
"Kan siapa suruh genit, sekarang gak bisa tidur kan?" gerutu Sunny kesal. Ini sudah jam dua pagi tapi kecanggungan diantara dirinya dan Rain masih begitu kuat mengikat.
Semua ini bukanlah tanpa alasan karena sekali lagi mereka nyaris hilang kendali.
Entah kenapa semua hal yang mereka lakukan membawa pada situasi panas seperti ini padahal sebelumnya mereka hanya makan mie bersama tapi mereka nyaris menghancurkan dapur karena bercumbu liar.
Bagi dua orang yang belum lama kenal, yang tidak pernah akrab sebelumnya dan ditempatkan pada situasi yang tidak menyenangkan lalu menikah secara mendadak harusnya hubungan ini terasa canggung, harusnya jangankan bersentuhan, mengobrol saja mungkin sulit tapi kenapa mereka berdua berbeda?
Gairah yang tidak pernah ada sebelumnya selalu bangkit di setiap kesempatan, di setiap celah kecil tanpa adanya rencana untuk mencapai kenikmatan itu bersama.
Mengalir dengan deras, desiran di dalam diri yang meluap-luap. Meletup di dalam hati mereka setiap kali bibir mereka bertaut, tapi ciuman itu tidak hanya sekedar bibir yang saling menyatu tapi juga saliva yang tercampur, lidah yang saling bergerak liar menyusuri rongga mulut dan mengecap manisnya sensasi yang melemaskan tubuh.
Tangan yang tidak bisa hanya diam dan selalu ingin merengkuh, membelai dan meremas sesuatu yang begitu sensitif yang tidak boleh disentuh oleh siapapun, tubuh yang tidak mau menjauh, serta kulit yang terasa terbakar hingga ingin menyingkirkan apapun yang memisahkan mereka dan jarak yang nyaris tidak ada.
Semua itu harusnya hanya dilakukan oleh dua orang yang saling tertarik, dua orang yang saling mendamba, dua orang yang jatuh cinta.
Tapi cinta bahkan itu tidak pernah ada diantara mereka...
Sunny mendongakkan wajahnya bersandar pada Sofa, merasa terpukul setelah mengingat aksinya yang begitu liar pada Rain sambil terus memastikan selimut yang melilit tubuhnya tidak terlepas. Itu bukan karena ia sedang tidak menggunakan pakaian apapun, ia hanya sedang memastikan keamanannya kalau ia tidak tidak lagi hilang kendali seperti sebelumnya.
Rain yang sejak tadi sudah menyandarkan kepalanya yang terasa pening karena sesuatu di bawah sana terlalu sering bereaksi tapi tidak pernah bisa terbebaskan, menoleh ke arah Sunny.
Jarak mereka tidak cukup jauh, setidaknya ia hanya perlu sedikit merangkak menghampiri Sunny dan menarik selimutnya yang membungkus tubuh indahnya itu lalu menikmatinya sepenuhnya. Oh jika saja semudah itu padahal ia memiliki hak untuk semua itu hanya saja kewarasannya yang sudah tersisa sedikit itu menahannya.
Ia tidak pernah ingin menjadi pria brengsek yang memaksakan kehendaknya tapi keberadaan Sunny di dekatnya hampir mirip seperti sebuah penyiksaan.
Gadis itu bahkan terlihat tidak nyata, dia terlalu cantik dan tubuhnya terlalu indah untuk menjadi sebuah kenyataan, kenyataan yang selalu membuatnya merasa seperti sebuah mimpi manis karena gadis itu adalah istrinya sekarang.
"Mau tidur?" tanya Rain yang langsung membuat Sunny menoleh menatapnya.
"Jangan gila, tidur di kamar yang sama dengan kamu sama dengan menyerahkan diri."
__ADS_1
"Kita gak akan berdosa jika melakukan itu..."
Itu benar!
Oh sialnya Sunny malah mulai memikirkan untuk mengikuti nalurinya yang sejak tadi memberontak untuk di tenangkan. Naluri liar untuk membiarkan tubuhnya melakukan apapun yang sedang ingin ia lakukan sekarang.
"Loe harus coba bercinta, sensasi yang gak akan loe temuin dimanapun selain kenikmatan..."
Benar, dia bahkan belum merasakan bagaimana rasanya memiliki kekasih tapi sekarang ia sudah berstatus sebagai istri orang lain.
