My Secret Marriage

My Secret Marriage
Pria Dingin Yang Menyebalkan Dan Segala Masalahnya


__ADS_3

>>>Sunny POV<<<


"Hey... Itu kursi gue! Bangun gak atau Gue--" belum selesai aku berbicara, pria sinting ini telah menarik ku dan membuatku duduk diatas pangkuannya.


"Makan aja yang tenang." ucapnya seolah apa yang sedang dilakukannya saat ini bukanlah masalah besar, terlebih bagaimana cara semua orang menatap kami saat ini, dia sungguh sedingin gunung es di kutub utara. Tidak, tapi wajahnya setebal gunung es di kutub Utara karena ia sama sekali tidak gusar dengan perlakuannya kepadaku saat ini.


"Pria brengsek! Lepasin gue!" ucapku memberontak.


"Gue gak lagi pegangin loe kok!" sahut Rain dengan sangat tenang, Rosa bahkan terlihat menahan tawanya karena menyadari jika Rain sama sekali tidak memegangi ku, dia hanya menarik ku duduk di pangkuannya setelah itu tangannya tidak melingkar di perutku.


Dengan wajah memerah menahan malu, aku segera beranjak bangun dan bergegas pergi meninggalkan kantin.


"Awas loe ya! Dasar pria sinting!" tukas ku mengancam sebelum akhirnya aku memilih pergi atau rasa malu akan menelan ku hidup-hidup sekarang.


"Sunny... Tungguin gue!" Panggil Rosa yang berlari mengejar langkah cepat ku.


"Pria gila! Bisa-bisanya dia santuy begitu abis narik gue ke pangkuan dia!" lidah ku gatal, aku tidak kuasa mengumpat setelah aku duduk di kursi tepat dibawah pohon rindang dan teduh dan cukup jauh dari mahasiswa lainnya yang mungkin akan mendengar umpatan ku.


Walaupun kursi yang saat ini aku duduki basah namun aku tidak perduli, aku begitu kesal hingga mengabaikan semuanya termasuk penampilanku.


"Gue gak lagi pegangin loe kok!" aku mengolok kalimat yang Rain ucapkan tadi padaku.


"Brengsek..." aku mengumpat sekali lagi, dia membuatku pegal hati pagi ini hingga aku harus menepuk-nepuk dadaku yang terasa sesak karena rasa kesal memenuhi rongga jantungku.


"Siapa pria tadi? Kalian lagi dalam masa pendekatan ya?" tanya Rosa yang baru saja tiba dan segera menanyakan hal lelucon seperti itu.


"Masa pendekatan sih beb? Astaga Tuhan, kenapa engkau mengirimkan sahabat yang menyebalkan seperti ini dan juga bodoh padaku, Tuhan?" aku mengoceh kembali, karena kalimat yang di lontarkan Rosa baru saja sangat konyol.


"Darimana datengnya kesimpulan konyol itu kalau gue dan pria hujan itu lagi dalam tahap pendekatan?"


"Kan loe duduk di pangkuannya tadi, ya kan?" jawab Rosa polos, aku hanya dapat mengacak-acak rambutku yang tidak terasa gatal karena rasa frustasi setelah menghadapi pria itu dan juga sahabatku ini.


"Rosa, sepertinya loe butuh menyegarkan pikiran loe, sebaiknya pergi aja cari Alvin-loe dan tinggalin gue sendiri." saran ku yang sudah tidak tahan melihat tatapan mata penasarannya.


"Ide bagus... Kebetulan gue sama dia belum morning kiss." seru Rosa sebelum melangkah meninggalkanku dengan rasa jijik karena ucapannya. Yang benar saja, apa mereka membuat jadwal berciuman, bercumbu atau mungkin bercinta? Rosa sepertinya senang mengejek ku yang jomblo sejak lahir ini!


Setelah Rosa pergi, kini aku menyadari jika aku cukup kesepian di usiaku yang sudah menginjak 20 tahun ini, karena tidak ada seorang lelaki pun yang dapat menyentuh hatiku.


