My Love Is Stuck With Tomboy Girl

My Love Is Stuck With Tomboy Girl
Bab 85: Special part #Kerjasama-Mengungkap kebenaran


__ADS_3

"Tapi, ada satu lagi laporan...." Dokter Tio mengambil satu laporan lagi dari saku jas sebelah satunya.


Kertas laporan di ambil dan wajah Kei terkejut dengan mata kesana-kemari. Abhi mengambil kertas ditangan sang mommy tanpa permisi. Perubahan ekspresi Abhi, membuat udara sekitar menipis. "Katakan! Jangan sampai, kepalamu yang ku penggal."


"Ada bekas operasi yang diobati tanpa prosedur di kepala pasien, dan itu menyebabkan kerusakan dari dalam...."


Abhi menarik nafas dalam, "Panggil semua dokter terbaik dan sembuhkan papaku! Jangan ada kekurangan dalam pengobatannya."


Kei menatap Abhi dengan binar cahaya. Abhi mengangguk, membuat Kei bangun dari tempat duduknya dan berlari meninggalkan taman. Tindakan Kei mengejutkan Abhi dan dokter Tio. "Dok, lakukan seperti perintahku. Satu lagi, lakukan tes DNA pada Izzi gadis yang memeluk papa!"


Abhi meninggalkan dokter tanpa mendengarkan jawaban sang dokter. Pria dengan jas putih itu menhirup udara sepuasnya. "Sabar, seharusnya semua orang bahagia dengan berita besar ini. Lebih baik ku mulai pengobatan Tuan Zain. Sebaiknya aku menyusul mereka.


Abhi melihat bagaimana sang mommy berlari tanpa mempedulikan sekitarnya. Tidak peduli dengan tatapan mata orang yang memandangnya aneh. Langkah Abhi juga tak kalah cepat, hingga bisa menyusul sang mommy.


Kei berhenti di depan pintu kantin ruangan istimewa. Tangannya terangkat dengan gemetaran. Satu tangan menangkup tangannya dan membantu membukakan pintu. " Masuklah. Dia suami, mom. Temuilah cinta sejati mommy," Abhi berbisik dengan lembut di telinga Kei.


Bisikan itu, membuat Kei berjalan melewati pintu kaca yang terasa sangat berat. Wajah tampan tertutup jambang dan penampilan lusuh, tak membuat Zain kehilangan ketampanannya. Langkah demi langkah, Kei semakin mendekati meja dimana Zain dan Izzi berada. Tanpa Kei sadari. Jika Rara dan Bian ikut memperhatikan tingkah wanita anggun itu.


"Mom?" panggil Rara.


Kei tidak menggubris panggilan Rara dan tetap melewati meja putrinya. Langkah kakinya justru berhenti di depan meja tempat Zain. Dimana pria itu tengah menyuapi Izzi makanan.


Izzi langsung bangun dari tempatnya dan berpindah memeluk Zain. Kei berhenti dan Zain menaikkan satu alisnya. "Apa maumu? Anakku masih waras."


Tangan Kei terangkat dan terarah ke wajah Zain. Belum juga menyentuh, satu tepukan keras menghempaskan tangannya.


Pluuk!


"Jangan sentuh papaku!" teriak Izzi dengan wajah memerah.


Zain langsung memeluk Izzi dan menatap kasihan ke arah Kei. ''Kamu tak apa?"


"Hey, siapa kamu? Berani sekali memukul mommy ku." Rara bangun dan menghampiri tempat Kei berdiri.


Melihat suasana semakin tak kondusif. Abhi maju dan berjalan cepat. Rara yang berniat menjambak Izzi, justru ditahan kembarannya. Gelengan kepala Abhi, melunturkan semangatnya. Tapi, tidak dengan niat hati dan rasa kesal terhadap gadis ingusan itu. Kei mengusap kepala Rara dan itu mengalihkan perhatian sang putri.


"Kalian ini. Ngapain kasian dengan gadis ingusan seperti dia? Kelakuannya aja minus." ucap Rara ketus.


