
"Sunny dan Rain... Nama kalian bertolak belakang, kalian yakin kalian cocok?" Ucapan Raihan seketika membuat Sunny tertegun, pertanyaan itu juga sempat muncul dalam benaknya sebelum pernikahan ini terjadi tapi mendengarnya sekarang justru membuat hati Sunny merasa tidak nyaman.
"Justru kami saling melengkapi..."
Sunny seketika menoleh menatap Rain yang menanggapi ucapan Raihan dengan senyuman lembut seolah perkataannya memang benar adanya dan membuat hati Sunny tenang seketika.
"Itu bener, aku yang manis ini perlu Rain yang agak-agak pahit, ya kan sayang?" sahut Sunny yang dalam sekejap menjadi lebih percaya diri hingga ia tidak sungkan menggoda Rain hingga kedua orangtua Rain tertawa.
"Pahit ya sayang..." gumam Rain sambil menjepit bibir bawahnya dengan ibu jarinya seraya menatap Sunny dengan tatapan menggoda yang langsung membuat Sunny gugup sekaligus tegang, sepertinya ia akan berada dalam masalah setelah acara sarapan ini.
"Manis dikit..." Cicit Sunny melarat dengan sedikit terpaksa, setidaknya lebih baik daripada nanti ia harus berhadapan dengan Rain yang sangat pandai mengendalikan situasi yang membuatnya kewalahan.
"Dikit?" Rain semakin mendesak sambil menarik kursi yang Sunny duduki merapat padanya.
"Iya banyak!" sahut Sunny tidak berdaya.
"Kamu manis aku pahit, puas?!" lanjut Sunny memasang wajah cemberut.
"Aku yang paling tahu seberapa manisnya kamu."
Astaga, oksigen... Kemana perginya semua oksigen di sini? Sunny rasanya sulit bernafas setelah mendengar ucapan Rain berbarengan dengan ekspresi sensualnya.
"Aduhhhh kayaknya abis sarapan kita harus cepet-cepet balik dari sini." celetuk Rini membuat Sunny dan Rain seketika sadar jika mereka baru saja menyulut api gairah di depan kedua orangtuanya sementara Raihan semakin kesal dengan situasi ini.
Ia merasa tidak adil karena Rain mendapatkan banyak hal yang tidak ia dapatkan, kasih sayang lembut dari ayahnya, seorang ibu yang berhati hangat bahkan istri yang cantik.
"Kalian kan masih kuliah terus abis pulang dari sini kalian mau tinggal dimana?" tanya Raihan yang masih berusaha menahan kejengkelannya dan sekali lagi pertanyaan Raihan membuat Sunny tersadar jika ia tidak memikirkan tentang dimana ia akan tinggal setelah ini.
"Tentu aja di rumah kita lah, memangnya mau dimana lagi..." jawab Richard tanpa menanyakan pendapat Rain ataupun Sunny.
"Seru dong ada wanita cantik selain mama di rumah!" ucap Raihan sambil tersenyum penuh makna menatap Sunny yang seketika merasa tidak nyama sementara Rain tidak berkomentar apapun.
***
Akhirnya seperti perkataan Rini, mereka bertiga langsung pergi meninggalkan Villa bersama pelayan lainnya agar tidak mengganggu waktu honeymoon Rain dan Sunny tapi sayangnya suasana berubah dingin setelah kepergian mereka karena Rain langsung memasuki kamarnya setelah itu sementara Sunny memilih duduk di halaman belakang.
Ia mungkin pernah menginap beberapa kali di rumah Rosa tapi untuk tinggal dengan keluarga lain selain orangtuanya membuat Sunny seketika merasa sedih bahkan mereka tidak menanyakan pendapatnya terlebih dahulu.
"Apa posisi seorang istri selalu begini?" gumam Sunny sedih, ia kemudian memutuskan untuk kembali kekamarnya tapi begitu berbalik Rain sudah berdiri belakangnya. Sunny jelas terkejut karena keberadaan Rain yang entah sejak kapan.
__ADS_1
"Kamu nangis?" tanya Rain sambil menyentuh wajah Sunny agar Sunny menatapnya dengan benar.
"Bisa gak sih kalau kita tinggal di rumah aku aja?" tanya Sunny dengan memasang wajah yang memelas.
"Aku gak mau tinggal di rumah kamu." jawab Rain membuat Sunny hanya bisa diam dan tidak berkata apapun lagi.
Sunny kemudian menepis tangan Rain dari wajahnya dan melangkah melewatinya begitu saja.
"Mau ikut aku?" tanya Rain membuat langkah kaki Sunny seketika berhenti.
***
Toko buku adalah tempat dimana Rain mengajak Sunny pergi. Sebenarnya tidak ada yang spesial dari tempat ini kecuali karena sepanjang jalan Rain tidak melepaskan tangan Sunny tapi itu justru membuat kesedihan Sunny sedikit berkurang.
