
Meninggalkan keakraban adik kakak itu. Di dalam satu ruangan, tengah terjadi ketegangan dengan bahasa tubuh yang jelas menandakan saling tak suka. Beruntung ada yang datang dengan membawakan cemilan dan minuman manis.
"Pisang gorengnya mengepul, enak di nikmati selagi hangat, siapa tahu setelah dingin justru dibuang.''
"Anak-anak, apa ada yang mau pisang goreng?" tanya Kei dengan lembut.
Zahra meletakkan pensilnya dan menghampiri Kei. Spontan tangan Zahra mencomot sepotong pisang goreng yang masih mengepul. "Auuw paanaas…"
Segera Kei mengambil pisang di tangan putrinya. Meniup tangan sang putri dengan penuh kasih sayang. "Sabar sayang, tunggu agar kepulan asapnya berkurang. Abhi, kemari nak!"
"Okay mom." sahut Abhi dan meninggalkan kertas dan pensilnya.
Kini Kei berada di tengah, diapit Zahra dan Abhi. Sedangkan Ery duduk sendirian, meskipun satu ruangan. Dengan telaten Kei meniup pisang goreng dan membaginya untuk si kembar. "Bagaimana? Sudah tidak panas kan?"
"Mom terbaik. Rara suka, rasa manisnya juga lumer di mulut." celoteh Zahra dengan menggigit pisang gorengnya.
Abhi diam dan menikmati pisang goreng, Seakan mendapatkan lampu ajaib, Ery mengulurkan satu pisang goreng lagi ke arah Abhi. "Sorry aunty. I just want from my mom.(Maaf bibi. Saya hanya ingin dari ibuku.)"
"Abhi!" tegur Kei.
Abhi menghentikan menikmati pisang goreng ditangannya. Menatap sang mommy. "Mom memberikan pisang goreng yang sudah ditiup dan ini tidak akan melukai kulit kami, apalagi lidah kami. Sedangkan, miss Ery memberikan pisang goreng yang masih ada kepulan asap. Mom meminta kami bersabar, jika Abhi ingin lagi. Pasti menunggu kepulan asap berkurang, atau lebih baik dingin."
Penjelasan Abhi, membuat Kei tersenyum dan ekspresi wajah Ery berubah masam. Ternyata sindiran darinya, justru di balas keturunan Zain. "It's okay. Kamu benar, okay selesaikan PR kalian dan kumpulkan satu jam lagi. Miss akan kembali setelah satu jam."
"Apa anda akan pergi?" tanya Kei dengan santai.
"Saya mau kembali ke rumah, mengambil barang. Saya datang tanpa persiapa. Saya fikir, syarat yang ku ajukan akan ditolak. Tapi syukurlah, tuan Zain mau memberikan keringanan." jawab Ery dengan membanggakan diri.
Kei hanya mengangguk. Ery tersenyum puas karena Kei tidak bisa menjawab. "Baiklah, saya permisi nona Kei."
__ADS_1
"Nyonya Zain, maaf itu lebih baik. Karena saya bersyukur memiliki suami sebaik beliau." tegas Kei dengn senyuman manis.
Demi apa? Wanita naif ini sangat kurang ajar! Enak sekali menyebutkan milikku, sebagai miliknya. Awas saja, lihat nanti. Apa yang akan ku lakukan! ~ batin Ery.
"Saya permisi nyonya Zain. Anak-anak, miss Ery tunggu satu jam lagi!" tukas Ery dan membalikkan tubuh, berjalan meninggalkan ruangan keluarga.
Percakapan Kei dan Ery tak lepas dari sorot mata seseorang, matanya menyiratkan sebuah kegelisahan. Ntah kemana harus mengadukan semua yang dilihatnya. Dengan langkah seribu, sosok itu berjalan meninggalkan tempatnya berdiri. Tanpa melihat sekitar, hingga….
Braak…
"Hey ada apa? Kenapa buru-buru?" tanya mom Raina dengan cemas.
Melihat tidak ada jawaban, tapi tatapan dan ekspresi wajah orang didepannya kebingungan. Spontan mom Raina menarik tangannya dan meninggalkan lantai bawah. Keduanya berjalan menyusuri tangga dan memasuki kamar mom Raina. Dengan tenang, mom Raina mendudukkan sosok itu dan memberikan segelas air putih. "Sekarang sudah tenang?"