Abhi menarik tubuh Rara dan memeluknya. Bisikan lembut, Abhi sampaikan di telinga Rara. "Jaga sikapmu. Bukankah kamu mau, jika papa pulang kerumah?"


Bisikan Abhi, membuat Rara mendongakkan wajahnya. Tatapan mata itu mencari kebohongan dan juga kebenaran. Namun, mata saudara kembarnya tidak berbohong dan sangat serius. Terbukti dengan alis tegas sedikit melengkung di ujung. Satu kedipan mata darinya. Sebagai tanda setuju.

__ADS_1


"Permisi, semuanya. Kami ingin melakukan pemeriksaan terakhir pada pasien, sebelum keluar dari rumah sakit." Dokter Tio datang dengan sikap seorang dokter, tenang dan meyakinkan.


Semua orang mengalihkan perhatian pada dokter Tio, dan pria yang menjadi pusat perhatian justru salah tingkah. "Mari tuan Zain. Bisa ikut saya sebentar?"


"Maaf, kami tidak ingin disalahkan atas tragedi di kantor. Jadi kuharap, anda mau bekerjasama dengan prosedur rumah sakit." jelas Abhi.


Sebagai seorang anak. Tentu pola pikir sang papa dapat dipahami, dan ini juga menjadi pemicu ingatan papanya agar kembali. Zain terdiam dengan alis bertautan. Pria itu tengah berpikir setuju atau tidak. Kei meremas ujung gaunnya, menunggu jawaban Zain yang seperti menunggu bintang jatuh.


Izzi menarik kaos lusuh Zain. "Pa, ayo pulang."


"Maaf, aku memaafkan kejadian di kantor. Tapi, kami akan pulang saja." Ucap Zain.


Wajah kecewa Kei terlihat jelas. Bagaimanapun, pemeriksaan harus dilakukan. Kei berpikir cepat dan melihat gelas di atas meja. Posisi yang pas, membuat Kei memegang kepalanya. Tubuh yang tak seimbang, membuat Kei menyenggol gelas di atas meja.


Pyaarr.....


Gelas pecah, namun Kei masih berpura-pura pusing dan tubuhnya limbung ke arah pecahan gelas. Semua yang melihat itu terkejut. Rara ingin membantu, tapi di tahan Abhi dengan lirikan mata larangan. Sementara Zain mendorong kursinya dan menarik tangan Kei. Tubuh Kei mengikuti arah tarikan Zain dan masuk ke dalam pelukan sang suami.


"Mom...." panggil Rara dengan drama yang sama dan pingsan di pelukan Abhi.


Ibu dan anak, kompak bener. Tapi, aku cinta kalian. Semoga ini berjalan seperti harapan kami.~batin Abhi menahan perasaan di dalam hatinya.


"Ra, bangun. Tuan, tolong bawa mommy saya ke ruang pemeriksaan. Saya mohon," pinta Abhi dan menggendong Rara dengan gaya bridal style.


"Siap, Tuan. Maaf, Tuan Zain. Bisa bantu gendong Ibu Kei. Saya sudah tua, bisa encok." ucap Dokter Tio.


Zain menatap wajah Kei dengan seksama dan tangannya tergerak menggendong tubuh ramping wanita di dalam pelukannya. Ada rasa aneh yang menjalar di dalam hati dan menghangatkan aliran darahnya. Berdekatan dengan Kei, seperti musim dingin terkena sinar mentari pagi. Hangat dan memenangkan. Langkah demi langkah Zain tapaki meninggalkan kantin istimewa.


Izzi mengikuti langkah Zain dengan memukul kepalanya sendiri. Dokter Tio melihat ketidakberesan gadis itu, memberikan isyarat agar Bian bertindak. Pria yang menjadi penonton utama mengangguk paham, dan berjalan mendekati Izzi. Pintu kantin terbuka dan Zain menghilang bersama Kei. Langkah Izzi terhenti dengan satu tangan menahan gadis itu.


"Lepas!" seru Izzi dan siap memukul Bian.


Bian dengan sigap menangkap tangan Izzi, memutar tubuh gadis itu, dan menguncinya ke belakang. Izzi merintih dan juga tersenyum. "Bangs@t! Beraninya....empt..."