"Cari buku apa sih?" tanya Sunny karena sejak tadi Rain hanya mengajaknya berputar-putar dan berhenti sejenak lalu kembali berjalan tanpa asa satupun buku yang ia pilih sementara banyak remaja wanita bahkan wanita yang terlihat lebih tua dari mereka pun terlihat memperhatikan bahkan sengaja mengikuti mereka. Jelas sekali siapa yang mereka incar dan itu membuat Sunny terus-menerus waspada sekaligus jengkel.
"Kamu gak mau beli buku?" bukan menjawab, Rain malah balik bertanya.
"Gak bawa duit." jawab Sunny jengkel.
"Aku beliin ..."
"Bukannya kamu suka gambar?"
Sunny sedikit terkejut karena Rain mengetahui kegemarannya padahal sejak kemarin ia tidak menggambar sama sekali, ia bahkan belum pernah menggambar di depan Rain jadi bagaimana ia tahu kalau menggambar adalah kegemarannya?
"Kayaknya aku curiga, kamu bener-bener pengagum rahasia aku deh..." celetuk Sunny bergurau.
"Kayaknya emang harusnya beli kosmetik sih, maskara kamu kan suka luntur!" sahut Rain membalas dengan mudah.
"Ish, kebetulan aja itu!" elak Sunny tidak terima tapi itu malah membuat Rain tertawa.
"Ya udah ayo beliin buku, kosmetik juga ya..."
"Siap istriku..."
Sunny seketika tersipu mendengar Rain menyebutnya dengan panggilan istriku hingga membuatnya salah tingkah.
Rain akhirnya membawanya ke rak yang dipenuhi buku khusus untuk menggambar dan membiarkan Sunny memilih buku yang ia sukai bahkan juga alat tulisnya.
__ADS_1
Kini waktunya membayar, Rain meletakkan keranjang belanjaan di atas meja kasir sementara Sunny terlihat sibuk melihat-lihat buku komik yang terletak di sebelah meja kasir selagi menunggu pembayaran.
"Kak, maaf boleh kenalan gak?"
Mungkin ini insting seorang istri sehingga Sunny seketika menoleh kearah tempat Rain berdiri, jarak mereka tidak begitu dekat tapi suara cekikikan centil yang menggangu itu langsung sampai menyapa gendang telinganya.
Terlihat tiga orang gadis remaja yang sejak tadi mengikuti mereka kini mengerumuni Rain dan berlaga sok imut dihadapan suaminya itu.
"Boleh minta nomor teleponnya gak kak?"
Kedua mata Sunny sudah melotot karena mendengar permintaan itu bahkan kedua matanya rasanya ingin melompat saat melihat salah satu gadis remaja itu menyentuh lengan Rain dan sebalnya Rain tidak terlihat risih dikerumuni oleh mereka.
"Kuliah dimana kak? Aku boleh follow Ig kakak gak?" tanya gadis lainnya sambil menyingkirkan rambutnya hingga lehernya yang mulus terekspos, sangat jelas gadis itu sengaja menggoda Rain.
"Sayang..." Sunny tidak tahan lagi, ia melangkah membelah benteng para gadis itu dan langsung memeluk lengan Rain erat.
"Udah selesai?" tanya Sunny dengan nada manis dan lembut, Sunny pastikan jika permen kapas sekalipun tidak akan menandingi nada suaranya.
"Dia siapa kak?" tanya salah satu gadis itu yang terlihat tidak ragu menunjukkan tatapannya yang sinis pada Sunny.
"Sayang, kenapa sih kamu ngeladenin bocil-bocil ini?" rengek Sunny dengan manja membuat Rain tidak bisa menyembunyikan senyumannya karena gemas.
"Aku nunggu struk pembayaran sayang." jawab Rain, panggilan sayang yang Rain berikan membuat Sunny merasa menang.
"Tante masih jadi pacar aja udah posesif!" celetuk gadis yang tadi menyentuh lengan Rain.
"Minta di gayem ini bocah!" ucap Sunny kesal.
"Udah jangan di ladenin."
"Gak bisa! Kamu di panggil kakak sedangkan aku di panggil tante, pokoknya aku ngambek!"
"Udah kak, pacar kakak gede ambek, tinggalin aja."
Bocil jahanam!!! Sunny sudah bersiap-siap untuk mengomel tapi Rain tiba-tiba saja merengkuh pinggang Sunny hingga jarak diantara mereka menghilang dan seketika Sunny terpaku, ia lupa akan kekesalannya pada ke-tiga gadis penggoda suaminya itu dan hanya terfokus pada wajah Rain.
"Namanya Sunny, dia bukan pacar tapi istri ku ..." jelas Rain dengan nada suara kencang seakan dengan sengaja ingin memberitahu semua orang yang berada di toko ini jika Sunny adalah istrinya.
"Yuk, sayang..." Ajak Rain yang kembali menggandeng tangan Sunny lalu pergi meninggal toko buku itu, tentunya Sunny juga memberikan salam perpisahan ejekan pada ke-tiga gadis remaja yang masih terlihat meringis kesal.
__ADS_1
...