
Rey baru saja selesai dioperasi, namun dia belum sadarkan diri. Mereka bergantian menjaga Rey. Setelah hampir 10 jam Rey baru sadar dan dokter memeriksanya. Dokter mengatakan semua normal dan sebentar lagi akan dipindahkan keruang perawatan. Nathan menyiapkan kamar VVIP agar muat untuk mereka semua
"Gimana keadaan lo Rey??"tanya Bianca
"Gue baik Al."ucap Rey tersenyum
"Lo itu membuat gue takut tau gak Rey. Lo itu sahabat terbaik gue, gue gak mau lo kenapa napa."ucap Winda berkaca kaca
"Hei cewek galak kok nangis. Lo lihat gue gak papa kan."kata Rey
"Hei gue gak galak ya!! Ya kan Kim??"ucap Winda
"Ya gak galak tapi bar bar."kata Kim
"Lo itu berdua sahabat gak ada akhlak ya emang suka banget menjelekkan gue. Yang satu playboy yang satu takut dekat cewek. Hadeuh punya teman gak ada yang benar."ucap Winda membuat semua orang disana tertawa
"Eh siapa bilang gue takut sama cewek jangan ngaco lo!!"ucap Kim tak terima
"Kalau lo gak takut sama cewek kenapa sampai sekarang lo masih jomblo?!"tanya Winda
"Eh gue udah punya calon istri ya dan sebentar lagi gue bakal married."ucap Kim bangga
"Wuih udah sold out sahabat gue. Cewek mana yang gak beruntung itu yang jadi calon istri lo??"tanya Winda
"Lo kira gue barang apa sold out segala."ucap Kim mendengus kesal
"Gue pulang dulu Rey daripada pusing bicara sama cewek bar bar ini."pamit Kim namun dicegah Winda
"Ya elah gitu aja ngambek lo Kim kayak cewek aja. Lagi PMS ya??"ucap Winda terkekeh
"Udah Win kasihan anak orang itu."kata Rey
"Ya emang anak orang kan. Yang bilang dia anak setan siapa??"kata Winda
"Abis makan cabe 1 kg ya lo Win omongan lo pedes banget. Udah lama gak ketemu gue kira sifat lo udah berubah jadi kalem. Eh malah tambah parah. Ckck."ucap Kim menggelengkan kepalanya
"Udah gue pergi dulu ada janji sama calon istri gue. Bye."ucap Kim berjalan keluar dari ruang perawatan Rey
__ADS_1
"Lo makan dulu ya Rey abis itu minum obat."ucap Winda menyuapi bubur pada Rey
Bianca dan Nathan duduk disofa memperhatikan Winda menyuapi Rey dan memberi obat. Tak berselang lama Zavier dan Hans masuk kedalam ruang perawatan Rey
"Gimana Bokap dan Nyokap gue Vier?"tanya Rey
"Bokap lo sekarang sudah ditahan dan Nyokap lo juga. Tapi, mungkin Nyokap lo ditahan gak akan lama karena dia hanya membantu dan semua yang merencanakan adalah Bokap lo."terang Zavier
"Mereka memang pantas mendapatkan itu. Semoga setelah dihukum orang tua gue menyadari kesalahannya."ucap Rey menghela nafas panjangnya
"Mending lo istirahat aja Rey jangan mikir yang berat berat biar lo cepat sembuh."ucap Winda
"Thanks ya Win lo selalu ada buat gue. Nyesel gue dulu gak menerima perasaan lo. Perasaan lo masih sama gak sama gue?? Mau gak lo ngasih kesempatan buat gue."ucap Rey memegang tangan Winda membuatnya tersenyum kikuk apalagi melihat wajah Hans yang merah karena marah
"Sorry Rey, gue udah punya cowok."ucap Winda melepaskan tangannya yang digenggam Rey
"Lo bercanda kan?? Gue gak percaya lo sudah punya cowok."ucap Rey
"Gue serius Rey gue gak bercanda."ucap Winda meyakinkan
"Terus siapa cowok lo??"tanya Rey masih meragukannya
