levin membalas tatapan Ken dengan tatapan mata dalam. "Ery adalah kembaran Cherry. Tapi, yang menyamar menjadi Ery adalah Cherry. Wanita yang tiada beberapa tahun silam adalah Ery bukan Cherry…."
"Tuan, kami mendapatkan laporan terjadi baku hantam di kawasan perumahan terbengkalai milik musuh," lapor satu anak buah dengan nafas ngos-ngosan.
"Siapkan semuanya, kita harus cepat!"
Levin langsung menyambar bukti dan menentangnya ditangan kiri, Ken ikut berlari menyusul Levin dan anak buah milik mafia.
Kepanikan terjadi, Ken memilih memakai motor bersama Levin. Sementara pasukan berada di mobil van, sisanya tetap melanjutkan pekerjaan yang telah direncanakan.
Dalam keadaan pikiran dan perasaan tertuju pada Zain, Ken masih berusaha fokus mengendarai motornya. Levin sadar jika Ken dalam keadaan tidak baik. "Kita akan berusaha yang terbaik. Fokus, agar kita bisa bekerjasama."
__ADS_1
Ken mengangguk, dan fokus pada jalanan. Perjalanan selama dua puluh menit terasa seperti satu jam. Levin mengarahkan agar mobil berjalan di depan dan menepuk pundak Ken untuk berhenti sedikit jauh dari tempat baku hantam.
Tapi, tidak ada suara apapun. Para anak buah yang keluar dari mobil dan memeriksa keadaan pun seperti tidak mengeluarkan satu peluru pun. Levin turun dari motor diikuti Ken, keduanya berlari ke tempat yang di maksud.
"Tuan, sebelah sini," seru salah satu anak buah.
Levin bergegas menghampiri anak buahnya, salah satu anak buah yang biasa mengawal Zain sudah terkapar dan masih berjuang diantara hidup dan mati. "Dimana Zain?"
"Wanita ituu membawa….."
Taak…
Tangannya terkulai, nafas tak lagi ada. Levin menatap nanar, dengan berdiri dan melihat seluruh anggota yang terluka dan tidak main. Terlebih ada beberapa orang asing yang bukan termasuk mafia King. Ken memeriksa satu persatu dan semua sudah tidak bisa diselamatkan. "Damn it! Levin, apa yang terjadi? Kenapa seperti ini."
"Aku tidak paham, Zain terlalu nekat. Sudah kubilang untuk bersabar. Kenapa jadi seperti ini." racau Levin.
"Apa maksudmu?" tanya Ken mencengkram kemeja Levin dengan murka.
Cengkraman Ken tak mempengaruhi Levin, lebih dari Ken. Justru dirinya merasa bertanggung jawab jika terjadi sesuatu yang buruk pada Zain. "Aku memberikan bukti tentang Cherry yang melakukan operasi plastik dan menggantikan posisi saudara kembarnya. Tragedi beberapa tahun silam, yang berkorban adalah Ery bukan Cherry. Selama ini, Cherry berada di rumah sakit jiwa dan menjalani terapi. Sayangnya, Robert mengeluarkan wanita itu karena kasihan."
Levin menghirup udara sebelum melanjutkan cerita.
"Obsesi Cherry berujung pada pembunuhan Robert dan pelayan di rumah Ardana. Semua itu kudapatkan dari beberapa sumber dan juga seseorang yang tiba-tiba mengirimkan sebuah paket bukti identitas wanita itu. Intinya Zain sudah tahu jika File Ghosh Twins sudah dibuka…."
"Sekarang bagaimana? Kamu tahu, Zain menyembunyikan rahasia selama dua tahun. Apa kamu pikir, Zain akan bicara terbuka terlebih mengenai hal serumit itu. Lihat, sekarang kita mau cari Zain dimana? Aku tidak peduli kalian kau melakukan apa, cari Zain ke lubang semut sekalipun!" Ken murka dan menghempaskan tubuh Levin.
Beruntung pria tangan besi itu memiliki keseimbangan yang bagus. Kemarahan Ken sangat beralasan dan ini memang salahnya. Tidak seharusnya memberikan bukti tanpa melakukan tindakan, bagaimanapun Zain bukan seorang pemimpin yang mau berpangku tangan.
"Kami akan lakukan pencarian di semua tempat, tapi bagaimana dengan keluarga?" cetus Levin.
Ken menarik nafas dalam, emosi yang membludak harus dikontrol. "Waktumu sampai nanti malam!"
Ken berlari meninggalkan tempat perkara dan kembali mengendarai motornya. Di tengah langit mendung, gerimis perlahan turun menyapa. Bukan hanya darah yang mendidih, tak ada ketenangan sedikit pun di dalam hati Ken. Kenyataan yang baru didengar seperti sebuah kutukan tanpa obat penawar.
Zain dimana kamu? Kenapa bertindak sendirian, kau anggap aku apa? Bagaimana aku mengatakan pada istrimu, Mama, Papa dan Oma. Bagaimana dengan si kembar dan aku. Kenapa, kenapa bertindak sesuka hatimu. ~batin Ken.
Dibalik helm, air mata Ken ikut mengalir, kebingungan, kekecewaan dan rasa sesak di dada Ken, berbeda dengan rasa puas dari wajah seorang pria yang telah menyelamatkan mainannya.
__ADS_1
"Bagaimana? Mau tanda tangan atau?"