Terkadang aku berpikir, bagaimana rasa ciuman itu? Akan sehangat apa jika dipeluk namun sampai sekarang aku hanya dapat mencium dan memeluk boneka kelinci berkaki panjang kesayanganku di rumah.


Memang sial, padahal aku yakin jika aku cantik.

__ADS_1


Ha...ha...ha... Aku hanya menghibur diri, lupakan itu!


***


Hari berlalu dan semenjak kehebohan di kantin itu terjadi, aku menjadi sedikit lebih populer karena mereka selalu membicarakan ku seolah pria itu adalah pangeran kampus yang membuatku banyak mendapatkan tatapan sinis dari mahasiswi dimana aku kuliah.


Namun meskipun begitu, aku dan si pria hujan itu tidak pernah berpapasan lagi, itu adalah hari pertama dan hari terakhir kami berjumpa, meskipun terkadang aku memikirkannya.


Bagaimana bisa dia dengan tenang menarik ku kedalam pangkuannya namun itu hanya disaat aku merasa jenuh menggambar seperti saat ini.


Walau tanpa restu kedua orangtuaku, aku tetap nekat ikut perjalanan karya wisata menuju Bali menggunakan kapal pesiar dan bukan merasa senang setelah satu jam perjalanan aku malah merasa mual dan pusing berada diluar kabin jadi aku memilih kembali ke kamarku untuk menetralkan rasa pening ku sekaligus menyalurkan tanganku gatal ingin segera menggambar desain baju yang kelak akan menjadi koleksi baju musim panas ku jika aku sudah menjadi desainer terkenal nanti, namun sayang karena kepalaku begitu pusing sehingga aku tidak dapat menyelesaikan gambar ku dan malah memikirkan pria hujan itu.


Kejenuhan ku semakin menjadi, walaupun kepalaku masih terasa pening akhirnya aku kembali memilih untuk keluar dari kamar dan bergabung dengan teman-temanku yang lain, yaitu Rosa dan Alvin.


Tepat ditengah pesta kolam renang yang tengah berlangsung saat ini, ada banyak orang yang tengah bermain voly air dan sebagian memilih duduk bersantai di pinggir kolam sambil menikmati camilan mereka.


Kebetulan aku berkuliah disalah satu universitas elit dan ternama yang ada di Indonesia dan menurut kabar yang aku dengar jika hanya kaum sosialita dan pejabat tinggi yang berkuliah di universitas ini.


Walaupun sebenarnya kedua orangtuaku mungkin tidak sekaya mereka-mereka yang tengah bersenang-senang disana tapi setidaknya aku kuliah karena keinginanku bukan hanya sekedar formalitas sebelum mengikuti jejak orangtua mereka.


"Udah ketemu?" seseorang terdengar berbisik di telingaku.


"Apanya? Gue gak lagi mencari apapun-" jawabku sambil menoleh kearah suara itu dan ternyata pemilik suara yang tadi berbisik adalah Rain. Si pria hujan yang menyebalkan!


Ia tidak menjawab dan hanya berlalu pergi meninggalkanku setelah mengatakan kalimat absurd-nya itu.


"Pria gila..." cibirku cukup kencang, aku sengaja agar dia mendengarnya namun ia hanya menoleh sejenak sebelum melangkah pasti menjauh dariku.


Kini aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang ada di dalam pikiran pria itu sehingga ia selalu mengatakan kalimat tidak jelas yang membuatnya bertanya-tanya seperti itu.


Tapi masa bodo dengan dirinya, untuk apa juga aku membuang waktu memikirkan dia, lebih baik aku mencari kemana Rosa.


Dan akhirnya aku dapat menemukanya tengah berbincang santai dengan Alvin sebelum akhirnya Alvin menarik Rosa dan menyudutkannya ke dinding lalu menciumnya tidak sabar.


"Sial, mata gue ternodai." Ucapku sambil memalingkan wajah dan memijat pelipis ku karena kepalaku kembali merasa pusing.


Mungkin disini terlalu ramai hingga membuat kepalaku pusing, lebih baik aku mencari tempat yang sedikit lebih sepi.


