My Love Is Stuck With Tomboy Girl

My Love Is Stuck With Tomboy Girl
Bab 53: Special part #Percakapan


__ADS_3

Zain keluar dari dalam mobil, disusul Ken. Membiarkan mobil sang papa meninggalkan gedung rumah sakit, Zain menatap Ken. Dan Ken paham maksud sahabatnya itu. "Mau ke proyek langsung atau?"


"Pesan saja dulu! Nanti juga tahu." tukas Zain dengan menyilangkan kedua tangannya di dada.


Kenzo mengambil ponselnya dan memesan sebuah taksi online. Sembari menunggu, keduanya memilih duduk di salah satu bangku taman rumah sakit. Keduanya seakan tenggelaman dalam fikiran masing-masing, hingga Kenzo merasa lelah berdiam diri. Langkah kakinya mondar-mandir, membuat Zain pusing. "Stop! Kamu ini ngapain?"


"Kamu yang kenapa? Diam sejak lima menit kita duduk di kursi itu. Aku punya banyak pertanyaan, tapi belum tentu kamu menjawab." tutur Ken dengan berkacak pinggang.


Zain menghela nafas. Rasanya ingin berlari menemui Kei dan bicara jujur, tapi situasi masih terlalu panas. "Bisa biarkan baby Zee bersama Kei, aku ingin mendapatkan waktu baik."


"Apa mood Kei marah?" tanya Ken.


Zain mengangguk, dan mengambil ponsel pintarnya. Menyodorkan ke Ken, Ken menerima ponsel Zain dan memeriksa. Mata Ken menyipit. "Seingatku ini nomer tadi pagi yang kamu kirim kan?"


"Hmmm. Dan panggilan terakhir saat aku mandi adalah nomer itu. Ekspresi Kei sangat membuatku hancur. Duka dan luka dimatanya, jelas sekali terlihat. Binar cinta yang selalu menjadi semangat ku lenyap. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan, tapi pasti ini ada hubungannya dengan saudara kembar Cherry." jelas Zain dengan menyilangkan kedua tangannya di dada.


"Kamu gunakan nomer ponsel Kei saja. Aku akan bawa ponselmu. Tapi, pastikan hanya Kei yang tahu. Kita harus tahu siapa yang menjadi pengganggu hubungan kalian." tutur Ken dengan serius.


"Kita hidup dengan keluarga bukan hanya aku dan Kei! Cari solusi lain, sadap saja atau apalah. Otakku beku." tukas Zain dengan kepala yang sakit.


Ken berjalan dan memilih kembali duduk di sebelah Zain. Sejenak berpikir, langkah apa yang terbaik. "Bagaimana dengan keamanan rumah? Apa kamu masih mematikan CCTV di kamar?"


"Iya. Hanya kamar ku dan ruangan lain CCTV-nya menyala.'' Zain tersenyum tipis.


Kenzo hanya bisa menarik nafas, kebiasaan Zain tidak akan berubah. " Kita bahas nanti, taksi sudah di depan ayo."


Tanpa menjawab, Zain berdiri bersamaan dengan Ken dan berjalan menuju depan rumah sakit. Ken memastikan pesanan taksi itu untuk keduanya. "Ayo. Belakang saja."


Zain membuka pintu belakang dan masuk ke mobil, disusul Ken. Pintu tertutup, dan taksi berjalan. "Jalan Flamboyan pak."


"Baik tuan." jawab supir taksi dan kembali fokus menyetir.

__ADS_1


Ken masih sibuk memeriksa ponsel pribadinya. Zain memilih memandang keluar jendela, perjalanan yang cukup menyita waktu hanya terlewati dalam keheningan. Sudah hampir separuh perjalanan, namun tak ada percakapan. Ken yang sibuk menghubungi beberapa kolega dan Zain yang memejamkan mata.


Ciiiiiit……..


Bruuug……..


Tiba-tiba mobil berhenti mendadak. Ken otomatis menahan tubuh Zain agar aman. Zain membuka mata. "Thanks."


Kenzo mengangguk dan menatap sang sopir. "Ada apa?"


"Pak ada yang menyebrang sembarangan." lapor sang sopir taksi.


"Aku akan periksa. Kamu tetap didalam! Pak, ayo keluar!" Kenzo membuka pintu mobil dan keluar memeriksa keadaan.


Zain melakukan permintaan Ken untuk tetap didalam mobil. Setelah dua menit, terlihat Ken kembali dan membuka pintu. "Zain, seorang wanita terluka. Aku rasa korban begal. Pindah depan saja kamu. Biar aku yang di belakang."


