
"Gue temennya, loe siapa?!"
"Gue suaminya!" Ingin sekalian Rain mengakui statusnya tapi ia sudah terlanjur janji dengan Sunny untuk merahasiakan pernikahannya hingga Rain hanya diam dan menunggu Sunny memperkenalkannya sendiri.
"Dia siapa, Sunny?" Pria itu mendekat sekali lagi, membuat Rain ingin menghajarnya karena cemburu yang hampir menyentuh ubun-ubunnya tapi Sunny meredam amarah itu dengan berpegangan pada lengan kekar Rain.
"Dia orang yang spesial bagi gue!" Jawab Sunny dengan tegas membuat pria itu seketika tertegun.
"Kenapa nih?" Rosa datang menyalip keramaian yang disebabkan oleh Rain dan juga pria itu.
"Rio!" Rosa langsung berdiri di sisi Rio karena sepertinya ia tahu apa yang terjadi, tidak lama setelah itu Alvin datang menyusul.
"Loh, Sunny... Loe udah baik-baik aja?" Alvin langsung menyentuh tangan Sunny karena seingatnya Sunny terjatuh di laut dan kondisinya kritis ketika di temukan tapi Alvin belum sempat membesuk, Rosa sudah lebih dulu mencegahnya dan mengatakan jika Sunny baik-baik saja.
"Gue kira Rosa bohong pas bilang loe lagi jalan-jalan sama sepupu loe. Gue pikir loe berobat."
"Berobat?" Rio langsung terlihat khawatir. "Loe sakit apa?" Tanya Rio yang seketika mendekat lagi.
Rain sungguh kesal dengan situasi ini, situasi dimana banyak pria yang memperhatikan istrinya hingga ia dengan kasar melepaskan tangan Alvin yang memegangi tangan istrinya itu.
"Gue udah baik-baik aja kok." Sunny menjawab dengan perasaan takut karena ekspresi Rain terlihat menggelap.
"Terus dia siapa? Dia beneran sepupu loe?" Rio bertanya lagi dengan sedikit mendesak.
"Bukan, dia orang terdekat gue jadi jangan sembarang peluk-peluk gue. Biasanya juga loe gak pernah peluk-peluk gue dulu." jawab Sunny protes, tentunya ia tidak ingin Rain sampai marah dan salah paham padanya.
"Gue kangen, Ny... Emangnya loe gak gak kangen udah lama gak ketemu gue?"
"Kangen sih tapi kan..."
Situasi ini membuat Sunny merasa serba salah, terasa di himpit oleh dua tembok besar yang terus mendesaknya, tidak... Lebih tepatnya tiga tembok besar karena Alvin masih terlihat tidak senang setelah Rain memaksanya melepaskan tangannya. Rosa yang sadar akan posisi terjepit sahabatnya itu langsung menggandeng Alvin dan menenangkannya.
"Sunny udah sembuh kok, waktu itu dia cuma kelelahan aja soalnya ke bawa ombak tapi untungnya ada Rain yang bawa dia berenang ke tepi pantai," jelas Rosa.
"Jadi karena loe utang Budi sama dia, loe jadi nempel begitu sama dia?" Rio masih sama, dia masih marah bahkan terlihat lebih marah.
"Gak, bukan karena itu..."
__ADS_1
"Gue gak ngerti hubungan pertemanan kalian ini care atau posesif. Kenapa loe mesti marah kalau Sunny deket sama gue?" Rain akhirnya buka suara, ia memberikan tatapan tajam pada Rio dan juga Alvin.
"Karena gue sama Sunny udah di jodohin!"
Rain hanya tersenyum tipis mendengar Rio yang begitu percaya diri menyebut tentang perjodohannya dengan Sunny berbeda dengan Alvin dan Rosa yang terkejut setengah mati mendengarnya.