Sosok itu mengangguk dengan wajah menunduk. Mom Raina dengan telaten mengusap tangan salah satu pelayan di rumahnya itu. "Ada apa? Apa yang membuat mu ketakutan seperti ini?"
"Ituuu, nyonya muda seperti menahan amarah. Wajahnya benar-benar merah, meskipun masih tersenyum manis." lapor sang pelayan dengan serius.
"Ituu karena guru si kembar nyonya. Bibi merasa nyonya muda terganggu dengan kehadiran guru itu. Tapi nyonya muda masih menahan amarah di depan anak-anak." jawab bibi dengan sungguh-sungguh.
"Jangan sebarkan cerita ini pada siapapun. Cukup simpan, dan jika ada kejadian serupa. Cepat lapor ke aku bi, aku akan bicara dengan Kei. Lebih baik, bibi istirahat saja." Mom Raina mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan pada seseorang.
"Saya permisi nyonya." pamit bibi dan keluar dari kamar mom Raina.
Kepergian bibi, membuat mom Rania menghubungi sebuah nomer. Dengan hilir mudik, menunggu sambungan panggilan di jawab. "Ayolah angkat! Kemana anda? Aku harus apa tanpa anda?"
Detakan jam di dinding, sukses membuat mom Raina menepuk keningnya sendiri. Bagaimana dirinya lupa tentang perbedaan waktu, di belahan dunia lainnya. "Pastinya disana masih malam. Sebaiknya aku kirim pesan suara."
Bergegas mom Raina membuka aplikasi whatsapp, dengan memasuki ruangan chat di nomer tujuannya. Satu jari mom Raina menekan voice records dan merekam seluruh keluhan di dalam hati dan fikirannya. Rekaman itu sekitar sepuluh menit dan terkirim sukses, benar saja nomer sedang off data.
__ADS_1
Cepatlah kembali, kami sangat membutuhkan anda. Keluarga ini tidak lengkap tanpa anda. Apa sebaiknya aku beri tahu mas Ardana ya? Tapi, mas Ardana masih marah dengan ku. Huft, kenapa jadi seperti ini. ~ batin mom Raina dengan perasaan serba salah.
Meninggalkan kegelisahan mom Raina, perjalanan Ery meninggalkan kediaman Ardana dimulai. Wanita itu memasang ekspresi masam dengan tangan mengepal, ucapan Kei sangat membekas di hatinya. Betapa sombongnya Kei dengan status sebagai istri Zain, padahal status Kei seharusnya menjadi miliknya. Sekelebat ingatan melintas di dalam kepala Ery.
"Semua ini gara-gara kebodohan paman! Untuk apa pria tua itu menukar kehidupan ku dengan saudara kembarku. Semua menjadi kacau, untung saja sekarang tidak ada suara larangannya lagi. ~ batin Ery tersenyum aneh.
Senyuman Ery, membuat sopir taksi online merinding. Ery memang cantik, tapi ekspresi siap menerkam tercetak jelas dari senyuman wanita itu. Ery yang menyadari sang sopir taksi memperhatikan dirinya, hanya menajamkan tatapan matanya.
"Maaf non. Mau di antar kemana?" tanya sang sopir dengan gugup.
Ery mengalihkan pandangan ke luar jendela. "Perumahan terbaru di dekat gudang gula, tahu kan?"
"Tahu non." jawab sang sopir dan kembali fokus menyetir.
Sedangkan perdebatan tengah terjadi diantara tiga pria sekaligus, ketiga pria ini sontak mengalihkan banyaknya tatapan orang-orang disekitar mereka.
"Sudahlah. Sebaiknya kita bicarakan lagi dirumah, ayo kita pulang."
...__________________...
*Hay readers, othoor sedikit berceloteh ya di bab ini.
Hari ini othoor buat cerpen dengan tema *Respect Penulis*. Dengan cerpen ini Othoor berharap bisa meng up suara hati para penulis.
Jika kalian memiliki sedikit waktu senggang, setidaknya 2 menit. Bolehlah, bantu dukung cerpen othoor yang khusus menyuarakan isi hati para penulis. Karena dukungan kalian, sangat membantu cerpen othoor bisa di baca orang banyak.
Tenang, ini bukan untuk sebuah popularitas. Karena othoor ingin mewakili para penulis lain pure. Sungguh othoor pun merasakan kesedihan yang sama.
Dan ini yang othoor harapkan, kalian mau membaca cerpen di bawah ini 👇*
__ADS_1
Terimakasih atas pengertian kalian, salam dari othoor kacang mentah 🙏💕