
Ceklek....
"Boleh aku....?"
Belum sempat menyelesaikan ucapannya, tubuh yang baru nongol setengah terdorong masuk dan seseorang dibelakang menutup pintu dengan pelan. "Jangan seperti itu lagi, tidak baik berhenti di tengah pintu."
"Ekhem! Apa kalian salah kamar?" Kei meletakkan baby Zee ke tempat semula.
Kenzo memberikan isyarat agar Aurel mendekat ke Kei, Kei paham arti sikap kakaknya. "Ka, aku ke bawah dulu. Sebaiknya bawa baby Zee ke bawah juga, Aurel bisa bantu aku gendong baby Zee?"
"Siap. Hehehe maaf aku gugup." ujar Aurel dengan tautan dua jari telunjuk seperti anak kecil.
Kei mengangguk dan kembali mengambil baby Zee, Aurel mendekati Kei dan menerima baby Zee dari Kei. "Manis sekali, babang kenapa matanya mirip kamu?"
"Dok, baby Zee putrinya Ka Ken. Pasti memiliki kemiripan atuh." cetus Kei gemas dengan ucapan Aurel, Ken terkekeh melihat dua wanita di depannya seperti adik dan kakak.
Kei menatap Ken dengan sinis, dan melenggang kan kaki meninggalkan kamar mertuanya. Kepergian Kei, membuat Aurel sibuk menguyel pipi baby Zee. Sontak baby Zee menangis karena terganggu tidurnya.
"Cup sayang, sini sama papa nak. Maafin tante incess ya." Ken langsung mendekati Aurel dan mengambil baby Zee dari gendongan sang kekasih.
Bibir Aurel maju beberapa senti, tetapi melihat cara Ken menenangkan baby Zee. Justru membuat hatinya tenang, Ken memang sosok dewasa namun jail. Seakan Ken diciptakan untuk melengkapi kekurangan dalam dirinya. Tidak ada yang bisa menggantikan posisi sang duda tampan di hatinya. "Mas boleh aku coba?"
Ken menghentikan kegiatannya mengayun sang putri di dalam pelukan dan menatap Aurel dengan kasih sayang. "Jangan seperti tadi, biarkan Zee banyak istirahat. Kondisinya masih harus diperhatikan."
Tangan Aurel terangkat dan memberikan hormat. "Siap babang Ken. Ayo Zee, mommy datang."
"Mommy? Apa kamu sudah siap memiliki anak?" tanya Ken sembari memberikan Zee pada Aurel.
__ADS_1
Aurel mengangguk dan menerima Zee, dengan satu kecupan di kening. "Aku mencintaimu dan menerima semua tentangmu, aku tidak akan munafik. Sebagai wanita ingin memiliki pasangan yang sempurna dan aku menjadi wanita pertama yang memiliki hak untuk memberikan keturunan. Tetapi, hatiku memilihmu tanpa ku minta. Tidak ada penyesalan dariku, aku siap belajar menerima semua kekurangan dan kelebihanmu. Ku harap hal sama dari mu, karena aku bukan wanita yang menjadi cinta pertamamu."
Kenzo memeluk Aurel serta mencium putrinya dengan lembut, Zee berulang kali menguap. "Jika aku ingin bermain, sudah pasti aku menerimamu dari dulu. Aku tidak ingin memberikan harapan palsu, percayalah aku hanya ingin kebahagiaan sederhana. Sama seperti adikku Kei, karena itu aku dan Kei satu jalur. Sekarang ayo kita keluar, yang lain pasti sudah menunggu."
"Ayo, babang Ken jangan genit lagi ya!" tukas Aurel dengan senyuman manis.
Kenzo mengusap rambut Aurel dengan gemas. "Jangan pernah berhenti percaya, jika ada keraguan di hatimu. Cukup datang padaku dan tanyakan. Terkadang apa yang kita lihat tidak seperti kenyataannya."
"Siap mas duda sayang." jawab Aurel dan mengeratkan gendongan baby Zee, meskipun dirinya seorang dokter bukan berarti terbiasa menggendong bayi. Langkah keduanya berjalan menyusuri setiap marmer menuju ruang makan di lantai bawah.
Sementara seluruh anggota tengah duduk bersama dan mulai menikmati sarapan, termasuk Ery duduk di samping si kembar dan memakan roti bakar. Kei yang melihat Ken dan Aurel turun, memberikan isyarat pada Zain melalui kerlingan mata. Zain mengikuti arah tatapan sang istri. "Pasangan baru segera menyusul, bagaimana jika kita resmikan segera?"
