
Braaaak
"Bang apa itu?" seru Aurel kaget dengan suara benda bertabrakan yang terdengar jelas.
Ken segera membuka pintu dengan memeluk baby Zee, note terjatuh ke bawah dan Aurel ikut bergegas menyusul keluar mobil. Banyak orang tiba-tiba berkerumun di jalan samping tempat parkir, bisikan orang-orang cukup mengusik Ken dan Aurel.
"Siapa dia? Apa ada yang tahu? Kasihan sekali."
"Sepertinya korban mobil itu…."
"Darahnya banyak sekali….''
Hingga tangan kiri Ken mencoba meminta jalan untuk melihat apa yang terjadi, matanya tak bisa berbohong. "Elis…."
"Bang ini….'' Aurel memegang lengan Ken untuk mengurangi rasa terkejutnya.
Tubuh Elis bersimbah darah, kepala yang bocor dan mata melotot. Seorang dokter tengah memeriksa keadaan Elis tanpa rasa takut dan jijik. "Cepat bawa tandu!"
"Kalian bisa membubarkan diri, tolong beri jalan untuk kami melakukan pertolongan pada korban." ucap Dokter dan membuat semua orang bubar satu persatu.
"Dok, bagaimana keadaannya?" tanya Ken dengan nada berat menatap sang dokter.
Dokter muda dengan name tag dokter Syarif menatap Ken sesaat. "Anda keluarga korban? Sebaiknya urus masalah kasus tabrak lari dan temui saya di ruangan pasien. Saya akan melakukan pengobatan terlebih dahulu, semoga pasien tertolong."
"Aku akan ikut dengan dokter Syarif. Bang mau baby Zee ikut bersamaku atau?" cetus Aurel dengan serius meskipun masih terlihat shock.
Ken mengusap kepala Aurel dan memberikan kode mata, agar Aurel pergi bersama dokter Syarif. Terlebih Elis sudah dibawa masuk ke rumah sakit dengan tandu oleh beberapa perawat. Aurel mengangguk dan mengekor di belakang dokter Syarif. Sementara Ken berjalan mendekati satpam yang mengamankan mobil si penabrak lari.
"Pagi pak. Bagaimana status kasus kecelakaan yang baru saja terjadi?" Ken mengulurkan tangan kanan untuk bersalaman.
__ADS_1
Satpam menyambut uluran tangan Ken. "Semua terjadi dengan cepat, disaat keadaan sepi. Tetapi ada yang aneh, mobil ini kosong tanpa pengemudinya. Bapak bisa lihat sendiri."
Ken melihat isi di dalam mobil ketika satpam rumah sakit membuka pintu depan. Memang benar ucapan satpam itu, kosong dan jika tidak salah penafsiran maka mobil dikendalikan dari jarak jauh. "Pak bawa saya ke ruangan CCTV!"
"Maaf pak, sebaiknya kita menunggu polisi…."
"Artinya bapak siap dipecat? Saya keluarga Ardana." ucap Ken dengan jelas dan tegas.
Terlihat wajah satpam memucat dan salah tingkah. "Mari pak, maaf atas kelancangan saya."
"Hmmm.'' Ken mengikuti satpam berjalan masuk kedalam rumah sakit untuk memeriksa rekaman CCTV, sementara Aurel memasuki ruangan UGD bersama dokter Syarif.
"Anda ingin membantu atau hanya melihat?" Dokter Syarif melirik Aurel yang berdiri di sebelahnya.
Aurel masih menatap kondisi Elis, dan pikirannya tengah melanglang buana keluar dari dunia nyata. Hingga tepukan pelan terasa mendarat di lengannya, membuat Aurel sadar kembali. "Eh iya, ada apa?"
"Sebaiknya anda istirahat, biar saya sendiri yang tangani." Dokter Syarif memulai melakukan pengobatan dengan tangan yang terbalut sarung tangan khusus.
Untuk pertama kalinya, darah menjadi pantangan. Apa ada yang salah dengan dirinya? Selama ini tidak sekalipun ada rasa jijik apalagi mual ketika melihat darah di ruangan operasi. Tapi kali ini, perutnya bergejolak dan tidak tahan melihat darah yang keluar tanpa henti. Rasa pening di kepala yang berputar, membuat Aurel memegangi kepalanya. "Sakit, ada apa denganku…."
Tubuh Aurel semakin lemah dan perlahan menyandarkan tubuhnya ke dinding sembari menahan kepala yang semakin berputar. Pandangan mata Aurel semakin kabur dan menyambut kegelapan. Aurel terkulai lemas tak sadarkan diri dengan posisi duduk dan bersandar di dinding.
Sementara di ruangan CCTV, Ken masih mengamati adegan penabrakan Elis yang dilakukan sebuah mobil Jazz warna merah. Mobil yang datang dengan laju kencang langsung menerjang tubuh Elis yang keluar dari wilayah parkiran. Mobil langsung berhenti ditempat kejadian, orang-orang berlarian berkumpul dalam waktu singkat. Tidak ada tanda si penabrak turun, hingga seorang pria menggedor kaca mobil dan membuka pintu mobil yang kosong tidak ada siapapun.
