
"Relakan semua, mari kita mulai awal hidup baru dengan senyuman." bisik Ken.
Aurel menatap Ken dengan linangan air mata, sungguh tidak menyangka akan secepat ini menjadi istri Ken. Terlebih Ken siap menerima dan mengakui calon buah hati di dalam rahimnya sebagai anaknya sendiri.
Kuharap bajingan itu segera tertangkap, terimakasih Tuhan telah memberikan kebahagiaan terbesarku. ~batin Aurel memeluk Ken.
"Permisi, Tuan ada yang mengirimkan paket ini." lapor bibi.
Zain bangun dan menghampiri bibi. "Bibi bisa lanjutkan pekerjaan."
Satu kotak kado dengan bungkus bermotif bunga mawar mewah kini berpindah tangan dan bibi meninggalkan taman bunga. Zain membolak-balikan kado dan mencari siapa yang mengirim, tapi tidak ada tulisan si pengirim.
"Bro ada apa? Siapa yang mengirim kado?" tanya Ken.
Zain mengedikkan bahu, dan kembali duduk di samping Kei. Si kembar yang sibuk bermain di ayunan, tiba-tiba saja berlari menghampiri kedua orang tuanya.
"Nak, hati-hati!" seru Kei.
"Hehehe iya mom. Pa kado buat Rara ya?" tanya Rara antusias.
Abhi menahan tangan Zahra yang bersiap mengambil kado di tangan sang papa. "Ra, tidak baik begitu."
"Sayangku princess, ini kado punya tante Aurel. Besok mommy berikan Rara kado, mau boneka yang mana?" ucap Kei menarik tangan sang putri untuk mendekat.
Rara dengan senang hati duduk di pangkuan Kei, sedangkan Abhi berdiri disamping Zain dan memperhatikan kado di pangkuan Zain. Ada sesuatu yang menarik perhatian Abhi, dan rasa penasaran itu membuat Abhi mengulurkan tangan mengambil sesuatu yang terselip di antara lipatan kertas kado.
"Pa, siapa tuan Jacob?" tanya Abhi.
Pertanyaan Abhi, membuat semua orang teralihkan. Zain mengambil kertas di tangan Abhi, dan membaca tulisan yang tertulis. Satu inisial di sudut kertas, membuat Abhi paham sesuatu. Kertas itu dimasukkan ke saku jas dan Zain kembali berdiri, membawa kotak kado dan menjauh dari keluarganya.
"Ada apa? Kenapa mas Zain…."
"Tenang Kei, biar aku susul. Kalian tetap disini!" Ken ikut berdiri, dan menyusul Zain.
Langkah kaki Zain berhenti di gazebo dan Ken ikut berhenti di samping Zain. "Ada apa?"
"Tunggu, lihat saja." jawab Zain.
__ADS_1
Zain meletakkan kotak kado di lantai, dan membuka kado dengan perlahan-lahan. Kertas kado mulai disobek, dan menyisakan kotak kado hitam. Suasana menjadi tegang, sejenak Zain menarik nafas dan tangannya mengangkat tutup kado. Zain memejamkan mata setelah melihat isi kotak kado, Ken yang penasaran ikut mendekat dan melihat.
"Damn it! Siapa…."
Tangan Zain menghentikan umpatan Ken, dan kembali menutup kado didepannya. Perasaan yang mulai gelisah dan waspada, membuat Zain harus bersikap tenang demi keluarga. "Biar aku singkirkan, tangani yang lain. Jangan tambah kecemasan, aku pergi dulu.
"Biar aku saja…."
"Ini perintah!" sela Zain.
Suara dingin nan berat, membuat Ken terdiam dan membiarkan Zain melakukan seperti yang diinginkan tanpa perdebatan. Sementara anggota keluarga lain merasa cemas, namun tidak bisa mendekat karena itu yang diajarkan oleh sad Arza. Zain meninggalkan gazebo, dan Ken berjalan menuju taman dimana semua orang berada dengan wajah tegang dan raut tanda tanya.
"Ka?"
"Ada apa, nak?"
"Tenang dulu, biarkan Ken bicara." ucap Oma Diana.
Ken menghela nafas, mencoba mencari kata yang tepat agar keluarganya tidak cemas. ''Jangan khawatir, itu kado salah alamat. Aku rasa seperti itu. Kei bisa bawa si kembar dan Incess pergilah ke kamar ku temani baby Zee!"
"Tapi bang…. "
Aurel menunduk, dan meremas ujung gaunnya.
Kei mengerti jika keadaan semakin memburuk, dengan menguatkan hati. Kei menggandeng tangan si kembar. "Ayo, nak. Malam ini kita akan tidur bersama. Siapa giliran membaca dongeng?"