"Gue balik lagi kesini karena gue mau bahas pertunangan kita!" Rio terus bicara seraya mendekat tapi kali ini bukan Rain yang menahannya melainkan Sunny sendiri.
"Itu kan cuma omongan bercanda orangtua kita, Rio... Gue gak mungkin nikah sama loe. Gue udah sama Rain."
"Cuma pacaran kan? Masih bisa putus lagian gue yakin orangtua loe lebih setuju sama hubungan kita!"
Rain sudah tidak tahan lagi, ia mendorong tubuh Rio yang terus mendesak Sunny hingga Sunny merasa terintimidasi dan dorongannya berhasil membuat Rio terjatuh.
"Sayang, ayo kita pulang..." Ajak Rain yang langsung melangkah menggandeng Sunny melewati Rio yang masih beranjak bangun di bantu dengan Rosa.
"Sunny..." Alvin memanggil seraya mencekal pergelangan tangan Sunny dan menghentikan langkahnya.
"Loe mau ninggalin persahabatan kita demi orang baru begitu aja?"
Rain tersenyum senang, Sunny lebih memilihnya daripada sahabat-sahabatnya. Gadis itu bahkan melepaskan tangan Alvin yang menggenggam pergelangan tangannya, "Jangan sembarangan sentuh gue. Gue bukan Rosa!"
***
Pada akhirnya mereka gagal membeli perabotan karena mood Sunny sudah telanjur hancur. Rain tahu sejak tadi Sunny menahan air matanya hingga dia dengan sengaja tidak mengatakan apapun atau wanitanya itu akan menangis.
Rain kemudian membawa Sunny ke pantai, langit sudah mulai sore ketika mereka tiba.
"Mau es krim?" Tanya Rain saat mereka sudah cukup lama berjalan di pinggir pantai.
"Maunya makan nasi!"
Rain tertawa pelan, reaksi Sunny sedikit banyak menunjukkan jika ia sudah merasa lebih baik sekarang.
Mereka akhirnya makan nasi goreng seafood di kedai yang terletak tidak jauh dari pantai sambil melihat matahari yang mulai tenggelam.
"Aku masih sedikit takut sama laut..." Sunny memulai pembicaraan ketika angin berhembus semakin kencang.
__ADS_1
"Mau pulang abis makan?" tanya Rain tapi Sunny malah menggelengkan kepalanya.
"Tapi laut yang menjodohkan kita..."
"Kamu gak nyesel kan berjodoh sama aku?"
"Kenapa aku harus nyesel?"
"Karena perjodohan kamu gagal dan persahabatan kamu jadi renggang gara-gara aku..."
"Mungkin udah takdirnya kan, lagian kamu mungkin bener, entah mereka care atau posesif. Aku ngerasa ada yang beda sejak cinta masuk ke dalam persahabatan kami."
Rain tidak lagi menjawabnya karena tidak ingin Sunny kembali sedih, ia lantas menyentuh punggung tangan Sunny dan menggenggamnya erat.
"Mau nginep di sini gak?"
"Nginep?"
"Iya, nerusin honeymoon..."
"Ish kamu mau modus lagi ya?"
Rain hanya tersenyum, tapi senyumannya berahasia membuat Sunny merasa gugup.
"Mau gak?" tanya Rain sekali lagi.
"Tergantung, keselamatan aku terjamin gak?"
"Kalau itu sih aku gak yakin..."
Tubuh Sunny seketika membeku ketika Rain mengedipkan sebelah matanya dan membelai punggung tangannya dengan ujung jari telunjuknya, menegaskan keinginannya yang sudah terlihat jelas di wajahnya.
"Kamu seenggaknya harus membayar kecemburuan ku kan? Dan kayaknya aku mesti menghapus jejak pelukan itu..." Bisik Rain yang membuat bulu kuduk Sunny seketika merinding.
"Rain, please..." Oh harusnya mereka tidak duduk bersebelahan karena Rain membuatnya tidak berkutik sekarang!
***
__ADS_1