
Pyaaar....
Suara benda jatuh, membuat seluruh penghuni kediaman Ardana terkejut dan berlari ke arah sumber suara. Dengan memasuki sebuah kamar tamu, namun Zain menahan Kei agar istrinya membawa anak-anak ke kamar. Kei menurut, mungkin lebih baik menjaga si kembar.
Nyonya Diana yang masuk pertama kali ke dalam kamar. Menatap semua kekacauan yang ada di depan matanya. "Apa yang kamu lakukan?"
Seorang wanita berambut emas berdiri di sudut ruangan dan pecahan dua vas bunga di depannya, terlihat jatuh disengaja. Meskipun dari ekspresi wajah wanita itu tengah ketakutan. Tidak salah dari penglihatan Nenek Diana. Wanita rambut emas memiliki sesuatu yang tersembunyi. Mom Raina mengusap lengan ibu mertuanya. "Nona Ery are you okay? Tetaplah disitu! Bi tolong bersihkan serpihan vas dulu, takut anak-anak lari dan main sembarangan."
"Baik nyonya." sahut bibi senior yang ikut ke tempat keributan.
Kepergian bibi senior, membuat Zain membalikkan badan dan berjalan menjauh dari kamar Ery. Tentu mommynya sudah cukup mengatasi keadaan. Lebih baik dirinya melihat keadaan si kembar. Ery yang melihat Zain tidak peduli, mengepalkan tangannya. Matanya berubah merah. Niat hati ingin menarik perhatian Zain, akan tetapi usahanya sia-sia.
Zain memutar knop pintu kamar anak-anak, dan benar saja Kei tengah memeluk si kembar dengan penuh cinta. Zain masuk ke kamar dan tersenyum. "Sepertinya papa juga membutuhkan pelukan. Apa ada yang mau memeluk papa? Atau papa yang peluk kalian?"
Si kembar saling pandang, dan Kei tersenyum. Pelukan si kembar semakin erat, membuat Zain paham drama kedua buah hatinya itu. "Sayang sekali tidak ada yang mau peluk papa. Bagaimana jika liburannya ditunda saja."
"Jangaaan." seru si kembar serempak dan berpindah memeluk Zain.
Cup
Cup
Dua kecupan di kening si kembar. Namun Kei masih diam ditempat dan tersenyum.
"Kei?" panggil Zain, membuat Kei bangun untuk bergabung dengan memeluk sang suami dan si kembar di tengah.
Tuhan jagalah dan lindungi kebahagiaan kami. Semua doaku untuk senyuman keluargaku, jauhkan kami dari marabahaya. Semoga niat buruk orang-orang menjauh dari kami. Ameen. ~ batin Kei dan mengeratkan pelukan.
Cup
Zain mengecup puncak kepala Kei. Rasa syukur akan kenyataan hidupnya semakin membaik. Semua terjadi saat wanita dengan penampilan tomboy memasuki kehidupannya. Satu-satunya wanita yang mampu membangkitkan semangat hidupnya dan mengajarkan arti cinta. Keisha Siregar menjadi separuh nyawanya.
"Mas, kita liburan kemana?" tanya Kei tanpa melepaskan pelukan.
Rara mendongakkan wajah kecilnya. "Pa mau lihat ikan terbang."
"Ra itu lumba-lumba. Bukan ikan terbang." Abhi membenarkan maksud Zahra.
__ADS_1
Rara mengerucutkan bibirnya. "Itu ikan terbang. Pokoknya ikan terbang."
Zain mengusap kepala Rara. "Itu ada di tempat khusus nak. Kali ini, papa siapkan liburan special. Surprise. Jadi selama beberapa hari, kalian harus belajar yang rajin. Understand?"
"Understand." jawab si kembar kompak.
"Mas, ajak anak-anak ke ruang makan. Biar aku panggil papa." pinta Kei melepaskan pelukannya.
"Bawa anak-anak dan aku yang akan panggil papa. Sekalian, oma dan mom." tutur Zain dan Kei mengangguk.
"Pa jangan lama-lama." Si kembar digandeng Kei dan berjalan meninggalkan kamar bermain.
Zain mengangguk dan ikut menyusul keluar. Langkah Zain menuju kamar kedua orang tuanya. Kamar yang tertutup.
Tok!
Tok!
Tok!
"Masuk!" titah dad Arza.
Zain memutar knop pintu dan masuk, tak lupa menutup pintu kamar setelah berpindah ke dalam kamar. Terlihat dad Arza baru selesai mengeringkan rambut. Baby Zee masih terlelap, membuat Zain menghampiri tubuh mungil dengan senyuman manis saat menikmati mimpi indah. "Manisnya. Ken harusnya bisa manis, tapi ternyata papa mu itu galak nak. Jangan ditiru ya."
