My Love Is Stuck With Tomboy Girl

My Love Is Stuck With Tomboy Girl
Bab 62: Special part #Taktik Oma dan Janji Kei


__ADS_3

"Sudah ku bilang, ada yang tidak beres dengan wanita itu. Tidak bisakah kita usir sekarang? Kenapa masih harus menunggu?"


Satu tangan terangkat dan memberikan isyarat agar diam, perdebatan tidak berguna. Apapun yang akan dilakukan harus dipikirkan terlebih dahulu, dari senyuman Ery bisa terlihat jelas. Jika wanita itu bukan wanita sembarangan dan datang tanpa persiapan. "Pergilah, biarkan aku sendiri!"


"Ma, ayo kita bicarakan ini bersama. Bukankah Zain harus tahu soal ini? Terlebih lagi si kembar pasti menghabiskan waktu bersama dengan guru itu, sebaiknya kita ganti gurunya." Dad Arza memilih duduk dan mengkode istrinya agar ikut duduk dan tenang.


Mom Raina menurut dan duduk menyandarkan punggungnya ke sofa, oma Diana menghela nafas. Ketenangan rumahnya kembali terusik, setelah beberapa tahun hidup damai. "Bagaimana dengan mafia kita? Apa semua berjalan lancar?"


"Zain menyerahkan seluruh tanggung jawab pada tangan kanannya dan memilih fokus menjaga keluarga. Terlebih setelah Robert memberitahu, jika Cherry memiliki saudara kembar terbuang." jelas dad Arza.


Oma Diana mengangguk paham, sepertinya ada yang terlewat. Akan tetapi, apa yang terlewati olehnya. Kasus penculikan di masa lalu atau penculikan beberapa tahun silam. "Apa jasad itu benar-benar Robert? Atau ada udang di balik batu?"


Dad Arza menggelengkan kepala. "Itu jasad Robert, dan sudah dipastikan. Hanya saja pelakunya masih tidak jelas, pembunuhan dilakukan tanpa meninggalkan jejak. Asisten King masih melakukan penyelidikan."


"Lebih baik kita turun dan sarapan. Bersikaplah biasa dan jangan bertindak gegabah. Ayo." ajak oma Diana dan menutup laptopnya.


"Ma?" cegah mom Raina.


"Tidak sekarang nak, beberapa hal biarkan mengalir seperti air. Jika lawan bermain cantik, kita harus lebih cantik. Dekati lawan bukan serang. Awasi lawan dengan uluran pertemanan. Ayo." Oma Diana bangun dari tempat duduknya dan berjalan menuju pintu kamar, diringi anak dan menantunya.


Bersamaan dengan ketiganya, Zain bersama Kei dan si kembar juga keluar dari dalam kamar. "Mom, mau sama nenek buyut."


Kei mengangguk dan memberikan si kembar berlari ke arah oma Diana dan kedua mertuanya. Mata Kei melihat tidak ada baby Zee. "Mom dimana baby Zee?"


"Baby Zee masih tidur nak. Biar mama periksa." jawab mom Raina.

__ADS_1


"Biar aku saja mom. Kalian duluan sarapannya. Mas, boleh?" ucap Kei dan menatap Zain.


Zain mengangguk dan melepaskan tangannya dari pinggang sang istri. Semua berjalan ke arah tangga, selain Kei yang memilih memasuki kamar mertuanya untuk memeriksa keadaan baby Zee. Kamar dengan gaya klasik dan tirai biru navy menambah kesan kuno. Mata Kei tertuju pada dua bantal guling diatas ranjang. Diantara guling besar itu, baby Zee berada dengan mata terpejam dan bibir tersenyum.


Kei menggendong baby Zee dengan hati-hati, wajah manis, hidung mungil, bibir merekah dan kulit putih baby Zee sungguh menjadi pantulan cermin seorang wanita yang tegar dan kuat. Hati Kei terasa sesak, beban didalam hati yang terpendam tanpa kata. Ingatan dimana janji dari bibirnya terucap, kini menjadi tusukan demi tusukan. Semua mengira tidak ada yang tahu keadaan istri Kenzo. Sayangnya Kei harus bungkam seumur hidup di atas janji yang terucap.


