
"Papa...." ulang Izzi menatap Abhi dengan lembut.
"Apa?" tanya Abhi.
Izzi menunduk, "Papa marahkah dengan Izzi... hiks."
Apa maksud gadis ini? Kenapa memanggilku, Papa. Sejak kapan, aku punya anak? Pacaran saja tidak pernah.~batin Abhi bingung.
Wajah Abhi memang tidak baby face, tapi gurat wajah dewasa dengan kharisma seperti sang papa terlihat menurun. Abhi seperti kembaran Zain saat muda, yang berbeda hanyalah rambutnya sedikit panjang bukan pendek.
Izzi tak mau melepaskan jas Abhi, membuat Abhi menghela nafas. "Bian, bisa hubungi Rara? Aku butuh bantuannya."
Ingin menolak, tapi itu tidak mungkin. Bian mengambil ponsel dari saku celananya dan mencari nomor darurat kedua. Baru ingin mendial icon panggilan. Nama Putri Killer sudah muncul memenuhi layar ponselnya. Abhi, melihat wajah stress Bian. Tanpa sepatah kata, tangan Abhi menodong ponsel sang asisten.
Satu icon hijau digeser dan suara sambutan baik petasan, membuat Abhi menggelengkan kepala. "Ekhem!"
Satu deheman Abhi sontak mendiamkan saudara kembar tercintanya. "Ra, masih sibuk? Datanglah ke kantor!"
[Apa lagi kali ini? Rara masih bersiap untuk acara nanti malam.]~jawab Rara.
"Mau datang, atau aku panggil Mommy?" Abhi menekankan kata Mommy, karena itu yang bisa menghentikan dunia Rara.
[Okay, aku kesana. Jangan ganggu mommy!]~jawab Rara.
Tuuut…
Tuut…
Panggilan diakhiri, Abhi mengembalikan ponsel Bian. "Lain kali, bicaralah tegas. Tegur Rara tanpa sungkan. Paham?"
"Hehehe, anda tahu kan bagaimana Putri Killer saat marah. Mana berani, aku menantangnya," jawab Bian menggaruk kepala.
Abhi, melirik Bian dengan sinis. "Tidak kamu, tidak Rara. Sama saja. Sudah, ayo keluar!"
__ADS_1
Pintu lift terbuka tepat di lantai teratas. Bian berjalan menuju ruangan rapat, sementara Abhi bersama Izzi berjalan ke ruangan kantor CEO. Begitu banyak perubahan, tapi tidak dengan ruangan kerja yang Abhi gunakan. Desain lama turun temurun tetap dijaga. Pintu kaca terbuka, hembusan AC memberikan kesegaran. Abhi membantu Izzi untuk duduk di sofa dan melepaskan tangan gadis remaja itu dari jasnya.
"Duduklah, aku hanya mengambil air di sana. Lihat," Abhi melepaskan jas dan membiarkan Izzi memeluk jasnya.
Sembari mengawasi gerak gerik Izzi, Abhi mengambil dua gelas air putih dan kembali menghampiri gadis remaja itu. Satu gelas di taruh di depan Izzi dan satunya lagi di teguk Abhi tandas tak tersisa. Melihat gelas Abhi kosong, Izzi mengambil gelas di meja dan menyodorkan ke Abhi. "Minum lagi, Pa."
"Ukhuk.. Ukhuk…" Abhi terbatuk karena Izzi masih memanggilnya dengan papa.
Abhi mengambil gelas dari tangan Izzi dan meletakkan di atas meja bersama gelas kosongnya. "Aku bukan papamu. Dimana papamu?"
"Hiks… hiks… kenapa papa tidak kenal Izzi? Izzi janji tidak nakal, Papa kenapa pergi?" Izzi menangis sesenggukan dengan jas sebagai penutup wajahnya.
Abhi bingung dengan kelakuan gadis remaja di depannya. Jika dilihat dari perawakan dan umur, jarak usia mungkin terpaut cukup jauh. Tapi, mendengar gadis remaja itu memanggilnya *Papa*. Sungguh itu diluar dugaan. Umurnya saja, saat ini baru berjalan ke sembilan belas tahunan. Bagaimana bisa menjadi seorang papa, terlebih memiliki anak gadis sebesar Izzi.
Ceklek…
"Haloo Prince, ada apa gerangan mencari ku?" Rara masuk tanpa mengetuk pintu, Abhi hanya mengalihkan perhatian dan menatap dari atas hingga kebawah penampilan saudara kembarnya itu.
Abhi bangun dan menghampiri Rara. "Ntahlah. Bisa bantu aku. Tenangkan Izzi."
