
Sudah dua hari Nathan berada di Singapura. Hans sudah pulang ke Indonesia karena perusahaan tidak mungkin bisa dia tinggal lama dan kasihan pada Ayah Sam jika menangani perusahaan sendiri. Sedangkan Zavier memutuskan untuk kuliah disana dengan alasan menjaga Bianca padahal dia juga ingin mendekati Zea lagi. Ricky juga masih di Singapura karena masalah cafe yang belum selesai. Anak mabuk yang merusak sebagian barang dicafe itu merupakan anak pejabat penting di Singapura. Dan orang tuanya tidak terima karena anaknya dipukul oleh karyawan cafe miliknya. Ricky dan Lea ingin menempuh jalan kekeluargaan, tapi sepertinya sulit karena pejabat itu kekeh ingin menempuh jalur hukum
"Gimana masalah karyawan cafe lo Rick??"tanya Nathan
"Pejabat itu sangat sulit untuk ditemui Nathan. Gue kasihan sama karyawan gue dia sudah tidak punya orang tua, tapi menghidupi adik-adiknya yang masih kecil."ucap Ricky
"Gue akan membantu lo menemui pejabat itu Rick dan biar Hans yang mengatur pertemuan kita dengannya."ucap Nathan
"Thanks Nathan. Lo emang sahabat terbaik gue."ucap Ricky
"Gimana masalah perusahaan lo yang di Jepang Lea??"tanya Nathan
"Kemarin ada yang menggelapkan dana perusahaan, tapi sudah tertangkap orangnya. Sekarang gue lagi cari investor untuk mengganti dana yang digelapkan karyawan gue. Gue kemarin sudah datang di beberapa perusahaan agar mau berinvestor di Perusahaan gue, tapi belum ada kabar dari mereka sampai sekarang."ucap Lea menghembuskan nafas panjangnya
"Lo tenang aja, gue akan jadi investor tetap di Perusahaan lo."ucap Nathan
"Thanks Nathan. Gue kemarin udah pusing banget masalah Perusahaan dan juga Cafe. "ucap Lea
"Gue juga berterimakasih karena lo menjaga Bianca dengan baik selama beberapa bulan ini."ucap Nathan
"Dia itu sepupu gue tentu aja gue akan menjaganya dengan baik sampai warisan itu diterima Bianca. Dan gue harap mommy gue gak mengganggu Bianca lagi setelah Bianca sudah menerima warisan itu."ucap Lea
"Yaudah gue jemput Bianca dulu."pamit Nathan
Sedangkan dikampus Zavier masih saja mendekati Zea dengan mengikuti kemanapun dia pergi
"Lo itu maunya apa sih Vier?? Dari tadi ngikutin gue mulu risih tahu gak!!!"ucap Zea ketus
"Lo pasti tahu apa yang gue mau Zea dan gue gak akan menyerah sampai mendapatkan maaf lo dan kita bisa kembali seperti dulu."ucap Zavier
__ADS_1
"Gue udah maafin lo, tapi untuk kembali seperti dulu gue gak bisa Vier. Jadi lo gak usah buang waktu lo untuk mendekati gue karena gue udah gak cinta sama lo."ucap Zea memalingkan wajahnya agar tidak menatap Zavier karena jujur dalam hatinya dia masih ada rasa cinta tapi rasa kecewa yang teramat besar membuatnya menyangkal jika dia masih mencintai pria yang ada didepannya saat ini
"Gue gak percaya jika lo udah gak mencintai gue lagi Zea karena dari tatapan mata lo gue udah tahu jika lo masih mencintai gue. Mungkin lo masih kecewa sama gue Zea, tapi gue akan buktikan jika gue benar-benar mencintai lo."ucap Zavier mencoba menyentuh tangan Zea tapi ditepis olehnya
"Sebentar lagi gue ada kelas, gue pergi dulu dan jangan ikuti gue!!"ucap Zea berdiri
"Gimana gue gak ikut sama lo Zea kan kita satu kelas Zea."ucap Zavier tersenyum menggelengkan kepalanya kemudian berjalan mengikuti Zea