Satu tangan digunakan untuk mengunci dan satu tangan lagi untuk membekap bibir pedas Izzi. "Shiiit. Tenanglah, dok bawa suntikan bius?"


Dokter Tio merogoh saku jasnya dan mengambil satu jarum suntik yang berisi obat bius. Izzi memberontak, tapi tenaganya tak sebanding dengan pertahanan Bian. Dokter Tio menyuntikkan obat bius ke leher Izzi, dibantu Bian. Obat akan bekerja beberapa saat lagi. Bian merasakan perubahan kesadaran dari Izzi.


"Aku tinggal dulu. Jangan lupa bawa gadis ini pada dokter Willy!" Dokter Tio berlari kecil sambil mengatakan ucapan terakhirnya sebelum keluar dari kantin.


Tubuh Izzi bertambah berat, membuat Bian memanggul gadis itu seperti karung beras. Bian ikut meninggalkan kantin. Sementara di ruangan VVIP, Zain memandang Kei tanpa berkedip. Tangannya masih setia menggenggam tangan wanita di atas brankar. Abhi yang sengaja menyatukan ruangan Rara dan sang mommy, melihat betapa Zain masih memiliki cinta untuk mommynya.

__ADS_1


"Apa anda baik-baik saja?" tanya Abhi menatap Zain.


Zain menyentuh dadanya dengan tangan kiri. "Rasanya aneh. Jantungku berdegup terlalu cepat, tapi aku masih hidup dan tidak jantungan. Perasaan macam apa ini? Wajahnya memikatku, dan wajahmu mirip denganku. Siapa aku?"


Abhi tersenyum dan mengusap kepala Rara. "Jika aku katakan, anda papa kami dan wanita itu adalah istri anda. Apa yang anda pikirkan?"


''Istri? Kalian anakku? Tapi, istriku baru sebulan lalu meninggal dan anakku... Izzi...?" Zain berniat melepaskan tangannya.


"Eeuughh, puusiiing....." lirih Kei dan menggenggam tangan Zain lebih erat.


Zain kembali terfokus pada Kei. "Mana yang sakit?"


Kei membuka mata dengan kerjapan mata perlahan. "Mas...."


"Pa, lihatlah mommy dengan baik. Apakah semua kenangan itu sudah hilang? Tapi, tidak dengan cinta di hati papa. Percayalah, kami keluarga papa." ucap Abhi.


Zain mencerna semua ucapan Abhi. Menatap genggaman tangannya, beralih menatap Kei, Abhi dan Rara yang sudah duduk di brangkar. Rara bangun dibantu Abhi. Kini ke empat orang itu berhadapan dengan Kei yang masih terbaring.


"Jika kalian keluargaku. Lalu, siapa Cheery dan Izzi?" tanya Zain.


"...... "


Ceklek...


"Tuan Muda, semua laporan sudah konkrit. Ini hasilnya." Dokter Tio masuk tanpa permisi dan memberikan laporan.


"Berikan itu pada papa!" titah Abhi.


Dokter Tio mengangguk dan berjalan menghampiri Zain. Satu kertas laporan di berikan. Zain menerima dan membolak-balikan kertas itu. "Apa isinya?"


"Bukalah!" pinta Abhi lembut.


Zain menatap wajah semua orang bergantian, sebelum membuka lipatan kertas di tangannya. Semua terlihat serius dan tidak ada keraguan, membuatnya membuka lipatan kertas. Kata demi kata ditelaah dengan serius.


Tiga menit kemudian.....


"Bagaimana bisa? Jika kalian keluarga ku. Siapa mereka?" tanya Abhi dengan semua kenyataan hidupnya yang terungkap secara tiba-tiba.


Rasa sakit kembali menghampiri kepalanya. Seperti ditusuk ratusan jarum dan bayangan gambar gelap dan buram kembali melintasi ingatannya. Suara tawa, dengan perhatian dan perbincangan hangat sangat familiar terdengar di telinganya.


"Mas, jangan dipaksakan. Aku tidak mau....."

__ADS_1


"Kei....."


Bruuug...


__ADS_2