Semua orang yang disana kaget kecuali Nathan
"Benarkah sejak kapan Win?? Setahuku kalian cuma dua kali bertemu lalu kenapa tiba tiba kalian jadian??"tanya Bianca
"Belum lama ini Al baru 3 bulan."jawab Winda cengengesan
"Gue emang 2 kali bertemu Winda, tapi kami intens berkomunikasi sejak suami posesif lo itu selalu bertanya keberadaan lo jika sedang tak bersama Vier."kata Hans menjelaskan
"Mas Nathan pasti sudah tahu kan??"tanya Bianca dengan tatapan menyelidik
Nathan hanya tersenyum saja dengan terus merangkul pinggang Bianca. Sejak dirumah sakit Nathan selalu merangkul Bianca seolah takut kehilangannya
"Berarti benar kan felling ku tak pernah meleset. Tapi kenapa pas kemarin di dalam pesawat gue tanya kalian gak mau jawab??"tanya Zavier memicingkan matanya
"Karena pertanyaan lo di saat yang tidak tepat. Kita itu sedang fokus dengan membebaskan Bianca eh lo nya malah tanya pertanyaan yang gak penting."ucap Nathan
__ADS_1
"Iya sorry bang gue kan penasaran aja kemarin."ucap Zavier
Rey hanya diam mendengarkan mereka berbicara. Dia sebenarnya memikirkan orang tuanya namun dia juga tak bisa berbuat apa apa. Setelah beberapa saat ada suster masuk ingin menyuntikkan obat yang diberikan dokter
"Permisi, saya mau menyuntikkan obat ke pasien."ucap perawat itu
"Oh ya silahkan Sus."ucap Winda
"Maaf ya mas suntikan ini agak sakit."ucapnya pada Rey
Rey hanya menganggukkan kepalanya dan meringis saat obat itu disuntikkan. Dengan refleks Winda memegang tangan Rey. Hans menatap tajam Winda namun dia tak peduli. Bianca menatap perawat itu lama seperti pernah mengenalnya tapi dia lupa. Hingga setelah diperhatikan terus dia baru mengingatnya
"Mbak Sinta."panggil Bianca berdiri dari duduknya
Perawat itu menoleh kearah sumber suara dan langsung tersenyum
"Bianca."ucapnya dengan mata berkaca kaca
Lalu mereka berpelukan saling melepas kerinduan setelah lama tidak bertemu
"Lo ya Bii gak pernah jenguk gue dikampung. Gue kangen tahu gak. Gue kira lo udah lupa sama gue."ucap Sinta menangis
"Gue juga kangen mbak. Maaf mbak gue gak sempat pulang kampung karena kuliah."ucap Bianca yang ikut menangis
Setelah melepas pelukannya Bianca memperkenalkan pada orang yang ada disana dan mereka pun duduk bersama dan berbincang bincang
"Bagaimana mbak keadaan warung makanku??"tanya Bianca
"Sekarang rumah makanmu sudah besar Bii, bu dhe dan mbak Thalita yang menangani sekarang terkadang adikku juga ikut membantu."ucap Sinta
"Syukurlah kalau begitu. Nanti kalau gue udah pulang ke Indonesia gue akan berkunjung kesana. Lalu berapa lama mbak Sinta jadi perawat disini??"tanya Bianca
"Gue itu sebenarnya magang disini Bii teman gue yang merekomendasikan gue jadi perawat disini. Dan gue udah sekitar 3 bulan ini jadi perawat disini."ucap Sinta
"Ya udah kayaknya udah kelamaan gue disini gak enak sama yang lain. Gue permisi dulu ya."pamit Sinta berdiri dan berjalan keluar ruangan Rey
"Siapa perawat tadi Al??"tanya Winda duduk disampingnya
__ADS_1
"Dia karyawan di rumah makanku dulu. Tapi, kami sangat dekat. Dia itu, sahabat juga kakak buat gue."ucap Bianca
Winda hanya menganggukkan kepalanya