My Secret Marriage

My Secret Marriage
Mencoba kabur


__ADS_3

"Baguslah kalau begitu, kita gak perlu melewati malam pertama kita di rumah sakit ini." suara mengerikan Rain begitu terngiang di kepala Sunny hingga ia tidak dapat tertidur dengan nyenyak.


Walau sudah mengubah posisi dan membolak-balikkan tubuhnya yang merasa gelisah, Sunny tetap saja merasa gusar tapi kemudian pandangannya teralihkan pada Rain yang sudah terlelap dengan tenang seolah tidak ada hal yang perlu ia cemaskan.


Wajah tampannya terlihat semakin jelas ketika ia terlelap seperti ini, bulu matanya indah dan lentik juga lebat hingga ketika ia membuka matanya sekilas ia terlihat seperti memakai maskara. Sangat tampan, akan jadi apa anak mereka kelak jika nanti mereka menikah?


Tapi tunggu dulu, Sunny jangan terbuai, bodoh! Tidak ada anak, tidak ada pernikahan!


Perlahan Sunny beranjak duduk, kedua orangtuanya dan kedua orangtua Rain baru saja pergi meninggalkan ruangan dimana Sunny dan Rain berada.


Sebelum pergi, ayah Sunny berpesan jika ia menyelipkan CCTV untuk mengawasi mereka berdua jadi jangan coba berpikir macam-macam, memangnya apa yang akan dilakukan mereka berdua? Sunny sungguh tidak habis pikir, siapa yang menyuruh merek berdua ditempatkan di ruangan yang sama seperti ini, sungguh konyol.


Melihat suasana yang hening dan kondusif tiba-tiba terlintas dalam benaknya untuk kabur karena tidak mungkin ia menikahi Rain yang jelas-jelas pria asing baginya.


Kedua telapak kaki Sunny telah menyentuh lantai kini, walau harus berjinjit karena lantai marmer rumah sakit begitu dingin menyentuh telapak kakinya.


Sunny masih mengendap-endap, mengapa kakinya terasa lemah dan langkahnya terasa kecil dan jarak pintu seolah sangat jauh.


"Pelan-pelan..." Ucap Sunny pada dirinya sendiri ketika mencoba membuka pintu secara perlahan.


Jika saja, Rain menolak rencana pernikahan mereka maka Sunny tidak perlu repot-repot mengendap-endap layaknya seorang pencuri seperti ini.


"Masa pintunya dikunci sih? Keras banget, sialan!" keluh Sunny karena pintu yang saat ini ditariknya sangat sulit untuk dibukanya.

__ADS_1


"Oh, ayo dong pintu, berbaik hati dong sama gue! Semoga kebuka, please..." Rengek Sunny memelas tapi pintunya tetap aja tidak dapat dibuka.


"Mau kabur ya?"


"Iya..."


Sial, Sunny menelan ludahnya yang terasa seperti banyak jarum yang menusuk tenggorokannya, ia menoleh kearah suara itu dan ternyata yang membuat pintu sulit di buka karena Rain menahannya.


Hanya tertawa kaku yang dapat, Sunny lakukan saat ini sambil membalikan tubuhnya menghadap Rain tapi tatapan Rain yang dalam sungguh membuatnya takut sehingga ekspresi wajahnya berubah perlahan menjadi memelas.


"Please... Gue akan turutin apapun keinginan loe, tapi gue mohon biarin gue kabur, gue gak mau menikah sama loe, gue gak bisa membiarkan masa muda gue terlewat bersama pria hujan kaya loe... maksud gue kita kan gak dekat, cuma beberapa kali bertemu dan karena pernikahan itu saklar, gue gak mau akhirnya kita gagal mending gak usah di mulai pernikahan ini, kan? Iya kan?" kini tidak ada hal lain yang bisa Sunny lakukan selain bernegosiasi dan berharap Rain akan memahaminya.


Rain masih terdiam, ia masih menatap Sunny lekat-lekat dengan tatapan yang dalam penuh arti sedangkan tubuhnya masih tidak bergerak menjauh malah tanpa Sunny sadari Rain sudah menghimpit ruang geraknya.


Sialan! Sunny rasanya ingin mengumpat tapi ia menahan kekesalannya agar negosiasi ini berhasil, "Iya kan? Kita ini gak akan nyambung, gak sefrekuensi."


"Tapi gue harus nikahin loe!"


"Kenapa?"


"Ada yang mau bunuh gue ..."


Wajah, Sunny seketika berubah. Ia menegakkan kepalanya dan menatap Rain tidak mengerti dengan maksud ucapannya baru saja.

__ADS_1


"Maksud loe apa?" tanya Sunny bingung.


"Kejadian di kapal pesiar kemarin terjadi bukan karena mereka bukan musuh gue tapi seseorang senagaja kirim mereka untuk ngebunuh gue..." Jelas Rain.


"Malang betul..." gumam Sunny seolah ia percaya dengan ucapan Rain tapi kemudian ia terkekeh pelan sambil berkata, "Pertama bapak tiri loe, terus sekarang ada yang coba ngebunuh loe... Mungkin besok loe akan beralasan kalau loe lagi hamil anak gue! Cinta loe sama gue?"cibir Sunny jengah.


Awalnya Sunny sedikit terpengaruh oleh ucapan Rain tapi kemudian ia teringat akan percakapan mereka tadi sore dan menjadikan hubungannya dengan ayah tirinya sebagai alasan namun kini alasan itu berubah lagi.


"Oh jangan-jangan loe itu pengagum rahasia gue? Kenapa loe ngotot banget mau nikahin gue?" tuduh Sunny berteriak. Masa depannya dipertaruhkan kini dan ia tidak dapat membiarkan pria yang saat ini berada dihadapannya mengobrak-abrik masa depan cerahnya sebagai seorang desainer fashion muda yang mendunia.


"Loe bukan tipe gue, jadi ngapain gue cape-cape bohong buat cari alasan supaya kita bisa nikah ." jawab Rain dengan tegas, seolah ucapan ketus Sunny bukanlah masalah besar yang dapat mengusik ketenangannya saat ini.


Wajahnya masih memasang ekspresi datar, sungguh menyebalkan namun Sunny malah menatapnya tanpa menyanggah ucapan 'bukan tipeku' yang di lontarkan oleh Rain padanya yang terdengar seperti sebuah penghinaan halus.


"Ya kalau gue bukan tipe loe, ya udah gak usah minta nikah-nikah segala." Kini Sunny dapat kembali mengendalikan dirinya, ia memekik dan wajahnya terlihat sangat tidak senang.


"Sialnya gue udah nyeret loe dalam masalah ini, dan gue cuma bisa ngelindungin elo dengan cara jadiin loe istri gue seenggaknya sampai gue tau siapa dalang semuanya..."


Sunny mendesah, "Terima kasih banyak atas perhatiannya mas hujan, tapi loe gak perlu repot-repot, papi gue masih mampu bayar bahkan untuk sepuluh orang pengawal sekalipun!"


Sunny masih bersikeras, dengan satu helaan nafas berat, Rain menurunkan tangannya dan bergerak menjauh, "Jangan nyesel."


"Gak akan pernah!"

__ADS_1


***


__ADS_2