Ucapan Zain sontak membuat semua orang menatap ke arah tangga dan tersenyum menyambut kedatangan Kenzo, Aurel dan baby Zee. Tentu saja kebahagiaan di wajah Ken juga menjadi kebahagiaan anggota keluarga Ardana. "Boleh tuh nak, sekalian weekend bagaimana?"
"Kalian ini sukanya buru-buru, kami baru memulai. Iya kan incess?" Ken meminta persetujuan dari Aurel.
Ken menggaruk kepala yang tidak gatal, niat hati ingin melakukan pacaran terlebih dahulu dan kini pasti akan berubah alur. Kei yang paham. Jika kakaknya tengah belajar membuka hati, akhirnya menghela nafas. "Sebaiknya kita serahkan pada Ka Ken dan Aurel. Keduanya sudah dewasa, dan baby Zee membutuhkan kasih sayang kedua orang tuanya. Berikan keduanya waktu, ayo kita lanjutkan sarapan."
Ucapan Kei mampu mengubah ekspresi semua orang, namun bukan kekecewaan melainkan terharu. Tangan Zain menggenggam tangan Kei dan senyuman di bibir Zain seperti sebuah rasa syukur. Semua kembali duduk di tempat masing-masing. "Thanks de."
Kei mengangguk dan kembali melanjutkan makan, untuk saat ini lebih baik membiarkan semua terjadi apa adanya. Termasuk hawa panas di sekitarnya. Tanpa melihat pun, Kei bisa merasakan kecemburuan dari seseorang.
"Sini biar aku yang gendong Zee, dan kamu sarapan terlebih dahulu. Bukankah ada jadwal operasi hari ini?" tutur Ken dan berniat mengambil baby Zee dari pelukan Aurel.
Baby Zee kembali menangis, tidurnya kembali terusik setelah menemukan kenyamanannya. Aurel segera mendorong kursi dan menimang baby Zee seperti yang dilakukan Kenzo di kamar. Mom Raina ikut mendekat, dan merayu baby Zee agar kembali tenang. Kesempatan itu digunakan seseorang untuk meninggalkan meja makan. Namun, Kei masih bisa melihat perbuatan tamu sementara dirumahnya itu.
Sendok diletakkan dan Kei memberikan kode pada suaminya untuk menyusul keatas. "Nak, kalian belajar yang rajin ya. Mom harus menyiapkan pakaian kantor papa dulu."
__ADS_1
"Siap mom, eh dimana miss Ery?" jawab Rara dengan melihat ke sampingnya sudah tidak ada gurunya.
"Mungkin tengah bersiap, selesaikan sarapan kalian dan tunggu miss Ery diruang keluarga. Mas mau aku siapkan air hangat?" Kei mendorong kursi dan berdiri.
Zain ikut meletakkan sendok dan mengelap bibirnya dengan tisu. "Aku ingin mandi dengan air segar, kami pamit dulu. Anak-anak ingat kalian harus serius belajar, jangan seperti uncle Kenzo."
"Eits, papa Zain jangan bawa nama ku. Inget siapa yang ngajakin bolos saat ujian berlangsung?" sindir Ken dengan nada protes.
Zain hanya tersenyum smirk dan merengkuh pinggang Kei. "Makanya kalau ujian belajar, masih mending aku ajak bolos. Hasilnya kamu bisa ikut mengulang tes susulan, jika tidak? Remidi pasti."
"Iya deh tuan Perfect. Anda memang juaranya." Ken mengalah demi menjaga masa depan, tidak akan dirinya biarkan, semua masa lalu di telanjangi oleh bos sekaligus saudaranya itu.
Aurel yang penasaran dengan maksud ucapan Zain, menyimpan satu pertanyaan dan pasti akan ditanyakan nanti saat memiliki waktu berdua bersama babang Kenzo tersayang.
"Nyonya bisa minta waktunya sebentar?"
...~~~~...
*Hay readers, othoor mau umumin sesuatu π₯°
Hari ini othoor resmi punya GC Bulan Sabit. π
Ayo siapapun boleh ikut gabung, bisa nambah temen dan berbagi pengalaman atau mendengarkan cerita teman.
Siapapun boleh ikut dan othoor menanti kalian.. π*
__ADS_1