"Izzi?" ulang Rara menatap Abhi.
Tatapan tanda tanya, membuat Abhi memegang kedua bahu Rara. "Jangan salah paham. Aku tidak tahu selain namanya. Bian tengah menyelidiki, kenapa ada gadis remaja di kantor. Bisa, bantu aku?"
Rara paham dan mengedipkan satu mata. Abhi memilih menuju kursi kerja dan melanjutkan pekerjaan yang tertunda. Sementara Rara, sudah duduk di samping Izzi dengan tatapan lembut dan senyuman manis. "Adik manis. Boleh kenalan?"
Izzi hanya menatap uluran tangan Rara. Isakan tangis yang terhenti, berganti tatapan tidak suka. "Menjauh! Jangan dekati, papaku. Papa cuma milik Izzi."
Izzi berdiri dan berlari menghampiri Abhi, kelakuan Izzi diluar ekspektasi Rara dan Abhi. Gadis remaja itu seakan tak ingin lepas dari Abhi dan menganggap Rara sebagai musuhnya. Rara berniat menghampiri, tapi kode mata dari Abhi menghentikan langkahnya.
Kenapa, gadis itu memanggil Prince *Papa*. Apa diam-diam, tidak. Usia gadis itu terlalu dekat, jika menjadi anak Prince. Jangan suudzon, Ra.~batin Rara.
Ceklek…
__ADS_1
Pintu kembali terbuka, mengalihkan perhatian semua orang di ruangan itu. Wajah tegang dan nafas ngos-ngosan Bian seperti dikejar hantu. Meskipun Rara tidak begitu menyukai Bian, tetap saja Bian orang kepercayaan Abhi.
"Ada apa?" tanya Rara penasaran.
Bukannya menjawab, Bian menyodorkan ponsel yang tergenggam ditangan kanannya. Rara menghampiri Bian dan mengambil ponsel. Ponsel yang selalu tanpa password itu dengan mudah terbuka. Sebuah video rekaman CCTV diputar. Mata Rara melotot dan tubuhnya gemetar. Bian yang melihat itu, langsung menahan tubuh Rara.
Abhi ikut penasaran dan panik, tanpa pikir panjang. Tangan Izzi dilepaskan paksa dan Abhi berlari menuju Rara. Ponsel ditangan Rara hampir terjatuh dan Abhi menangkap itu. "Apa yang kamu berikan?"
"Lihat saja, Bos." jawab Bian.
Abhi tak langsung melihat, ponsel diberikan ke Bian dan Abhi memilih menggendong Rara. Setelah mendudukkan Rara di sofa dan memberikan air minum. Abhi sibuk mengusap kedua tangan Rara. Wajah pucat pasi dan gemetar saudara kembarnya terlihat jelas. Untuk pertama kali, setelah sekian lama. Rara kembali mengalami trauma.
"Tenang, aku ada disini. Jangan takut lagi. Kamu, dengar aku Zahra Zain Ardana." Abhi memeluk Rara dengan cemas dan bisikan kekuatan sesama saudara.
Bian bisa melihat kerapuhan princess killer. Hatinya merasa bersalah, kenapa menunjukkan video yang memicu trauma saudara kembar bosnya disaat tidak tepat. Rara merasakan darah yang mengalir di dalam tubuhnya mulai menghangat. "Pa… pa…"
Ucapan lirih Rara, masih terdengar ditelinga Abhi. Abhi menangkup wajah Rara dan menatap kembarannya dengan serius. "Dimana papa?"
Rara menunjuk ke tangan Bian. Abhi mengikuti arah tangan Rara, dan Bian berinisiatif membuka ponsel dan memutar video rekaman CCTV yang baru saja di ambil. "Ini, Bos."
Rekaman dari arah parkiran. Terlihat seorang pria paruh baya dengan wajah tampan. Hanya saja tidak begitu terawat. Jambang yang tumbuh seperti seminggu tidak dicukur. Bukan itu yang menjadi pusat perhatian. Tapi, wajah itu sangat mirip dengan Abhi versi tua. Degup jantung Abhi berpacu. Bukan hanya Rara yang gemetar, Abhi pun ikut gemeteran dan keringat dingin mulai bercucuran.
"Cepat, bawa pria itu! Temukan, dimanapun pria itu berada." Suara serak Abhi membius Bian.
"BIAN!"
"Eh, siap. Saya permisi." Bian berlari keluar ruangan Abhi.
"Apa itu, papa?" Rara memeluk Abhi dengan erat.
Pyaaar.....
Suara itu, membuat Abhi dan Rara saling pandang dan mengalihkan perhatian ke sumber masalah.
__ADS_1