"Apa parah? Kalau parah kita bawa ke rumah sakit saja." ucap Zain dan memilih turun dari mobil dari pintu satunya lagi.


"Baaa…iik…" jawab sopir gugup.


Sesaat Zain menatap wajah wanita itu, wajahnya seakan tak asing. Tapi kapan bertemu dan dimana?


"Dia….."


Zain bergegas menghentikan langkah sang sopir, kondisi sopir yang shock tidak baik jika meneruskan perjalanan. "Biar aku saja, anda istirahat saja. Tenang, biaya tetap sama."


"Terimakasih tuan." ucap sang sopir dan memutar langkah kakinya, berpindah ke kursi penumpang di depan.


Zain masuk ke kursi depan dan menyalakan mesin kembali. Dengan kecepatan yang cukup, Zain melajukan mobilnya. Kenzo yang baru selesai memberikan pertolongan pertama, mengerutkan alisnya. Jalan yang Zain ambil, bukan jalan menuju rumah sakit. Tapi jalan pulang ke kediaman Ardana. Lalu untuk apa membawa orang asing ke rumah Ardana.


"Zain, kenapa kerumah? Kerumah sakit saja!" tukas Ken.

__ADS_1


Zain tak menggubris dan meneruskan perjalanan. Beruntung jarak dari tempat kejadian tak jauh menuju ke kediaman rumahnya. Dalam waktu kurang dari tiga puluh menit, mobil taksi online telah memasuki kawasan perumahan elite. Zain menghentikan mobil di depan pintu gerbang rumahnya. Dengan membuka kaca mobil, Zain melongok keluar jendela. "Pak buka pintunya!"


Satpam yang berjaga langsung membuka gerbang, begitu mendengar perintah Zain. Zain kembali menjalankan mobil dan memarkirkan di halaman kediaman Ardana. "Ken bawa masuk! Aku akan telfon dokter keluarga agar memeriksa wanita itu."


Kenzo hanya mengikuti perintah Zain dan membopong wanita yang tak sadarkan diri memasuki kediaman Ardana. Zain masih berdiri di depan mobil, mengambil dompet dan mengeluarkan sepuluh lembar kertas merah. "Terimakasih atas bantuannya. Ini biayanya."


"Tuan ini terlalu banyak. Segini sudah cukup." Sopir mengambil selembar dan menangkup kan kedua tangannya.


Zain tetap memberikan seluruh uang dengan senyuman. "Ini rezeki bapak, saya berharap do'a bapak bisa melindungi keluarga kami."


"Ameen. Semoga semua yang bapak harapkan terkabulkan. Terimakasih berkat tuan, anak saya bisa masuk sekolah lagi." ucap sopir dengan rasa syukur dan menangis haru.


Zain mengangguk, suara langkah kaki mendekati Zain. Aroma yang sangat familiar terbang bersama hembusan angin. "Kenapa keluar sayang?"


"Apa yang terjadi mas? Kenapa..."


Zain menghentikan ucapan Kei dengan isyarat tangan. Kei terdiam, memahami jika dirinya harus sabar menanti penjelasan sang suami. "Mari masuk pak."


"Terimakasih nona, tapi masih harus narik. Permisi." pamit sopir taksi dan berjalan kembali ke mobilnya.


"Hati-hati pak. Ayo mas masuk. Sebentar lagi mungkin hujan." Kei menatap langit yang mendadak mendung.


Zain mengangguk dan merengkuh pinggang sang istri, keduanya memasuki rumah utama bersama. Di dalam rumah, Ken duduk di sofa dengan menyandarkan tubuhnya yang lelah. Zain ikut duduk di sofa seberang, sedangkan Kei segera mengambil minuman untuk kedua pria yang terlihat kelelahan.


"Untukmu mas, dan ini untukmu kak." ucap Kei dengan meletakkan dua jus mangga segar.


Zain langsung meminum, meskipun hanya beberapa teguk. Berbeda dengan Ken, duda satu itu langsung menghabiskan jus tandas tanpa sisa. Kei menggelengkan kepalanya. "Mau nambah ka?"


"Gak de. Kakak butuh penjelasan Zain, kenapa membawa wanita asing ke rumah." jawab Ken dengan tatapan terarah ke Zain.


Zain melirik Kei, Kei paham maksud suaminya. "Jadi....."

__ADS_1


__ADS_2