Dibelakang sisi kapal, suasana bertolak belakang dengan keadaan di area kolam renang karena disini sedikit lebih sepi.


Aku bergerak lebih jauh, ketempat yang benar-benar sepi dan akhirnya aku menemukan kursi kosong yang menghadap langsung kelaut.

__ADS_1


"Laut emang indah banget, tapi akan lebih indah kalau gue punya pacar gak ngenes begini jadi jomblowati!" Ucapku berbicara sendiri meratapi nasib.


"Oh Laut... Kirimin jodoh gue sekarang!" teriak ku sambil berdiri membentangkan tangan seperti orang gila tapi aku sama sekali tidak perduli toh suara musik disana begitu kencang maka teriakannya saat ini tidak akan terdengar oleh siapapun.


Siapapun...


Aku masih berharap doa ku yang terdengar putus asa ini terkabul setidaknya sampai tiba-tiba seorang pria terjatuh di hadapanku seakan langit sengaja membuangnya sebagai jawaban dari doa ku.


Aku melangkah mundur, pria itu terlihat kesakitan maka setelah berhasil mengendalikan keterkejutan ku, aku segera mencoba membangunkannya yang terlihat tidak sadarkan diri itu.


"Hey... Loe baik-baik aja?" tanyaku sambil mencoba membalikan tubuhnya yang tengkurap dan betapa terkejutnya aku melihat siapa pria itu, dia adalah Rain!


"Rain... Rain! Bangun Rain, Loe kenapa? Kenapa loe babak-belur begini, Rain?" tanyaku panik, sesekali aku menepuk wajahnya agar Rain mendapatkan kesadarannya kembali dan akhirnya dia tersadar.


"Pergi... Tinggalin gue disini, Sunny." ucapnya tertatih, nafasnya tersengal, ia terlihat sangat tidak berdaya.


"Gimana gue bisa ninggalin loe disini! Ayo bangun, jangan mati disini, gak lucu banget! Gue gak mau di tanya-tanya sama polisi gara-gara loe! Jadi ayo bangun biar gue bisa obatin luka loe." ucapku bersikukuh, aku berusaha memapah tubuh besarnya dan membantunya untuk berusaha bangun.


"Mau kemana loe pengecut!" seseorang berteriak tepat setelah aku dapat membantunya berdiri dan kami hendak melangkah.


Rain menoleh kearah suara gahar itu, ia menurunkan tangannya dari bahuku dan berdiri melindungi ku.


"Pergi, Sunny..." pinta Rain dengan sisa tenaganya sementara itu pria yang terlihat seperti seorang gangster itu bersama dua anak buahnya terus melangkah mendekat.


"Woy, bocah! Pacar loe cakep banget... Gue sepertinya bisa bersenang-senang sama dia malam ini!" seru sambil menyentuh dagunya dan melihat tubuh ku dengan cara yang menjijikkan.


Mendengar kalimatnya sontak aku melangkah mundur karena merasa takut.


Rain masih berusaha melindungi ku bahkan ketika dua orang yang sebelumnya berada di sisi pria bertato burung elang di pergelangan tangannya itu mulai menyerangnya.


"Pergi sana... Cari bantuan!" teriak Rain yang sudah terlihat tidak berdaya dan darah mengucur dari pelipis, hidung serta sudut bibirnya.


Aku mengangguk takut dan mencoba mencari jalan keluar namun pria besar itu menghadang ku.


Dia berusaha menggapai ku, namun aku berhasil menghindar tapi setelah itu aku kehilangan pijakan ku, dan aku merasakan tubuhku terhempas jatuh kebawah.


Aku mendengar suara teriakan sebelum akhirnya aku melihat Rain terjun seolah ia menyusul ku.


Tangannya berusaha untuk menggapai ku dan sedetik kemudian aku merasakan rasa sakit yang luar biasa ditubuh ku.


Basah dan sulit untukku bernafas...

__ADS_1


Semuanya terlihat memudar, apa aku akan mati?


....


__ADS_2