
"...Kamu cantik banget..."
'Bisikan itu membuat detak jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya.'
Sunny tahu itu, reaksi tubuhnya berlebihan hanya karena kalimat rayuan yang dibungkus dengan pujian rendahan dari seorang pria yang mungkin akan mengambil keuntungan dari kepolosannya yang tidak pernah berdekatan dengan pria manapun bahkan sekarang ia mengharapkan sebuah ciuman.
Pikiran bodohnya membuat wajah Sunny terasa panas sehingga Sunny langsung mendorong tubuh Rain menjauh.
"Mandi gih, aku gak akan tidur di kamar itu..." Ucap Rain sebelum akhirnya melangkah pergi dan menghilang dibalik pintu kamar yang kini sudah tertutup rapat kembali.
"Terus kenapa dia repot-repot ganti sprei-nya?" gerutu Sunny, walaupun sebenarnya itu hanya untuk menutupi perasaan aneh yang tiba-tiba saja muncul di dalam hatinya.
Ia kemudian melangkah menaiki anak tangga dan memasuki kamarnya lalu membawa sprei putih yang sebelumnya di copot oleh Rain ke tempat mencuci.
Daripada mandi, Sunny memilih untuk mencuci. Ia masih merasakan perasaan yang membuatnya merasa tidak nyaman sehingga ia menunggu sprei-nya selesai di cuci.
"Kamu belum mandi?"
Sunny menoleh ketika mendengar suara Rain dan dia terlihat baru selesai mandi dengan rambut yang masih basah dan berantakan dan di tangannya juga ada sprei putih yang sepertinya juga ingin dicuci olehnya.
"Nanti habis selesai cuci ini. Taro aja sprei-nya disitu, nanti aku cuci sekalian habis ini."
"Aku bisa cuci sendiri, villa ini gak jauh dari villa lainnya tempat orangtua aku menginap. Kemungkinan mereka akan dateng berkunjung besok jadi aku harus cuci ini terus langsung jemur supaya keliatan kita habis menggunakannya malam ini."
'menggunakannya malam ini' Kalimat itu membuat suasana menjadi semakin canggung.
"Keluarga kamu selalu begitu?"
"Maksudnya?"
"Maksudnya, ya mereka selalu mastiin tentang darah perawan setelah malam pertama?"
"Keluarga papa nerapin ini sejak lama, aku tahu pas sepupu aku menikah dulu karena itu juga aku gak berani pacaran sama siapapun, aku takut gak bisa menahan diri dan pernikahan ku kelak jadi kacau hanya karena hal sepele."
"Untungnya aku masih perawan..."
Rain tidak kuasa menahan senyumannya saat Sunny menghela nafas lega, ia bahkan mengusap puncak kepala Sunny karena gemas dan itu berhasil membuat Sunny semakin gugup.
"Tapi, Rain... Kalau kita jemurnya sekarang, apa orangtua kamu gak akan curiga?"
"Bilang saja kita gak bisa tidur setelah bercinta dan langsung cuci sprei-nya jam 3 pagi."
"Tapi yang aku tahu, orang yang abis bercinta itu pasti kelelahan."
Oh percakapan macam apa ini? Sunny mengigit bibir bawahnya karena ia merasa malu telah mengatakan hal seperti itu seakan ia sudah berpengalaman dalam bercinta.
"Aku tahu dari Rosa..." Lanjut Sunny pelan, nyaris tidak terdengar.
"Begitu ya..."
"Terus gimana dong?"
Rain tidak langsung menjawab, dari ekspresinya, ia terlihat sama bingungnya.
***
"Kamu yakin mau ngelakuin ini?"
"Gak ada cara lain, orangtua aku juga pasti bakal ngerasa malu kalau aku gak bisa terbukti masih perawan."
"Ok, tapi gimana caranya ngelakuinnya?"
"Tenang saja, ikutin naluri kamu..."
"Ok, aku akan pelan-pelan..."
__ADS_1
Rain kemudian menarik nafas dalam agar bisa lebih tenang sementara keringat sudah meluncur di keningnya.
"Sakit gak ya?" Tanya Rain yang membuat Sunny tanpa sadar menahan nafasnya dan menjawab dengan lirih, "Kayaknya sih sakit..."
"Gimana nih? Aku gak tega..."
"Pelan-pelan aja, Rain..."
"Ok, tarik nafas dulu..."
"Satu... dua... tiga ..."
"Aaaa......"
"Kenapa kamu ngejerit?"
"Nyamuknya kasihan..." Ucap Sunny yang hampir menangis karena Rain baru saja membunuh sekitar dua puluh nyamuk yang sudah berhasil mereka tangkap dihalaman belakang dan membuat nyamuk-nyamuk itu pingsan dan sekarang nyamuk itu berada diatas sprei putih menjadi tidak berbentuk dan hanya tersisa noda darah.
"Gak sia-sia kita ngedonorin darah kita dari sore tadi, liat aja darah nyamuknya sebanyak ini." Komentar Rain, setelah memastikan tubuh nyamuk-nyamuk itu tidak menempel di sprei yang sudah mereka kembali pasang.
Setengah jam yang lalu mereka masih duduk dihalaman belakang villa, dengan sengaja membiarkan nyamuk menghisap darah mereka agar mereka bisa membuat 'darah perawan palsu'.
"Aku mau balik ke kamar ku, besok pagi-pagi banget aku bakal balik lagi kesini jadi jangan kunci pintunya." Ucap Rain bergegas bangun dan bersiap untuk pergi tapi Sunny mencekal pergelangan tangannya dan bertanya, "Kalau kamu kesiangan gimana?"
"Tenang aja, aku selalu bangun pagi kok."
"Jam berapa?"
"Jam lima..."
