My Love Is Stuck With Tomboy Girl

My Love Is Stuck With Tomboy Girl
Bab 56: Special part # Kembalinya Oma dan kilas tentang Aurel


__ADS_3

"Ekhem! Apa kalian lupa ada si kembar." peringatan nada berat datang dari tangga.


Suara berat itu, membuat semua menatap ke sumber suara. Wajah tegas Zain dengan kedua tangan di terlipat didada, sudah cukup menegaskan bagaimana mood pria itu. Tatapan mata Zain terarah pada Kenzo. Spontan Ken menepuk keningnya. "Aku pergi dulu, bye semua. Sabar bro.''


Kenzo berlari kecil tanpa menunggu jawaban, membuat bibir Aurel kembali cemberut. Si kembar saling pandang tak paham dengan tingkah para orang dewasa. Zain menuruni setiap anak tangga. Tapi langkah kakinya terhenti, ketika melihat Ken masuk kembali dengan wajah menunduk.


"Ken ada apa?" tanya Zain dengan suara yang cukup menarik perhatian penghuni kediaman Ardana.


Langkah kaki Ken berhenti, dan memberikan kode ke arah pintu utama kediaman Ardana. Mom Raina, Kei, si kembar, Aurel dan Zain sudah berdiri ditempat yang strategis. Seorang wanita dengan penampilan hijab melangkahkan kakinya memasuki rumah. Tidak ada koper ataupun tas besar, hanya satu tas jinjing ukuran sedang tergantung di pundaknya. "Apa kalian tidak merindukan aku?"


"Oma besar…." seru si kembar dengan berlari menyongsong Nyonya Diana.


Dengan senang hati, Nyonya Diana melebarkan kedua tangan dan memeluk kedua cucu buyutnya. Mom Raina tersenyum lega melihat mertuanya kembali. Sedangkan Zain, Kenzo dan Kei memiliki kecemasan tersendiri, berbeda lagi dengan Aurel yang auto menjaga sikap agar tidak dianggap melewati batas. Pelukan si kembar berakhir, dan kini semua orang berkumpul di satu ruangan keluarga.


"Nenek kenapa tidak bilang kalau pulang hari ini? Zain bisa menjemput di bandara." ucap Zain dengan memeluk pinggang Kei.


Nyonya Diana melirik ke arah menantunya. "Nenek hanya ingin memberikan kejutan, dan tentu saja karena nenek merindukan si kembar."


"Sepertinya kita tak dirindukan, ayuh Kei. Kita makan saja." rajuk Zain.


"Papa kok cemberut? Nanti gantengnya kalau ilang gimana? Uncle Kenzo aja udah lima centi itu pa." celetuk Rara dengan menunjuk ke arah Kenzo.


Aurel menahan tawa, benar yang dikatakan Zahra. Wajah Kenzo tertekuk, seakan tengah menjalani hukuman berat. Wajah Aurel terdeteksi dari sudut mata Kenzo. Spontan Kenzo menatap tajam ke arah Aurel. "Awas kamu."


Zain mendengar ancaman lirih Ken. "Ken, sepertinya kamu lupa dengan pekerjaan dariku!"


Pluk..


"Okay otw bos. Semuanya aku pamit dulu, takut taring singa keluar lagi." pamit Ken setelah menepuk keningnya sendiri.


Kei tidak tahu pekerjaan apa yang akan Ken lakukan, dan bertanya melalui bahasa isyarat. Tapi Zain menatap Kei dan menghentikan rasa kepo istrinya. "Jangan macem-macem. Ken punya pekerjaan kantor."

__ADS_1


Kei mengangguk paham. Lebih baik mendengarkan bisikan Zain, daripada berakhir hukuman ranjang. Kenzo berjalan meninggalkan perkumpulan keluarga. Dokter Aurel memiliki sebuah ide cemerlang. "Saya juga pamit. Kalau ada apa-apa, saya selalu stay dinomor yang sama."


"Semangat Aurel. Berjuanglah demi masa depan." Mom Raina mengacungkan kedua jempolnya.


Semua yang mendengar itu tersenyum, membuat dokter Aurel berlari dan tersipu malu. Niatnya memang ingin mengejar babang Ken, selalu berusaha untuk meluluhkan hati duda satu itu. Untung saja, langkah keduanya tidak telalu berjarak lama. Ken yang baru saja masuk mobil, mendadak dikejutkan dengan kedatangan Aurel. "Hey kamu ngapain masuk mobilku?"


"Ralat. Mobil tuan Zain." cetus Aurel dan memasang sabuk pengaman.


"Mobilmu ada di depan! Keluar dan biarkan aku sendiri." ucap Ken dengan menunjuk ke arah mobil putih di sisi lain halaman.


Aurel menutup kedua telinganya dan bersenandung ria. Ucapan Ken menjadi angin lalu, Ken terabaikan. "Haloo dokter gila! Jangan pura-pura tul!."


"Nananana….." Aurel sibuk bersenandung.


"Ampun. Mimpi apa semalem? Kenapa hariku s!al. Tadi panas akibat tontonan vulgar dan sekarang cobaan tak mengenakkan." gumam Ken dan menyalakan mesin mobil.


