
"Oh lega banget..." Desah Sunny saat telah selesai buang air kecil, kedua matanya masih terpejam karena begitu mengantuk tapi ia tidak bisa mengabaikan panggilan alam yang murni terjadi setiap malamnya karena ia selalu memiliki kebiasaan minum banyak air putih sebelum tidur dan membuatnya harus berkali-kali ke toilet di tengah malam seperti ini.
"Kamu ngapain?"
Sunny menoleh begitu mendengar suara dan kedua matanya langsung terbuka lebar saat melihat Rain sedang berendam di bathtub yang terletak tidak jauh dari toilet tempat ia berada sekarang.
"Aaaaa..." Teriak Sunny yang dengan refleks langsung melemparkan tissue toilet kearah Rain dan berhasil mengenai kepalanya hingga Rain langsung jatuh tenggelam ke dalam bathtub.
***
"Aaa... Pelan-pelan..." Rain tidak kuasa menahan rintihannya saat Sunny membantunya mengompres keningnya yang memar akibat insiden lemparan maut tissue toilet di kamar mandi tadi.
"Siapa suruh kamu ngintip!" gerutu Sunny kesal meskipun ia tetap mengobati Rain.
"Aku gak ngintip!" elak Rain dengan tegas.
"Bohong!" ucap Sunny yang masih tidak percaya.
"Siapa yang bohong?" Rain sekali lagi meyakinkan, ia meninggikan nada suaranya sehingga Sunny perlahan terdiam.
"Siapa suruh kamu mandi tengah malam begini!" cicit Sunny pelan.
"Siapa suruh kamu tidur pakai pakaian begitu!" sahut Rain tidak kalah pelan.
Sunny akhirnya sadar jika gaun tidurnya memang terbuka, ia tidak tahu kenapa ibunya tidak memasukan piyama kesukaannya ke dalam tas pakaiannya dan malah memasukan banyak gaun tidur dengan potongan seksi.
"Katanya kamu gak bergairah ngeliat aku ..."
"Emangnya aku buta?"
"Ya maaf... Gak ada gaun tidur lain soalnya."
Rain kemudian melangkah menuju lemari pakaiannya, ia berdiri disana untuk beberapa saat untuk mencari pakaiannya yang bisa dikenakan oleh Sunny, sesuatu yang bisa menutupi kemolekan tubuh Sunny yang sangat indah.
"Pakai ini."
__ADS_1
"Itu kayaknya gak akan terlihat bagus buat aku." sebagai calon desainer, Sunny menolak untuk berpakaian yang akan membuatnya terlihat jelek.
"Kamu sengaja ya mau terus ngegoda aku?" Rain terlihat tidak sabar.
"Kan aku bisa tutupin pakai selimut kaya gini." ucap Sunny beralasan sambil menarik selimut dan menutupi belahan dadanya yang sebelumnya terekspos.
"Kita kan ada di dalem selimut yang sama, Sunny!"
"Ya derita loe..." cicit Sunny pelan.
Oh Tuhan, Rain sungguh tidak sabar, ia akhirnya harus melakukan sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
"Mau apa kamu?" Tanya Sunny takut saat Rain tiba-tiba saja duduk diatas tubuhnya.
"Kamu memaksaku melakukan ini semua!"
Sunny hanya bisa memejamkan kedua matanya, mungkin ini adalah akhir dari keperawanan tapi anehnya ia tidak merasa ngeri melainkan berdebar-debar tapi kemudian ia merasakan sesuatu membungkusnya dan ketika ia membuka kedua matanya kembali, Rain sudah berhasil memakaikan baju yang sebelumnya ia tolak.
"Oh Tuhan, Rain ... Ini gak pantes di aku!" teriak Sunny tidak terima, dan berusaha melepaskan kembali baju Rain namun Rain menahannya dengan mencekal kedua tangan Sunny lalu meletakkannya diatas kepalanya sehingga ia tidak dapat berkutik.
"Aku sama sekali gak keberatan berada di bawah selimut yang sama dengan wanita seksi yang gak menggunakan sehelai pakaian pun, mungkin aku bisa melepas pakaianku sekalian biar adil setelah itu kita bisa bersenang-senang di bawah selimut ini, ya kan sayang..."
Yang dapat Sunny lakukan hanya menelan saliva-nya. Rain sangat menakutkan, dia seperti beruang buas yang siap menerkamnya detik ini juga, oh Tuhan... ini bukan saatnya hatiku berdesir karena ancamannya kan?
"Oke..." Sunny mendesah pelan, ia tidak dapat mengendalikan nada suaranya karena begitu gugup dan itu terdengar sangat sensual sehingga tubuh Rain seketika menegang apalagi posisi mereka sangat menantang sekarang.