"Putar semua CCTV dari semua sudut!" titah Ken sembari menimang Zee yang menguap berulang kali.
Satpam dan dua orang petugas CCTV melakukan perintah Ken tanpa bertanya lagi, semua CCTV dengan puluhan sudut terlihat jelas. Ken mencari celah di setiap sudut, namun tidak ada yang mencurigakan. Hingga salah satu kamera dengan arah jalan, menangkap gambar sebuah van hitam yang terbuka sedikit jendela depannya. Sebuah tangan muncul dengan tangan menggenggam. "Perbesar layar CCTV nomor lima!"
Sang operator CCTV menggerakkan mouse di tangan kirinya dan membuat satu layar fokus memenuhi layar. Ken menghentikan pergerakan sang operator ketika mobil van terlihat jelas ada goresan di bagian samping mobil, ingatan beberapa waktu lalu tentang penabrakan di ruas jalan raya. "Itu sepertinya mobil yang sama, kerahkan semua keamanan di rumah sakit, sekarang juga!"
__ADS_1
"Siap tuan." jawab satpam rumah sakit dan langsung berkoordinasi dengan semua keamanan rumah sakit, sementara Ken masih mengamati CCTV dengan serius.
Tap!
Tap!
Tap!
"Permisi, tuan dokter Aurel tak sadarkan diri di kamar mandi." lapor seorang suster dengan nafas ngos-ngosan.
"WHAT'S?! Bawa aku kesana!" titah Ken dan memeluk Zee lebih erat, langkah kakinya berjalan ke arah pintu dan membiarkan suster pembawa berita berjalan terlebih dahulu.
Tanpa peduli orang-orang yang memandangi dirinya dengan ekspresi bingung, Ken berjalan begitu cepat dan tidak sabaran. Keduanya berjalan melewati beberapa lorong dan berhenti di depan ruangan melati, suster membuka pintu dan mempersilahkan Ken masuk. Ken masuk terlebih dahulu, terlihat dokter Syarif tengah berbicara dengan seorang perawat. "Apa yang terjadi dengan Incess dok?"
"Apa anda suaminya?" tanya dokter Syarif dengan ekspresi serius.
Pertanyaan dokter Syarif, membuat Ken mengernyitkan alis. Apa hubungan seorang suami dengan pingsannya Aurel, terlebih wajah dokter Syarif seperti tengah memendam sesuatu. "Saya calon suami dokter Aurel. Bisa jelaskan apa yang terjadi pada Aurel?"
"Huft…. Jadi, menurut hasil pemeriksaan. Dokter Aurel tengah mengandung empat minggu, akan tetapi kandungannya bermasalah. Sebaiknya lakukan pemeriksaan di dokter kandungan, saya harap anda bisa mendukung dan menjaga calon istri sekaligus calon anak kalian. Ini resep vitamin dan lebih baik dokter Aurel bedrest total untuk sebulan kedepan." Dokter Syarif menjelaskan serta memberikan selembar kertas bertuliskan beberapa jenis vitamin dan obat.
Seperti sebuah petir tanpa hujan, Ken menerima kertas dari dokter Syarif. Kini matanya teralihkan pada wanita yang terbaring di atas brankar, wajah pucat dengan mata terpejam. Siapa sangka, wanita yang baru dirinya terima ternyata tengah berbadan dua. "Dok, simpan berita ini dari siapapun termasuk Aurel. Biarkan aku sendiri yang memberitahu soal kehamilannya."
"Baik, jika begitu saya permisi. Ayo suster." pamit dokter Syarif berjalan meninggalkan ruangan rawat Aurel bersama suster.
Kepergian dokter Syarif, membuat Ken berjalan mendekati brankar Aurel dan duduk di kursi yang tersedia. Sejenak Ken menatap sang putri yang terlelap dan sangat nyaman berada di dalam pelukannya. Ada rasa kecewa di dalam hati, namun saat ini keadaan kesehatan Aurel lebih penting dari kekecewaan yang dirinya rasakan.
Aku tidak tahu siapa ayah dari anakmu, tapi aku siap menjaga dan melindungimu. Ku harap kamu kuat dan tetap berjuang, aku sayang kamu Aurel. Semoga kita bisa melewati ini semua.~batin Ken dan mengusap pipi Aurel.
Penerimaan Ken akan menjadi awal baru hubungan keduanya. Tanpa Ken sadari fokus yang terbagi, membuat seseorang melakukan aksi nekat dengan misi terselubung. Langkah kaki yang mengendap-endap dan memasuki ruangan ICU. "Selamat jalan."
__ADS_1
Sebuah jarum suntik yang berisi cairan racun, disuntikkan ke dalam infus. Perubahan warna menjadi kekuningan, cairan perlahan memasuki tubuh seorang pasien dan reaksi kejang-kejang langsung terjadi. Setelah memastikan racun berhasil, orang itu keluar melalui pintu masuk dan menurunkan topi agar menutupi wajahnya kembali.
Bruug....