Zea merasa malu karena dia lupa jika mereka satu kelas yang sama, sehingga dia berjalan cepat mendahului Zavier karena ingin segera sampai dikelas. Zea tidak ingin dia melihat wajahnya merah karena malu. Sedangkan Zavier hanya tersenyum melihat Zea yang berjalan cepat mendahuluinya. Dia tahu jika saat ini Zea sedang malu maka dari itu dia tidak ikut berjalan cepat mengikutinya
"Lo terlihat menggemaskan jika sedang malu Zea, gue akan sabar menunggu lo menerima gue lagi Zea."ucap Zavier pada diri sendiri
Sedangkan dikantin Alesha, Winda ,Rendy dan Rey sedang makan dan mengobrol
"Al, nanti lo pulang bareng Vier atau dijemput?"tanya Winda
"Kok mungkin sih?? Emang tadi kak Nathan gak bilang kalau mau jemput??"tanya Winda
"Gak Win, tadi pas gue berangkat ke kampus dia lagi membicarakan hal penting dengan kak Lea dan kak Ricky diruang kerja. Jadi, gue langsung berangkat tadi dan gue gak tahu mas Nathan jemput atau gak nanti."ucap Alesha
"Yaudah pulangnya bareng gue aja gimana?? Sekalian lo temenin gue ke toko buku mau beli novel terbaru."ucap Winda
"Ya deh, tapi gue telepon mas Nathan dulu ya??"ucap Alesha menjauh mencari tempat yang agak sepi karena kantin ramai
"Lo kenapa Rey dari tadi kemarin gue lihat lo jadi pendiam lagi sariawan lo??"tanya Winda
"Gue gak papa. Apa gue masih ada kesempatan mendapatkan cintanya??"tanya Rey menatap Alesha yang sedang telepon dengan kekasihnya
"Udah lo lupain aja Alesha. Dia itu bukan jodoh lo Rey. Dia sudah bahagia dengan kekasihnya."ucap Winda
__ADS_1
"Gue cinta banget sama dia Win. Semakin gue ingin melupakannya semakin gue mengingatnya dan semakin besar pula cinta gue Win."ucap Rey
"Tapi cinta tak harus memiliki Rey. Bukankah cinta sejati itu melihat orang yang kita cintai bahagia maka kita akan bahagia."ucap Rendy
"Lo tahu jika gue tidak pernah mencintai seorang cewek sedalam ini."ucap Rey
"Gue tahu itu. Tapi cobalah untuk mengikhlaskannya Rey."ucap Rendy
Alesha sudah selesai menelepon Nathan kemudian mendekat ke arah sahabatnya
"Kayaknya gue gak bisa ikut lo Win karena mas Nathan akan menjemput gue. Lusa dia akan pulang ke Indonesia, jadi dia mau mengajak gue jalan-jalan."ucap Alesha
"Yaudah gak papa kita ke toko bukunya lain kali aja."ucap Winda
"Gue ke parkiran dulu ya karena mas Nathan sudah dijalan mungkin sebentar lagi sampai. Bye."ucap Alesha
"Gue juga mau keparkiran Al tunggu gue."ucap Winda berjalan cepat menyusul Alesha
"Akhirnya laki-laki itu pergi gue bisa melancarkan rencana gue untuk mendekati Alesha lagi. Mungkin kemarin gue terkesan menyerah dan tidak mendekati Alesha lagi, tapi itu gue lakukan supaya mereka tidak curiga dengan rencana gue. Karena kemarin cara gue yang halus tidak bisa memikat hati Alesha, maka gue akan memilih cara yang ekstrim untuk mendapatkannya. Sehingga dia akan jadi kekasih gue dan meninggalkan kekasihnya itu."ucap Rey dalam hati dengan tersenyum menyeringai
Rendy yang melihat sahabatnya tersenyum sendiri mengenyritkan dahinya. Dia tahu jika sekarang sahabatnya pasti merencanakan sesuatu dan dia berharap sahabatnya tidak berbuat sesuatu yang akan disesali nantinya
**********
Hai readers jangan lupa
Like, Vote and Komentar
Thanks
__ADS_1