Abhi menunjuk Zahra, sedangkan Zahra menggelengkan kepala. "Sudah, malam ini mommy yang mendongeng untuk kalian. Aurel, ayoo kita ke atas bersama."
Tangan Zahra menggandeng tangan Aurel dengan senyuman manis. "Ayo aunty."
Aurel menatap Ken, satu anggukan kepala dari sang suami, membuat Aurel pasrah. "Ayo sayang."
Keempat anggota Ardana berjalan beriringan meninggalkan tempat pernikahan, kini tersisa empat orang dan seorang penghulu yang diam tanpa kata. Sepertinya penghulu juga bingung dengan situasi yang terjadi di rumah Ardana. "Pak mari saya antar keluar, maaf atas situasi tak nyaman yang mendadak ini."
"Tidak apa-apa tuan, saya bisa sendiri. Takut merepotkan." jawab Pak Penghulu.
Dad Arza melangkah dan mendekati pak Penghulu. "Tidak ada kata merepotkan, mari. Ken bawa Mama dan Oma ke kamar!"
__ADS_1
Ken mengangguk dan membiarkan Dad Arza pergi bersama Pak Penghulu. Oma Diana menatap Ken dan meminta penjelasan, sementara Mom Raina memilih memijat kepala dan diam.
"Sebelumnya kita berniat untuk membawa Elis ke rumah sakit demi pemeriksaan, tapi saat Elis keluar ada mobil yang menabrak wanita itu. Setelah melakukan penyelidikan, tidak ada pelaku di dalam mobil tersangka. Itu mobil kendali jarak jauh, dan anehnya ada mobil di luar rumah dengan tangan keluar memegang sesuatu. Setelah aku periksa lebih jauh, mobil di luar rumah sakit adalah mobil yang sama dengan mobil…."
Gluudak…..
Suara benda jatuh, membuat Ken berhenti bercerita dan mengalihkan perhatian ke tempat asal suara.
Hening……
Meoww….
"Huft kucing ternyata, tapi kucing dari mana? Apa si kembar sudah izin?" tanya Zain melihat kucing melintasi gazebo.
Puk!
Oma Diana menepuk bahu Ken, membuat Ken kembali menatap kedua wanita yang duduk di kursi berdekatan. "Tidak ada kucing dirumah, Zahra, Zain dan Arza alergi bulu. Apa kamu lupa itu?"
Jawaban mom Raina, membuat Ken menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ekhem, Ken lupa sedikit Ma. Okay aku lanjutkan atau mau menunggu Papa dan Zain?"
"Sebaiknya kita bicara di ruangan kerja, tidak aman bicara di tempat terbuka. Kabari Zain untuk segera kembali, kami akan melihat pekerjaan para pelayan," ucap Oma Diana.
Ken "Sebaiknya Oma dan Mama istirahat saja, biarkan Ken mengurus semua. Kita bisa bicarakan masalah ini esok."
Perdebatan kecil itu masih didengarkan seseorang di balik tembok, sudut ruangan yang terhalang sebuah lemari besar menjadi titik strategis. Meskipun harus ditemani nyamuk, tetap saja betah berdiam diri dan menguping. Hingga suara langkah kaki terdengar mendekat, sontak tangannya menutup mulut dan hidung.
Suara langkah semakin menjauh setelah beberapa menit berlalu, helaan nafas lega buru-buru dikeluarkan. Kakinya melangkah keluar dari tempat persembunyian, mengusap dada dan bergumam sesuatu. Wajah memerah karena menahan nafas berangsur-angsur normal.
"Non, disini? Maaf saya mencari nona untuk makan malam. Apa mau dihangatkan lagi makanannya?"
"Tidak perlu bi. Saya akan makan yang ada. Terimakasih." jawab Ery berbalik.
Sementara di tempat lain, beberapa orang tengah berkumpul di depan mobil di daerah yang sepi. Jalanan yang gelap dan hanya ada api unggun di tepi jalan, membuat sekumpulan orang itu menyeduh kopi panas.
"Apa tidak sebaiknya kita yang kesana?" tanya pria berjaket hitam.
"Tidak. Lihatlah itu!'' titah pria tanpa jaket menunjuk sorot cahaya yang semakin mendekat.
__ADS_1
Suara mesin mobil terdengar halus, dan berhenti tepat di depan mobil jeep hitam dimana sekumpulan orang tengah duduk bersantai dengan seduhan kopi mengepulkan asap. Pintu depan mobil sport hitam terbuka, dan satu kaki dengan sepatu bermerk keluar. Sosok yang ditunggu keluar dan berjalan meninggalkan mobilnya tanpa menutup pintu mobil.
"Apa ada perkembangan?"