Beberapa bulan yang lalu....


Ditengah pesta ulang tahun si kembar, dimana semua orang sibuk dan tersenyum bahagia. Wajah pucat Selena, membuat Kei cemas dan menghampiri istri kakak angkatnya. "Ka, ada apa? Apa sakit? Sebaiknya aku panggil ka Ken. Tunggu…"


"Jangan. Bantu aku ke kamar saja." Selena menahan tangan Kei dengan wajah memelas.


Wajah pucat Selena, membuat Kei setuju dan mengantarkan istri Ken ke dalam kamar pesanan. Baru saja pintu tertutup, tubuh Selena sudah limbung dan hampir membentur pintu jika Kei tidak sigap dan menahan tubuh Selena. Kei membantu Selena untuk duduk di sofa, memberikan air putih dan melepaskan sepatu heels rendah di kaki Selena. "Tunggu, biar Kei panggil Ka Ken."


"Berjanjilah satu hal padaku Kei, bisa?" ucap Selena menarik tangan kanan Kei ke atas kepalanya.


Kei berniat menarik tangannya, tetapi Selena memberikan kode mata jangan. Hembusan nafas kasar terdengar, Kei memejamkan mata sesaat. "Katakan. Apa yang ka Selena inginkan?"


"Berjanjilah untuk diam sampai jiwa memisahkan diri dari raga. Kei janji lah padaku, kamu tidak akan pernah mengatakan apapun pada siapapun tentang kondisi ku." pinta Selena dengan genggaman erat di tangan Kei.


Bagaikan petir menyambar tanpa kilatan cahaya, permintaan Selena menjebak Kei. Selama ini Kenzo menjadi seorang kakak dan teman yang baik, bahkan tidak ragu bertengkar dengan Zain demi dirinya. Tapi sekarang, Selena meminta dirinya berjanji puasa bicara untuk seumur hidup. Sungguh tidak ada yang bisa Kei katakan, tidak ada satu kata yang tersisa. Merasa Kei berat dengan janji yang diminta, Selena bangun dari tempat duduknya dan mengambil satu pisau buah.


"Kei, berjanjilah atau?" ancam Selena dengan menaruh pisau tajam tepat di pergelangan tangannya.


Mata Kei membulat, bagaimana bisa Selena senekat itu, bahkan kondisinya saat ini tengah hamil. "Ka! Lepas itu, Kei mohon lepas ka."

__ADS_1


"Tidak! Janji dulu baru ku lepas, Kei berjanjilah. Waktuku tidak banyak." jawab Selena dan menekan pisau, kulit putihnya tercemar dengan warna merah yang merembes.


Aksi nekad Selena, sukses membuat Kei terjatuh lemas. Wajah cemas dan sedih Kei terlihat jelas, Kei mengulurkan tangannya. "Aku berjanji akan diam seumur hidupku, semua tentang malam ini akan menjadi rahasia diantara kita. Sekarang lepaskan pisau itu ka!"


Triing…..


Pisau terlepas dan jatuh ke lantai, Kei buru-buru bangun dan menendang pisau itu menjauh dari Selena, dengan lembut Kei membawa Selena kembali duduk disofa. Tidak ada satu kata pun yang keluar dari bibir Kei, Selena membiarkan Kei mengobati luka di pergelangan tangannya. Keheningan membuat keduanya larut dalam pikiran masing-masing.


Kei menutup kotak obat dan berniat meninggalkan tempat duduknya, sekali lagi tangan Selena menghentikan pergerakan Kei. "Aku tidak akan ikut campur, kuharap kejujuranmu ada untuk ka Ken. Jangan katakan jika kamu tidak ingin mengatakannya."


Tok!


Tok!


Tok!


Ketukan pintu membuat lamunan Kei terbang. "Masuk!"


Ceklek....


"Boleh aku....?"


Belum sempat menyelesaikan ucapannya, tubuh yang baru nongol setengah terdorong masuk dan seseorang dibelakang menutup pintu dengan pelan. "Jangan seperti itu lagi, tidak baik berhenti di tengah pintu."


"Ekhem! Apa kalian salah kamar?" Kei meletakkan baby Zee ke tempat semula.

__ADS_1


__ADS_2