My Secret Marriage

My Secret Marriage
Mau aku buktikan?


__ADS_3

"Tenagaku gak akan habis dalam semalam..." Sunny mencoba membuang pikirannya tentang ucapan Rain pagi tadi setelah menikahinya dan sekarang senja sudah mulai menyapa tapi kalimat itu masih saja menghantuinya bahkan lebih menghantuinya lagi mengingat dimana mereka sekarang berada.


Tentunya di sebuah tempat yang tidak pernah masuk daftar list tempat yang ingin ia kunjungi dalam kehidupannya.


Ok, tempat ini tidak seburuk itu... Sejujurnya tempat ini lumayan nyaman dengan tebing yang meluncurkan air terjun yang dapat terlihat dihalaman belakang seakan itu adalah air terjun pribadi, kondisi villa yang asri dan juga sejuk belum lagi pepohonan rindang yang membuat suasana semakin teduh. Ini adalah tempat terbaik untuk healing oh jika saja ini bukan hari pertamanya sebagai seorang istri dari pria asing yang tidak ia cintai.


Alih-alih tempat indah untuk healing ataupun honeymoon, tempat ini lebih terasa seperti rumah hantu di tengah hutan terlebih ia terjebak dengan pria dingin yang sejak mereka tiba tidak mengucapkan sepatah katapun.


"Hey..." Panggil Sunny yang sudah tidak tahan dengan keheningan yang tercipta sejak mereka tiba.


Rumahnya selalu terasa hangat dan Rain membuat villa yang indah ini terasa dingin.


"Apa?" jawab Rain singkat tanpa menoleh, ia masih sibuk mengganti sprei putih dengan sprei berwarna abu-abu.


"Kenapa loe ganti sprei-nya? Mama loe bilang tempat ini udah di bersihin kan?" tanya nya Sunny seraya mendekat, sejak tadi ia tidak melakukan apapun dan hanya melihat dari jarak yang cukup jauh.


"Sprei putih, kamu gak tahu artinya itu?"


"Apa?"


Rain tidak lantas menjawab, ia hanya menyeringai penuh arti.


"Kenapa loe senyum-senyum begitu?" tanya nya Sunny bingung dan sejujurnya sedikit takut apalagi Rain perlahan melangkah kearahnya.


"Apa?" tanya Sunny lagi yang harus melangkah mundur saat Rain terus saja mendesaknya.


"Aku bakal jawab asalkan kamu gak lagi pakai bahasa gue-elo."


"Kenapa gitu? Canggung tau!"


"Biar adil kan!"


"Gak mau!"


"Ya udah kalau gak mau, aku gak akan jawab apapun pertanyaan kamu kalau kamu masih gue-elo."


"Ish..." Sunny mendesis kesal. Ia tidak ingin situasi ini menjadi semakin tidak nyaman jika Rain menolak untuk bicara dengannya.


"Ya udah," Seru Sunny dengan malas.


"Ya udah apa?"


"Aku-kamu ..."


Rain tersenyum puas sekarang, ia bahkan mengusap puncak kepala Sunny setelahnya.


"Ya udah, sekarang jawab apa artinya sprei putih?"


"Itu artinya mereka ingin memeriksa keperawanan kamu."


Tubuh Sunny jatuh seketika di atas tempat tidur begitu mendengar jawaban Rain yang membuatnya sangat terkejut.


"Kenapa? Kamu udah gak perawan?" Seringai itu muncul lagi, Rain tidak hanya menakutkan tapi juga menyebalkan dalam satu waktu apalagi karena ucapannya terdengar merendahkan sehingga Sunny langsung bangkit dan mendorong tubuh Rain meskipun itu sama sekali tidak mempengaruhi jarak diantara mereka yang sangat minim.


"Emangnya kenapa kalau aku udah gak perawan? Kaya kamu masih perjaka aja!" tanya Sunny dengan lantang, ia sengaja berbohong karena Rain mungkin akan menertawakannya jika Rain sampai tahu kalau ia belum pernah pacaran seumur hidupnya.


"Aku emang masih perjaka."


Crack... Aku dapat mendengar itu, itu suara harga diriku yang hancur baru saja.


Rasanya Sunny ingin menangis dan bersembunyi dibalik air terjun sana tapi dia tidak memiliki kemampuan itu sehingga ia harus menghadapi rasa malu untuk kesekian kalinya dihadapan Rain.

__ADS_1


"Pria seperti kamu gak mungkin masih perjaka." dengan sisa harga diri yang masih ia miliki, Sunny mencoba memancing Rain dan semoga saja Rain sedang berbohong tentang status perjaka yang ia klaim.


"Kenapa gak mungkin?"


"Ya gak mungkin aja, kamu kan ganteng terus juga kaya..."


"Terus?"


"Pasti banyak cewe yang udah mengisi list deretan kekasih kamu dengan gampang."


"Sayangnya aku bukan pria murahan."


"Hey!!!"


Sunny hanya bisa membungkam mulutnya, ia tidak tahu harus berkata apa lagi sekarang karena Rain terus saja menariknya kedalam dasar jurang rasa malu karena ia merasa seperti wanita gampangan sementara Rain pria suci tidak tersentuh.


Ini gila! Aku bisa gila jika terus begini!


"Udahlah, aku mau mandi!" tukas Sunny yang memilih pergi tapi Rain dengan mudah mencekal pergelangan tangannya.


"Ayo mandi bareng?"