Mendengar curahan hati Zain pada bayi terlelap, membuat dad Arza geleng-geleng kepala. "Nak, papa mu masih masuk level aman. Beda lagi dengan papa kedua mu. Macan pun lewat."
"Jangan dengerin opa ya. Baby Zee kan putri papa Zain. Semoga baby Zee selalu sehat dan manis." Zain menggendong baby Zee dengan perasaan.
Dad Arza mendekati anaknya. Zain memang menyayangi anak-anak sama rata. "Zain, sudah ada kabar?"
"Belum pa. Papa tenang saja. Zain dan Ken sudah bersatu. Kami akan melakukan yang terbaik untuk keluarga kita. Doakan kami, semoga kami bisa menemukan DIA." jelas Zain dengan tenang.
"Doa kami selalu bersama kalian. Tapi gimana Ken?" tanya Dad Arza.
Zain terkekeh kecil. "Palingan terjebak dalam perasaan pa. Aurel ada bersama Ken."
"Kamu ini. Semoga keduanya berjodoh dan baby Zee mendapatkan bunda yang baik seperti Kei." tutur dad Arza dan tersenyum.
__ADS_1
Zain mengangguk dan mengaminkan do'a sang papa untuk saudaranya. Dukungan dan cinta Kenzo untuk keluarganya sungguh jauh lebih berarti, tidak sedikitpun ada rasa iri di hatinya. Kenzo pantas mendapatkan kebahagiaan dan cinta. Dan pastinya, seluruh anggota keluarga Ardana akan setuju jika Ken menikah lagi. Keutuhan sebuah keluarga demi masa depan baby Zee. Jika Ken bahagia, semua orang akan bersyukur dengan senyuman tulus.
Bagaimanapun, baby Zee membutuhkan sosok seorang ibu. Meskipun seluruh keluarga ada bersama. Akan tetapi, Ken dan baby Zee membutuhkan seseorang yang memperhatikan keduanya. "Ayo pa, semua sudah menunggu di meja pasti."
"Ayo nak. Tadi papa dengar barang jatuh. Ada masalahkah?" tanya dad Arza dan berjalan didepan.
Zain membawa baby Zee meskipun bayi mungil itu terlelap. "Hmm. Bukan hal penting pa. Mom sudah mengatasinya."
Keduanya keluar dari kamar dan berjalan untuk menyusuri anak tangga. Dad Arza dan Zain masih basa-basi seputar keadaan perusahaan. Hingga netra dad Arza menangkap siluet sang mama. "Zain kenapa kamu tidak bilang."
"Bilang apa pa?" tanya Zain bingung.
"Malam nak. Sepertinya umurmu lebih tua dariku. Terlalu lama tidur tidak baik nak." tukas Nyonya Diana dan menyambut sang putra dengan senyuman.
Sambutan itu, membuat Zain paham kemana arah pertanyaan sang papa. "Zain lupa pa. Oma baru datang satu jam lalu."
Dad Arza tak menjawab dan turun melanjutkan perjalanan menuju ruang makan. Dengan khidmat, mencium tangan ibu yang melahirkan dan membesarkannya. "Maaf mom. Arza ikut kebawa mimpi baby Zee."
"Kakek mimpi itu tidak bisa dibagi. Kalau ice cream bisa, kakek mau?" celetuk Rara dengan polosnya.
Semua tersenyum mendengar jawaban Rara. Dad Arza menggelengkan kepala, dan memilih duduk di kursi biasanya. "Abhi tumben ice cream mu masih utuh?"
"Tidak apa kek. Abhi makan nanti saja." jawab Abhi dan memilih menyuap buah potong ke mulutnya.
Semua anggota duduk di tempat, dan bersiap memulai makan malam. Kei yang masih berdiri untuk melayani keluarga, tak sengaja melihat Ery keluar dari kamar. "Bi, bawa miss Ery untuk makan malam bersama."
"Nak?" panggil oma Diana.
Mom Raina memberikan kode, agar ibu mertuanya itu membiarkan Kei melakukan apapun keinginannya. Kei menatap oma Diana. ''Oma mau yang lain?"
"Bisa ambilkan sayur kangkung nya?" Oma Diana mengalihkan pertanyaan lainnya.
Kei mengangguk dan mengambil mangkok tumis kangkung udah geprek. Perpaduan rasa yang nikmat, dan ini salah satu favorit keluarganya. "Segini atau lagi oma?"
"Sudah cukup. Duduklah!" titah oma dan Kei mengangguk.
Kei menarik kursi di samping Zain dan berniat duduk. Akan tetapi seseorang dengan santainya duduk di kursi tanpa permisi. "Boleh saya duduk disini?"
__ADS_1