Gadis cantik di bawah tubuhnya ini menguji kesabarannya sejak tadi, sikapnya yang menantang membuat dorongan itu semakin kuat hingga walaupun ia baru saja selesai berendam air dingin, tubuhnya masih terus saja memanas.
"Sunny, please..."
"Iya aku akan pakai baju kamu tapi lepasin tangan aku..." Lanjut Sunny yang tidak dapat merasakan apapun selain rasa ketegangan dan juga gugup tapi Rain tidak juga melepaskannya.
Situasi ini membuat Sunny frustasi.
Rain masih tidak melepaskannya juga dan kedua matanya menatapnya dalam, membuat Sunny harus menahan nafasnya karena Rain sangat dekat dengannya bahkan deru nafasnya terasa hangat menerpa wajahnya.
__ADS_1
Oh Tuhan...
"Rain..." Panggil Sunny pelan nyaris seperti sebuah bisikan.
"Ya?" Jawab Rain dengan lembut, kelembutan itu membuat pandangan Sunny teralihkan kepada bibir milik Rain yang terlihat lembut dan imajinasi nakalnya yang selalu hadir ketika ia membaca novel romantis kini tiba-tiba saja muncul membuatnya mendadak ingin merasakan bagaimana rasanya sensasi berciuman apalagi Rain juga terlihat sesekali menatap bibirnya yang kini tertutup rapat.
Mendadak Sunny teringat ketika Rain mengecup bibirnya saat melamarnya di rumah sakit kemarin, rasanya lembut dan juga hangat, tapi juga terasa manis. Ciuman pertama yang berkesan tapi sekaligus membuat Sunny ingin merasakan ciuman yang sesungguhnya, ciuman seperti yang dilakukan Rosa dan Alvin yang penuh gairah di kapal pesiar waktu itu.
"Mau tidur lagi?" Tanya Rain, tapi ia sama sekali tidak terlihat ingin beranjak dari atas tubuh Sunny, deru nafas mereka yang beradu serta wajah Sunny yang memerah padam membuat Rain ingin terus berlama-lama dalam posisi ini.
"Ini masih malam untuk bangun..." Jawab Sunny pelan, jarak yang sedekat ini membuat Sunny tidak bisa mengeluarkan suaranya dengan benar apalagi jantungnya berdebar semakin kencang, rasanya ia terhipnotis dengan sorot mata Rain yang misterius.
Perlahan tubuh Rain bergerak menjauh dan melepaskan kedua tangan Sunny, ada sedikit rasa kecewa yang mencuat disudut hati Sunny saat Rain siap untuk beranjak dari atas tubuhnya tapi tubuh Rain tiba-tiba saja kehilangan keseimbangan sehingga ia langsung terjatuh dengan posisi bibirnya berada tepat diatas bibir Sunny sekarang.
Kedua mata mereka membulat sempurna, tubuh mereka membeku, sementara bibir mereka tetap bersentuhan.
Satu detik, dua detik, dan sedetik kemudian Rain perlahan menghisap bibir bawah Sunny dengan lembut.
Itu sangat-sangat mengejutkan, sangat lembut sehingga Sunny tidak dapat protes. Ini adalah ciuman yang selama ini ia bayangkan bukan kecupan singkat seperti yang Rain berikan saat melamarnya.
Sebuah ciuman yang ada dalam imajinasinya dan ciuman ini nyata terjadi sekarang dengan bibir Rain yang mulai bergerak menguasai bibirnya.
Atas dan bawah, Rain tidak menyisakan celah sedikitpun. Dia menyesapnya seperti menyesap kopi panas dalam cangkir dan perlahan esapan-esapan itu menuntut dan membuat Sunny terbuai.
Ia sudah benar-benar terbuai karena tangannya tidak kuasa bergerak memeluk tubuh Rain sementara tangan Rain sudah merengkuh punggungnya dan membuat tubuhnya sedikit terangkat sampai akhirnya perlahan Rain melepaskan ciuman mereka.
Nafas mereka beradu dan terengah-engah, kedua mata mereka tidak dapat berhenti melepaskan satu sama lain.
"Sunny..."
"Ya?"
Sunny dapat merasakan jika baju Rain sudah lepas dari tubuhnya sekarang dan ia sudah kembali hanya menggunakan gaun tidur yang terbuka, sekarang Rain menatapnya tanpa berkedip sementara tangan Rain merosot turun menurunkan tali gaun tidurnya.
"Tolong hentikan aku, karena aku gak bisa menghentikannya..."
__ADS_1
***