
>>> Sunny POV <<<
"Gue benci hujan!" Kalimat pertama yang dilontarkan oleh ku adalah mengumpat pada langit yang mendung dan mulai meneteskan air hujan yang perlahan membasahi bajuku kini.
Oh Tuhan, dari sekian banyak hari, mengapa harus hari ini hujan turun?
Aku hanya dapat mengeluh kesal, bagaimana aku tidak mengeluh karena hujan turun diwaktu yang sangat tidak tepat, diwaktu aku memakai gaun berwarna kuning seperti bunga matahari namun hujan malah turun.
Apa tidak bisa hujan turun besok saja? Menyebalkan!!!
Sekali lagi aku melihat arlojiku yang terus bergerak sedangkan bus yang aku tunggu tidak kunjung datang sementara air hujan terus turun bercampur dengan debu yang membuat sepatu putih ku kotor seketika, belum lagi angin yang berhembus dengan sesuka hati membuat tatanan rambutku yang sudah susah payah aku blow sejak subuh tadi sukses menjadi berantakan.
Untung saja bus yang aku tunggu akhirnya datang juga, aku jadi bisa segera masuk kedalam bus tapi sialnya ternyata kursi favoritku sudah ditempati orang lain dan hanya tersisa dua kursi kosong dibarisan belakang tapi tidak apa, aku tidak membayangkan harus berdiri sampai aku tiba di kampusku.
Dengan segera aku duduk di kursi itu tepat disebelah jendela, terlihat kaca jendela mulai berembun dan hujan semakin turun dengan deras.
"Sialan..." Aku mengumpat lagi tepat disaat aku merasakan seseorang baru saja duduk di sebelahku.
Yang dapat aku lakukan sekarang hanya mencengkram rok ku dengan erat. Rasanya sangat malu mengumpat dan orang lain mendengar itu, apalagi orang itu bukan hanya orang biasa tapi pria tampan. Benar dia luar biasa tampan walaupun tidak ada senyuman menghiasi ekspresi wajahnya yang datar tapi dia sangat mempesona.
"Selain mengumpat, loe juga suka menatap wajah seseorang sedeket ini?"
"Ya?" Aku tertegun beberapa saat begitu ia menoleh tiba-tiba dan membuat wajah kami berhadapan dengan jarak yang sangat dekat.
__ADS_1
Aku bahkan dapat melihat kedua bola matanya yang terang dengan iris berwarna coklat gelap padahal di luar langit berwarna abu-abu dan semuanya terlihat lebih gelap tapi sinar matanya tidak redup sama sekali. Rambutnya sedikit berantakan tapi pria selalu memiliki poin plus jika terlihat sedikit bad boy dan garis hidungnya mancung tanpa celah, bibir bawahnya memiliki belahan dan berwarna merah alami, dagunya terbentuk sempurna dengan garis rahang yang tegas dan memukau.
Dia sungguh terlihat seperti pria sempurna yang melompat dari dalam novel idaman yang sering aku baca.
Oh Tuhan, kenapa tubuhku membeku?
Aku menarik kepalaku hingga membentur kaca jendela ketika pria itu tiba-tiba saja bergerak mendekat seolah ia akan mencium ku.
Mataku berkedip beberapa kali, bukan karena gatal namun karena syok ketika dia terus bergerak mendekat dan aku dapat merasakan nafasnya berhembus di telingaku.
Rasanya seperti berada dalam alur novel romantis yang manis, dia pria sempurna yang sangat cocok menjadi pemeran utama pria dalam novel yang berkesan. Apakah Tuhan sebaik ini padaku? Diluar dari cuaca yang buruk tapi berbagai tatapan dengan jantung yang berdebar-debar membuatku merasa seperti pemeran utama wanita dalam novel yang sama dengannya.
Takdir tidak semanis ini kan?
Dia tersenyum padaku! Apa yang harus aku lakukan sekarang?
"Maskara loe luntur tuh..." Ucapnya sebelum menarik dirinya dan kembali duduk tegak menatap lurus ke depan.
Ucapannya membawaku pada kenyataan pahit jika semua cerita dalam novel manis yang aku baca hanyalah sebuah karangan fiktif dan itu tidak akan mungkin pernah terjadi di dunia nyata.
Aku menyesal telah terpesona olehnya! Tapi dia sangat tampan Tuhan ... Mengapa engkau menciptakan pria idaman yang selama ini berada dalam khayalanku? Ini sungguh tidak adil karena aku merasa sangat malu sekarang.
Apa tiket ke Mars sudah bisa di pesan sekarang? Aku ingin pergi dari bumi sekarang juga!
__ADS_1
Dengan cepat aku memalingkan wajah ku yang sudah pasti merah padam karena malu.
Tanpa membuang waktu, aku segera mencari cermin kecil didalam tasku dan benar apa katanya, jika maskara ku luntur.
Uang jajanku habis untuk membayar kegiatan pariwisata yang akan diadakan pada akhir pekan ini hingga aku hanya mampu membeli maskara biasa yang tidak waterproof dan akhirnya sekarang aku terlihat seperti kuntilanak yang salah kostum.
Aku kembali menunduk lesu seolah telah kehilangan separuh nyawaku karena merasa frustrasi sebab bukan hanya maskara ku saja yang luntur tapi aku juga lupa membawa tissue basah.
"Gue Rain, fakultas manajemen. Jangan lupa cuci sebelum dibalikin." Ucap pria yang ternyata bernama Rain itu, ia melemparkan saputangan putihnya diatas tas ku sebelum beranjak keluar dari dalam bus.
Untuk sesaat aku tertegun, dia begitu cepat dan sudah menghilang sebelum aku mengatakan apapun.
Aku segera turun dari dalam bus untuk mengejar langkahnya namun ia sudah cukup jauh menghilang menuju kerumunan mahasiswa di universitas ku.
Dengan menggenggam erat sapu tangan pemberiannya, aku tidak pernah tahu ada pria setampan dia dan sangat dingin, bahkan aku tidak dapat merasakan emosi dari nada suaranya, semua terdengar datar ditelinga ku se-datar ekspresinya tapi bagian terbaiknya ternyata dia kuliah universitas dimana aku mengenyam pendidikan saat ini, luar biasa.
Haruskah aku melompat kegirangan sekarang?
Oh... Sunny, sepertinya kamu kelewat cuek selama ini hingga tidak menyadari jika ada pria yang setampan seorang aktor drama favoritmu.
Sunny dan Rain, nama kami boleh bertolak belakang, tapi meskipun singkat, dia memberikan kesan yang tidak dapat aku gambarkan, senang dan malu dalam waktu yang bersamaan sekaligus penasaran.
.....
__ADS_1