"Kamu yakin?"
Rain menjawab dengan sebuah anggukan pasti tapi itu tidak cukup bagi Sunny untuk membuatnya yakin.
"Tapi di rumah sakit tadi kamu bangun jam delapan, Rain!"
"Iya, Rain!"
"Jadi aku harus tidur disini?" Tanya Rain memastikan.
"Kita gak punya pilihan, orangtua kamu bisa dateng kapan aja. Besok itu hari penting, aku yakin setelah itu mereka gak akan datang lagi ngecek kita."
"Kamu kok yakin banget?"
"Rain, please jangan pura-pura bego..."
"Ya udah kalau kamu emang kepingin banget tidur sama aku, aku jadi gak tega nolaknya!"
Sunny hanya bisa menelan kekesalannya, ia sudah sedikit tahu jika Rain memiliki sifat menyebalkan yang alami, ia tidak bisa terus menerus terpancing apalagi hari ini sangat melelahkan.
"Rain..." Panggil Sunny setelah duduk diatas tempat tidur tepat dimana Rain sudah berbaring sekarang.
"Apa?" Jawab Rain tanpa menoleh.
"Laper ..."
Rain akhirnya beranjak bangun dan melangkah pergi.
"Mau kemana?" Tanya Sunny bingung, ia mengira jika Rain marah setelah mendengarnya mengeluh lapar.
"Mau masak, katanya kamu laper."
"Serius?"
"Jangan buat aku berubah pikiran, Sunny!"
__ADS_1
Sunny langsung tersenyum lebar dan berlari kecil menyusul langkah Rain. "Suami ku emang yang paling baik."
Mendengar pujian Sunny, Rain diam-diam tersenyum. Ia kemudian menggandeng tangan Sunny dan membawanya menuju dapur.
"Oho ho... pengantin baru ini bahkan berpegangan tangan saat keluar dari kamar. Kalian sengaja mau buat aku iri?"
Sunny menoleh menatap Rain bingung apalagi saat ekspresi wajah Rain berubah menggelap.
"Ngapain loe kesini?" Tanya Rain tanpa melanjutkan langkahnya.
"Rain, adik kesayangan ku... Masa kamu nyambut aku begitu?" Tanya Raihan tersenyum sambil mengangkat gelas yang berisi wine di tangannya.
"Kamu tunggu di kamar aja, aku akan datang setelah masakannya selesai." Bisik Rain pada Sunny yang masih terlihat kebingungan tapi ia tidak bisa menentang apalagi atmosfer di ruangan ini terasa gelap dan sesak sehingga Sunny langsung menurut dan memasuki kamarnya.
"Loe gak akan pernah di sambut sampai kapan pun..." usir Rain dengan tegas dan terdengar dingin sambil melanjutkan langkahnya menuju dapur.
"Oh come on, gue sibuk pagi tadi jadi gue sempet datang ke pernikahan kalian jadi jangan marah dong. Lagian kok bisa kalian bisa menikah di rumah sakit? konyol banget, atau jangan-jangan istri loe udah hamil duluan?"
"Berhenti bicara omong kosong dan pergi dari sini."
"Ok, gue akan pergi tapi seenggaknya kenalin gue ke adik ipar gue yang cantik dan juga seksi dan menarik itu, emm mungkin kita bisa berbagi?"
Cepat setelah Raihan mengatakan hal itu dan ujung pisau hampir menusuk mata Raihan jika saja Rain tidak berhenti tepat waktu.
"Pergi, atau pisau ini akan benar-benar ngerobek mata loe!"
"Tenang dong, adik ku sayang... Gue kan cuma bercanda." Ucap Raihan tertawa, ia kemudian beranjak bangun dan mendorong sebotol wine kearah Rain.
"Gue baru minum sedikit, cuma sedikit. Jadi ini gak beracun." Tukas Raihan sebelum akhirnya pergi meninggalkan Rain dan Rain dengan cepat mengunci pintu agar Raihan tidak lagi menyelinap masuk.
***
"Masakannya udah jadi, ayo makan di meja makan."
Sunny langsung beranjak bangun dan meninggalkan buku gambarnya lalu melangkah menghampiri Rain yang menunggu diambang pintu.
"Tadi siapa?" Tanya Sunny setelah mereka tiba di meja makan dan menyadari pria asing tadi sudah tidak ada lagi.
"Abang tiri gue." Jawab Rain singkat.
"Dia di suruh orangtua kamu ke sini buat periksa kita?"
"Mungkin..."
"Oh, untung banget kita lagi gandengan tangan bukan lagi main kejar-kejaran kaya tadi."
Rain hanya tersenyum menanggapi kepolosan Sunny yang merasa lega. Ia kemudian duduk di sebelahnya setelah meletakan sepiring pasta di hadapannya.
"Cuma satu? Kamu gak makan?"
"Aku kenyang." Jawab Rain berbohong, sejujurnya ia tidak nafsu makan setelah melihat wajah Raihan apalagi setelah mendengar ucapannya tentang Sunny yang membuatnya ingin sekali menghajarnya jika saja ia tidak menghormati ayahnya maka ia sudah pasti akan menghajar Raihan hingga ia menyesal.
"Malah ngelamun, aku gak suka makan sendirian. Di keluarga aku, kami selalu makan bareng jadi ayo makan sama aku."
"Aku mau makan kalau kamu suapin."
"Dasar modus!"
Rain hanya tersenyum tapi Sunny akhirnya tetap menyuapinya, Sunny sama sekali tidak terlihat keberatan makan dengan piring dan garpu yang sama dengannya.
"Em kok enak sih? Yakin ini kamu yang masak bukan buatan restoran?"
"Aku memang pandai dalam segala hal."
"Dasar sombong!"
__ADS_1
***