Meskipun manja, dokter Aurel terkenal somplak dan nyleneh. Kadang Ken merinding setiap kali mengingat pertemuan pertamanya dengan Aurel. Bagaimana reaksi Aurel saat melihat dirinya pertama kali. Seorang dokter yang cantik dan tegas saat bekerja, tapi setelah bebas dari pekerjaan. Semua sikap dewasa dan mengayomi dari seorang Aurel bisa dilipat dan disimpan di dompet.


Saat itu, Kei baru melewati masa kritis dan Aurel masih menjadi dokter yang belajar dari para dokter seniornya. Hingga pertemuan sering terjadi meski hanya beberapa detik, membuat Ken perlahan mengenal sosok Aurel meskipun hanya sekilas. Wanita itu sangat mandiri, tapi satu berita duka yang membuat Ken kehilangan semangat hidupnya.


"Stop!"


Ciiiit…..


"Apa kamu tidak waras? Ini jalan umum, bukan…."


"Aku mau itu!" tukas dokter Aurel menunjuk gerobak es potong di pinggir jalan.


Ken mendengus sebal dan menatap ke arah telunjuk Aurel. Gerobak mamang yang bertuliskan es potong legit. "Ayolah. Di alfamart atau market lain ada ice cream."


"Babang Ken baik deh. Beliin ya, itu es beda dari yang lain." pinta dokter Aurel dengan mengedipkan mata beulang kali.

__ADS_1


Tangkupan tangan Aurel, membuat Ken tak tega. Helaan nafas terdengar jelas, tangan Ken melepaskan sabuk pengaman mobilnya. "Turun!"


"Horeee. Let's go." seru dokter Aurel bersemangat dan ikut turun dari mobil.


Keduanya berjalan bersisian, Aurel yang tidak sabaran menunggu laju lalu lintas. Justru menyebrang tanpa melihat kanan dan kiri. Ken melihat dari arah berlawanan ada sepeda motor mendekat, dengan laju yang cukup cepat. Dengan berlari Ken menarik tangan Aurel agar jatuh kedalam pelukannya. Tubuh keduanya berguling diaspal. Tatapan Ken tajam, dan tatapan Aurel terkejut.


Beberapa orang yang melihat, menghampiri dan membantu Aurel bangun dari posisinya. Ken juga ikut bangun dan matanya tak lepas menatap Aurel. "Terimakasih semuanya."


"Hati-hati mba, untung masnya cekatan narik mba. Kalau tidak, gak kebayang."


"Sudahlah, sekarang semua selamat. Lain kali jangan buru-buru mba."


Ucapan demi ucapan para manusia yang melihat kejadian cepat itu, membuat Aurel menunduk. Ken mendekati Aurel dan tanpa berkata apapun, menggendong tubuh Aurel yang gemetaran. Tidak peduli orang berkata itu sweet atau apalah. Dihatinya ada rasa sesak, saat keceriaan di wajah dokter Aurel sirna dan berganti rasa takut. Dengan perlahan Ken mendudukkan Aurel ke kursi penumpang. "Tenanglah. Minum dulu."


Ken membukakan tutup botol air mineral dan membantu Aurel meminumnya. Setelah melihat Aurel lebih baik, Ken menutup pintu mobil samping. Langkahnya kembali ke sisi lain jalan dan membeli keinginan Aurel. Setelah penantian selama sepuluh menit, Ken kembali memasuki mobil dan melihat Aurel memejamkan matanya. Entah ide dari mana, Ken mengangkat kresek hitam dan menempelkan di pipi Aurel.


"Ini…"


Ken mengangguk dan membuka kresek hitam yang berisi beberapa potong es dengan berbagai rasa. "Makanlah. Aku antar ke apartemen mu. Sebentar, aku kirim pesan ke Zain dulu."


"Terimakasih. Aku…" cicit Aurel merasa bersalah.


"Sudahlah. Kecelakaan terjadi tanpa diminta. Jadi makanlah es mu. Sebelum aku berubah fikiran." Ken memotong ucapan Aurel sembari mengirimkan satu pesan ke Zain.


Aurel memilih diam dan menikmati es potong rasa strawberry dengan potongan buah kering yang lumer di dalam mulutnya. "Ini manis sekali. Mau coba?''


Ken menggelengkan kepala dan kembali menyalakan mesin mobil, mobil melaju meninggalkan ruas jalan menuju apartemen milik dokter Aurel. Jangan tanya bagaimana dirinya tahu tempat tinggal dokter satu ini. Semua yang dokter Aurel miliki adalah fasilitas dari keluarga Ardana, jadi tidak heran jika Ken tahu semuanya tanpa perlu bertanya.


Meninggalkan kesibukan Aurel melahap es potong didalam mobil, dan Ken yang hanya sibuk melirik bibir belepotan es dari sudut matanya. Si kembar sibuk berceloteh dan bercerita tentang kegiatan sehari-hari pada nenek buyutnya. Sedangkan Zain dan Kei beserta mom Raina hanya menjadi pendengar setia.


Pyaaar....

__ADS_1


Suara benda jatuh, membuat seluruh penghuni kediaman Ardana terkejut dan berlari ke arah sumber suara. Dengan memasuki sebuah kamar tamu, namun Zain menahan Kei agar istrinya membawa anak-anak ke kamar. Kei menurut, mungkin lebih baik menjaga si kembar.


Nyonya Diana yang masuk pertama kali ke dalam kamar. Menatap semua kekacauan yang ada di depan matanya. "Apa yang kamu lakukan?"


__ADS_2