My Love Is Stuck With Tomboy Girl

My Love Is Stuck With Tomboy Girl
Bab 80: Special part # Jangan-jangan....


__ADS_3

"Cepat, bawa pria itu! Temukan, dimanapun pria itu berada." Suara serak Abhi membius Bian.


"BIAN!"


"Eh, siap. Saya permisi." Bian berlari keluar ruangan Abhi.


"Apa itu, papa?" Rara memeluk Abhi dengan erat.


Pyaaar.....


Suara itu, membuat Abhi dan Rara saling pandang dan mengalihkan perhatian ke sumber masalah.


Gadis remaja itu sudah memegang pecahan vas bunga. Abhi bergegas bangun dan berjalan menghampiri Izzi dengan perlahan. "Letakkan itu, Izzi anak baik…."


"Papa jahat. Kenapa peluk wanita itu? Izzi di sini, tapi papa tidak peduli. Lebih baik, Izzi mati," Izzi semakin menggenggam erat pecahan vas bunga di tangan kanannya.


Abhi menahan nafas dan berpikir cepat. "Maafkan, Papa. Izzi anak baik kan. Berikan itu pada papa. Papa, mohon."


Izzi membuka genggaman tangannya. Meskipun sudah ada darah yang mewarnai pecahan itu. Abhi menyingkirkan vas bunga dari tangan Izzi dan mengajak gadis itu untuk ikut duduk di sofa. Rara hanya memperhatikan, dan enggan mendekat. Entah kenapa, ada perasaan mengganjal ketika menatap gadis remaja yang memanggil kembarannya sebagai papa.


"Jangan-jangan…." gumam Rara mengambil ponsel di saku celana jeans nya.


Setelah scroll beberapa saat, akhirnya sebuah foto ditemukan. Rara mengamati wajah Izzi dan menyamakan dengan wajah di layar ponsel. Setelah beberapa menit, tetap saja tidak menemukan kecocokan. Helaan nafas lega, membuat Abhi menatap Rara. Kode mata Abhi, hanya di balas gelengan kepala.


Ceklek….


Pintu terbuka, dan kali ini wajah wanita cantik dengan balutan pakaian formal menyita perhatian Abhi. Rara masih sibuk berselancar di ponsel mencari semua jawaban dari pertanyaannya.

__ADS_1


Langkah kaki wanita itu mendekati Rara, dan mengusap kepala wanita muda dengan penampilan tomboy ala rumahan. "Rara, sudah makan?"


"Belum," jawab Rara tanpa mengalihkan perhatian dari ponselnya.


"Ayo makan dulu."


"Bentar, aku masih menunggu hasil pencocokan….''


"Ra!" Abhi memanggil Rara dengan tegas.


Rara terpaksa mengabaikan ponsel dan menatap Abhi. Mata Abhi memberikan kode ke samping dirinya. Rara mengikuti tatapan mata Abhi dan senyuman manis menyambut. "Mommy, kapan sampai? Kok, gak bilang sih."


Dua anak rambut panjang menutupi wajah Rara, Kei menyelipkan anak rambut putrinya ke belakang telinga. "Baru saja. Bhi, ayo kita makan. Kalian buru-buru pergi tanpa sarapan di rumah."


Hati Abhi terasa ada yang menusuk. Bukan maksudnya ingin menghindari sarapan bersama. Akan tetapi, setiap kali duduk di kursi yang sama dengan beberapa kursi kosong selama beberapa tahun. Sungguh itu menyiksa batinnya. Lebih dari semua itu. Sikap sang mommy selalu sama, seperti tak kehilangan orang tercinta. Ketegaran di mata sang mommy seperti tembok Cina.


Rara langsung berdiri, meskipun tubuhnya masih lemas. Sambil menggandeng tangan sang mommy. "Rara ikut, maafin kita ya. Mom, bawa apa hari ini?"


"Makanan kesukaan kalian. Bhi ajak gadis itu!" Kei berjalan bersama Rara dan meninggalkan ruangan Abhi.


Abhi melirik Izzi yang menunduk, dan memegang tangannya begitu erat. Kemeja hitam yang dikenakan Abhi menjadi sedikit basah dengan bau anyir. "Aku obati lukamu. Lepaskan dulu."


Izzi menggelengkan kepala.


Tok!


Tok!

__ADS_1


Tok!


"Tuan, boleh saya masuk?" tanya seseorang dari luar.


"Masuk!" jawab Abhi dan masih berusaha membujuk Izzi untuk melepaskan genggaman.


Sekertaris dengan usia seperti sang mommy memasuki ruangannya. Melihat betapa repotnya Tuan Muda, membuat sekertaris itu meletakkan file di atas meja kerja. "Tuan, butuh sesuatu?"


"Bu, ambilkan kotak obat di laci nomor tiga."


Sekretaris itu mengambil kotak obat dan memberikan ke Tuan Muda. "Ada lagi, Tuan?"


"Minta OB untuk bersihkan pecahan vas. Batalkan meeting dua hari kedepan!" Abhi memaksa melepaskan tangan Izzi dan memberikan obat.


"Baik, Tuan. Saya permisi. Maaf sebelumnya, kenapa nona tidak kesakitan? Luka itu cukup dalam…."


Abhi menatap sekertaris agar diam. Merasakan aura tak lagi bersahabat, sekretaris itu mengundurkan diri dengan wajah menunduk. Akan tetapi, ucapan sang sekertaris masih Abhi dengarkan. Diam dari sudut mata, Abhi melihat seperti apa reaksi Izzi. Abhi menekan luka Izzi sesaat, tapi wajah gadis itu tidak kesakitan ataupun ada rintihan dari bibir.


Apa gadis ini memiliki kelainan? Kenapa senyuman yang terbit, bukannya air mata atau jeritan seperti Rara. Siapa sebenarnya gadis ini? Memanggilku papa, apakah wajahku sangat familiar? Jangan-jangan, mungkinkah? Tidak, tidak mungkin dia anak papa.~batin Abhi.


Beberapa menit berlalu, Abhi sudah selesai mengobati tangan Izzi dan membawa gadis itu keluar dari ruangannya. Langkah keduanya menuju taman khusus. Dimana Rara dan Kei sudah menunggu, benar saja kedua wanita beda usia itu belum menyentuh satu makanan pun.


...****************...


***Hay readers, othoor akan double up sampai novel selesai untuk yang kedua kali.


Harap bersabar, karena othoor juga tak bisa asal main lompat part***.

__ADS_1


See in night, happy Reading.. 📖


__ADS_2