Sial untuk Rosa yang sudah membisikinya kalimat mengerikan itu, berusaha mendoktrinnya setiap kali ada kesempatan sambil mengejeknya yang tidak pernah sekalipun pacaran seumur hidupnya.
"Ayo kita mulai dengan berteman..." Ucap Sunny setelah menenangkan pikirannya tapi Rain hanya diam tidak merespon.
"Maksud ku, status kita gak berubah, kita tetep suami-istri tapi ayo jalaninnya mulai dengan berteman, kita gak bisa melompat langsung ke tahap pasangan yang udah tergila-gila dengan tubuh pasangannya masih-masing... Kamu ngerti maksud aku kan? Kita terus-terusan hilang kendali karena kita mikirnya kita itu udah sah dalam agama dan hukum kita udah menikah jadi kita punya hak itu tapi kalau misal status pernikahan ini gak pernah mengikat kita, bukannya kita cuma orang yang baru saling kenal belum lama kan?"
Rain masih diam tapi dia mendengarkan setiap kata yang Sunny ucapkan dengan serius. Semua hal itu masuk akal hingga Rain tidak bisa membantahnya sedikitpun.
Dengan percaya diri ia mengajak Rain berjabat tangan dan sepakat.
"Jadi kamu ada rencana jatuh cinta sama orang lain?"
"Ya?"
Tidak ada yang salah dengan pertanyaan Rain hanya saja suaranya terdengar lain seperti ada kekecewaan disana membuat Sunny tertegun.
"Gimana sama kamu?" kini giliran Sunny yang balik bertanya, ada perasaan aneh di sudut hatinya seolah ia sedang merasa bersalah.
"Kalau aku bilang aku ada rencana buat jatuh cinta sama kamu, apa kamu keberatan?"
Pertanyaan yang sopan itu seolah seperti sebuah ketukan, ketukan lembut yang mengetuk hatinya yang baru saja ia pasangi baja pelindung.
__ADS_1
"Aku gak keberatan..."
"Bagus, mulai sekarang kamu boleh menganggap aku teman tapi aku akan anggap kamu incaran ku. Pria dan wanita tidak pernah bisa benar-benar berteman, Sunny..." ucap Rain sebelum menarik tangan Sunny dan mengecup bibirnya.
"Rain!!!" Sunny menjerit, pria itu mendengarkan seolah setuju tapi ia tetap saja menciumnya.
"Tersegel, sekarang kamu gak akan bisa punya rencana buat jatuh cinta sama orang lain selain aku..." tukas Rain sebelum Sunny kabur meninggalkan Rain yang masih duduk di tempatnya.
***
Sunny mencengkram rambutnya dengan kedua tangannya, terasa seperti ada kembangan api yang meledak-ledak di kepalanya.
Ciuman ini terasa lain karena kalimat yang diucapkan Rain setelahnya.
Oh Tuhan, rasanya seperti mendapatkan pernyataan cinta. Begini kah rasanya?
Pria itu sangat cepat, ia bergerak tanpa basa-basi, tanpa peringatan dia membuat hati Sunny kelabakan.
Sambil mengigit bibir bawahnya yang masih tertinggal rasa manis di sana. Sunny kemudian mengintip Rain dari balik pintu, penasaran dengan apa yang dilakukan pria itu sekarang tapi Rain mendadak menoleh dan kedua mata mereka seketika bertemu.
Sepertinya tempat ini memang berhantu karena Rain terlihat seperti seorang yang melompat dari kisah fiksi. Dia terlihat berkilau di bawah sorot lampu gantung.
Oh Tuhan, sepertinya ada yang tidak beres dengan matanya apalagi ketika Rain tersenyum, dia terlihat menawan hingga Sunny kehilangan pegangannya dan nyaris terjatuh jika saja ia tidak refleks kembali berpegang tapi itu justru membuat suasana menjadi lebih canggung dari sebelumnya.
Bahkan hanya untuk sekedar membalas senyuman yang Rain berikan rasanya terlalu sulit sementara Rain terus saja tersenyum.
Jika begini saja sudah terlalu sulit, maka bagaimana caranya berteman dengannya?
Please Rain, pelan-pelan saja, hatiku tidaklah setangguh itu...
Kamu bahkan baru berencana untuk jatuh cinta padaku, aku takut aku jatuh cinta lebih dulu sebelum kamu menemukan rasa cinta itu untukku...
__ADS_1
***