"Jangan gila!"


"Kenapa aku harus gila? Aku cuma ngajak mandi istriku sendiri lagian kamu udah gak perawan kan?"


Oh Tuhan, dia pantas mendapatkan award menjadi pria brengsek yang superduper menyebalkan!


"Aku gak mau mandi sama kamu dan aku masih perawan! Kamu puas!" Teriak Sunny geram, ia menarik tangannya dengan satu hentakan lalu melanjutkan langkahnya.


"Mana buktinya?"


Sunny memejamkan kedua matanya, ia menghentikan langkahnya begitu mendengar pertanyaan gila yang terlontar dari bibir Rain.


"Kalau kamu masih perawan."


"Ya terus mana buktinya kalau kamu juga masih perjaka?"


"Mau aku buktiin?" tanya Rain sambil melirik kearah tempat tidur yang membuat Sunny akhirnya sadar jika percakapan menyebalkan ini hanya tipu muslihat seorang Rain Wijayanto agar ritual malam pertama mereka benar-benar terjadi.


"Dasar mesum!" teriak Sunny tapi Rain hanya tertawa melihat ekspresi geramnya.


"Katanya perlu bukti, ayo sini aku buktiin..." goda Rain yang masih belum menyerah.


"Buktiin aja sama hantu ditempat ini, dasar pria mesum!"


"Hey, aku suami kamu sekarang, sayang... Gimana aku bisa selingkuh sama hantu disini, aku gak akan tega ngeliat kamu cemburu. Sini sayang, aku bantuin kamu buka baju, hantu disini gak akan cemburu jika melihat kita bercinta..."


"Rain!" Sunny hanya bisa berteriak frustrasi sambil berlari menghindari kejaran Rain.


"Berhenti ngejar aku dasar pria mesum!" teriak Sunny sambil terus berlari keluar kamar mereka lalu menuruni tangga dan bersembunyi di balik sofa yang kini menjadi pemisah jarak diantara mereka tapi Rain terus saja mencoba menangkapnya, "Sayang ..." Panggil Rain menggoda, walaupun ia tidak benar-benar menggoda Sunny untuk merayunya melainkan hanya untuk membuat gadis itu kesal.


"Aku cape, Rain..." teriak Sunny yang kini sudah berada dibalik meja dapur sementara Rain dengan tenang berjalan kearahnya.


"Kalau gitu sini, aku gendong, sayang."


"Jangan ngimpi..."


"Sialnya ini nyata."


"Aku emang sial!"

__ADS_1


Rain kembali tertawa tapi kali ini ia menghentikan langkahnya dan duduk di balik meja bar dapur.


"Sampai kapan kamu mau sembunyi disana?" Tanya Rain karena Sunny masih bersembunyi dibalik meja dapur.


"Jangan coba-coba ngejebak aku..."


"Gak kok..."


"Bohong!"


"Buat apa aku bohong?"


"Tentu aja buat dapetin keuntungan dari aku."


Rain kembali tertawa, dia sungguh menyebalkan.


"Keuntungan apa?"


"Jangan pura-pura polos, Rain!"


"Ok... Ok... Aku cuma bercanda, aku gak mu bercinta sama kamu. Kamu sama sekali gak ngebuat aku bergairah."


Tunggu dulu, kenapa itu terdengar seperti sebuah penghinaan baru? Apa yang salah dengan tubuhku sehingga dia berkata seperti itu?


Sunny akhirnya beranjak bangun, ia muncul dari balik meja dapur dan terlihat Rain yang menatapnya tanpa rasa bersalah setelah mempermainkannya.


"Apa?" tanya Rain bingung karena Sunny terus menatapnya tajam.


"Emangnya siapa yang bergairah ngeliat kamu! Gak ada yang menarik dari kamu, dasar jelek!" umpat Sunny sebelum akhirnya melangkah pergi tapi Rain tidak memperdulikannya sedikitpun, ia malah duduk dengan santai di kursi bar dapur dan itu berhasil membuat Sunny semakin kesal hingga ia akhirnya kembali menghampiri Rain.


"Apa?" tanya Rain lagi, ia mendongakkan pandangannya menatap Sunny yang kini berdiri disebelahnya.


"Aku bilang kamu jelek."


"Terus?"


"Aku gak bergairah ngeliat kamu."


"Okay?"


Oh Tuhan sikap Rain sungguh membuat Sunny jengkel.


"Kamu gak marah?" tanya Sunny penasaran.


"Marah kenapa?"


"Aku baru saja ngehina kamu."


Rain akhirnya beranjak bangun, ia kemudian menyeringai lalu sedetik kemudian ia menarik pinggang Sunny hingga tidak ada jarak diantara mereka.


"Mau apa kamu? Lepasin aku!" Ucap Sunny yang mencoba menjauh tapi Rain memeganginya dengan sangat erat.


"Kamu ngerasa terhina hanya karena aku bilang kalau kamu gak membuat ku bergairah?"


Itu benar...


"Gak mungkin, buat apa juga aku ngerasa terhina, aku sadar kalau aku cantik kok"


"Karena itu, kamu tahu cuma ada kita berdua disini, dan status kamu istri aku sekarang..."


Sunny menahan nafasnya saat wajah Rain terus saja mendekat.

__ADS_1


"...dan kamu cantik banget..." bisik Rain pelan yang langsung membuat tubuh Sunny membeku.


***


__ADS_2